FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT ENAM
"Mama!" Teriak seorang anak perempuan usia 5 tahun kepadaku. Raut wajahnya menunjukkan wajah kesal. "Look! Vano tidak mengijinkan Eve untuk ikut bersamanya."
Vano yang baru saja keluar dari kamarnya hanya bisa memutar kedua bola mata dan mendengus.
"Aku kan sudah bilang kalau kau hanya akan mengangguku jika kau ikut. Pagi Ma. Pa." Dan langsung mencium kening Arthur, adik bungsunya yang sedang berada dalam pangkuanku, "Dan pagi juga untukmu, little Archie." Sapanya seraya menusuk-nusuk pipi gembung Arthur dengan jari telunjuknya, yang dibalas Arthur dengan kekehan riang.
Evan yang baru saja tiba dari luar, memandang Eve yang sedang memberengut kesal di sampingku dengan heran. "Pagi jagoan dan kenapa Eve terlihat kesal?" Tanyanya setelah mencium kening Arthur dan Eve bergantian.
"Pa, Vano kejam pada Eve." Adu Eve sambil merangkak menuju pangkuan Evan. "Dia tidak sayang padaku."
"Aku bukannya tidak sayang padamu, princess tapi aku tidak bisa konsentrasi jika kau ada di sana." Bela Vano frustrasi.
Aku berusaha untuk tidak tertawa melihat percakapan antara Vano dan Eve. Eve, anak yang kulahirkan tanpa merasakan sakitnya melahirkan karena ketika terjadi pendarahan itu. Aku langsung tidak sadarkan diri dan Joan harus mengambil keputusan untuk membelah perutku setibanya aku dirumah sakit.
Aku sungguh ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan secara normal tapi kata dokter akan sulit bagiku jika harus melahirkan seperti yang kuinginkan, mengingat bagaimana dulu aku harus mengeluarkan Eve dari dalam sana. Tapi meskipun begitu, aku senang setidaknya mereka berdua lahir tanpa ada sesuatu yang terjadi padanya. Terutama Eve. Aku dulunya sungguh mengkhawatirkan putriku karena proses yang dulu kualami tapi syukurlah semuanya berjalan baik. Toh, ada Evan yang dengan setia membantuku dan bukankah itu sudah seharusnya?
Alasan kenapa Vano menolak mengajak Eve adalah karena Vano merasa terganggu dengan sikap teman laki- laki di sekolahnya setiap kali dia latihan sepakbola. Mereka tidak segan- segan mendekati Eve meskipun Vano berada di tempat yang sama dan Eve tentu saja tidak mengetahui hal itu. Lagipula mana ada anak usia 5 tahun yang mengerti perasaan suka antar lawan jenis dan Vano dengan sikap protectivenya berusaha menghalau para penganggu yang berusaha mendekati adiknya.
Evan sudah menceritakan semuanya padaku termasuk tentang fakta kalau Vano bukanlah anak biologisnya. Tentu saja setelah Evan mengatakan itu, aku dibuat sedih. Maksudku, mana ada ibu yang begitu tega melakukan ini semua pada anak sekecil itu tapi bukankah hubungan tidak harus sedarah? Buktinya, meskipun Vano bukanlah anak dari Evan tapi dia mewarisi sikap gentle dan terlebih lagi protectivenya itu sangat melebihi sikap Evan, baik itu padaku maupun kedua adiknya.
"Ayolah Vano, aku tidak akan menganggumu. Aku janji." Rengek Eve seraya menarik- narik ujung bajunya dengan manja.
"Pa, tolong aku." Pinta Vano memelas, melihat kearah Evan.
Evan menghembuskan napasnya, merasa lelah. "Bagaimana kalau kau ikut dengan Mama, Princess. Bukankah kau senang melihat Mama membuat baju?" Evan berusaha menengahi.
Eve lantas memberikan tatapan mendelik pada Evan dan tanpa sadar, aku langsung tertawa. Ketika Eve melakukan itu, dia sangat mirip Evan.
"Tidak mau! Lagipula ada Archie yang menemani Mama, iya kan Archie?" Tanya Eve yang di Balas Archie dengan gumanan tidak jelas. "Tuh kan, Archie setuju." Lanjut Eve.
Evan mau tidak mau ikut tertawa melihat tingkah konyol Eve yang berbicara pada adiknya yang baru saja berusia 3 tahun.
"Oh, apa kau tidak cemburu melihat Archie memonopoli Mama seorang diri?" Evan masih berusaha membujuk Eve yang langsung kuberi Evan tatapan tajam.
"Vano, biarkan adikmu ikut." Ujarku.
"Ma..." Vano memberiku tatapan seakan aku baru saja menaruh laba- laba di tasnya.
"Kalau begitu biarkan Papa yang bersama Eve." Lanjutku yang langsung membuat Evan tersentak dari sarapan paginya.
"Oh, aku tentu tidak masalah asal Eve bisa ditinggal di ruanganku. Aku ada meeting seharian ini." Balasnya seraya memberiku tatapan jenaka.
Tentu saja aku tahu itu hanya sekedar alasannya saja. Eve tidak suka di tinggal sendiri ataupun berdiam diri di suatu tempat.
"Baiklah. Eve, ambil tasmu. Kita akan berangkat." Kataku memberengut kesal pada Evan. Sama denganku, Eve juga turun dari pangkuan Evan dengan kesal dan berniat mengambil tasnya ketika Vano berkata.
"Baiklah. Eve kau ikut denganku tapi ingat, jangan berbicara dengan siapapun." Ancam Vano yang langsung membuat Eve mengangguk penuh semangat.
"Eve janji." Balas Eve disertai senyum menawannya. Kupandangi Evan yang sekarang malah menyunggingkan senyumnya.
Tunggu dulu... Apa dia baru saja memanfaatkan sifatku untuk menarik perhatian Vano? Astaga...
"Ayo Vano, kita berangkat". Lalu dia beranjak dari tempatnya, meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.
Aku baru saja mendudukkan Arthur di tempat duduknya di kursi penumpang ketika aku berbalik, sudah ada Evan yang menahan diriku dengan kedua tangannya di pintu mobil.
"Hai Sunshine."
"Apa yang kau inginkan Evan?" Aku berusaha untuk tidak terpengaruh padanya.
"Apa kau marah?"
Aku memilih untuk tidak menjawab. Aku bahkan tidak tahu alasan kenapa aku marah padanya.
"Hmm bahkan jika kau marah pun, kau terlihat menggemaskan di depanku."
Keningku seketika mengernyit.
Apa dia baru saja menggombalku?
"Apa aku baru saja terdengar seperti merayumu?" Serta merta aku langsung mengangguk dan itu membuatnya mengeluarkan senyum yang langsung membuatku meleleh di tempat.
Aku merasakan bibirnya menempel di bibirku dan semua pertahananku runtuh. Kubalas ciumannya dengan lembut.
"Aku sangat mencintaimu." Gumamnya
Aku terkikik. "Aku juga mencintaimu, Evan." Lalu kembali aku menarik lehernya agar aku bisa menciumnya lagi. Tubuhku rasanya panas akan sentuhannya ketika aku mendengar suara kekehan Eve dan suara kesal Vano dari dalam mobil Evan.
"Oh ayolah Ma, Mama bisa membuat kami terlambat." Gerutu Vano.
Wajahku langsung berubah warna, menyadari kalau kami menjadi bahan tontonan anak di bawah umur.
"Sebentar lagi, Vano." Ucap Evan masih tanpa melepaskan pandangannya dariku. "Aku akan merindukanmu sepanjang hari ini, Sunshine. Apa menurutmu Arthur akan tidur ketika siang? Aku bahkan tidak sabar jika harus menunggu malam." Ucapnya yang langsung membuatku membulatkan kedua mataku. "Aku akan menganggap itu sebagai jawaban. Pasti kan Arthur sudah tidur ketika aku datang. Sampai nanti siang sayang. Aku sudah tidak sabar untuk melahapmu siang ini." Dan sebelum aku berkomentar, dia sudah membungkamku dengan bibirnya dan lagi- lagi aku kehilangan fokus. Evan yang pertama kali melepaskan pagutan kami dan meninggalkanku dengan napas yang terengah- engah karena ciumannya.
30 detik setelah mobil yang dikendarai olehnya dan kedua anak kami, Vano dan Eve pergi. Aku baru sadar dengan apa yang terjadi dan ketika aku melihat ke bagian belakang, tempat Arthur duduk. Aku merasa Arthur seakan memberiku tatapan yang seperti mengatakan 'ayolah Ma, apa kau tidak bisa melakukannya selain di depan kami? Tentu saja aku mempercayaimu tapi sulit rasanya ketika kau sudah berada di dekatnya'.
"Sorry Archie." Ucapku seakan dia baru saja mengatakan itu padaku. "Apa menurutmu Mama harus sembunyi didalam gua agar terhindar dari Papa?" Tanyaku dan balasannya Arthur terkekeh seakan menertawai kekonyolanku barusan.
Kuambil napas dan kuhembuskan dengan pelan. Aku tidak mungkin bisa bertahan jika sehari saja tidak bertemu dengannya. Dia seakan seperti morphine untukku, yang jika tidak kukomsumsi, aku akan langsung mati seketika.
Kukendarai mobilku juga keluar dari rumah. Oh, sebulan setelah melahirkan Eve dulu, Evan mengajakku kembali London yang awalnya kutolak. Maksudku, aku sudah memiliki pekerjaan yang kusukai di Prancis tapi Evan bersikeras tidak akan kembali jika aku tidak ikut bersamanya.
Sebagai gantinya Ben dan Ron mengusulkan agar proyek kerjasama antara dirinya dan Pierre segera terlaksana dan aku ditunjuk sebagai orang yang akan bertanggung jawab atas perusahaan dari kerjasama itu. Jadi secara harfiah, bisa dikatakan Evan adalah bos dari bosku.
Aku begitu terkejut ketika aku berada di rumah yang dikatakan Evan sebagai hasil dari memikirkanku. Rumah ini terlihat sangat luar biasa dengan taman disekelilingnya serta tidak jauh, terdapat hamparan bukit Teletubbies (aku menamainya seperti itu setelah melihatnya). Tidak henti- hentinya aku memandang takjub dan Evan sengaja membangun sebuah rumah kecil agar dirinya dan aku bisa menyelinap keluar.
Rasanya sungguh luar biasa memiliki suami seperti dirinya dan aku tidak pernah bosan, seakan aku baru saja mendapatkan jackpot yang tak terkira, kaya, perhatian dan luar biasa sangat tampan dan seakan itu semua belum cukup, dia juga mencintaiku. Bukankah itu menakjubkan? Belum lagi, anak- anak yang sangat manis, lucu dan tidak pernah berhenti berceloteh membuat kehidupan kami semakin berwarna.
T. A. M. A. T
Comments
Post a Comment