FALL FOR YOU - BAGIAN DUA SATU

Author POV...

Tanpa berniat memalingkan wajahnya, Evan memandangi wanita yang saat ini sedang tertidur lelap di depannya. Seluruh tubuhnya sengaja Evan tutupi dengan selimut, tahu kalau Sia sama sekali tidak mengenakan apapun di baliknya.

Sebenarnya Evan tidak berniat beranjak dari tempat tidurnya pagi ini dan mungkin dia bisa melanjutkan apa yang semalam mereka berdua lakukan tapi Evan menuntut jawaban dan itu harus di dengarnya dari mulut Sia sendiri jadi dengan terpaksa, dia bangkit dari ranjang empuk dan hangatnya menuju kamar mandi dan melampiaskan sisa paginya di dalam sana.

Evan bersyukur setidaknya ketika dia keluar dan memakai pakaian, Sia sama sekali belum bangun dan mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari tempat tidur mereka dan yang lebih penting adalah dia bisa leluasa memandangi wajah polos Sia yang sedang tertidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika Evan menangkap pergerakan dari Sia lalu mendengar erangan kecil dari bibir itu sambil memegang kepalanya yang mendadak sakit ketika secara bersamaan kedua matanya bersirobok dengan mata Evan.

Sia terdiam, memperhatikan, sementara otaknya mulai sibuk memikirkan apa yang telah terjadi meskipun terasa sulit karena sakit kepala yang belum juga reda ditambah penampilan Evan yang luar biasa tampan di pagi ini, Sia sering diam- diam memuja makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.

"Kau sudah bangun?" Evan mulai bertanya karena tidak ada tanda- tanda kalau Sia akan berbicara.

"Okey, bernapas Sia." Perintah Sia dalam hatinya, "ini semua masih mimpi, kau masih tertidur"

Sia bernapas, berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak kencang setiap kali Evan berada di dekatnya dan terlonjak kaget ketika merasakan kalau detakan itu nyata.

"Ini bukan mimpi!"

Sia memekik kaget, terlonjakdl dari tempat tidurnya hingga tidak menyadari selimut satin yang dikenakannya telah melorot hingga ke perut, menampilkan dadanya yang terekspos sempurna. Kedua mata Evan membelalak dan keinginan untuk melakukan apa yang semalam mereka lakukan kembali menghamtam dirinya. Dicengkramnya kursi tempatnya duduk dan mengambil napas pelan ketika kembali menatap Sia dengan sebelah kening terangkat. Sia yang menyadari perubahan Evan yang mendadak, heran lalu melotot kaget ketika menyadari kalau dirinya tidak memakai apapun di balik selimut.

Astaga, apa yang terjadi?!

"A-aku perlu ke kamar mandi". Sia sekaligus menarik selimut agar bisa menutupi seluruh tubuhnya dan berjalan tergesa- gesa menuju kamar mandi.

Setelah berada di dalam kamar mandi. Sia segera menyalakan air di bathtube hingga penuh. Bagian bawahnya terasa nyeri tapi selebihnya itu dia baik- baik saja.

Berendam dalam aroma lavender yang disukainya memberinya cukup waktu untuk mengingat kejadian kemarin. Dia ingat apa yang sudah dilakukannya semalam bersama Evan bahkan sangat ingat, seperti baru beberapa menit yang lalu mereka melakukannya, sensasinya bahkan masih terasa sampai sekarang tapi bagaimana hingga dia bisa melakukannya, dia tidak tahu dan tidak ingat.

Sebenarnya dia begitu marah karena entah dari mana Mr. dan Mrs. Alexander tahu kalau dia bekerja sebagai model hingga Mrs. Alexander menyebutkan semua laki- laki yang pernah dikencani Sia dan yang lebih parahnya lagi Mrs. Alexander meminta Sia untuk bercerai dari Evan.

Sia sudah berusaha mati- matian untuk menjelaskan pada Mrs. Alexander tapi sama sekali tidak ditanggapi olehnya ditambah Mr. Alexander mengancam akan melakukan jalur hukum untuk memisahkan Sia, Evan dan juga Vano. Karena terlalu marah, Sia keluar dari kediaman Alexander dan memutuskan kalau dia tidak akan menyerahkan baik Evan maupun Vano. Ini hanya salah paham. Salah paham yang akan Sia coba untuk jelaskan dan luruskan.

Sia baru saja akan menghubungi Natasha dan yang lainnya ketika dia baru ingat kalau dia melupakan handphonenya di dalam kamar. Dengan keyakinan kalau dia akan bertemu Natasha atau siapa pun yang dikenalnya. Sia melajukan mobilnya menuju tempat yang biasa dia datangi ketika merasa marah atau bosan. Dia perlu pelampiasan malam ini dan ketiga temannya harus berada disana.

Tapi sebelumnya Sia singgah dulu ke taman untuk menenangkan diri. Biar bagaimanapun dia harus menyusun rencana untuk merebut perhatian mertuanya dalam dua hari ke depan.

Setelah merasa yakin dengan apa yang akan dilakukannya nanti, Sia melajukan mobilnya ke diskotik tempat dia biasa berkumpul dengan ketiga temannya tapi hingga satu jam menunggu, sama sekali tidak ada tanda penampakan dari mereka bertiga hingga Paul muncul.

Awalnya Paul kaget mendapati Sia yang berada seorang diri di diskotik, belum lagi pakaian yang di kenakan oleh Sia membuat sesuatu yang sangat lapar dari dalam dirinya kembali muncul.

Ya. Ketika melihat Sia untuk pertama kali, Paul sudah merasa tertarik padanya tapi Sia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padanya, membuat egonya terluka karena dia sama sekali tidak terbiasa di tolak apalagi oleh seorang gadis. Belum lagi ketika Paul mengetahui kalau Sia sudah menikah dan melihat bagaimana suaminya itu sangat menyukai Sia dan sepertinya Sia juga merasakan hal yang sama dan kembali egonya terluka ketika lagi- lagi Sia menolak ajakan makannya.

Hanya ada satu cara supaya bisa mendapatkan Sia atau kalau memang tidak bisa, setidaknya dia bisa ikut mencicipi rasa Sia yang sangat membuatnya tergoda sekaligus penasaran.

Tanpa diketahui Sia, Paul segera menjalankan rencananya dengan memasukkan obat ke dalam minuman Sia. Sia sudah menolak minuman beralkohol tapi dengan sedikit bujukan plus rayuan, akhirnya Sia luluh tapi dengan syarat dia hanya akan minum dengan kadar alkohol yang rendah.

Setelah melihat Sia menghabiskan minumannya, Paul segera melancarkan aksinya dengan mengajak Sia berdansa. Di sisi lain, Sia merasa tubuhnya mendadak panas dan merasakan bibir Paul sudah berada di bibirnya, melumatnya dengan rakus tanpa sama sekali memberi akses untuk lebih jauh ke dalam mulutnya. Sia hanya merasa jika dia menolak Paul maka tubuhnya akan memberontak tanpa Sia ketahui.

Entah karena angin atau hidungnya kelewat sensitif, dia merasakan aroma maskulin Evan dan berbalik ketika mendapati Evan yang sedang memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak tapi itu tidak menampik kalau Sia sangat menginginkan pria di depannya ini sekarang.

Tanpa diperintah, tubuhnya bergerak dengan sendiri. Mengalungkan lengannya ke leher Evan dan menciumnya. Awalnya dia hanya memberikan ciuman kecil tapi seduktif ketika berubah menjadi kasar dan menuntut, terlebih lagi ketika Evan sama sekali tidak membalas ciumannya tapi semakin lama, Evan semakin tidak tahan apalagi tubuh Sia menempel dengan sangat erat di tubuhnya hingga Ron mengintrupsi.

Evan menyadari ada yang berbeda dengan Sia malam ini, Sia tidak seagresif ini sebelumnya hingga nyaris melepas pakaian Evan jika saja dia tidak menahan tangannya untuk bergerak lebih jauh.

Ron tertawa terbahak- bahak hingga merasa perutnya sakit ketika melihat keagresifan Sia yang menurutnya sangat menggemaskan. Ron berbaik hati mengantar mereka berdua pulang dan Ron bersikukuh kalau Sia bukannya mabuk tapi ada sesuatu yang sudah dilakukan Paul padanya. Memikirkan hal itu, membuat Evan kembali geram karena telah memanfaatkan kepolosan Sia.

Ting...

Akhirnya setelah Evan bersusah payah membawa Sia sementara gadis itu terus berusaha membuka baju yang dikenakan oleh Evan selama berada di lift yang membawa mereka ke lantai paling atas, menuju penthouse mereka. Setelah membuka kunci, mereka kembali berciuman dengan sangat dalam hingga tanpa sadar mereka telah berada diatas tempat tidur, tanpa sehelai benang pun yang menghalangi mereka.

"Apa kau yakin, sayang?" Tanya Evan ragu, menatap mata dan bibir Sia yang sudah bertambah volumenya.

Evan masih menunggu persetujuan Sia. Dia tidak ingin Sia menyesali apa yang sudah mereka lakukan ketika mendapati gadis itu mengangguk seraya memegang kedua pipinya.

"Ya". Jawab Sia. "Aku yakin, Evan. Aku sudah lama menginginkan dirimu. Apa kau tahu itu?"

Satu pertanyaan yang dilontarkan kepadanya hingga kembali meruntuhkan segala pertahanan dan keraguan Evan hingga dia menyadari sekat yang menghalangi dirinya agar lebih kedalam. Matanya membelalak, tidak menyangka tapi seakan Sia mengetahui apa yang dipikirkan oleh Evan. Sia tersenyum dan mencium bibir Evan.

"Aku menginginkannya, Evan" desah Sia meminta. "Tidak bisakah kau memberikan apa yang kuminta?"

Evan terdiam, mencari keyakinan dimata Sia dan mengangguk.

"Aku akan melakukannya dengan pelan, Sunshine" lalu Evan mulai mengecup kedua mata Sia dengan lembut, hidung lalu terakhir ke bibir Sia.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS