FALL FOR YOU - BAGIAN DUA LIMA

Evan POV...

Semenjak kedatangan Sarah tempo hari. Ada yang berbeda dengan Sia, dia seakan seperti menghindariku dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padanya.

Dia begitu marah, berteriak- meluapkan segala amarahnya padaku karena ketidakterus- teranganku ketika akan menikah dengannya dan berpikir aku telah membohonginya. Aku memang tidak pernah menceritakan segala sesuatu tentang Sarah karena aku menganggap tidak ada yang perlu diceritakan mengenai wanita itu pada Sia.

"Kenapa kau tidak mengatakan apapun tentang istrimu itu?" Tanyanya ketika kami sudah berdua.

Bahkan sementara dia marah, dia masih berpikir dan menyuruh Vano dan Tia berjalan- jalan di taman dekat sini. Sarah tentu saja ikut bersama mereka dan menatapku tajam ketika aku mengijinkan Sarah ikut menemani Vano keluar.

"Kau sepertinya tahu kalau istrimu akan datang hari ini. Itukah sebabnya kau terburu- buru datang?"

"Sarah bukanlah istriku. Tidak ada pernikahan diantara kami"

"Ka- lian tidak menikah?" Dia tampak kaget mengetahui kalau aku belum menikah. Apa selama ini dia berpikir kalau aku sudah menikah?

"Sia?" Aku mulai mendekatinya tapi langsung ditepis olehnya.

"Jadi kau merebut Vano darinya?"

"Merebut? Aku tidak merebutnya, dia yang memberikannya padaku"

"Apa?"

"Dengarkan aku, Sunshine" aku kembali mendekatinya. "Aku tidak tahu alasan dia kemari tapi mengertilah. Aku tidak mungkin mengusir Sarah dari rumah ini"

"Aku tidak pernah berpikir akan mengusir ibu Vano dari sini, Evan. Tidak pernah. Lagipula ini rumahmu, aku tidak punya hak untuk memutuskan siapa saja yang boleh kemari"

"Tidak. Ini rumahmu juga. Kau berhak melakukan apapun disini"

"Aku tidak yakin. Dia- aku tidak tahu harus menyebut apa pada hubungan kalian- tapi dia ibu kandung Vano. Ada bukti akurat diantara kalian. Dia jauh lebih berhak dibandingkan aku yang hanya kau nikahi sebagai pengasuh anakmu itu"

Tunggu dulu. Apa katanya? pengasuh?

Dia mengira aku menikahinya karena ingin dia mengasuh Vano?

Tidak tahukah dia kalau...

"Kau masih mencintainya"

"Apa? Tidak. Aku bahkan sudah menganggapnya mati"

Entah apa yang sudah kukatakan ketika mendadak dia membulatkan matanya, tidak percaya.

"Kau mengatakan orang yang masih hidup, sudah mati?"

"Memang apa yang harus kukatakan? Dia datang dan mengatakan kalau bayi yang masih berumur satu minggu adalah anakku lalu pergi setelahnya"

"Hanya karena kau menganggapnya seperti itu bukan berarti kau berhak mengatakan kalau dia sudah mati".

Aku tidak mengerti. Apa ini semacam, dia baru saja membela wanita itu?

"Kau bahkan sama sekali tidak memikirkan perasaan Vano?"

Apa?

"Biar bagaimanapun Vano berhak mengetahui apa yang sebenarnya".

Apa- apaan dia?

"Kalau kau takut Vano mengetahui yang sebenarnya. Jangan khawatir karena yang kulihat Vano jauh lebih menyayangimu dibandingkan wanita itu ataupun aku yang sebagai ayahnya".

Mulut Sia terbuka kemudian tertutup kemudian terbuka lagi. Mungkin kalau situasinya tidak setegang ini, mungkin aku akan menganggap wajah Sia lucu hingga ke titik dimana aku ingin menciumnya tapi kami sama- sama dalam keadaan panas.

"Ini bukan soal siapa yang lebih disayangi Vano, Evan". Ucapnya pelan. "Tapi lebih kearah kau sudah bersikap tidak adil pada ibu kandung Vano".

Aku terperangah.

Demi Tuhan! Apa dia baru saja meminta keadilan untuk wanita itu?

Apa dia tidak mendengar ucapanku tadi?

"Pikirkan lagi Evan. Untuk Vano".

Dan dia pergi meninggalkanku sendirian hanya untuk memikirkan ucapan konyolnya yang sudah jelas tidak masuk diakal. Memang dia tidak tahu apa yang terbaik buat Vano? Bagiku dialah yang terbaik buat Vano dan juga diriku.

Dan disinilah aku dengan Sia yang memunggungiku. Sikapnya tetap seperti biasa jika berada dihadapan baik itu Vano maupun Tia tapi ketika di depanku, dia menjadi pendiam dan dari semua hal tidak masuk akal yang dia lakukan. Satu hal yang membuatku uring- uringan adalah dia mengizinkan Sarah untuk datang bertemu dengan Vano kapan pun Sarah mau.

Tentu saja Sarah tidak melewatkan kesempatan emas ini dan ketika melihatku, dia akan langsung mencium kedua pipiku walaupun Sia berada di sampingku tapi sepertinya Sia tidak mempermasalahkan hal itu. Membuatku berpikir apa selama ini dia tidak punya perasaan apa pun padaku dan aku semakin tidak percaya ketika dia menjawab pertanyaanku yang sontak menampakkan amarahku hingga melempar handphonenya tepat sebelum dia menghubungi siapapun yang ingin dihubunginya.

"Kalian berdua mempunyai anak yang bernama Vano. Sekedar ciuman di pipi tidak akan mengangguku".

Damn it!

Apakah jika Sarah menginginkan lebih, dia tidak akan mempermasalahkannya hanya karena aku sudah pernah melakukan itu sebelumnya bersama Sarah?

Kuperhatikan makin hari, wajah Sia semakin pucat dan nyaris setiap waktu dia ke kamar mandi untuk muntah jadi kuputuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya dia menolak dengan alasan dia harus melihat hasil fotonya kemarin tapi aku tidak peduli. Yang kupedulikan hanya dirinya.

Aku tidak tahu kenapa suster itu membawa kami ke bagian kandungan. Maksudku ini pertama kalinya untukku. Aku tidak pernah sebelumnya berada di situasi yang seperti ini tapi sepertinya Sia tidak merasa kebingungan sepertiku. Sebaliknya dia terlihat jauh lebih pucat dari yang sebelumnya dan dia menggigit bibirnya karena gugup.

Apa ada sesuatu yang terjadi?

Tidak lama kemudian nama Sia dipanggil. Kupegang sebelah tangannya dan kaget. Tangannya sedingin es dan dia terlihat lebih gugup ketika sudah duduk.

"Nah, sepertinya kita sudah tahu hasilnya seperti apa. Iyakan Mrs. Alexander". Ucap dokter wanita yang memperkenalkan namanya sebagai Cynthia dengan ceria.

"Tapi itu tidak mungkin" Cicit Sia kecil tapi aku sudah mendengar apa yang baru saja diucapkannya dan kemungkinan dokter Chyntia juga, karena dia sedang melihatku dengan kening berkerut.

"Apa penyakit Sia parah?" Kegelisahan dan kegugupan Sia membuatku tidak tahan.

Chyntia tersenyum. Jelas dia ingin menghilangkan atmosfer yang tiba- tiba terasa mencekam ini.

"Mrs. Alexander tidak menderita penyakit apa pun, Mr. Alexander".

Kulihat Sia memejamkan matanya seakan dia menunggu vonis putusan hukuman mati untuknya.

"Hasil tesnya menunjukkan kalau Mrs. Alexander saat ini sedang hamil 6 minggu".

Butuh 40 detik bagiku untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh dokter itu ketika kesadaran kembali menghantamku.

Setelah mengucapkan terima kasih karena sebentar lagi akan menjadi ayah. Kukemudikan mobilku dengan pelan. Aku tidak ingin terjadi pada anak kami maupun Sia.

Menurutku Sia adalah wanita luar biasa yang pernah ku kenal. Bukan karena aku tahu kalau aku mencintai wanita disampingku ini tapi karena aku tahu kalau Sia lah wanita yang cocok untukku dan aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku.

"Evan?" Ini pertama kalinya dia menyebut namaku setelah pertengkaran kami dulu.

"Ya?" Kutolehkan kepalaku sejenak kearahnya sebelum kembali melihat kedepan, mengendarai mobil.

"Aku tidak bisa". Ucapnya.

Aku kembali menoleh padanya, bingung. "Tidak bisa apa, Sunshine?"

Beruntung jalanan sedang lenggang hari ini dan aku tidak sabar untuk sampai ke rumah. Kalau perlu aku bisa singgah dulu di restoran untuk memesan makanan dan merayakannya bersama Vano dan besoknya kami bisa mengundang keluarga lainnya.

"Anak ini. Aku tidak menginginkan anak ini"

Dan aku langsung menginjak rem dengan mendadak.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS