FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT EMPAT
Mataku nyalang memandang seisi kapal yang nyaris dipenuhi oleh bunga. Berbagai jenis mawar nyaris memenuhi sisi kapal ini dan beberapa di antaranya berserakan di lantai seakan memberi tanda agar bisa dilalui.
Astaga! Apakah aku salah datang ke sini? Bagaimana kalau seseorang menyiapkan semua ini untuk menyambut kedatangan seseorang dan siapapun dia, pasti sudah bersusah payah. Entah berapa banyak toko bunga yang mendapatkan keuntungan besar karena ini.
Astaga Sia! apa sih yang kau pikirkan?
Aku merutuk diriku sendiri sembari memukul kepalaku karena telah memikirkan hal yang tidak- tidak.
Aku baru saja akan kembali ke tempatku yang tadi. Biar bagaimanapun aku tidak ingin menghancurkan hati si pembuat ini semua hanya karena salah mengira kalau aku adalah gadis itu. Sudah jelas kalau pemandangan ini untuk melamar seorang gadis dan siapapun gadis itu, pasti dia akan merasa bahagia mendapatkan kejutan seperti ini. Memang gadis bodoh mana yang tidak akan senang menerima pemandangan seromantis ini?
Aku berbalik dan baru beberapa langkah aku berjalan, aku berhenti. Aku juga diliputi rasa penasaran, ingin mengetahui kelanjutannya. Sedikit mengintip tidak apa- apa kan? Aku berusaha untuk memantapkan hatiku dan memegang kalung yang hampir kutinggalkan tadi di balik syalku karena terlalu tegangn.
Lho? kenapa justru aku yang merasa tegang?
Aku tertawa menertawakan kekonyolanku barusan.
"Apa tidak apa- apa kita melihat sedikit?" Tanyaku seraya mengelus perutku dengan tangan yang satunya dan tersenyum miring. Kuhembuskan napasku pelan dan melangkah hati- hati menuju lantai atas.
Astaga! Kapal ini benar- benar besar.
Tidak henti- hentinya aku memandang takjub tempat ini. Kalau di bagian bawah saja sudah indah, bagian atas ini jauh lebih indah. Hanya ada suara air dan kapal yang menjadi musik alami dan seakan mengamini, bulan dan bintangnya juga tampak sangat indah di langit malam.
Tempat ini terlihat sepi, hanya ada keremangan lampu sebagai cahaya. Ini bukan kapal Flying Dutchman kan? Pemikiran tentang itu kembali menghantamku.
Kulangkahkan kakiku agar bisa melihat laut dari atas dan menghirup aromanya lekat.
"Bukankah ini luar biasa?" Lagi- lagi aku bertanya pada anak dalam perutku, yang sebagai balasannya dia memberikannya sebuah tendangan pelan.
Setelah puas memandangi laut malam, kuputuskan untuk mengakhiri petualangan kecil dan baru berbalik ketika aku melihat sebuah tulisan yang bertuliskan kata 'Will' yang di bawa oleh seorang bocah laki- laki di kedua tangannya.
"Steve?" Aku begitu terkejut mendapati keponakan kecilku itu berada di atas kapal yang sama denganku. Dia mengenakan tuksedo hitam yang sangat manis di tubuhnyanya. Belum sempat aku menanyainya, di belakangnya muncul Agnes yang mengenakan dress pink dan membawa tulisan 'You' lalu muncul Vano di belakangnya, membawa tulisan 'Marry Me?' kearahku.
Hah?
"Apa... Apa yang kalian lakukan disini?" Aku kebingungan melihat mereka berada di tempat ini dan seakan itu belum cukup membuatku terkejut, mataku menangkap sosok yang selama dua hari ini nyaris tidak bisa kutemui.
Astaga...
Tanpa sadar kudekapkan tanganku ke mulutku yang terbuka. Dia datang dengan membawa sebuket bunga mawar putih dan lavender yang sangat kusukai. Kupandangi Evan, nyaris kehabisan napas. Bagaimana dia bisa begitu sangat tampan malam ini? Kemudian aku merutuk diriku dalam hati. Memang kapan dia tidak terlihat tampan, Sia?
Kemudian mata kami saling bertemu dan terkesiap kaget ketika dia duduk sambil bertumpu pada salah satu lututnya.
"Evan, apa yang kau...?" Perkataanku terhenti ketika dia mengulurkan sebuah kotak yang berisi cincin permata yang sangat berkilauan kearahku, membuatku harus mengernyit karena itu.
"Sia Anastacia Welsh, maukah kau menikah denganku?"
Hah?
Apa yang baru saja dia katakan?
Aku bingung. Mungkin tampangku saat ini seperti orang bodoh yang terus menampakkan wajah melonggo tapi ini kan bukan kemauanku dan kenapa dia harus...
Entah berapa lama kami saling menatap dalam diam hingga aku mendengar Steve berkata.
"Kok bibi Sia diam?"
"Ma?"
Kubersihkan tenggorokanku yang terasa aneh karena situasi yang menurutku aneh ini.
"Berdirilah dulu Evan".
"Kau belum menjawab pertanyaanku?"
Kuputar mataku. Apa dia akan keras kepala seperti ini?
"Aku kesulitan membungkuk, Evan."
Dari pandangan matanya yang tertuju pada perutku sepertinya dia mulai mengerti dan berdiri hingga sejajar dengan diriku.
"Jadi?" Tanyanya mulai terlihat gusar.
Kukernyitkan keningku, heran. "Jadi apa?"
Aku berusaha untuk tidak tertawa melihat ekpresinya yang terlihat kesal.
"Apa kau bertanya karena kau memang tidak tahu atau kau hanya sekedar berpura- pura?" Tanyanya.
Dia ini lucu sekali.
Kukulum senyumku. "Oh aku tahu, kau memintaku untuk menikah denganmu, iya kan?"
"Jadi apa jawabanmu?"
"Bukankah sudah jelas?"
"Aku tidak melihat sejelas itu."
Kuambil napas lalu kehembuskan dengan pelan. "Sebenarnya Evan aku tidak tahu apa yang terjadi padamu beberapa hari belakangan ini. Aku bahkan tidak melihatmu beberapa hari ini dan kau... ". Sengaja kurentangkan kedua tanganku ke arahnya. "Kau tiba- tiba muncul dengan membawa kedua keponakanku serta anakku dan memintaku untuk menikah denganmu?" Kulihat dia yang masih terdiam dan memandangi bibirnya seperti ini membuat otakku berpikir liar. "Kemarilah." Dia mendekat dengan ragu dan aku memiringkan kepalaku, mengecup bibirnya. Aku agak kesulitan karena terhalang perutku tapi itu tidak membuatku menikmati bibirnya. Awalnya dia cukup terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan padanya dan aku lalu menampilkan senyumku padanya. "Terima kasih untuk semua yang kau lakukan malam ini. Jujur ini indah sekali dan akan kupastikan, aku tidak akan melupakannya seumur hidupku." Dia masih menatapku dengan tatapan bingungnya. "Meskipun aku tidak mengerti kenapa kau memintaku menikahimu padahal aku sudah menikah denganmu dan sebentar lagi akan melahirkan anakmu. Apa kau tahu, ini benar- benar konyol." Lanjutku kemudian tertawa.
Dia terdiam. Mengerjap lalu suaranya terdengar ragu di telingaku.
"Eh apa kau baru saja...."Dan tanpa bisa kucegah, Evan lantas mendekapku kemudian mencium keningku turun ke kedua mata, hidung, kedua pipiku dan terakhir bibirku hingga aku harus mengap- mengap kehabisan napas dan sedetik kemudian aku begitu terkesima melihat senyum dan mendengar tawanya. Dia tampak sangat bahagia dan kebahagiannya seakan ikut menular padaku.
"Ugh! Bisakah kalian hentikan itu untuk sementara waktu? Apa kalian tidak sadar kalau ada anak di bawah umur di sini?" Mendadak Thalia muncul entah darimana bersama seluruh keluargaku tapi tangannya menunjuk ketiga bocah yang sedang memandangi kami terkesima.
"Maaf Thalia, sudah lama aku ingin melakukan ini." Balas Evan yang langsung di respon dengan tawa oleh orang- orang di sekelilingku.
.
.
.
Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian di kapal pesiar tempo hari dan aku masih tidak percaya apa yang sudah Evan lakukan. Maksudku dia membeli kapal itu hanya karena agar dia bisa membawa seluruh keluarga demi melihat aksi lamarannya yang menurutku sia- sia.
Evan jelas sangat terkejut ketika aku menunjukkan kalung yang berisi cincin pernikahan kami dulu di leherku. Dia tidak menyangka kalau aku menyimpannya. Cincin yang di perlihatkan di kapal dulu memang cantik dengan bertahtakan berlian tapi aku lebih suka cincin pertama kali. Maksudku, desainnya memang tidak seheboh berlian itu tapi aku menyukai yang dulu. Selain karena terlihat biasa dan elegan tapi kami memilihnya bersama- sama meskipun waktu itu kami harus mengalami perdebatan panjang karena dia menginginkan sesuatu yang istimewa dan glamor tapi aku menolaknya.
Tapi yang lebih mengejutkan dari semuanya adalah Evan dan kedua orang tuanya. Aku tidak pernah menyangka kalau Evan akan seakrab itu pada kedua orang tuanya terutama ayahnya, membuatku harus mengernyitkan dahi semakin dalam ketika kedua orang tua Evan memeluk dan mencium keningku. Ibuku dan ibu Evan bahkan tidak henti- hentinya menangis karena aku tidak mengatakan apa pun padanya ketika pergi dulu dan menyuruhku berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi.
"Apa kau yakin tidak ingin kutemani masuk ke dalam?" Tanya Evan ketika kami sudah berada di depan apartment Kate.
Aku mengangguk, "Ya. Aku hanya sebentar. Ada barang yang ingin kuambil. Lagipula aku sudah menelpon Kate dan memberitahunya tentang kedatanganku."
Evan melihatku dengan tatapan khawatir. Dua minggu lagi aku akan melahirkan dan Evan semakin protective dalam menjagaku. Kuduga itu karena dia masih trauma dengan apa yang dulu terjadi.
Ku pegang kedua pipinya menggunakan tanganku. "Hei, aku tidak apa- apa, okey?". Kutenangkan dirinya.
Ya. Aku sudah berusaha sejauh ini. Sebentar lagi.
Dihembuskannya napasnya pelan. "Baiklah. Cepatlah kembali. Aku akan menunggumu di sini. Kuharap barang yang akan kau ambil tidaklah berat."
"Oh hanya satu dua baju contoh rancanganku."
"Baiklah. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." Kukecup bibirnya ringan lalu keluar dari mobil.
Kate memang pernah memberiku kunci apartmentnya jadi ketika aku membutuhkan sesuatu di apartment, aku tinggal masuk.
"Kate?" Panggilku setelah mengetuk pintu kamarnya. "Kate? Kau di dalam?" Tanyaku ketika mendengar suara air di dalam kamar mandi.
"Sia?"
"Yeah, that's me."
"Oh kau sudah datang? Sebentar lagi aku selesai."
"Jangan khawatir, Kate. Aku hanya sebentar. Evan sedang menungguku di luar."
"Oh, okey".
Aku tersenyum lalu keluar dari kamarnya menuju kamarku. Setelah menemukan apa yang kucari, kumasukkan ke dalam kantongan ketika mendadak aku merasa ingin ke kamar mandi.
Aku baru saja selesai memasang celana dalamku ketika disaat bersamaan aku mendengar suara dering ponselku. Untung saja aku membawanya ke kamar mandi.
"Oh hai Sia. Maaf tidak bisa mengangkat telponmu semalam. Kenapa kau menghubungiku?"
"Oh, aku hanya ingin bertanya, apakah debaran jantung yang cepat, normal ketika menginjak masa persalinan?"
Kudekapkan ponselku di telinga dan membilas tanganku.
Lama tidak ada jawaban dari seberang hingga kupikir Joan sedang mengerjakan sesuatu.
Aku baru saja keluar dari kamarku sambil menenteng kantonganku ketika kembali mendengar suaranya.
"Seberapa cepat?"
"Entahlah. Kurasa lebih cepat jika aku melakukan treadmill". Aku baru saja tiba di lantai bawah ketika merasa tidak nyaman di bawahku dan menunduk.
Aku terkesiap tapi Joan pernah memberitahuku agar jangan panik jika tidak ingin mati seketika setidaknya sampai anak ini lahir. Okey, tenang Sia. Kau akan baik- baik saja. Aku mulai menggumankan mantera yang biasa kuucapkan tapi yang ada debaran jantungku makin cepat dan aku merasa sulit bernapas.
"Sia? Apa yang terjadi?" Joan mulai terdengar panik. Apa dia tahu kalau ini akan terjadi?
"Joan? Apa?"
"Tenang Sia dan ingat, usahakan untuk tetap bernapas, okey? Apa keluar darah?"
Aku mengangguk, merasa percuma. Joan tidak ada disini. "Ya. Apa dia akan baik- baik saja?"
"Tentu. Tentu dia akan baik- baik saja. Kita sudah berhasil sampai sejauh ini kan? Kau sudah berhasil sampai sejauh ini. Tetap ambil napas, okey".
Lagi, aku mengangguk.
"Dimana kau sekarang? Apa kau bersama Evan?"
"Ya. Tapi dia... menunggu di luar. Aku berada ....di ....tempat ....Kate".
"Sia, bernapaslah! Dimana Kate?"
Aku berusaha. Aku berusaha, Joan.
"Sia? Kau masih disana?"
"Y- ya"
"Tetaplah bernapas, okey. Dimana Kate?"
"Ta- tadi ... dia m- m- masih.... m-mandi ke- keti-k-ka a- aku.... d- da- datang." Debaran jantungku semakin berdetak tak terkendali.
"Shit!" Aku mendengar Joan merutuk.
"Joan, kau... Ingatkan...de..dengan pembi..ca..."
"Jangan bicara Sia, jangan bicara sekarang. Kau bisa kehabisan napas. Aku sedang berusaha mencari..."
Aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Udara di sekelilingku rasanya berkabut dan dalam kesakitan aku juga merasa sangat panas. Tempo detakan Jantungku juga semakin cepat seakan aku sudah ratusan kali melakukan putaran tanpa henti.
Aku berpegangan pada sisi tangga paling bawah ketika mataku fokus pada Evan yang melihatku dengan ekpresi ketakutan di wajahnya dan mendengar suara terkejut bercampur makian Kate.
"Oh shit, Sia, kau bisa mendengarku?"
Akhirnya.
Iya kan, Kate?
***
Comments
Post a Comment