FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT PULUH

Evan PoV...

Semua rencanaku akhirnya terlaksana meskipun harus kuakui kalau aku sama sekali tidak menduga akan mendapati Sia dengan penampilannya yang seperti tadi.

Demi Tuhan, kenapa dia bisa sangat menawan dan menggoda di saat yang bersamaan? Aku bahkan harus berusaha menahan diri untuk tidak langsung menciumnya saat itu juga tapi dasar Pierre dan Ron, hampir saja pertahanannya lolos.

Okey, Ron dan Pierre memang tidak salah. Dengan dress selutut yang tadi dikenakan oleh Sia, tidak salah kalau baik Pierre maupun Ron menggumamkan kekagumannya pada bentuk tubuh Sia. Ya, meskipun Sia tampak jauh lebih berisi dikarenakan kehamilannya tapi itu justru membuatnya tampak sangat seksi dan aku juga tahu kalau mereka tidak sengaja melakukannya, mengingat mereka berdua sudah memiliki pasangan tapi tetap saja...

Masalah yang sebenarnya baru saja terjadi. Jujur, aku sama sekali tidak menduga kalau jawaban yang dilontarkan oleh Sia di kamarnya tadi adalah sebuah penolakan. Entah itu namanya penolakan atau tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu Sia menolak untuk kembali padaki dengan alasan yang menurutku sangat tidak masuk akal.

Pekerjaan.

Yang benar saja, bahkan dengan Sia tidak bekerja pun, aku masih bisa memberikannya segala barang yang dia perlukan. Aku hanya tidak ingin berdebat dengannya, mengingat aku baru saja bertemu dengannya setelah sekian lama dan aku juga tidak ingin Sia semakin menjauh dariku apalagi ditambah dengan Sia sedang mengandung anak kami jadi kuputuskan untuk menyudahi pembicaraan kami tadi dan dalam hati bertekad untuk tetap berada disampingnya bahkan jika dia tidak menyukainya.

"Jadi, adakah diantara kalian berdua yang ingin menjelaskan pada kami apa yang sedang terjadi?"

Kupandangi empat wanita yang berada tidak jauh dariku, dua diantaranya sedang duduk,dudukakan seakan keduanya sedang diintrogasi kepolisian sementara dua lainnya berdiri sambil berkacak pinggang.

Sejenak pandanganku bertabrakan dengan Sia, yang mana Sia melihatku dengan tatapan tajam yang justru membuatku tersenyum geli. Seingatku ini kali pertama aku melihat sorot mata jengkel plus tidak nyaman karena berada dalam situasi dimana Natasha dan Lily menatap Sia dengan tajam sementara Kate juga memberiku pandangan yang tidak bisa ungkapkan.

Seharusnya kau memberitahuku sejak awal? Bukankah kau sering melihatku memohon pada Natasha?

Ben, Thalia, Pierre, Ron dan juga aku cukup berbaik hati untuk meninggalkan para wanita itu untuk menyelesaikan masalah mereka dan Vano. Aku tahu Vano masih ingin berdekatan dengan Sia sama denganku tapi kami harus menunggu dan membiarkan para wanita- wanita itu menyelesaikan masalah mereka.

"Ja...di?" Terdengar suara lambat Natasha tapi bernada ancaman pada wanitaku.

"Bukankah tadi sudah jelas?" Sahut Kate seraya memberi Sia tatapan mendelik, tidak suka. "Sudah kuduga kau akan memberiku masalah, Welsh."

"Jadi kau mengatakan kalau Sia melarangmu memberitahu kami?" Tanya Lily.

"Seperti yang kau dengar tadi. Ya." Jawab Kate lagi. Lily dan Natasha kemudian beralih untuk melihat Sia.

"Bisakah kau menjelaskan apa alasanmu, Sia? Oh, dan kuharap itu bukan karena alien mengambil alih otakmu atau Harry Potter sudah memantrai kepalamu dengan mantra Confundus."

Sia tampak ingin tertawa ketika tidak langsung terdiam.

Oh. Kuharap Natasha tidak terlalu keras padanya.

Sia tampak berusaha membersihkan tenggorokannya dan menggaruk tengkuknya, tidak nyaman. "Well, aku hanya tidak ingin kalian khawatir."

Tidak hanya aku tapi seluruh orang yang berada diapartemen Kate, kompak memutar mata.

"Usaha yang bagus, Sia." Ucap Kate jengah.

"Apa?"

Sia menantang semua orang yang saat ini sedang menatapnya.

"Benar katamu, Kate. Usaha yang bagus, Sia. Kau jelas sangat tidak membuat kami khawatir." Sahut Lily pelan dan sinis.

"Maaf." Ucap Sia tulus.

"Permintaan maaf di terima." Balas Natasha.

Eh? Semudah itu?

"Kami sudah memutuskan hukuman yang tepat buat kalian." Sahut Natasha menampilkan senyum liciknya dan aku melihat baik Sia maupun Kate saling melempar pandangan.

"Kenapa aku harus diikutkan? Ini semua kan idenya dia." Protes Kate seraya menunjuk Sia disampingnya.

"Karena kau telah bersekongkol menyembunyikan keberadaannya pada kami." Balas Natasha yang diamini oleh Lily.

"Ini tidak adil! Ucap Kate memberi Sia tatapan mematikan dan juga padaku.

Aku tentunya harus ikut bertanggung jawab juga.

"Aku akan membantumu." Aku kembali mendengar suara Sia.

"Oh jangan khawatir, baby. Kami juga sudah memikirkan hadiah yang tepat untukmu." Jeda sesaat. "Kami berpikir, karena berhubung kami berada pusat kota mode, kenapa kita tidak membeli barang- barang disini sekalian?" Ujar Natasha.

"Kalian serius?" Sia menatap wajah Natasha dengan horor.

"Sangat amat serius."

"Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu."

"Apa gunanya mempunyai suami kaya kalau uangnya tidak kau pergunakan."

Oh, jadi peranku untuk membiayai keperluan mereka? Hm, tidak masalah.

"Tidak. Aku tidak bisa." Kembali aku mendengar suaranya tapi kali ini kedengaran lebih tegas. "Bisakah kalian meminta hal yang lain saja?" Aku berusaha untuk tidak tertawa melihat caranya yang mencoba bernegosiasi pada kedua sahabatnya itu.

Keduanya menggeleng mantap. "Bagaimana menurutmu, Evan?"

Selama itu untuk wanitaku, aku rela melakukan apa saja untuknya.

Kulangkahkan kakiku menuju kearahnya ketika dia juga berdiri dan menghampiriku. Kutempatkan sebelah tanganku disekitar pinggangnya dan merasa lega ketika dia sama sekali tidak menolaknya.

"Jangan melakukannya." Bisik Sia ditelingaku. Kupandangi dirinya yang sedang berusaha memberiku kode agar mau menolaknya.

"Kurasa tidak masalah." Jawabku tersenyum, mengindahkan pelototan Sia disampingku, disusul gelak tawa Natasha dan Lily didepannya.

Sia menghempaskan tanganku dari tubuhnya dan pergi seraya menghentakkan kakinya dengan kesal, tanpa memperdulikan kekehan orang- orang disekitarnya yang menganggap lucu sikapnya saat ini.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS