FALL FOR YOU - BAGIAN DUA SEMBILAN

Author POV...

Sia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannnya untuk mendekati dan melunakkan hati Evan. Semenjak kejadian jatuh dari tangga dua bulan yang lalu, membuat Evan semakin dingin padanya. Entah sudah berapa ratus kali Sia berusaha menjelaskan pada Evan tapi yang terjadi malah Evan semakin marah bahkan melempar barang- barang ke arahnya.

Ya. Sia juga merasakan bagaimana sakitnya dia kehilangan anak, apalagi anak itu adalah anak yang sangat Evan jaga selama ini. Hati Sia juga tidak kalah hancur ketika dokter memberitahunya dan juga Evan kalau bayi mereka sudah tidak bisa diselamatkan alias sudah meninggal sebelum mereka tiba di rumah sakit dan melihat Evan yang sangat hancur, membuat Sia harus bertahan menghadapi ini semuanya.

"Kau tidak sarapan?" Tanya Sia ketika melihat Evan akan berangkat menuju kantornya. Tidak ada jawaban hingga Sia memegang lengan Evan yang langsung ditampik dengan kasar olehnya.

"Harus berapa kali ku katakan untuk tidak menyentuhku, bitch?" Sergah Evan marah. Tatapannya menyiratkan kebencian yang sangat luar biasa pada Sia.

Sia menutup matanya, meredakan hatinya yang saat ini terasa ditusuk oleh ribuan pisau tak kasat mata.

"Kau nyaris tidak pernah makan selama ini, Evan. Kau perlu mak...".

Sia berusaha untuk tetap memberikan pengertian pada Evan ketika lagi- lagi tangannya ditampik oleh Evan dan tubuhnya terdorong kebelakang dengan kasar hingga membentur tembok, menimbulkan bunyi yang sangat keras.

"Jangan. Pernah. Menyuruhku. Apa kau paham?" Kedua tangannya menekan tangan Sia dengan keras, membuat wanita itu meringgis kesakitan.

"Kau menyakitiku, Evan". Bulir- bulir air mata mulai jatuh ke pipi Sia.

Tapi yang ada Evan semakin menekan tangannya, "aku tanya, apa kau mengerti? Jawab aku!".

Sia mengangguk, " y- ya. Aku mengerti. Lepaskan aku." Isaknya tertahan.

Bukan fisik yang diterimanya, yang telah membuatnya sakit, melainkan karena pria itu sudah berubah dan itu semua karena kesalahannya. Kesalahan terbesar yang pernah diperbuatnya. Yang hasilnya malah membuat keluarga kecilnya hancur, terutama Evan.

"Bagus. Dan jangan pernah pura- pura mengeluarkan air mata buaya itu lagi dihadapanku." Lanjutnya berjalan meninggalkan Sia setelah membanting pintu dengan suara keras.

Sebenarnya Evan tidak tega melihat wanitanya menangis. Apalagi dia sering mendapati Sia menangis diam- diam. Entah di ruang tamu atau bahkan di kamar mandi tapi Evan masih tidak dapat menerima apa yang sudah terjadi padanya. Bukankah akan lebih mudah melimpahkan segala kesalahan dan tanggung jawab pada satu pihak? Itulah yang selalu Evan tekankan pada dirinya.

"Ma... Jangan menangis". Tiba- tiba saja Vano sudah berada dihadapan. Kedua matanya juga sembab karena menangis. Jelas sekali Vano melihat apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.

Sia berusaha untuk menyunggingkan senyum dan menghentikan tangisnya tapi yang ada dia malah semakin menangis apalagi ketika Vano memeluknya. Pertahanan Sia seakan runtuh dihadapan anak yang bahkan belum menginjak 6 tahun.

Sia terus saja menangis seakan dengan menangis dia bisa melimpahkan semua perasaannya pada angin.

"Maafkan Vano, Ma. Kalau bukan karena Vano. Mungkin adik gak akan marah dan pergi meninggalkan Mama."Ucap Vano lirih.

Masih dengan mata sembab, Sia melepaskan pelukannya. Ditatapnya anaknya penuh kasih sayang, "tidak kok jagoan. Semua itu bukan salah Vano jadi jangan bilang kayak gitu lagi ya, sayang". Ucap Sia masih dengan air mata berlinang.

"Tapi kalau Vano bilang sama Papa. Mungkin Papa tidak akan marah lagi sama Mama".

"Siapa bilang Papa marah sama Mama? Tidak kok sayang".

"Tapi Ma..."

"Shhh...tidak apa- apa. Vano tidak salah kok dan jangan bilang ini ke siapa- siapa ya? Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua." Sia terus saja menatap Vano hingga akhirnya anak itu mengangguk.

"Kalau begitu, ayo kita sarapan dan kita akan ke rumah kakek dan nenek. Sudah lama kita tidak berkunjung kesana."

****

Menjelang sore, Sia dan Vano pulang dari kediaman keluarga Alexander. Tentu saja Mrs. Alexander tidak begitu saja percaya ketika Sia mengatakan kalau dia menangis karena merindukan pelukan ibu kandungnya yang saat ini berada di Belanda dikarenakan pekerjaan ayahnya yang berada disana dan semakin terisak- isak ketika sebagai gantinya wanita itu justru memeluknya lembut dan hangat seperti pelukan ibunya.

Dari awal baik Mr. dan Mrs. Alexander sudah menaruh curiga dengan sikap Sia yang semakin hari dikenalnya malah terlihat polos dan lugu terlepas dari profesi yang selama ini di gelutinya tapi di saat yang bersamaan juga terlihat cerdas. Entah sudah berapa kali Mr. Alexander dibuat kagum dengan caranya berpikir setiap kali Mr. Alexander kesulitan dalam memutuskan sesuatu dalam profesinya sebagai hakim pengadilan.

Sia selalu datang dengan senyum yang mengembang, yang bahkan membuat Mr. Alexander mengernyit dan berasumsi kalau sedang terjadi sesuatu pada keluarga anak dan menantunya itu tapi setiap kali dia bertanya, Sia hanya mengatakan kalau keluarganya baik- baik saja.

Sia baru saja pulang dari kediaman Alexanser dan akan menidurkan Vano ketika ia mendengar ponselnya berbunyi, menampilkan menampilkan nama Natasha di layar.

"Sia." Suara Natasha terdengar seperti orang yang sedang mabuk berat.

"Natasha?"

"Sia, aku merindukanmu. Kemana saja kau?"

"Natasha, dimana kau dan dimana Nate?"

"Nate?" Kemudian terdengar suara tawa Natasha. "Aku tidak tahu mungkin dia ke laut mencari ubur- ubur untukku." Kekehnya.

"Pulanglah Sha. Kau mabuk".

"Mabuk? Yang benar saja, aku tidak mabuk kok."

Sia memijit kepalanya yang sekarang terasa sakit. "Kau dimana?"

"Grand Hyatt Hotel".

"Kalau begitu tunggu. Jangan kemana- mana, sekalipun itu toilet. Hanya menungguku, okey? Aku segera kesana."

Setelah menutup telponnya, Sia lalu memandang Vano yang berada diatas ranjang dan sedang melihatnya.

Sia mengusap puncak kepala Vano lembut. "Apa kau keberatan kalau Mama keluar sebentar?" Tanya Sia.

"Mama mau keluar?"

Sia mengangguk, "Ya. Tante Natasha membutuhkan pertolongan Mama. Kamu tidak apa- apa kan tidur sendiri? Mama akan meminta Tia datang dan menemanimu selama beberapa jam."

"Cepat kembali, Ma".

Sia tersenyum, "Pasti".

Setelah menghubungi Tia yang datang dengan terburu- buru 15 menit kemudian. Sia segera mengambil kunci mobilnya dan mengatakan pada Tia kalau dia hanya akan keluar sebentar.

"Aku tahu kalau Evan sebentar lagi akan pulang. Aku hanya sebentar jadi pastikan untuk tidak membuatnya khawatir." Yang sudah jelas itu tidak mungkin. Lanjut Sia dalam hatinya dan tersenyum ketika melihat Tia menatapnya dengan prihatin. Jelas wanita itu tahu apa yang baru saja dipikirkan oleh nyonyanya.

Sia tiba didepan hotel 20 menit kemudian. Sambil berlari- lari kecil, akhirnya Sia mendapati Natasha yang sedang menenguk gelas whiskeynya dan tampak sangat sedih.

"Kau seharusnga tidak minum sebanyak ini." Tutur Sia lalu duduk disamping Natasha.

"Oh my lovely and beautiful friend ever. Akhirnya kau datang. Aku merindukanmu, Sia." Seru Natasha langsung memeluk Sia dengan erat.

"Ugh, kau bau alkohol". Sergahnya seraya melepaskan diri pelukan Natasha. "Apa yang terjadi?"

"Ini semua karena Nate". Kemudian meluncurlah cerita tentang Nate yang katanya tidak mengerti perasaannya dan bla... bla... Membuat Sia harus menggelengkan kepalanya.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari ketika akhirnya Sia memutuskan untuk memesankan sebuah kamar di hotel dan besok pagi datang lagi untuk mencecar Natasha dengan semua pertanyaannya. Sia baru saja keluar dari hotel dan hendak menuju mobilnya ketika mendengar suara yang memanggil namanya.

"Sia?"

"Paul?" Sia tampak kaget menemukan Paul di depan hotel.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh, ada yang harus kuurus. Bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku baru saja menemui seorang teman disini".

Tanpa sadar Sia mengangkat alisnya, tidak percaya. Sulit memang mempercayai pria yang saat ini di hadapannya. Tapi alih- alih tersinggung dengan ekpresi yang diperlihatkan Sia, Paul justru malah tertawa.

"Jangan khawatir. Dia hanya teman biasa."

Sia menyunggingkan senyum terpaksa- merasa tidak enak telah ketahuan berpikiran yang tidak- tidak tentang pria itu.

"Dengar Sia, aku minta maaf atas kejadian yang dulu. Apa kau mau memaafkanku?" Tanya Paul.

Kening Sia kembali berkerut bingung, "kejadian yang mana?"

Paul hanya bisa tertawa melihat sikap Sia. "Yang jelas aku minta maaf padamu tentang itu".

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan Paul tapi Ya, aku memaafkanmu".

Paul tersenyum melihat Sia yang juga ikut tersenyum. "Dengar, besok aku akan ke Bali dan aku tidak tahu kapan aku akan bertemu denganmu jadi bolehkah aku mendapatkan satu pelukan darimu sebagai tanda perpisahan?"

Sia tertawa, "tentu Paul."

Sia merasa belum cukup semenit dia memeluk Paul ketika tubuhnya ditarik dengan paksa dari belakang, bersamaan dengan itu terdengar suara pukulan yang sangat keras.

"Astaga Evan! Apa yang kau lakukan?!" Sia tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi dan semakin kaget ketika mendapati bibir Paul yang berdarah.

"Tinggalkan dia, Sia" geram Evan berbahaya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS