FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT BELAS
Pemandangan di depanku membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Begini, aku..ralat Vano yang pertama kali mendapati Evan berciuman di depan mejanya dengan seorang wanita yang berpakaian sangat seksi hingga menampilkan seluruh lekuk tubuhnya.
"Papa?"
Dan karena suara Vano lah hingga keduanya berdua berbalik. Sekilas wanita itu memandangku kemudian kearah Vano dan tersenyum lalu kembali melihatku dengan cara seakan menscan seluruh tubuhku. Itu membuatku tidak suka dengan cara pandangan yang diberikannya.
Disisi lain Evan melihatku dan Vano dengan pandangan kaget tapi dengan cepat dia mengubahnya. Sialan. Tidak bisakah dia menghargai perasaanku sedikit saja?
"Hai sayang". Wanita yang tak kuketahui namanya itu berjalan menghampiri Vano, membuat Vano otomatis kembali kepadaku dan menggenggam kembali tanganku. Jelas sekali kalau dia tidak suka dengan wanita ini, begitupun dengan aku. Wanita itu terlihat kecewa tapi kembali diubahnya dengan cepat lalu mengarahkan pandangannya kearahku. "Dan kau adalah?" Tanyanya meremehkan.
Ugh, kalau bukan karena genggaman Vano, sudah ku tinju wajah wanita tidak tahu malu ini dari tadi.
Tanpa memperlihatkan wajah sebalku. Aku tersenyum. "Aku, Sia". Jawabku.
Wanita itu melihatku kemudian kearah Evan kembali lagi padaku.
"Oh jadi kau wanita yang menikah dengan Evan?"
Dia sudah tahu tapi dia tetap mencium Evan seperti Tadi. Dasar jalang sialan!
Ku beri Evan tatapan tajam karena sikap diamnya dari tadi dan sepertinya dia mengerti.
"Pergilah Dominique. Kau sudah melihat sendiri istriku, bukan?" Ucap Evan
Dominique melihat Evan tidak percaya. "Apa kau baru saja mengusirku?"
Evan menghela napas lelah.
Kenapa dia harus bernapas seperti itu. Apa dia menyesal karena aktivitasnya yang tadi terganggu?
"Aku sudah menikah Dominique". Ujar Evan lelah.
Tapi kau tetap menjalin hubungan dengannya. Dasar pria!
"Aku tidak peduli". Balas Dominique keras kepala. "Kau menikah dengan wanita biasa ini karena terpaksa. Karena Vano, iyakan? Kalau bukan karena dia kau tidak mungkin menikahinya".
Dalam hatiku aku merasa kasihan dengannya. Pasti dia syok mengetahui ini semua.
"Dan dia bahkan sama sekali tidak menarik".
Ralat! Aku menarik kembali ucapanku yang kasian padanya. Faktanya wanita ini menyebalkan, lebih menyebalkan dari Kate. Oh Kate, betapa sekarang kau punya saingan!
Kugertakkan gigiku menahan amarah, berusaha untuk terlihat tenang padahal aku yakin saat ini aku membutuhkan air yang sangat amat dingin untuk meredakan kepalaku yang sudah mencapai batas mendidih maksimun.
Kutatap Evan lekat- lekat. "Sebaiknya kau menyelesaikan masalahmu dengan wanita ini Evan. Aku tidak mau ada salah paham". Kualihkan pandanganku ke arah Vano dan memegang tangannya. "Ayo".
Vano tampak tidak mau pergi dan hanya diam melihatku dan memutuskan kalau dia mau disini menemani Evan, silahkan saja. Aku tidak peduli ketika kembali kurasakan tangannya memegang tanganku.
***
Evan POV...
Aku masih marah. Ya. Aku marah karena dia pergi tanpa sepengetahuanku sebelum hari pernikahan kami. Aku marah karena aku tahu dia nyaris terlambat tepat di hari pernikahan kami meskipun Thalia dengan susah payah menyembunyikan hal itu. Aku marah karena dia sama sekali terlihat tidak mempersoalkan sindiran ayahku dulu dan aku marah karena dia bisa dengan mudahnya tersenyum dan tertawa pada orang lain yang mengajaknya berdansa tapi sama sekali tidak padaku.
Sejujurnya ketika melihatnya berjalan kearahku, aku ingin mengatakan betapa cantiknya dia di hari pernikahan kami dan harus kuakui aku bahagia memikirkan kalau akhirnya dia menjadi milikku meskipun masih belum sepenuhnya tapi aku akan mengusahakan supaya dia menjadi milikku.
Selama tiga hari ini, aku harus menahan diri melihatnya tertidur di sampingku. Wajahnya terlihat sangat cantik tanpa polesan apa pun dan semakin cantik ketika dia terbangun. Aku bahkan harus menyiram kepalaku dengan air dingin setiap malam karenanya.
"Hai sayang". Aku mendongak dari laptopku dan mendapati Dominique dengan pakaian serba minimnya tersenyum padaku. "Aku kaget Evan mendengar kau sudah menikah". Rajuknya dengan suara manja lalu berjalan dibelakang, memelukku.
"Hentikan Dominique". Elakku melepaskan diri darinya
"Kenapa? Apa kau takut istrimu akan melihat kita?"
"Tidak seperti itu".
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padanya. Dominique memang wanita yang sangat keras kepala dan entah sudah berapa kali aku menjelaskan padanya kalau aku sama sekali tidak tertarik padanya apalagi Vano juga terlihat tidak suka dengannya.
Seraya tersenyum, Dominique melingkarkan lengannya ke leherku dan sebelum aku bisa mengelak, dia mendaratkan bibirnya ke bibirku. Disaat yang bersamaan pula aku merasa mendengar suara kecil yang memanggilku.
"Papa?"
Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika mendapati Vano berada di ruang kantorku disusul oleh wanita yang telah menjadi istriku.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tapi melihat dia yang terlihat biasa saja membuatku kembali marah. Dia menyebut namanya dengan santai dan tersenyum padahal aku yakin kalau dia sempat melihat apa yang dilakukan Dominique tadi.
"Pergilah Dominique. Kau sudah melihat sendiri istriku kan?" Ucapku tidak tahan atas ucapan meremehkannya barusan pada Sia.
"Apa kau baru saja mengusirku?"
Kuhela napasku, lelah. "Aku sudah menikah, Dominique".
"Aku tidak peduli". Balasnya " kau menikah dengan wanita biasa ini karena terpaksa, karena Vano, iyakan? Kalau bukan karena dia kau tidak mungkin menikahinya dan dia bahkan sama sekali tidak menarik".
Spontan aku melihat kearah Sia dan entah kenapa matanya menyorotkan perasaan kesal padaku.
"Sebaiknya kau menyelesaikan masalahmu dengan wanita ini Evan. Aku tidak mau ada salah paham. ayo". Ucapnya
Aku begitu terperangah melihat kepergiannya yang tiba- tiba hingga aku menyadari kalau Dominique kembali bergelayut di lenganku.
"Hentikan Dominique. Aku sudah menikah. Pergilah". Usirku. Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya di matanya tapi tidak ada waktu untuk menghiburnya saat ini. Istri dan anakku jauh lebih penting.
Aku baru saja keluar dari ruanganku ketika Jessica tiba- tiba datang dan menyodorkan sebuah kotak persegi kearahku.
"Tadi Mrs. Alexander menitipkan makan siang untuk bapak. Katanya terserah mau di makan atau tidak. Yang penting kotaknya jangan ikut di buang". Entah apa yang sudah dikatakan oleh Sia tapi Jessica terlihat berusaha untuk tidak tertawa dihadapanku.
"Aku akan menyusulnya. Terima kasih Jess". Kataku setelah mengambil kotak itu dari tangannya.
"Sama- sama pak".
Setengah berlari, aku menuju lift dan untungnya ketika aku tiba di bawah aku melihat mereka. Sia terlihat sedang mengatakan sesuatu pada Vano yang menunjukkan wajah kesalnya.
"Kau tidak bisa mengatakan hal itu pada orang dewasa sayang". Ujar Sia lembut di hadapan Vano.
"Tapi Vano tidak suka melihat Bibi itu, Ma. Kita kan ke sini untuk makan siang dengan Papa". Balas Vano.
Sia memperlihatkan wajah sedang berpikirnya. "Lalau begitu, bagaimana kalau kita menuju taman hiburan dan berkencan. Hanya kita berdua. Bukankah itu menyenangkan?"
"Hanya berdua?"
Sia mengangguk. "Yep. Hanya berdua".
"Papa juga ikut ya?" Sahutku seraya berjalan diantara mereka. Kedua mata Vano melebar karena gembira dan berlari kearahku. Aku bahkan hampir kehilangan keseimbangan karena tiba- tiba dia melempar dirinya kearahku.
"Wow. Easy jagoan". Tegurku.
"Papa datang!". Seru Vano senang.
Aku mengangguk. "Tentu saja. Kalian ingin bersenang- senang dan meninggalkan Papa?"
Vano menggeleng. "Ayo, Pa".
"Urusanku sudah selesai Sia." Kataku padanya karena dia sama sekali tidak merespon kehadiranku dan hanya diam di tempat.
"Aku tidak mengatakan apa- apa". Dia mungkin mengelak tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum yang tercetak di bibirnya itu.
Baiklah. Mari kita berkencan!
***
Comments
Post a Comment