FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT LIMA

Hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah suasana yang berwarna putih. Butuh beberapa menit bagi otakku untuk mencerna apa yang terjadi. Hal terakhir yang aku ingat adalah ketika aku dengan sangat paniknya melihat... Tunggu,

bayiku?

Mataku langsung tertuju pada perutku yang tidak lagi membesar. Ohh tidak!. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan menginjak lantai yang terasa sangat dingin.

Tidak! Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Aku sudah berusaha keras selama ini. Dia tidak boleh... Sisa beberapa langkah lagi hingga aku mencapai pintu ketika kurasakan tubuhku kehilangan keseimbangannya.

Seharusnya aku jatuh. Seharusnya tubuhku sukses mendarat di lantai yang dingin ini tapi tidak. Aku terselamatkan oleh kedua lengan kekar yang menahanku.

"Sia, apa yang...?"

"Evan. Evan dimana dia?" Aku mulai panik dan menangis. "Dimana... Dimana bayiku?"

"Sia, tenanglah." Dia berusaha untuk merangkulku.

"Tidak." Kutampik pelukannya. "Aku tidak bisa tenang. Dimana dia, Evan? aku mohon". Pintaku memelas.

"Sayang, kau panik. Aku akan membawamu ke tempat tidurmu dulu".

Tidak. Bagaimana dia bisa bersikap setenang itu? Itu bayiku... Bayi kami. Tidak. Dia tidak boleh melakukannya.

Seakan bisa membaca pikiranku. Dia menahan tubuhku dan mengangkatku kembali ke atas ranjang rumah sakit. Perutku rasanya sakit dan bisa kulihat ada darah yang merembes keluar membasahi baju rumah sakit yang ku kenakan.

"Sayang, tenanglah. Aku akan memanggil dokter."

Kulihat sebelah tangannya terjulur untuk memencet sesuatu dan sebelahnya lagi, menahanku supaya tidak meloloskan diri.

"Berbaringlah, Sia. Bekas jahitanmu berdarah lagi. Kau seharusnya belum boleh bergerak."

Aku tidak peduli!

"Semuanya baik- baik saja, Sunshine."

Tidak! Semuanya tidak baik- baik saja. Tidak ada bayiku disini.

Dikecupnya keningku ringan yang tentu saja memiliki efek terhadap tubuhku tapi tidak. Aku tidak boleh kalah dan sial, dari tampangnya, Evan seperti tahu reaksi tubuhku terhadapnya.

"Senang akhirnya kau membuka mata."

Eh?

Aku baru akan bertanya apa maksudnya ketika Joan muncul dengan seorang perawat disampingnya.

"Selamat datang kembali, Sia." Ucap Joan berseri- seri kemudian tatapan wajahnya terlihat muram ketika melihat darah yang merembes ke bajuku. "Huff seharusnya aku mengikatmu di tempat tidur." Ucapnya kesal. "Tolong baringkan dia, Evan."

Aku baru ingin kembali menampiknya ketika Evan mengecup bibirku sekilas. "Percaya padaku, okey?" Kukerjapkan mataku dan tanpa sadar aku menganggukkan kepala.

"Usaha yang bagus, Evan. Terima kasih." Ujar Joan yang hanya dibalas Evan dengan senyuman kecilnya.

Joan hampir memeriksa seluruh tubuhku ketika dia mengangkat sebagian bajuku hingga keatas perut dan berdecak kesal. Aku tidak peduli, aku bahkan berusaha untuk tidak berteriak ketika rasa perih menyerangku. Yang aku inginkan sekarang adalah ini cepat berakhir. Aku perlu tahu apa yang sudah mereka perbuat pada bayiku.

"Nah, sudah selesai. Kuharap kau tidak banyak bergerak, Sia. Aku tidak mau jika harus membuka jahitanmu lagi. Evan, tetaplah bersamanya." Ucap Joan ketika aku sama sekali tidak mengubrisnya. "Apa kau menginginkan sesuatu? Apa kau merasa lapar?"

Tidak. Aku tidak menginginkan semua itu. Yang aku inginkan adalah bayiku. Sekarang!

"Joan, bisakah kau meninggalkan kami?" Tanya Evan, "dan oh, kudengar Pierre dan Ron sedang dalam perjalanan ke sini. Bisakah aku minta tolong agar kau menghubunginya dan mengatakan untuk membelikanku sup ayam dan mungkin beberapa roti juga sepertinya lezat."

Seketika dahiku mengernyit memandangi Evan. Apa dia lapar?

"Tentu. Aku akan menghubungi mereka."

Sepeninggal Joan dan suster tadi, aku langsung bangkit dan bersandar pada tumpukan bantal. Tentu saja dengan bantuan Evan. Dia duduk di samping tempat tidur sementara jari- jarinya bertaut diantara jari- jariku.

"Aku akan mengambilkanmu minum."

Dan tanpa menunggu jawaban dariku, dia lantas menuangkan segelas air yang berada di sisi tempat tidur dan menyodorkannya kearahku. Aku memang sangat haus, ditambah tadi aku menangis jadi semakin membuatku kehausan.

"Jadi, kenapa kau tidak memberitahuku?"

Aku menatapnya, bingung. "Memberitahu apa? Memberitahumu kalau aku kehausan?" Tanyaku polos.

Evan yang tadinya menampilkan wajah seriusnya, berubah menjadi seperti sedang berusaha untuk tidak tertawa.

"Ya. Itu salah satunya tapi bukan itu yang ingin aku dengar. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sebenarnya tidak bisa hamil dulu sebelum 7 bulan setelah kejadian itu?"

Aku bingung. Apa maksudnya dia menanyakan hal itu?

"Sia?"

"Kau serius ingin menanyakan hal itu?"

"Ya. Aku ingin mendengar jawabanmu".

Kuhembuskan napasku kasar. "Karena ketika aku dinyatakan hamil. Dua bulan kemudian aku dinyatakan untuk tidak mempertahankan bayiku?"

"Kenapa?"

Aku begitu terperangah mendengar pertanyaannya barusan. Dia bertanya kenapa? Apa dia gila?.

"Kau menanyakan alasan kenapa aku mau mempertahankannya?"

"Ya. Kenapa kau tidak memilih untuk melepaskannya saja?"

Okey, dia gila!

Kupandangi Evan, mencari ekspresi bergurau di wajahnya yang sama sekali tidak ku temukan. Ingin rasanya aku menimpuk wajah orang yang sangat kucintai ini dengan bantal atau apapun yang bisa kudapatkan sekarang. Bahkan jika aku mencintainya, dia tidak boleh menolak anakku. Tidak akan kubiarkan terjadi.

"Dia bayiku, Evan. Dia anakku!" Aku berusaha menahan geram yang kurasakan.

"Dan juga anakku." Balasnya

"Kalau kau tahu, kenapa kau harus bertanya." Kali ini aku tidak bisa tidak menahan rasa amarahku.

"Karena kau tahu itu sangat beresiko untuk tubuhmu. Kau bisa saja men..."

"Tapi aku tidak meninggal." Potongku setengah berteriak padanya.

Evan menatapku dengan tatapan yang aku tidak tahu. "Kau tidak tahu apa yang kau katakan." Ucapnya dengan nada sedih.

Melihatnya seperti itu, membuat amarahku seketika menguap jadi kutangkup wajahnya agar melihatku.

"Aku rela menerima rasa sakit agar bisa memilikinya dan kau juga sangat menginginkannya sebelum kejadian akibat kecerobohanku terjadi."

"Tapi ini semua tidak ada gunanya tanpa adanya dirimu. Apa kau tidak menyadari itu? Bagaimana kalau setiap hari dia membutuhkan dan merindukanmu?"

Ini aneh.

"Apa yang baru saja kau maksudkan?"

Evan memberiku senyum yang kusukai. "Aku akan membawanya ke sini." Ucapnya tiba- tiba.

Rasanya otakku lambat merespons semua ini hingga aku merasa ada nada kejujuran dalam suaranya. Kudekap mulutku karena terkejut mengetahui fakta kalau bayiku selamat.

"Tapi sebelum itu kau perlu makan."

Aku baru akan bertanya ketika aku melihat Pierre dan Ron datang sambil membawa kantongan berisi makanan.

"Hai Sia, tampaknya kau sangat senang melihat kedatangan kami." Ujar Pierre yang disambut gelak tawa Ron dan Evan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS