FALL FOR YOU - BAGIAN DUA TUJUH

I still remember the first time I fell for you.
I haven't gotten up.

Sia POV...

Natasha dan Lily kompak melihatku. Aku tidak perlu menanyakan kenapa mereka menatapku seperti itu tanpa mereka mengatakannya pun, aku tahu apa yang mereka inginkan. Mereka terutama Natasha sudah berapa kali mengatakan hal yang sama padaku, tapi pilihan apa yang kupunya.

"Apa Evan akan menjemputmu?" Tanya Natasha kemudian.

Aku mengangguk. "Ya"

Usiaku kandunganku sekarang sudah memasuki 7 bulan dan Evan semakin intens dalam menjagaku. Pertengkaran yang kami dulu lakukan ternyata berdampak besar dalam hubungan kami.

Evan tidak pernah sekalipun tersenyum padaku. Hal satu- satunya yang dia lakukan adalah menjaga anak yang sedang dalam kandunganku dengan sebaik- baiknya. Sepertinya dia berpikir kalau aku akan melakukan hal buruk pada calon anak kami, yang saat ini dia lakukan adalah menjaga anak ini tetap aman dariku.

Aku sudah tidak melakukan pemotretan lagi ketika usia kandunganku menginjak dua bulan. Evan sangat marah ketika aku masih menjalani pemotretan bahkan hampir memporak- porandakan studio Walker. Walker bahkan harus mengatakan kata- kata yang keras dan menyuruhku pulang agar bisa meredakan amukan Evan.

"Kau sudah selesai?" Aku berbalik ketika mendengar suaranya dibelakangku dan tersenyum.

"Hai"Sapaku padanya.

"Kau sudah selesai?" Tanyanya lagi tanpa peduli untuk menjawabku.

Kuhela napasku panjang. "Ya"

Lalu berbalik untuk melihat Natasha dan Lily, yang aku tahu mereka melihatku dengan tatapan prihatin dan kearah Evan dengan tatapan tidak suka. Kuberi mereka berdua senyuman penuh arti sekaligus memperingatkan untuk tidak bertindak yang macam- macam. "Baiklah. Aku pulang dulu". Kataku seraya mencium masing- masing pipi sahabatku.

"Jaga dirimu, Sia" Ucap Lily yang kubalas dengan anggukan kepala.

"Hm... Evan" Ucapku ketika kami sudah berada di dalam mobil.

"Hm?"

"Besok aku ingin ke rumah Mama dan Papa".

Sejenak Evan memandangiku kemudian kembali menatap jalan. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan dengan orang tuaku, Sia tapi itu tidak akan berhasil" Ucapnya.

"Aku tidak merencanakan apa pun dengan Mama dan Papa" Balasku sakit hati. Sebegitu bencinyakah dia terhadapku sekarang?

Tanpa memandangku, Evan berkata. "Terserah". Aku berusaha untuk tidak menangis, toh ini semua adalah kesalahanku. Aku hanya bisa terdiam meskipun dalam hati aku merasa sakit dan merindukan saat- saat dia tersenyum dan tertawa denganku.

Semenjak aku hamil. Aku memang selalu datang ke rumah orang tua Evan. Awalnya tidak mudah, justru lebih sulit dari yang aku bayangkan tapi aku sudah bertekad untuk tidak akan menyerah dan setelah berkali- kali, akhirnya mereka mulai menerimaku meskipun tidak sepenuhnya. Evan juga membuatnya sulit karena dia menolak untuk turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah orang tuanya. Setelah menurunkanku di depan pintu rumahnya, dia langsung pergi bahkan tanpa sekalipun memandangku dan hanya mengucapkan kalimat 'hubungi aku kalau kau sudah selesai'.

Mobil yang kami tumpangi sudah memasuki pelataran parkir dan kami sama- sama berjalan menuju lift yang akan membawa kami ke tempat tinggal kami. Sebenarnya aku menginginkan sebuah rumah yang permanen, dimana ada taman- taman yang cantik dan bukannya sebuah penthouse seperti yang kami tinggali sekarang meskipun pemandangan yang ditampilkan diatas sini sangat bagus tapi memang apa hakku? Evan bahkan sudah tidak pernah melihatku atau berbicara padaku lagi.

Aku beruntung, meskipun dengan kecepatan yang seperti kura- kura karena kakiku yang mulai membengkak. Evan masih memiliki kesabaran untuk menahan pintu lift supaya aku bisa masuk bersamanya.

"Terima kasih". Ucapku seraya menyunggingkan senyum paling tulus yang bisa kulakukan.

Kami berdua seperti biasa diam hingga lift tiba di lantai atas. Evan membiarkanku lewat lebih dulu kemudian disusul olehnya. Aku baru akan membuka pintu ketika pintu itu lebih dulu terbuka, menampilkan Sarah kemudian Vano di belakangnya.

"Mama". Seru Vano memelukku dan juga perut bulatku.

Kupegang rambutnya penuh kasih sayang. "Hai jagoan. Mama kaget kamu sudah berada di rumah jam segini". Kataku.

Vano nyengir, "Mama Sarah tadi menjemput Vano di sekolah dan membawa Vano makan es krim. Es krimnya enak deh ma. Mama juga harus coba".

Sarah menginginkan Vano agar memanggilnya Mama juga. Aku tidak keberatan, toh dia punya hak atas diri Vano.

Aku tersenyum. "Tentu, Jagoan. Apa kau sudah makan siang?" Tanyaku sambil bersama- sama dengan Vano masuk ke dalam.

"Aku sudah memberinya makan, Sia". Ucap Sarah sebelum Vano menjawab.

Ku sunggingkan senyumku padanya. "Terima kasih, Sarah".

"Aku juga ibunya, ingat?" Sindirnya. Aku mengangguk mengerti sementara Vano memandang kami berdua dengan bingung. Aku juga tidak tahu apa yang di pikirkan Evan, dia hanya terdiam disana tanpa berbuat apa- apa.

"Ma?" Panggil Vano

"Ya?"

"Gendong".

"Eh?"

"Vano mau di gendong mama".

"Biar mama Sarah saja ya yang gendong Vano". Bujuk Sarah.

"Tidak. Vano maunya mama Sia".

"Vano!" Hardik Evan tiba- tiba. "Jangan bersikap manja".

"Tapi... Tapi Vano rindu mama. Mama sudah tidak pernah mengendong Vano".

Kulihat Evan baru akan menjawab ketika aku memutuskan untuk menunduk.

"Vano lihat mama". Perintahku. Sejenak kami berdua bertatapan. "Mama minta maaf karena selama beberapa bulan ini tidak pernah memperhatikan Vano lagi tapi Vano lihat sendiri kan, di perut mama ada adik Vano. Mama tidak sanggup jika mengangkat kalian berdua secara bersamaan. Hm," aku pura- pura menaruh ibu jari dan telunjukku ke dagu, seakan berpikir. "Apa Vano keberatan kalau Papa saja yang mengendong Vano? Atau begini saja, bagaimana kalau malam ini kita bertiga. Vano, Mama dan juga adik Vano tidur bareng?".

"Benarkah?" Tanya Vano dengan wajah berbinar.

Aku mengangguk. "Jadi bagaimana? Apa Papa bisa menggantikan Mama dan mengendongmu? Mama akan ikut sambil memegang tanganmu".

"Oke deh".

Kuberi Evan tatapan penuh arti ketika dia berjalan menghampiriku dan dengan pelan, mendengar suaranya yang sangat pelan di telingaku.

"Tidak ku sangka kau bisa membujuk Vano dengan mudah mengingat kau sama sekali tidak menginginkan anak yang saat ini ada di dalam kandunganmu" bisiknya dingin

Aku hanya bisa tersenyum menimpali ucapannya dan melihatnya mengangkat tubuh Vano, meninggalkanku bersama Sarah.

Tidak apa- apa. Tidak apa- apa, Sia

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS