FALL FOR YOU - BAGIAN DUA PULUH
Sudah dua hari ini Agnes dan Steve bersama kami. Dari yang diceritakan Sia kemarin, Ben dan Thalia sedang berada di luar negeri untuk mengikuti semacam konferensi. Aku sebenarnya tidak masalah karena dengan adanya Steve dan Agnes, aku semakin tahu sifat Sia.
Dari pengamatanku selama ini, Sia sangat tahu apa yang diinginkan ketiga anak itu selain dengan dia yang sangat menyayangi mereka. Satu hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya akan terjadi dan kulihat adalah ketika Vano dengan lahapnya menghabiskan wortel di piringnya dimana aku tahu kalau Vano sangat membenci wortel sama sepertiku.
Dan ketika Sia mengetahui kalau aku juga membenci wortel. Tanpa kuduga dia memberiku tatapan tajam, membuatku mengkeret dan dalam hati aku mulai bertanya- tanya apa dia juga menggunakan cara ini untuk membuat Vano memakan wortelnya? Belakangan aku tahu, tepatnya Steve membisikiku tentang sesuatu yang disatu pihak aku ingin tergelak tapi dipihak lain, tidak ingin melihat Sia marah padaku.
"Tante Sia bisa berubah sangat menakutkan kalau paman tidak menghabiskan makanan paman". Bisik Steve.
Dan itu membuktikan kalau teoriku memang benar. Vano bukan anak yang dengan mudah akan menuruti permintaan seseorang apalagi jika itu menyangkut makanan yang tidak di sukainya. Aku pernah melihat bagaimana sulitnya Tia dulu ketika memaksa Vano makan wortel. Sejak saat itu wortel menjadi makanan haram di rumah ini tapi sekarang, melihat Vano yang tanpa ragu memasukkan makanan berwarna orange itu ke mulutnya, membuatku terkesima.
Satu hal yang membuatku geram hingga sekarang adalah karena sepertinya Sia bertekad untuk menghindariku setiap kali kami berduaan. Ada saja alasannya hingga dia meninggalkanku dan terus terang itu membuatku merasa gusar dan tidak nyaman.
Aku baru saja pulang dari kantor ketika mendapati Thalia dan Ben berada di rumahku, bermain bersama Steve, Agnes dan Vano.
Setelah mengganti pakaian dengan kaos dan celana pendek selutut, aku kembali turun.
Hari sudah menjelang malam ketika Thalia dan Ben undur diri sambil mengapit tangan Steve dan Agnes ketika aku menyadari kalau Sia sama sekali tidak ada.
"Eh, apa kau melihat Sia?" Tanyaku ketika baru saja akan mengantar mereka berempat di pintu depan.
Yang bisa kulihat adalah wajah Thalia tiba- tiba menampakkan wajah terkejut kemudian memberi mereka tatapan penuh arti.
Ben terlihat menghela napas. "Mungkin ada baiknya kalau kita memberitahukan hal ini pada Evan, Lia". Ucap Ben padanya.
"Tapi..."
"Evan tentu lebih tahu apa yang harus dilakukannya?"
"Tapi Sia memintaku..."
"Mereka sudah menikah Lia dan kau juga harus ingat, mereka adalah orang tua Evan. Evan yang lebih tahu sifat orang tuanya".
Aku bingung. Apa yang sedang mereka bicarakan? Dan kenapa aku mendengar kedua orang tuaku disebutkan dalam pembicaraan mereka?
"Sia tadi bergegas menuju ke rumah orang tuamu". Ucap Ben padaku, "dan dari ekpresi Sia yang aku tidak yakin. Sepertinya ibumu mengatakan sesuatu yang Sia tidak suka".
Apa?!
Lalu tanpa kuduga Ben menepuk pundakku lembut. "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan orang tuamu tapi kumohon jangan libatkan Sia dalam hal ini. Aku tidak mengatakan ini karena aku adalah kakak iparnya, aku mengatakan ini karena aku tahu bagaimana Sia. Sia orang yang paling lembut dan baik hati yang pernah kukenal. Itulah sebabnya aku mempercayakan Sia padamu karena menurutku Sia juga menyukaimu terlepas dari masa lalu yang kau miliki".
Aku mengangguk. Jelas Ben tahu siapa ibu kandung Vano yang sebenarnya dan aku yakin dia mencari tahu dari Ron. Aku tidak menyalahkannya, toh yang sekarang kusukai adalah Sia bahkan lebih dari wanita itu tapi mendengar ucapan Ben yang mengatakan kalau Sia juga menyukaiku. Apa itu mungkin? Mengingat Sia sama sekali tidak pernah mengatakan atau menunjukkan hal itu.
"Aku mengerti Ben. Terima kasih". Balasku mengangguk.
"Apa maksudmu tentang masa lalu Evan, Ben?" Mendadak Thalia bertanya, kemudian melihatku
"Akan kujelaskan di rumah". Jawab Ben, yang membuat Thalia semakin memasang mimik wajah penasaran.
"Baiklah Evan, pastikan kau menjaga Sia dengan baik. Aku bisa melihat kalau Sia juga mencintaimu sama seperti kau yang mencintainya".
Aku masih terperangah dengan kalimat Thalia tadi ketika tiba- tiba aku memutuskan untuk mengejar mereka.
"Thalia. Ben". Panggilku yang membuat mereka yang tadinya akan memasuki lift, berhenti. "Bisakah aku minta tolong?" Tanyaku. Membuat kedua orang dihadapanku ini sama- sama mengerutkan kening. "Begini, kurasa aku dan Sia akan membicarakan sesuatu yang penting. jadi apakah Vano bisa kutitipkan bersama kalian?"
Baik Ben maupun Thalia sama- sama saling memandang ketika akhirnya Ben mengangguk, mengiyakan.
"Asyik! jadi Vano bakalan nginap di rumah kita kan, Ma?" Seru Steve tiba- tiba, membuat Thalia tersenyum.
"Baiklah". Jawab Thalia
"Asyik!". Seru Vano dan Steve bersamaan.
"Sekarang giliranku untuk menginap di kamarmu kan, Steve?" Aku mendengar Vano yang berbicara dengan Steve, akrab.
"Ya. Akan kuperlihatkan mainan yang kemarin ku ceritakan". Jawab Steve.
Setelah mengantar mereka berlima ke parkiran. Aku kembali menuju lantai atas untuk mengambil handphone yang sempat kulupakan tadi.
Kutekan nomor handphone Sia dan menyadari kalau handphonenya dia tinggalkan di kamar.
Sial! Apa sih yang di pikirkan gadis ini?
Kukemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi ketika aku sudah berada di pekarangan rumah orang tuaku dalam kurun waktu 15 menit tapi sepanjang yang aku lihat, tidak ada sama sekali mobil yang dikendarai oleh Sia.
Salah orang pelayan yang entah namanya siapa, melihatku dengan pandangan kaget dan dengan cepat mempersilahkanku masuk. Setibanya didalam, aku melihat ibuku yang sedang berusaha menenangkan ayahku yang terlihat lebih marah yang biasa dia perlihatkan. Setelah pelayan yang mengantarku tadi memberitahukan tentang kedatanganku. Ibuku langsung menyambutku dengan rasa senang yang sangat mencurigakan dimataku sementara ayahku seperti biasa bersikap tidak peduli jika bertemu denganku.
"Dimana Sia?" Tanyaku tanpa perlu bersusah payah menyembunyikan maksud kadatanganku kemari.
"Jadi kau ke sini hanya ingin mencari wanita itu?" Suara ayahku terdengar sinis di telingaku.
"Aku datang ke sini bukan untuk bertengkar, Dad. Aku ke sini untuk menjemput istriku, Sia". Jawabku seraya menekankan kata istri padanya.
"Istri? Yang benar saja Evan".
"Dad!".
"Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau profesi Sia adalah model?" Sahut ibuku.
"Apa itu masalah, mom?" Tanyaku mereka- reka apa yang sebenarnya terjadi.
"Tentu saja itu masalah. Apa kau tidak tahu kehidupan model itu seperti apa?" Sergah ayahku marah.
"Sia tidak seperti itu". Tukasku. Hingga aku dan ayahku saling bertatapan. "Terserah apa tanggapanmu, dad. Yang jelas aku sudah memilih Sia untuk menjadi istriku. Teman hidupku jadi sekarang dimana Sia?"
"Dia sudah pergi".
"Pergi?"
"Kau sudah mendengarku Evan Alexander. Dia pergi 5 menit sebelum kau datang".
Aku baru saja berbalik ketika aku merasakan ibuku menahanku.
"Evan, lepaskan dia". Pinta ibuku.
"Mom tidak tahu dia. Sia bukan orang seperti yang mom pikirkan ".
"Tapi dia..."
"Maafkan aku Mom". Ujarku seraya melepaskan tangan ibuku lembut.
Dengan terburu- buru kulajukan mobil ke tempat tinggal kami tapi tidak ada sama sekali tanda- tanda dia berada di sana.
Selama dua jam penuh aku menunggu tapi Sia sama sekali tidak menunjukkan kalau dia akan pulang. Ku hubungi Thalia tapi dia mengatakan kalau Sia tidak ke sana.
Hanya satu teman Sia yang ku kenal tapi aku sama sekali tidak mengetahui nomor telepon Natasha, teman sesama modelnya.
Kemudian aku ingat Ron pernah mengatakan kalau dia bertemu Sia di sebuah diskotik. Tanpa berpikir lagi kutekan nomor Ron dan langsung diangkatnya pada dering kedua.
"Hai sobat, tumben kau menghubungi malam- malam seperti ini".
"Apa nama diskotik tempat kau bertemu Sia dulu?" Tanyaku.
"Angela's Diamond. Ada apa?"
"Aku menduga Sia berada di Sana".
Lama tidak ada jawaban dari Ron hingga kupikir dia mematikannya ketika kembali aku mendengar suaranya.
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak. Tapi dia baru saja mengunjungi orang tuaku dan apa pun itu, sepertinya berjalan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ayahku".
"Kelihatannya parah. Apa Sia marah?"
"Justru karena itu aku mencarinya. Aku perlu tahu apa yang telah terjadi?"
Hening sejenak.
"Baiklah. Kita bertemu di pintu masuk tempat itu".
"Okey".
20 menit perjalanan yang harus kutempuh dan melihat Ron yang sudah menungguku ditempat yang tadi dikatakannya. Ketika kami masih, kami langsung disambut oleh suara hiruk pikuk hingga mataku menangkap sosoknya, sedang berdansa bersama seseorang dengan provokatif tapi seketika langsung membuatku naik pitam. Sia berciuman tanpa malu- malu dilantai dansa dengan pria yang sangat kubenci.
Paul.
***
Comments
Post a Comment