FALL FOR YOU - BAGIAN DUA TIGA

Sia POV...

"Hentikan senyum bodohmu itu!" Senyumku semakin lebar melihat Natasha yang terlihat kesal.

Saat ini kami berada di kafe tempat kami biasa berkumpul. Lily dan Kate baru saja menyelesaikan pemotretan ketika kuhubungi, sementara Natasha baru saja kembali dari bandara, mengantar Nate.

"Memang apa sih yang sudah terjadi?" Kali ini Lily bertanya penasaran.

"Aku tidak akan heran kalau Evan lah penyebab dia menjadi bodoh seperti ini". Tambah Kate yang membuatku menoleh kearahnya. "Kurasa aku benar. Kau tampak seperti orang yang baru saja melakukan hubungan seks".

Aku terperangah dan melihat lily serta Natasha mengarahkan pandangannya padaku.

"Oh shit! Kate benar!" Seru Lily yang memberiku pandangan sumringah, membuat bulu kudukku seketika merinding.

"Trims Kate". Sindirku sakit hati.

"Sama- sama" jawabnya nyengir.

Damn it Kate! Bagaimana bisa Ada orang seperti dia di dunia ini?

"Wow! Akhirnya! Jadi bagaimana rasanya?" Tanya Natasha kemudian.

Tanpa kusadari keningku berkerut. "Bagaimana rasanya apa? Tentunya kau sudah tahu bagaimana rasanya karena hampir setiap hari kau melakukannya dengan Nate". Jawabku yang langsung di sambut dengan kikikan Lily dan Kate, membuat Natasha justru memukul kepalaku gemas.

"Bukan itu jawaban yang ingin kudengar, bodoh!" Sahutnya jengkel. "Kami bertiga tahu bagaimana dirimu. Kau tidak mungkin melakukan itu tanpa sebab".

Entah karena memori di otakku yang semakin lambat atau memang Natasha berbicara terlalu terbelit- belit hingga aku sulit memahami situasi ini. Aku tidak tahu.

"Aku tidak mengerti Natasha. Bukankah kami sudah menikah? Jadi kurasa wajar kalau kami melakukannya".

"Ya. Aku mungkin akan setuju jika saja Kate tidak melihatmu berciuman dengan Paul kemarin malam".

Kupandangi Kate yang sekarang sedang mengaduk- aduk minumannya dengan acuh.

"Kau melihatnya?" Sungguh! Ini diluar perkiraanku.

Kate balas menatapku dan mendengus. "Tentu saja. Aku belum buta dan kalian bertiga terlalu mencolok". Jawabnya.

"Bertiga?" Imbuh Lily, tidak mengerti

"Dengan Evan. Mereka bertiga seperti sedang akting atau apalah dan si bodoh ini" Kate langsung menunjukku, membuatku kaget. "Entah apa yang dipikirkannya. Setelah mencium Paul dan mendapati Evan di belakangnya, dia juga menciumnya".

"Wow". Seru lily dan Natasha bersamaan.

"Aku tidak mencium Paul". Belaku tidak terima.

"Kalau begitu kau mabuk meskipun aku tidak yakin mabuk bisa membuatmu menjadi semakin bodoh dan aku tahu kalau kau memang bodoh".

"Aku juga tidak mabuk". Balasku mulai jengkel. "Aku bahkan tidak memesan minuman beralkohol". Jelasku.

Seketiga Natasha dan lily melihat kearah Kate yang masih dengan sikap cueknya.

"Apa kau menerima minuman dari seseorang?" Natasha melihatku bimbang sekaligus ingin tahu

Aku mengangguk. "Ya. Aku menerima minuman dari Paul. Hanya itu". Jawabku.

Lagi- lagi Natasha dan lily saling berpandangan. Ada apa sih dengan mereka?

"Well Sia. Kuharap kau tidak menerima minuman dari siapapun lagi".

Hah. "Kalian aneh guys. Kan aku hanya menerima minuman dari Paul".

"Termasuk Paul" Tambah lily.

"Tapi kenapa?

"Karena itu membuatmu semakin terlihat bodoh". Jawab Kate ketika tidak ada jawaban dari dua orang yang kuharapkan. "Kutebak kaulah yang pertama kali menggoda Evan hingga dia mau melakukannya denganmu".

Seharusnya aku tersinggung mendengar ucapan Kate barusan tapi ketika mendengar dia mengucapkan kata menggoda, tiba- tiba adegan pagi tadi kembali terulang dan aku bisa merasakan kalau darah naik ke kedua pipiku.

"Euww. Bisakah kau menghilangkan pikiran kotormu untuk sementara selama kami berada di sini". Ucap Kate jengah.

"Aku yakin aku tidak bisa".

"Apa yang tidak bisa, sunshine?"

Aku terlonjak, menoleh dan melihat Evan sudah berada di belakangku dan mencium puncak kepalaku membuatku semakin meleleh.

"Evan!" Seruku berdiri dan mencium bibirnya. Bisa ku dengar suara- suara jengah di belakangku dan suara Evan yang terkekeh.

"Bagaimana harimu?". Tanyanya setelah melepaskan ciuman kami.

"Lama". Jawabku. Lagi- lagi aku mendengar suara jengah di belakang dan tawa kecil di dekatku hingga aku menoleh dan mendapati Ron sedang melihatku dengan tatapan geli.

"Hai Sia" Sapanya, "dan maaf karena meminjam Evan selama dua jam ini" Lanjutnya yang langsung membuatku kembali memerah karena malu. Tentu saja dia mendengar apa yang baru saja kukatakan pada Evan barusan.

"Kau seharusnya tidak ikut ke sini Ron. aku hanya akan menjemput Sia dan bersama- sama menjemput Vano" Kata Evan.

Ron mengangkat bahunya cuek. "Tidak masalah. Toh, aku kesini juga untuk menyapa Sia dan meminta maaf mengenai kejadian pagi tadi".

Aku merasa wajahku semakin memerah. Ron bukannya ingin menyapaku tapi dia ingin menyerang dan membuatku semakin malu.

Ya, pagi tadi setelah percintaanku dengan Evan yang entah untuk keberapa kali. Yang jelas setiap sudut ruang kami manfaatkan dengan sebaik- baiknya dan itu membuat Evan terpaksa harus membolos dari kerjanya tapi sialnya Ron malah mengira Evan sedang sakit parah jadi dia memutuskan untuk datang ke tempat tinggal kami sekaligus kalau bisa ingin membicarakan proyek kerjasama yang sedang mereka berdua lakukan.

Ketika dia datang. Tentu saja aku sudah mengenakan kemeja kantor Evan tapi tanpa ada sesuatu di baliknya dan Evan harus menutupi tubuhku dengan tubuhnya yang hanya menggenakan celana panjang ketika melihat Ron menatapku dengan bingung kemudian kearah Evan hingga kemudian dia mengirimkan senyum penuh arti kearah Evan yang dibalas Evan dengan memutar matanya.

"Sudahlah Ron." Lalu kembali menoleh padaku, "apa kau sudah selesai di sini?" Tanya Evan padaku. Aku terlalu malu untuk mengucapkan satu kata pun dan dari sudut mataku, aku tahu Natasha dan Lily berusaha untuk tidak tertawa terbahak- bahak sementara Kate bersikap tidak peduli. Untuk hari ini, aku merasa sangat berterima kasih dengan sikap tidak sukanya padaku. Maksudku aku mungkin akan berlari keluar dari tempat ini seperti di serial TV saking malunya.

Setelah Evan berbasa- basi dengan ketiga sahabatku. Harus kuakui Kate juga termasuk sahabatku meskipun aku tidak tahu hubungan apa selain kata sahabat yang kami berdua miliki mengingat dia seperti tidak suka padaku dan aku juga tidak mau repot- repot berbaikan dengannya. Ya. Biarkan kami sama- sama melihat akan dibawa kemana masa depan kami nanti. Aku mencoba bijak menilai hubungan aneh kami.

Aku dan Evan berpamitan pergi lebih dulu untuk menjemput Vano yang sekarang berada di rumah kakakku, Thalia.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS