FALL FOR YOU - BAGIAN DUA EMPAT
Tak terasa sudah hampir 4 bulan semenjak pernikahanku dengan Evan dan harus kuakui aku semakin menyukainya.
Evan selalu membuatku bahagia dan itu membuatku merasa sangat di istimewakan olehnya. Vano juga tidak henti- hentinya menyunggingkan senyum kebahagian di bibirnya hingga membuatku berpikir, apa yang sudah kulakukan di masa lalu hingga mendapatkan keluarga yang sempurna seperti ini.
Aku baru saja menyelesaikan sesi pemotretan untuk cover sebuah majalah yang akan diluncurkan musim semi mendatang ketika rasa mual itu kembali menyergap dan dengan sekejap mata aku berlari menuju toilet terdekat.
"Kau sakit?" Natasha menghampiriku dan mengusap punggungku lembut.
Aku dan Natasha memiliki jadwal pemotretan yang sama dan berencana setelah ini akan makan siang bersama.
"Aku tidak tahu" jawabku. "3 hari ini rasanya aku mudah merasa lelah dan juga kelaparan disaat yang bersamaan. Mungkin karena jadwal pemotretan yang padat ini membuat tubuhku menggila" aku mengambil gelas berisi air dari tangannya dan meneguknya hingga tandas.
Sejenak Natasha terdiam, entah apa yang dia cari di wajahku kemudian matanya tertuju ke perutku yang datar.
"Apa kau tidak mengkomsumsi pil?"
"Pil? Untuk apa? Tidak" aku bingung. Kenapa sih dia?
Natasha kembali terdiam dan menghela napas. "Sebaiknya kau segera memeriksakan dirimu ke dokter". Ucapnya
Aku tertawa. "Jangan berlebihan Sha. Kurasa aku hanya perlu mengurangi jadwal ini".
"Jangan membantah Sia. Oh iya, sebaiknya kau pergi bersama Evan".
Kupandangi Natasha bingung. Kenapa dia terlihat gusar seperti itu? Dan kenapa juga harus mengikutsertakan Evan? Aku kan bisa melakukannya sendiri.
Tapi setelah 2 hari. Aku melupakan apa yang pernah dikatakan Natasha karena sulit mengatur ulang jadwalku dan kembali rasa mual itu menyerangku habis- habisan. Evan juga pagi tadi ikut mendesakku untuk ke rumah sakit karena aku kembali nyaris memuntahkan semua makanan yang kumakan, membuat Evan harus terlambat pergi ke kantornya hanya untuk menyeka bulir- bulir keringat yang berada di keningku.
"Bukankah kau ada meeting pagi ini? Pergilah. Aku baik- baik saja". Ucapku setelah ia menidurkanku diatas tempat tidur.
"Apa kau yakin?" Tanyanya seperti tidak rela. "Aku bisa menghubungi Ron untuk mengatur ulang jadwal meeting itu"
Aku mengangguk, tersenyum. "Jangan konyol Evan. Aku baik- baik saja lagipula ada Vano dan Tia disini yang bisa menemaniku".
Lama Evan terdiam seperti sedang berpikir. "Baiklah. Aku akan mengusahakan supaya meeetingnya bisa selesai lebih cepat jadi aku bisa segera pulang dan menemanimu".
Aku tersenyum. "Baiklah. Pasti kan kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik dan jangan terlalu memikirkanku".
Evan mencium puncak kepalaku hingga hidungku bisa mencium aroma citrus dari tubuhnya.
"Aku". Evan mencium keningku, "tidak mungkin" kemudian ke kedua mataku hingga aku harus menutup mata, "tidak memikirkanmu" Lalu mencium hidungku, "kau adalah matahari, bulan dan juga poros dalam kehidupanku". Akhirnya Bibir kami bertemu dan aku tidak pernah merasa puas akan dirinya.
Entah berapa lama aku tertidur dan terbangun ketika mendengar suara bel dan suara Tia dan Vano. Aku turun karena penasaran ketika aku mendengar suara wanita.
"Siapa kau?" Hardik wanita itu
"Tia, siapa di luar?" Tanyaku ketika disaat yang bersamaan aku melihat sepasang mata coklat yang kukenal, yang mana saat ini berdiri disamping Tia.
"Maaf, anda?"
"Aku Sarah. Siapa kau? Ini tempat Evan kan?"
Belum sempat aku menjawab, Evan datang. Matanya membelalak kaget ketika melihat wanita itu dan aku tidak perlu menanyakan apa yang terjadi karena aku baru saja mendapatkan jawabannya dan itu tepat di depan mataku.
***
Comments
Post a Comment