FALL FOR YOU - BAGIAN DUA BELAS

Evan POV...

Aku tidak menyangka kalau Ron akan bersikap seperti ini ketika kuceritakan mengenai kejadian kemarin dan bagaimana Sia akhirnya menyetujui pernikahan kami.

"Astaga Evan!". Ucap Ron di sela tawanya. "Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan menerima lamaranmu secepat ini".

Kuberi dia tatapan mendelik. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan Ron. Seingatku, kaulah yang memaksaku untuk segera memiliki gadis itu".

"Itu karena aku tahu kalau kau menyukainya". Balasnya. " dan aku juga menyukai gadis itu". Sontak aku memberinya tatapan curiga.

"Apa?" Tanyanya.

"Aku penasaran kenapa kau sangat mendukungku untuk menikahi gadis itu secepatnya?" Tanyaku dengan alis terangkat.

"Bukankah sudah jelas? Kau menyukainya dan aku juga menyukainya. Lebih tepatnya aku merestui kalian berdua".

"Tapi ini aneh". Kataku tanpa melepaskan tatapanku dari dirinya. "Apa yang membuatmu menyukai gadis itu? Seingatku kau tidak pernah menyukai wanita yang dekat denganku termasuk Dominique".

"Itu karena aku tahu tipe macam apa yang mendekatimu".

"Jadi menurutmu Sia berbeda?"

Ron mengangguk yakin. "Sangat yakin. Dan dia juga dekat dengan Vano".

"Itu karena Vano mengira dia adalah ibunya". Tukasku jengkel.

Sejujurnya aku ingin Sia menerima lamaranku Karena dia menyukaiku. Bukan karena adanya Vano atau orang tuaku. Sudah jelas Sia kemarin bersedia menikah denganku karena merasa tersinggung dengan perkataan orang tuaku.

"Dengar Van," Ron memberiku tatapan penuh arti. " aku tidak mengenal Sia sebaik aku mengenalmu tapi pasti dia sudah memikirkan semua ini dengan matang".

Aku mendesah mendengar ucapannya. Biar bagaimana pun sulit mengetahui apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Sebentar aku mendapatinya sedang merona jika mata kami tak sengaja bertemu dan sedetik berikutnya dia melihatku dengan tatapan marah, tidak suka atau apa pun yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya lebih sulit memahami dia dibandingkan ketika bersama Sarah atau Dominique dulu.

Ini seperti dia yang sedang menguji dan menantangku secara bersamaan dan secara otomatis pula tubuhku menjawab tantangan itu.

"Jadi dimana dia?" Pertanyaan Ron seketika membuatku bingung.

"Siapa?"

"Tentu saja aku membicarakan Sia".

"Aku tidak tahu".

Ron memberiku pandangan kesal dimatanya.

"Kau tidak akan bisa mendapatkan hatinya jika kau bersikap secuek ini".

"Aku pasti bisa". Balasku yang langsung membuatnya terbelalak. "Siapa yang kau hubungi?" Tanyaku ketika dia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.

"Sia". Jawabnya pendek. Tidak lama kemudian terdengar nada panggil dan diangkat pada dering ketiga.

Apa yang dilakukan gadis ini? Kenapa dia secepat itu mengangkatnya? Dan kapan mereka bertukar nomor telpon? Semua pertanyaan itu Seakan berputar di kepalaku.

"Ya. Ada apa Ron?" Suaranya terdengar lembut dan manis di telingaku dan aku semakin tidak sabar untuk segera memilikinya.

"Hai Sia, apa kau mau kemari?" Tanya Ron seraya mengedip penuh arti padaku. Ron sengaja mengaktifkan loudspeaker di handphonenya dalam keadaan loudspeaker agar aku juga bisa mendengar percakapan mereka.

"Kemana?"

"Aku sekarang berada di kantor calon suamimu, Evan. Apa kau mau kesini?"

Lama tidak ada jawaban darinya hingga kupikir dia mematikan sambungan.

Hingga mendengarnya menghela napas. "Maaf Ron, sepertinya tidak bisa?"

"Kenapa?" Kali ini aku yang bertanya.

"Eh?"

"Dimana kau?" Tanyaku lagi dan entah kenapa aku merasa dia sedang gugup. Apa dia bersama pria lain?

"Eh hhh a- aku".

"Kau tidak lupa kan kalau besok kita akan menikah?" Tanyaku mengingatkannya.

"Tentu saja aku ingat!". Balasnya dan aku semakin yakin kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dan ketidaktahuan ini menyiksaku.

"Dimana kau?" Tanyaku lagi. Tidak memperdulikan kepala Ron yang sedang menggelengkan kepalanya kearahku.

"Kalau kau mengkhawatirkan tentang pernikahan kita. aku akan berada disana tepat waktu Evan".

Kuacak rambutku frustrasi. Kenapa dia selalu saja membuat segalanya menjadi sulit?

"Well, padahal aku ingin bertemu denganmu". Ron mengambil alih karena kami tidak kunjung berbicara.

Sia tertawa dan ini pertama kalinya aku mendengar suara tawanya yang menurutku sangat renyah.

"Oh maafkan aku Ron tapi aku sudah terlanjur membuat janji. Akan ku pastikan akan menemuimu besok di pesta".

Aku menyipit. Kenapa ketika dia berbicara dengan Ron, dia terdengar lebih bebas tapi ketika berbicara denganku terasa ada sekat yang menghalangi?

"Oh tentu saja kau harus datang. Kau tidak mau kan di cap sebagai pengantin yang lari?"

Sia tertawa. "Oh kau tidak... Eh ... Okey". Aku tahu bukan itu yang tadi ingin dikatakannya.

Kemudian sayup- sayup kudengar suara yang sepertinya tidak asing di telingaku disusul suara pria yang bertanya kemudian dijawab olehnya. Aku yakin Ron juga menyadarinya karena dia langsung melihatku.

"Kau di bandara?" Tanya Ron kaget.

"Eh iya". Seakan sudah tertangkap. Sia kembali terdengar gugup.

"Kenapa?" Tanyaku. Tahu dia mendengarku.

"Apa?"

"Kau mau kemana?" Aku mulai tidak sabar. Ada apa dengannya kemudian lagi- lagi aku mendengar suara pria itu.

"Whoa Nate, jangan menarikku seperti itu. Orang- orang melihat kita".

" kalau tidak begini, kau akan membuat kita ketinggalan pesawat". Balasnya.

Ku genggam sudut meja agar tidak membuatku mengambil beberapa barang dan melemparnya.

"Kembalilah Sia". Desisku tak tertahan.

"Apa?"

"Aku bilang kau harus kembali dari apa pun yang sedang atau akan lakukan".

Lama tidak ada jawaban. " kupikir kita sudah sepakat untuk tidak ikut campur dalam pekerjaan masing- masing". Dia tidak lagi terdengar gugup melainkan kembali seperti Sia yang biasa ditunjukkannya padaku.

"Persetan dengan pekerjaanmu Sia karena yang aku dengar kau tidak melakukan itu". Sergahku marah.

"Kau menyalahi perjanjian kita, Mr. Evan Alexander".

Ya. Perjanjian yang kami sepakati atau lebih tepatnya dia membuatku harus menyepakatinya. Perjanjian yang menyangkut kalau kami tidak akan ikut campur dalam pekerjaan kami masing- masing atau aku tidak akan melarangnya untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai model setelah kami menikah, kami hanya sekedar menikah tanpa ada aktivitas seks di dalamnya dan sekarang aku tahu alasanya, dia sudah punya kekasih. Yang jadi masalah adalah apakah kekasihnya itu tahu kalau Sia akan segera menikah? Apakah itu sebabnya mereka bepergian? Membayangkan Sia akan menghabiskan malamnya dengan pria lain membuatku marah. Tidak. Sangat marah.

"Dengar Evan". Aku kembali mendengar suaranya. " aku sudah bilang akan menikah denganmu dan akan kupastikan kalau aku akan menepati hal itu. Tapi tidak bisakah, kau memberiku waktu satu malam untuk diriku sendiri? Maksudku sebelum kita tinggal bersama?"

Aku benar- benar tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak tahukah dia. Aku tidak akan masalah jika masalahnya dia tidak bepergian dengan kekasihnya itu atau aku tidak tahu. Mendengar suara pria tak berwajah itu dan mengetahui kalau pria itu sudah tidak sabar padanya hingga menarik tangannya membuatku serasa naik pitam. Aku tahu dari cerita Ron dulu kalau banyak yang melihat Sia dengan tatapan memuja dan aku yakin kalau beberapa diantaranya pasti sudah masuk ke dalam celana dalamnya.

Sial, kenapa aku tidak mencari tahu apakah dia sudah punya pacar atau belum. Aku memang tidak mengharapkan dia bersih tanpa celah Karena aku pun begitu. Aku tahu bagaimana kehidupan para model.

"Okey. Kurasa sebaiknya aku pergi". Katanya setelah tidak ada yang bicara diantara kami. " sampai nanti Ron. Evan". Bahkan dia menyebut nama Ron lebih dahulu dibandingkan namaku.

"Hmm sobat". Aku mendengar suara Ron yang ragu- ragu. " aku tidak tahu apakah harus mengatakan ini tapi kau tampak mengerikan". Ku beri dia tatapan tajam. "Eh kurasa sebaiknya aku menemui Clarisa. Sampai ketemu di pestamu sobat".

Dan tanpa menunggu jawaban dariku. Dia meraih handphonenya yang tadi di letakkan diatas meja dan keluar dari ruanganku. Sempat kudengar dia mengatakan pada sekertarisku yang berada di luar sana untuk tidak masuk dulu.

Shit.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS