FALL FOR YOU - BAGIAN DELAPAN BELAS

Sia POV...

"Entahlah Lily. Evan masih sakit".

"Oh baiklah. Padahal malam ini aku berencana mengajakmu bersenang- senang di Vila milik keluarga Casey. Kate dan Natasha akan datang".

"Aku benar- benar minta maaf, aku tidak mungkin meninggalkan Evan sendirian disini. Vano juga masih kecil tapi pastikan kau membawa beberapa wine untukku. Sudah lama aku tidak mencicipi wine miliki Casey ".

"Dasar. Casey akan sakit hati jika kau lebih mementingkan koleksi wine nya ketimbang dirinya".

Aku tertawa sebagai balasan. Sebenarnya malam ini adalah ulang tahun Casey, pacar Lily dan kami sudah jauh- jauh hari merencanakan pesta kejutan untuk pria itu dan kebetulan kami ingin merayakannya di vila milik keluarga Casey yang luar biasa sangat bagus.

Tapi Evan sedang sakit dan sudah tiga hari ini dia terserang flu dan demam. Aku juga tidak memperbolehkan Vano menemui ayahnya dulu. Alasannya adalah anak- anak mudah sakit dan aku tidak mau Vano ikut- ikutan sakit akibat virus yang dibawa Evan.

Evan ternyata jauh lebih sulit dari Steve jika sakit. Evan selalu memaksakan dirinya untuk tetap bekerja di rumah meskipun dia sakit. Itulah sebabnya aku melarang Vano bertemu dengannya. Jika ayahnya saja sulit apalagi anaknya dan keputusanku berakhir dengan tidak ingin mengambil resiko.

Aku baru saja membuat puding coklat ketika mendengar suara bel yang di pencet dan bersamaan dengan itu Vano yang mulai melompat- lompat kegirangan. Dia memang sudah daritadi menunggu kehadiran mereka.

"Hai, Thalia". Aku menyapa Thalia tepat setelah aku membuka pintuku dan seketika membuat Steve dan Agnes menghambur masuk kedalam bersama Vano

"Hai adikku sayang. Maaf tiba- tiba". Balasnya ikut masuk kedalam ke tempat yang selama ini kutinggali, "Ben juga mendadak memberitahuku. Apa yang kau lak...?" Ucapannya berhenti secara mendadak dan aku tahu apa yang membuatnya begitu.

Tempat tinggal Evan terletak dilantai paling atas bangunan ini. Tempatnya bahkan bisa disebut Penthouse dengan kaca-kaca besar dan menjulang hingga bisa menampakkan sinar matahari tenggelam dan pemandangan laut yang semakin menambah keindahannya.

"Aku tidak tahu kau tinggal di tempat yang seindah ini". Katanya dan melihatku dengan tatapan iri.

"Well, sekarang kau tahu". Balasku nyengir.

Thalia menyukai pantai dan salah satu mimpinya adalah memiliki rumah yang bisa menghadap pantai tapi karena Ben selalu bepergian ke luar negeri, Thalia memutuskan untuk menahan diri dulu apalagi Steve dan Agnes juga semakin sulit dijinakkan. Mereka selalu saja mencari celah untuk meloloskan diri dari induknya.

"Jadi apa kau sudah mempersiapkan segalanya?" Tanyaku karena tidak melihat satupun barang bawaannya

"Ya." Thalia mengangguk, "Aku dan Ben hanya akan berada di Venice selama 2 hari karena konferensi seluruh pengacara itu di tempatkan di sana. Kau sudah tahu kan apa yang harus kau lakukan?"

Aku tersinggung. Tentu saja aku tahu. Aku sudah menjaga Steve dan Agnes selama ini. Apa dia lupa?

"Apa Evan masih sakit?" Tanyanya lagi

"Ya"

"Apa tidak apa- apa? Maksudku aku tidak mau terlalu merepotkanmu"

Kuberi Thalia tatapan tidak percaya, "apa sekarang kau mulai meragukanku? Tentu saja tidak apa- apa. Lagipula sudah lama aku tidak bersama dua malaikat kecilku,"aku sengaja melirik ketiga bocah yang saat ini mulai asyik bermain."

"Syukurlah mereka bisa akrab"

Aku mengangguk menimpali.

"Bagaimana dengan Evan?"

"Untuk sementara aku tidak membiarkannya berdekatan dengan Vano. Aku tidak mau Vano justru malah ikut sakit karena virus yang dibawanya"

"Ah, akhirnya aku melihat sisimu yang ini. Kaulah yang selalu mengatakan padaku, kalau aku terlalu berlebihan jika melihat Ben sakit"

"Ben biasanya hanya terserang sakit kepala sementara Evan flu disertai demam. Perbedaannya jauh sekali"

"Tapi tetap saja namanya sakit"

Kugelengkan kepalaku atas sikapnya yang terlalu berlebihan pada kedua keponakanku.

"Baiklah. Jaga mereka baik- baik"

"Lho, bukannya kau harus menunggu Ben datang dulu?"

"Ben sudah datang dan sekarang menungguku dibawah"

"Wah kau benar- benar memanfaatkan waktu" seruku tak percaya, membuatnya terkikik.

"Kau pasti akan tahu bagaimana sifat Agnes jika mengetahui kalau ayahnya akan pergi lagi"

"Tapi bagaimana kau bisa kemari jika Ben tidak mengantarmu?"

"Taksi"

Aku tertawa. Kakakku ini benar- benar...

" pesawat kami sejam lagi akan berangkat". Lalu Thalia mulai memeluk tubuhku, "Thank you sister. Kau memang adik yang selalu bisa diandalkan" ucapnya lalu melepaskan pelukannya padaku untuk berbicara dengan kedua anaknya. "Steve. Agnes, baik- baik ya sama Tante Sia".

"Baik mom". Jawab Steve tanpa melepaskan diri dari mainan Vano. Hanya Agnes yang datang menghampiri Thalia dan menciumnya.

"Anak pintar". Puji Thalia pada putrinya. "Kuserahkan mereka padamu, Sia". Katanya, menyerahkan Agnes dalam gendonganku.

"Ya. Bersenang- senanglah di sana".

"Pasti". Lalu aku dan Agnes sama- sama menutup pintu kembali.

Kuturunkan Agnes dari gendonganku dan menghadap kearah mereka, "Okey pangeran- pangeran kecilku dan seorang princess". Aku sengaja menekuk kakiku sebagai tanda penghormatan, membuat ketiganya terkikik. "Apa your majesty bersedia mencicipi puding yang baru saja kubuat?"

Ketiganya bersorak dengan meriah dan seperti yang bisa kuduga, Steve lah yang paling antusias apalagi dia sangat menyukai puding. Setelah membantu ketiga anak itu duduk diatas kursi di meja dapur, ku beri mereka masing- masing sepiring puding. Khusus untuk Agnes, kuberi dia fla rasa stroberi yang disukainya.

"Mamaku jago masak kan?" Ucap Vano disela dia menyantap pudingnya.

"Tentu saja. Buatan Tante Sia memang paling enak". Balas Steve tidak kalah serunya. Hampir seluruh mulut mereka tertutupi coklat hanya Agnes yang tidak terlalu berantakan dan itu karena aku yang menyuapnya meskipun beberapa kali dia menolak untuk kusuap.

"Vano, apa kau keberatan membiarkan Steve tidur bersamamu?" Tanyaku pada Vano yang sekarang sedang adu menghabiskan pudingnya dengan Steve. Sejenak dia menatapku kemudian Steve beralih ke Agnes kembali padaku.

"Tidak". Jawabnya.

"Anak baik". Ucapku seraya mencium puncak kepalanya dengan lembut.

Ya. Selama aku berada di sini, tidak sedikitpun Vano menyusahkanku justru yang ada dia membantuku. Aku penasaran seperti apa ibunya dulu dan merasa iri karena Evan mencintai wanita itu. Tia juga selalu menghindar jika aku ingin bertanya tentangnya dan memilih untuk pamit dengan alasan hari sudah gelap dan takut pulang larut malam, yang kuyakini sebagai usaha untuk menghindariku.

"Agnes bagaimana, Ma?" Tanya Vano kemudian.

"Agnes?"

"Iya. Dimana dia akan tidur?"

Oh. "Agnes akan tidur sama Mama".

"Dengan papa?"

Aku tersenyum. "Tidak sayang. Papa masih sakit. Mama dan Agnes akan tidur di kamar tamu".

"Kamar tamu?"

"Ya". Aku mengangguk.

" kenapa tidak tidur di kamar Vano saja?"

Eh?

"Kami bisa sama- sama tidur di lantai dan mama juga bisa tidur bersama kami".

Aku mengerjap.

"Bolehkan, Ma?" Kali ini dia bertanya ragu atas sikap diamku.

"Tentu". Balasku kembali tersenyum. "Kita akan bersenang- senang selama dua hari ini, iyakan?" Tanyaku yang dibalas seruan ketiga malaikat kecil ini.

Hari sudah larut malam tapi ketiga bocah di kiri kanan dan depanku ini menolak untuk tidur. Karena kedua kakaknya tidak mau tidur, Agnes juga tidak mau tidur. Jadilah sekarang Agnes berada dalam dekapanku sementara pipinya menempel di dadaku. Posisi Agnes mirip kodok karena saat ini aku duduk diatas sofa.

Aku sengaja memutarkan film animasi tangled sebagai pengantar tidur mereka yang untungnya aku sempat menyuruh Thalia membeli beberapa film animasi sebelum kesini.

Kami masih sama- sama tertawa melihat kelakuan princess dalam tangled itu hingga setengah jam kemudian aku menyadari kalau sudah tidak ada lagi celetukan beserta komentar- komentar dari mereka.

Steve dan Vano sama- sama bersandar di kedua sisi lenganku. Khusus untuk Vano, dia memeluk lenganku sebagai bantalan dan itu membuatku kebingungan mencari cara agar bisa memindahkan mereka ke dalam kamar tanpa membangunkan mereka apalagi Agnes yang saat ini tertidur nyenyak dalam dekapanku.

Setelah 5 menit berkutat memikirkan cara. Tanpa kuduga Evan muncul di depanku dengan sebuah gelas di tangannya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Evan?". Ucapku kaget.

Evan terkekeh pelan, "kenapa setiap melihatku kau selalu terlihat kaget?" Tanyanya geli.

Oh tentu saja. Lampu yang hampir sepenuhnya mati hingga cahaya satu- satunya hanya berasal dari televisi. Oh tentu saja aku tidak kaget.

Gezzz.

"Itu karena kau muncul tiba- tiba". Tukasku jengkel

"Bukan salahku kalau kau melamun".

"Apa kau sudah baikan?" Tanyaku mengindahkan ucapannya tadi.

"Ya. Terima kasih sudah merawatku". Jawabnya dan langsung membuatku malu. "Sejak kapan Steve dan Agnes berada di sini?".

Oh. Aku baru ingat dengan masalahku.

"Um...Van, bisakah kau mengangkat dan membawa Vano ke kamarnya? Aku sudah menyiapkan tempat untuk mereka bertiga".

"Kau menempatkan mereka dalam satu kamar?"

"Ya. Cepatlah. Sebelum salah satu dari mereka terbangun dan kau pastinya tidak mau kalau mereka terbangun dan membiarkan kita terjaga sepanjang malam".

Evan tertawa seraya meletakkan gelasnya diatas meja dan melangkah untuk mengangkat Steve. Setelah menaruh Steve di kamar, dia kembali untuk membawa Vano membuat beban berat yang tadi kurasakan di kedua sisiku terlepas dan aku merasa ringan.

"Apa kau bisa membawanya?" Kulirik Agnes yang sedang tertidur pulas di dadaku kemudian melihat Evan yang sedang membawa Vano yang terlelap dalam dekapannya.

"Ya. Sebaiknya kau jangan membuat Vano terbangun. Dia bisa sangat sulit jika terbangun dari tidurnya". Kusampingkan rambut Vano agar tidak membuatnya terbangun ketika menyadari kalau Evan sedang memperhatikanku.

"Apa?" Tanyaku heran sekaligus kaget dengan tatapan intens darinya.

"Sepertinya kau menyayangi mereka lebih dari yang ku duga".

Aku tertawa kecil takut membangunkan Agnes. "Apa kau lupa, mereka keponakan dan anakku Evan. Tentu saja aku menyayangi mereka".

Entah apa yang sedang di pikirkannya hingga kemudian dia berkata. "Ya. Kau benar. Dia anak dan keponakanmu".

Setelah menempatkan ketiga malaikat kecil itu di lantai yang sudah ku sulap menjadi tempat tidur yang nyaman. Aku dan Evan keluar. Kulangkahkan kakiku menuju dapur dan membuka kulkas untuk mengambil air minum ketika kusadari Evan mengikuti.

"Apa kau lapar?" Tanyaku setelah meneguk airku. "Aku bisa membuatkanmu makanan".

Aku baru saja berbalik untuk melihat apa yang bisa kumasak untuknya ketika merasakan pelukannya dibelakangku.

"Evan, a-pa yang ...?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS