BTY - DUA PULUH TIGA
Cover made by greyanakim@gmail.com
*
Jerry tahu dan sadar akan situasi yang akan dihadapinya kelak, tapi dia tetap melakukannya. Tentu saja tanpa mengindahkan perkataan orang- orang di sekelilingnya. Elena dan Lea menyatakan ketidaksetujuannya dengan cara yang membabi buta. Bahkan ancaman yang dilontarkan oleh mereka padanya nyaris kedengaran konyol.
Tapi itu dulu.
Dan sekarang melihat sikap wanita dihadapannya saat ini membuat apa yang dikatakan oleh mereka berdua mulai memperlihatkan sisi terangnya. Tapi bukan berarti Jerry tidak mengantisipasi akan terjadinya kejadian ini.
Dia tidak peduli dan semakin tidak peduli selama ini menyangkut kehidupannya dan masa depannya.
Anna memperlihatkan sikap seakan sudah sejak tadi dia mempersiapkan gencatan senjata. Bahkan jika penampilan wanita itu awut- awutan hingga nyaris berantakan. Dengan tanpa sapuan make up di wajahnya (bukan berarti ini kali pertama Jerry melihat penampilan wanita itu yang seperti ini), rambut yang hanya diikat asal- asalan hingga Jerry merasa gemas ingin menaruh jari- jarinya disana. Merasakan kelembutannya yang bagaikan sutra, aroma menggoda dari shampo yang dikenakannya dan mungkin- jika memungkinkan dia ingin merasakan bibir itu lagi.
Tapi kembali lagi, hal itu tidak mungkin mengingat tatapan wanita itu yang dilayangkan padanya.
Lagipula ada hal- hal yang harus mereka bicarakan mengenai gencatan senjata ini sebelum mungkin, ditutup dengan ciuman. Dalam hal ini Jerry hanya berharap bahwa wanita didepannya ini bisa mengerti dengan apa yang dipikirkannya.
"Baby," Jerry memulai yang langsung ditangkis oleh Anna.
"Dont baby me, Jeremiah!" Anna menekankan setiap katanya sementara matanya menatap tajam pria didepannya. Amarah mengusai dirinya saat ini dan berpikir apa sebaiknya menendang pria itu agar pergi dari hadapannya.
Tapi disisi lain, dia juga merindukan pria itu- sangat, hingga rasanya ingin mengarahkan bibirnya ke bibir menggoda pria itu dan menciumnya hingga mereka berdua kehabisan napas. Keinginan yang mudah tapi sulit dilakukan apalagi jika mengingat apa yang pria itu lakukan.
Sialan! Tidak bisakah dia menunggu lebih lama lagi? Tapi meskipun begitu, Anna juga tahu itu tidak mungkin. Sejak kejadian di toko buku itu, Anna selalu merasa seperti ada bayangan yang mengikutinya diikuti dengan kilasan- kilasan tidak masuk akal lainnya yang melibatkan rumah sakit, pria, senjata dan yang lebih aneh lagi bayi.
Apakah mereka dulu punya bayi? Untuk kali ini Anna sudah jelas membantahnya. Mereka menikah, tentu saja tapi bayi tidak mungkin hadir diantara mereka. Jika memang ada, apa yang terjadi? Apakah dia kehilangan bayinya hingga membuatnya syok dan kemudian menghilang? Bahkan membayangkan ada bayi, membuat perasaannya seperti tertikam. Anna menyukai anak- anak, bahkan pernah beberapa kali curi- curi pandang jika melihat ada bayi didepannya. Menginginkannya.
Tapi dibandingkan itu semua, dia masih bertanya- tanya. Apa yang menyebabkan hingga semua orang mengira dia sudah meninggal. Tidak ada seorangpun yang ingin memberitahunya tentang itu. Bahkan Claire atau Elena langsung mendapat telepon penting jika Anna mencari tahu.
Sekilas Jerry mengambil napas lalu menghembuskannya. "Baiklah. Aku tahu ini akan membuatmu kaget..."
"Kau jelas tahu apa yang akan kurasakan tapi kau tetap saja ingin melakukannya." Anna mengucapkannya dengan nada sinis di bibirnya. "Dan tanpa meminta persetujuanku, kau langsung mengatakannya pada Betrice. Demi Tuhan, Jerry!" Lalu Anna menjerit histeris. "Kau bahkan tahu apa yang akan dilakukan Patricia dan kau dengan egoisnya mengatakan hal itu demi kepentinganmu."
Tubuh Jerry mendadak tersentak. Tidak menduga dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang tidak pernah berhenti dicintainya. Bahkan sifat wanita itu dulunya tidak seperti ini. Jerry tidak pernah melihat wanita itu akan rela melakukan apa saja demi orang lain. Wanita yang dulu di tunangkan dengannya bukan tipe orang yang akan dengan mudahnya memperhatikan atau rela mengalah demi orang lain, bahkan jika orang itu tidak memiliki hubungan apapun dengannya.
Atau, apakah selama ini dia sudah salah?
Salah memahami sifat wanita itu dan tidak mencoba lebih mengenalnya.
"Jika kau berpikir aku akan mengurungkannya, maka kau salah besar." Ucap Jerry keras kepala.
Anna menatapnya dengan pandangan seakan ingin sekali menghentakkan Jerry. Tidak bisakah dia mengerti situasinya. Mereka tidak bisa... Dia tidak bisa... Apalagi ada Patricia yang semakin hari semakin membuatnya merasa serba salah.
"Dengarkan aku, sayang, " dengan langkah pelan Jerry menutup jarak diantara mereka dan Anna terpaksa mendongak agar bisa menatap tepat ke mata Jerry. Tidak ada sentuhan tapi bahkan seperti itu sudah membuat Anna kesulitan bernapas.
Tetap fokus, Ann. Bentak Anna dalam hati
"-aku menginginkanmu," ucap Jerry pelan tidak mengalihkan pandangan sekalipun. "Dan aku tahu kau pun menginginkanku." Hening sejenak. Jerry menghela napas sebelum melanjutkan. "Itulah sebabnya aku berani mengambil resiko ini. Kita akan menikah. Menikah secara ulang dan dengan begitu tidak akan ada yang merasa kau akan diambil. Kau masih bisa menemui Patricia atau Betrice, dan aku tidak akan keberatan. Mereka masih akan tetap memilikimu hanya saja aku memintamu pada mereka." Alih- alih pada keluargamu yang sesungguhnya. Jerry menambahkan dalam hati. "Dan aku harap mereka- terutama adikmu, Patricia bisa memahami kalau aku tidak berusaha mengambil kakaknya darinya."
Untuk sesaat Anna membasahi bibirnya, merasa kosong akan pernyataan ini meskipun itulah yang menjadi asal mula kemarahannya saat ini.
"Kau bahkan tidak bertanya padaku dulu." Kata Anna lemah. Sangat berharap Jerry mempersiapkan dirinya dulu sebelum mendengar amukan Patricia tentang rencana pernikahan itu. "Dan sama sekali tidak ada cincin tunangan."
Seketika ingatan masa lalu membayangi Jerry.
"Kau dulu bertunangan denganku dengan keadaan terpaksa hingga pemilihan cincin kau sama sekali tidak mau terlibat, " wanita didepan Jerry mendesah sedih. "Dan ketika pada akhirnya kita akan menikah pun, kau lebih memilih mengurusi kafe dan institut dan menyuruhku memilih apapun yang kusuka. Kurasa kadar sukamu padaku masih belum seberapa dibandingkan aku yang menyukaimu."
Alih- alih merasa bersalah karena hal itu. Jerry tertawa lalu memeluk wanitanya dengan kasih sayang yang bahkan tidak bisa digambarkannya.
"Kupikir wanita lebih menyukai melakukan persiapan pernikahannya sendiri." Ucapnya
"Tapi bukan berarti aku tidak mau kalau kau tidak ikut memilih cincin kita. Rasanya sangat aneh memiliki pria tapi merasa tidak memilikinya."
"Maafkan aku, sayang." Jerry mengecup kening wanitanya dengan lembut. "Akan kulakukan apapun yang ingin kau ingin aku lakukan."
"Benarkah?"
"Ya. Dan jika itu belum cukup, akan kukatakan setiap menit kalau aku sangat mencintaimu. Jangan pernah meragukan perasaanku padamu, Cassandra."
"Kita akan membelinya." Ucap Jerry seketika.
Kedua mata Anna membelalak karena kaget. "A- apa?"
"Kita akan membeli cincin tunangan kita hari ini dan satu minggu kemudian kita akan membeli cincin untuk pernikahan kita."
Anna tertegun lalu disadarinya kalau sejak tadi dia menahan napas. "Kau pasti bercanda."
Jerry mengulurkan sebelah tangannya. Jari- jarinya mengusap pipi lembut milik Anna dengan teramat pelan, berusaha merasakan tekstur dan keintiman diantara mereka lagi.
"Aku tidak ingin melewatkannya lagi," sejenak Anna menelengkan kepalanya, merasa bingung. "Bahkan jika seluruh dunia berteriak di telingaku. Aku tetap akan melangkah selama dirimu ada bersamaku dan tidak ada alasan lain selain yang aku tahu kalau aku mencintaimu. Sangat mencintaimu hingga tidak ingin ada jarak diantara kita."
"Jerry?"
"Aku mencintaimu, Cassandra."
***

gak kuatir di-copas kalo di blog, Feb?
ReplyDeleteHeheheh aku gak pernah mikir kesana sih. Yang penting bisa nulis aja.
DeleteP.s maapken baru bisa balas