FALL FOR YOU - BAGIAN DUA DELAPAN
"Kenapa kau melakukannya?"
Aku mengernyit, bingung. "Melakukan apa, Ma?"
"Kenapa kau mengijinkan wanita itu tinggal bersama kalian?" Kali ini aku bisa merasakan kemarahan dari dalam diri ibu Evan.
"Vano butuh mengenal ibu kandungnya, Ma" jawabku tersenyum, mencoba meredakan amarahnya.
Sebenarnya aku juga tidak suka dengan kehadiran Sarah di sekitarku dan Evan. Aku sudah pernah menanyakan hal yang sama seperti yang Mama tanyakan tapi seperti biasa Evan akan memberiku jawaban dingin dan mengatakan kalau Sarah berhak atas diri Vano sepenuhnya karena dialah ibu kandung Vano dan bukannya aku dan sudah sebulan ini dia ikut tinggal bersama kami.
"Wanita itu hanya ingin memanfaatkanmu dan Vano saja, sayang"
Hampir saja aku menangis mendengar ucapan mama. Mama sudah bersikap lunak padaku, papa masih sedikit cuek tapi Mama mengatakan kalau Papa juga sepertinya sudah membuka hati padaku. Kata Mama, Papa selalu menanyakan keadaanku dan calon cucunya. Aku senang! Sungguh, setidaknya dibalik kegelisahan yang kurasakan, ada orang yang menyayangiku. Tentu saja aku tidak menceritakan permasalahan yang terjadi antara aku dan Evan. Baik itu di keluargaku maupun di keluarga Evan. Belum saatnya lagipula aku juga tidak tahu harus mengatakan apa.
Mama menganggap Evan masih tidak mau menganggap keluarganya sendiri. Aku sudah tahu apa permasalahan yang terjadi antara Evan dan orang tuanya dan untuk itulah aku disini, setidaknya aku sudah mengambil hati kedua orang tua Evan, tinggal Evan yang harus ku dekati tapi bagaimana caranya? Bahkan dia lebih dingin di bandingkan Papa ketika aku pertama kali datang ke rumah ini.
"Sayang?"
"Maaf dan terima kasih, Ma". Rasanya mendadak aku terkena flu dan tenggorokanku sakit seperti ada batu yang mengganjal dan aku mulai merasakan air mata mulai keluar dari kedua mataku.
"Oh sayang" tak kuduga Mama memelukku, "apa yang terjadi? Apa kau ada masalah dengan Evan, sayang?".
Aku menggeleng. "Tidak, Ma. Aku hanya senang mama akhirnya baik padaku".
"Oh, sayang. Maafkan Mama dan Papa dulu, ya sayang".
Aku mengangguk seraya merekatkan pelukanku padanya. Saat ini, inilah yang ku butuhkan. Sebuah pelukan.
Tidak lama kemudian, Papa datang. Awalnya dia heran melihatku yang terisak- isak dalam pelukan Mama hingga aku tersenyum, menenangkan dan langsung membuatku terhenti ketika secara tiba- tiba Papa juga ikut memelukku, membuatku semakin terisak lebih keras.
Evan yang melihatku keluar dengan mata sembab dan hidung yang memerah dari rumah orang tuanya, menatapku heran bercampur curiga tapi aku mengatakan kalau hormon kehamilan ini membuatku seperti manusia slang air.
"Ya. Setidaknya hal itu bisa membuatmu mengeluarkan air mata". Ujarnya. Ku katupkan bibirku rapat, menahan rasa perih yang tiap kali kurasakan padanya.
Selama dua hari ini, aku tidak bisa keluar. Suhu tubuhku meningkat lebih tinggi, menurut dokter ini karena aku sedang hamil dan itu wajar. Aku juga disarankan untuk tidak memikirkan apa pun dan sebagai gantinya aku harus istirahat total.
Thalia juga sudah kuhubungi supaya bisa datang bersama Agnes dan Steve. Aku sangat merindukan mereka. Aku berjalan menuju dapur ketika bertemu Sarah di sana.
"Hai". Sapaku.
"Tinggalkan dia, Sia".
Aku yang tadinya ingin mengambil air minum, langsung berhenti dan berbalik ke arahnya.
"Tinggalkan? Siapa yang kau bicarakan?" Tanyaku bingung.
Sarah terlihat memutar matanya. "Aku bisa melihat apa yang telah terjadi pada kalian. Asal kau tahu, Evan sudah menceritakan semuanya padaku".
Evan menceritakan masalah kami padanya?
Kututup mataku untuk meredakan perasaan yang selalu kurasakan tiap kali dirinya dan Evan bersama.
"Apa lagi yang kau harapkan dari pernikahan kalian yang sudah sedingin ini? Pada dasarnya, Evan tidak pernah mencintaimu. Dia hanya membutuhkanmu untuk merawat Vano. Anak kami dan karena berhubung aku sudah berada di sini, sudah saatnya kau pergi".
"Aku akan pergi jika Evan yang mengatakannya sendiri". Ucapku dalam hati berdoa semoga itu tidak pernah terjadi.
Mendadak Sarah mengeluarkan tawa penuh ejekan padaku. "Apa lagi yang kau harapkan dari pria yang tidak pernah mencintaimu?"
"Setidaknya dia mencintai anak yang akan lahir ini"
Oh Tuhan! Aku ingin ini segera berakhir.
"Haha kau konyol. Evan memang tipe pria seperti itu. Dia adalah pria bertanggung jawab yang pernah kukenal. Maksudku lihat saja Vano. Dia sangat menyayangi Vano, kan? Jangan mempersulit dirimu sendiri Sia dan aku mendengar darinya kalau awalnya kau tidak setuju untuk hamil. Dengan kata lain, kehamilan ini adalah kehamilan yang tidak kau rencanakan sebelumnya".
"Kau salah". Sergahku. "Aku salah. Ku pikir kau baik jadi aku....terserahlah. Satu hal yang perlu kau tahu kalau aku juga mencintai anak ini sama halnya Evan dan Vano dan aku menyesal karena memikirkanmu di dalamnya. Aku yakin Evan mencintai anak ini, dan itu berarti dia akan... Dia akan mencintaiku juga". Aku berusaha meyakinkan diriku tentang itu.
Lagi- lagi Sarah tertawa. "Baiklah... baiklah... terserah kau saja. Kita lihat siapa yang akan lebih dulu keluar dari tempat ini". Lalu dia meninggalkanku.
Sepeninggal dia, mendadak aku merasa tubuhku lemas hingga aku harus menjadikan meja dapur sebagai tempat bersandar
Rasanya nyaris seabad ketika menunggu Evan pulang dari kantornya. Aku akan meminta maaf dan menceritakan apa yang selama ini ku rasakan. Aku baru saja akan menuruni tangga ketika mendengar suara pintu di buka yang kuyakini sebagai kedatangan Evan dan suara Vano yang berteriak dibelakangku.
"Papa pulang". Serunya berlari tanpa melihatku disampingnya.
Kejadiannya begitu cepat, tubuhku yang memang agak sulit untuk bergerak bebas, tidak sempat menghindari Vano yang berlari dan menyenggolku. Satu hal yang kurasakan adalah tubuhku terasa remuk ketika mencapai dasar hingga kesadaran menghampiriku dan merasa kebas di area perut.
Sayup- sayup aku mendengar suara derap langkah bersamaan dengan aku yang melihat darah segar mengalir deras di kedua pangkal pahaku.
"Oh, tidak!"
***
Comments
Post a Comment