FALL FOR YOU - BAGIAN DELAPAN
"Apa kau gila?!" Serunya tidak percaya.
Kualihkan pandanganku kearah taman kecil yang terletak di belakang rumahnya. Harus kuakui Mrs. Welsh atau Thalia merawat taman ini dengan baik. Entahlah aku hanya menduganya saja.
"Tidak". Aku menjawabnya pendek.
Kulihat dia sepertinya tidak berminat untuk duduk jadi kuputuskan untuk duduk sendiri sementara dia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau begitu jelaskan apa maksudmu tadi?"
Aku mengernyit. "Bukankah kau juga sudah mendengarnya?"
Memang dia tuli?
"Kau...kau baru saja... Kau baru saja memintaku untuk menjadi istrimu?".
Aku mengernyit bingung. Dia mengatakan itu seakan- akan itu adalah akhir hidupnya. Apa dia tidak tahu dia sedang berbicara dengan siapa? Aku bukannya sombong tapi aku tahu gadis- gadis diluar sana berusaha untuk menarik perhatianku bahkan Dominique pun terang- terangan menunjukkan ingin menjalin hubungan yang serius denganku tapi gadis didepanku ini justru sama sekali terlihat tidak senang meskipun akan menikah denganku? Apa dia hanya sok jual mahal seperti yang biasa dilakukan gadis lain?
"Kurasa kau salah paham. Aku hanya memintamu untuk menjadi ibu dari Vano".
Seketika wajahnya berubah.
"Dan apa maksudnya itu Mr. Alexander?" Tanyanya dalam bada dalam dan tajam.
Kupandangi dia beberapa saat untuk mencerna apa yang membuatnya begitu marah.
"Kau sendiri tahu kalau Vano menyukaimu kan?" Tanyaku dan membuatnya terdiam. "Sejujurnya sejak pertemuan kalian dulu, tidak henti- hentinya dia menceritakan tentang dirimu padaku atau Ron atau pengasuhnya atau siapa pun yang dijumpainya dan aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu mengingat kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya". Kupandangi dia yang masih terdiam. Sial. Apa sih yang dipikirkannya?. "Apa kau merapalkan mantra pada anakku?" Kuputuskan untuk menggodanya dan benar saja matanya seketika membesar dan mulutnya terbuka lebar.
Damn!
Ingin rasanya aku melumat bibir pink itu.
"Aku tidak melakukannya". Sergahnya marah dan tawa hampir saja lolos dari bibirku ketika menyadari kepolosannya. "Kenapa?" Tanyanya kemudian.
"Kenapa apanya?" Tanyaku bingung.
"Kenapa kau memintaku? Maksudku pasti banyak gadis diluar sana yang bersedia menjadi pasanganmu".
Aku tahu tapi entah mengapa aku hanya menginginkanmu.
"Itu karena Vano menyukaimu dan menganggapmu sebagai ibunya". Jawabku kemudian.
"Kemana ibu kandungnya?"
Aku tahu dia pasti akan menanyakan itu.
"Kau tidak perlu tahu".
Dari yang kulihat, mendadak bibirnya membentuk satu garis lurus.
Apa dia marah?
"Aku akan menganggap kau menyetujui tawaranku".
"Heh? Tawaran apa?" Wajahnya kembali terlihat bingung.
" kita akan menikah dan kau menjadi ibu Vano". Jawabku dan seketika wajahnya kembali mengeras.
"Aku belum menjawab apa pun". Sergahnya marah
"Aku akan memberikanmu uang dan fasilitas apa pun yang kau inginkan. Hanya satu yang harus kau lakukan dan itu adalah merawat Vano".
"Aku tidak membutuhkan fasilitas dan uang sialanmu itu, Evan Alexander!". Desisnya semakin terlihat marah dan aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan hingga membuatnya marah. Bukankah setiap gadis menyukai uang dan aku dengan senang hati bahkan menawarkan fasiitas yang dia butuhkan mengingat gaya hidupnya sebagai model yang aku tahu sangat mewah.
"Apa kau membutuhkan yang lain?" Tanyaku tidak mengerti dengan perubahan sikapnya.
"Kalau kau begitu mempunyai banyak uang kenapa kau tidak menyewa pengasuh atau ibu pengganti lainnya?"
Dia menghinaku!
"Pertama Sia, Vano sudah mempunyai Tia dan Tia tidak mungkin di jadikan ibu untuk Vano mengingat dia punya keluarga sendiri dan kedua, aku tidak tahu sudah berapa kali aku mengatakan ini padamu tapi Vano hanya menginginkanmu dan menganggapmu sebagai ibunya".
Sia menatapku dengan ekspresi yang aku tidak mengerti. Apa dia baru saja kaget mendengar penjelasanku?
"Tidak ada bunga dan cincin?"
"Apa?" Aku kaget dengan pertanyaannya yang berubah.
"Kau datang ke rumahku dan memintaku menikah oh maaf menjadi ibu anakmu tapi kau sama sekali tidak membawa bunga atau cincin?"
"Apa kau menginginkannya?" Tanyaku.
Aku bingung apa yang membuatnya tiba- tiba menanyakan hal itu. Beberapa menit yang lalu dia memandangku dengan tatapan marah di wajahnya dan kali ini wajahnya berubah lagi menjadi lebih lembut.
"Tidak. Tentu saja tidak". Jawabnya cepat dan aku nyaris melontarkan sumpah serapah ketika melihat rona merah yang tiba- tiba muncul di kedua pipinya.
Sekuat tenaga aku berusaha menahan diri untuk tidak segera menariknya dan membawanya ke tempat tidur. Aku bahkan tidak keberatan jika harus bercinta di tamannya ini. Segala pemikiran itu membuatku harus menahan diri lebih kuat lagi.
"Pikirkan lagi Evan". Ucapnya.
Seperti mantra di telingaku, aku langsung tersadar dari pemikiranku, terlebih lagi menyukai ketika dia menyebut namaku seperti tadi.
"Aku tidak memintamu untuk setuju Sia". Dan aku juga menyukai menyebutkan namanya seakan- akan namanya sangat pas di lidahku. "Karena mau tidak mau. suka tidak suka. Kau harus setuju. Ingat, aku sudah mengatakan hal itu dihadapan seluruh keluargamu". Dan aku tidak suka mendengar penolakan darinya. Dia harus menjadi milikku bagaimana pun caranya.
"Kau gila!". Sergahnya.
Aku tidak tahan lagi, kudekati dia dan langsung mengecup bibirnya yang bagai candu. Aku harus menahan diriku untuk tidak melumatnya saat ini juga atau kalau tidak, dia akan lari dan segala yang kurencanakan agar memilikinya akan musnah. Entah apa yang dia lakukan padaku tapi sepertinya aku menyukainya dan Vano juga berhak mendapatkan dirinya.
"Apa... Apa yang kau lakukan?" Tanyanya gugup bercampur kaget.
Aku tidak bisa menahan rasa geliku melihatnya. "Akku mencium calon pengantinku dan meskipun tidak seperti kau yang pertama kali menciumku di kafe dulu tapi harus kuakui aku merindukan ciuman kita dulu". Godaku dan benar saja matanya terbelalak.
"Pikirkan lagi Evan pada apa yang sudah kau minta". Ucapnya kemudian.
"Oh aku sudah memikirkan semua ini jauh sebelum kau memintanya, Sunshine".
Wow, aku baru saja memanggilnya dengan sebutan khusus, sesuatu yang tidak pernah ku lakukan selama 5 tahun terakhir ini.
Matanya kembali terbelalak. "Kalau begitu aku yang akan memikirkannya". Dan dia pergi meninggalkanku dengan wajah marah bercampur kejengkelan. Dalam hati aku tertawa sekaligus memikirkan cara apa saja yang harus kulakukan untuk mendapatkannya dan tentu saja aku membutuhkan malaikat- malaikat itu.
Aku baru saja tiba di ruang tengah ketika mendengar suara Vano.
"Mama mau pergi?"
"Maaf ya sayang. Aku... Eh mama ada urusan penting. Kamu main dulu ya sama Steve dan Agnes". Jawab Sia seraya berjongkok dihadapan Vano.
Aku tidak dapat menampik kalau itu adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat dan menyadari ketika tidak hanya aku tapi semua mata melihat kearah mereka berdua dan aku melihat Mr. Welsh memandang Sia Seakan menilai.
"Aku ada pemotretan selama 3 hari ini jadi mungkin aku akan tinggal di apartemen Natasha". Ujar Sia tanpa memandangku.
"Kenapa di apartemen Natasha?" Tanya Mrs. Welsh
"Karena Mom, apartemen Natasha yang paling dekat dengan tempat pemotretanku". Jawabnya
"Bagaimana dengan pernikahan kalian?"
Dan tiba- tiba saja aku mendapatkan tatapan tajam dari Sia.
"Aku menolaknya mom".
"Apa?"
"Oh, kami akan segera menikah Mrs. Welsh". Imbuhku sebelum Mrs. Welsh meledak. Harus kuakui aku menyukai kehangatan dalam keluarga ini. "hanya saja kami belum memutuskan waktunya mengingat kami berdua sama- sama sibuk". Lanjutku dan mendapatkan pelototan darinya.
"Oh astaga!". Mrs. Welsh langsung memelukku dan Thalia memeluk adiknya.
Tidak lama kemudian Sia pergi setelah Mrs. Welsh memaksa Sia untuk memelukku dan aku langsung mengecup bibirnya ketika dia berpaling kearahku, membuat semua orang tertawa iri dan ketiga bocah dihadapan kami tidak henti- hentinya menyanyikan lagu pernikahan terutama Steve yang bersuara paling keras. Aku ragu Vano atau Agnes mengerti apa yang dilakukannya mengingat mereka masih terlalu kecil untuk memahami semuanya dan Vano tahu dari Ron yang sempat menceritakan padanya tanpa sepengatahuanku kalau aku dan Sia sedang marahan hingga Sia pergi dan saat ini membutuhkan bantuannya untuk membawa mamanya kembali ke rumah.
***
Comments
Post a Comment