FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT DUA

Kedua bola mataku nyaris saja keluar melihat banyaknya barang yang dibeli oleh Natasha dan juga Lily, dan seakan itu belum cukup, dia hampir membeli seluruh isi dari toko yang mereka datangi.

"Ini berlebihan." Ujarku membuat keempat orang yang berada didekatku seketika menoleh.

Natasha dan Lily hanya memberi senyuman kecil ketika melihatku yang tampak resah lalu kembali melanjutkan ekspedisinya. Kuhembuskan napasku pelan yang bahkan tidak bisa kutahan. bagaimana tidak, Mereka menggunakan uang Evan untuk membeli semua barang- barang itu meskipun si empunya kartu tidak keberatan tapi tetap saja aku merasa tidak enak.

"Jangan khawatir, sayang. Uangku tidak akan habis karena ini." Kata Evan setiap kali aku menghembuskan napas panjang.

"See? Kenapa kau tidak mengambil juga sih, Sia daripada kau terus saja menatap kami dengan tatapan yang bisa saja membuat bola matamu keluar seketika." Balas Lily yang kubalas dengan memutar kedua mataku, jengkel lalu melihat Evan yang disampingku.

"Apa kau tidak bosan menunggui kami di sini?" Tanyaku akhirnya melampiaskan kejengkelanku padanya.

Ya, setahuku para pria tidak suka menemani para wanita belanja karena menurut mereka, hal itu sangat membuang waktu mereka. Lihat saja dari sekian banyak toko yang telah kami kunjungi. Baru beberapa tas yang harganya ratusan dollar yang mereka miliki. Belum lagi, mereka merenggek meminta baju. Untung saja itu menggunakan uang Evan, kalau uangku, entah harus berpuluh- tahun baru aku bisa melunasi tagihan mereka berdua meskipun aku bekerja di perusahaan yang juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kate sepertinya memahami keresahanku tapi dia juga menolak untuk tidak mengintrupsi aksi shopaholic kedua sahabatku itu, mengingat karena dia tahu bagaimana sifat Natasha dan Lily dalam hal belanja, juga dia masih jengkel padaku karena dia harus ikut dalam hukuman ini.

Ya, hukuman Kate adalah menemani Natasha dan Lily ke manapun mereka berada selama 3 bulan (awalnya 6 bulan tapi bukan Kate namanya kalau tidak bisa bernegosiasi dengan Natasha) dan Kate juga harus menerima keduanya di apartmentnya untuk waktu yang sama sekali belum di tentukan. Dan karena saat ini aku tinggal di hotel bersama dengan Vano dan Evan karena itu berarti kehidupan Kate tidak akan tenang dengan kehadiran Natasha dan Lily yang selalu mengintrogasinya.

Kate menolak untuk dijadikan pembantu sekaligus pesuruh oleh mereka berdua jadi sebagai gantinya dia menyewa 4 orang yang bisa disuruhnya untuk membawa segala belanjaan para shopaholic itu ditambah dengan koki khusus permintaan Lily.

Setelah hampir 4 jam menemani kedua shopaholic itu berbelanja yang entah kenapa mereka sama sekali belum puas. Akhirnya Evan memesan sebuah tempat di restoran yang juga tidak kalah mewahnya untuk kami makan malam.

Satu hal yang membuatku terenyuh selain karena dia bersedia membeli segala keperluan untuk sahabat- sahabatku yang aku tahu, tidak akan mereka gunakan. Mereka hanya senang mengoleksi dan memamerkan barang- barang limited edition itu sekembalinya mereka ke London, juga karena dia tidak mau meninggalkanku meskipun aku sudah mengatakan padanya kalau ada Vano dan ketiga sahabatku yang akan menjagaku. Memang kejadian apa yang dia harapkan akan terjadi padaku?

Vano juga sama kerasnya dengan Evan bahkan lebih keras menurutku. Dia menolak untuk melepaskan tanganku yang satu sementara Evan juga mengenggam dan memeluk pinggangku dengan posesif sementara kami berjalan dan menggumankan sesuatu yang tidak bisa kupahami dari orang- orang yang melihat kami. Vano juga semakin manja ketika berada di dekatku. Setiap kali aku duduk dan mendapati kursi, dia akan segera merangkak untuk duduk di pangkuanku, yang membuat Evan harus ikut berjongkok supaya Vano bisa duduk di pangkuannya dan bukannya di pangkuanku yang saat ini terhalang perut besarku dan sesekali dia memelintir ujung rambutku ke dalam jari- jari mungilnya dan menciumnya dengan lembut.

Kami baru saja selesai memesan makanan ketika aku bangkit dari kursiku.

"Mau kemana?" Tanya Evan yang duduk di hadapanku.

"Toilet" Aku menjawab.

"Butuh bantuan?"

Aku langsung memutar mata. Demi tuhan! Aku kan hanya hamil dan bukannya memiliki penyakit mematikan yang butuh bantuan untuk sekedar ke toilet.

"Aku juga ingin ke toilet. Kita sama- sama saja." Ujar Kate.

Aku langsung berlalu tanpa sama sekali menatap kearah mereka. Aku butuh sedikit waktu untuk diriku sendiri dan kehadirannya di sisiku, membuatku sulit untuk berkonsentrasi.

"Joan memberitahuku." Aku melirik kesamping dan mendapati Kate yang menatapku melalui cermin toilet. "Dan kurasa dia ada benarnya juga. Kau harus memberitahunya. Dia berhak untuk itu".

Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa padanya.

"Sia?"

"Entahlah, Kate". Gumanku sebagai balasan.

"Apalagi yang kau pikirkan?" Desaknya, memaksaku untuk langsung menatap matanya. "Kau sengaja melakukan itu dulu karena kau berpikir kalau kau tidak berhak mendapatkan Evan dan Vano karena adanya Sarah. Oh, dan jangan pikir aku tidak tahu sifatmu. Sifat altruismemu itu membuatku selalu gemas setiap waktu. Apa kau tidak bisa berpikir untuk dirimu sendiri?"

Aku begitu terperangah mendengar ucapan Kate. Maksudku, Kate jarang mencampuri urusan orang lain.

"Sesekali bersikap egois tidak akan sampai membunuhmu dan lihat dia, lihat sikap Evan. Apa sikapnya selama beberapa hari ini sama sekali tidak membuatmu merasakan apa- apa? Kau juga mencintainya kan? Jadi apa masalahnya? Pertahankan dia."

"Kate?"

"Belum lagi Vano. Dia juga membutuhkanmu, Sia. Apa kau tidak merasa seperti itu?"

Ini aneh.

"Ahhh terserah." Lalu dia pergi meninggalkanku yang masih bengong di tempat.

"Kate, hei tunggu." Ucapku seraya mengejarnya, yang untungnya tidak terlalu jauh. "Hei, apa kau marah?" Tanyaku ketika telah berada di sampingnya. Kutarik lengannya yang entah kenapa aku merasa senang dan langsung terkekeh ketika menerima tatapan mendelik darinya.

"Wah wah wah... Lihat, siapa yang kulihat disini. Wanita yang telah merebut pacar orang lain." Tiba- tiba seoarang wanita bergaun merah mencolok hingga memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya berdiri di depanku sambil menatapku dengan pandangan mengejek.

Kate berbalik berdiri didepanku, menghadap wanita tadi, marah. "Hati- hati kalau bicara, bitch."

"Dan dia punya teman yang membelanya." Lanjut wanita itu, tersenyum.

"Hai Dominique, apa kabar?" Ucapku tersenyum.

Dominique langsung menatapku tajam. "Jangan bertingkah seakan kau akrab denganku, wanita jalang".

"Sepanjang yang aku lihat, kaulah wanita jalangnya di sini." Balas Kate membuatku harus memberinya tatapan peringatan yang sama sekali diacuhkan olehnya.

"Sepertinya hubunganmu dengan Evan baik- baik saja meskipun aku sempat mendengar kau mengalami keguguran dan kalian... berpisah."

Entah apa yang ada dalam otakku dan sebelum aku bisa menghentikan kalimatku, aku menjawabnya. "Ya. Kami memang sudah berpisah."

Kate langsung memberiku tatapan tidak percaya sementara Dominique tampak bingung dengan pengakuanku barusan. Aku tidak tahu.

"Apa yang baru saja kau katakan?"

Aku berbalik dan mendapati Evan sedang menatapku dengan pandangan sakit hati sama seperti ketika aku menolak kehamilanku yang pertama.

Evan?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS