FALL FOR YOU - BAGIAN DUA ENAM

Apa yang dia katakan?

"Aku tidak bisa melakukannya Evan" Ucapnya dan aku semakin menggenggam kemudiku dengan erat hingga terdengar klakson dari arah belakang kami.

"Kita akan membicarakan ini di rumah". Ucapku dalam dan tegas

"Tapi..."

"Dirumah. Sia". Balasku dengan nada final. Dia terdiam dan aku semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Aku sudah tidak sabar untuk segera tiba.

Aku terlalu marah hingga tidak berniat untuk membukakan pintu mobil untuknya hingga dia ikut masuk ke dalam lift. Di dalam lift juga, kami sama- sama terdiam. Tidak ada yang berbicara dan keadaan ini membuat suasananya semakin mencekam.

Seketika ingatan tentang bagaimana Sia sama sekali tidak menunjukkan kebahagian ketika dokter Chyntia memberitahu tentang kehamilannya membuatku tidak habis pikir.

Apa itu yang membuat dia sejak tadi gugup? Dia sudah menduga ini akan terjadi. Apakah itu sebabnya dia merasa tidak senang?

Dan semua pikiran mengenai dirinya membuatku marah dan kecewa. Bagaimana bisa seorang wanita tidak merasa senang mengetahui kalau dia sedang hamil?

Aku lebih dulu masuk kedalam yang disusul tidak lama kemudian darinya.

"Jelaskan apa maksudmu tadi?" Tanyaku setibanya kami diruang tengah.

Kumohon, katakan kalau kau hanya bercanda tadi. Kumohon, kau tidak bermaksud mengatakannya. Kau hanya...

"Evan". Ucapnya lirih.

Sia menggigit bibir bawahnya dengan gugup sementara matanya memandangi seisi ruangan. Aku tahu apa yang dia cari dan seketika pemikiran bahwa dia tidak mau orang- orang tahu dirinya yang asli terbersit dalam pikiranku dan itu membuatku semakin marah dan juga... Jijik padanya.

"Sarah tadi meminta izin padaku untuk mengajak Vano keluar". Ucapku dan entah apa yang dia pikirkan karena wajahnya menampakkan ekpresi kaku dan sedetik kemudian berubah menjadi tanpa ekspresi

Damn it! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Sia?

"Tidak akan ada yang mendengar apa yang akan kau katakan. Jadi jelaskan apa yang tadi kau katakan". Kataku lagi.

Dia terdiam lalu menunduk. "Maaf Evan. Tapi aku tidak ingin anak ini".

Mataku membelalak karena terkejut. Tidak kusangka dia akan mengatakan hal itu. Bukankah dia sangat menyayangi Vano dan kedua keponakannya? Bagaimana mungkin dia tidak menginginkan bayi yang tumbuh dari dalam dirinya?

"Apa ini berhubungan dengan pekerjaanmu sebagai model?" Aku berusaha menerka apa yang dipikirkannya.

Hening sejenak. Sorot matanya ketika menatapku adalah sangat tegas dan dia memegang sudut sisi bajunya kuat- kuat.

Tolong katakan tidak. Tolong katakan kalau bukan itu masalahnya.

"Ya"

Dan aku telah melayangkan vas crystal yang terletak di atas meja kearahnya. Vas itu meluncur melewati sisi kepalanya dan hancur berkeping- keping dibelakang Sia tapi meskipun begitu, dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya atau berteriak kaget.

"Ya. Aku tidak mau karirku hancur karena aku harus mengandung" tegasnya. Dia tidak lagi kelihatan gugup ketika mengatakannya.

Kuraih tangannya dan memegangnya dengan sangat kuat lalu kemudian mendorongnya hingga tubuhnya bersandar di tembok, menimbulkan bunyi yang sangat keras. Aku baru memperhatikan kalau di sisi pipinya terdapat luka goresan kecil, mungkin serpihan vas itu berhasil mengenainya sebelum jatuh ke lantai.

"Jangan pernah berpikir untuk menggugurkan anak ini Sia karena aku tidak akan mengijinkannya." Aku melihatnya sekilas meringgis ketika menekannya dan berusaha melepaskan dirinya dariku.

"Evan"

Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku? Bagaimana dia bisa berpikir sepicik itu hanya untuk karirnya?

"Aku tidak perlu ijinmu untuk anakku" suaranya terdengar dalam dan dingin membuatku terperangah.

Kemana Sia yang kukenal selama ini? Yang hangat, yang selalu tersenyum menenangkan, yang sangat menyayangi anak- anak. Kemana semua itu? Sekarang yang kulihat adalah seorang iblis dalam tubuh wanita yang sangat kucintai.

"Apa kau lupa kalau dia juga anakku?" Balasku sama dinginnya. "Aku tidak sedang memohon Sia. Aku menyuruhmu dan perintahku adalah jangan pernah memikirkan apa pun yang bisa membahayakan calon anakku apalagi melakukannya dan jika aku tahu kau berusaha untuk membahayakannya. Akan kupastikan kau akan berada dalam masalah". Ancamku sungguh- sungguh dan langsung meninggalkannya.

Sial!

Dia bahkan sama sekali tidak berusaha menjelaskan apapun padaku. Hampir saja pertahananku tadi runtuh ketika melihat air mata di sudut matanya. Apa dia sebegitu mementingkan karirnya hingga tidak ingin hamil? Apakah ini semua adalah sifat aslinya?

Semua pertanyaan tentang sikap Sia membuat kepalaku terasa sakit dan itu juga membuat hatiku sakit bercampur kecewa.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS