FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT SATU

Sia PoV...

"Bagaimana perasaanmu?"

Setelah dua hari berada di hotel, ya hotel. Evan bersikeras untuk aku tinggal di tempatnya selama dia berada di Prancis yang entah untuk berapa lama. Dia menolak untuk memberitahuku soal itu.

Vano juga bersikeras untuk tidak berpisah denganku. malam hari setelah kedatangan mereka, suhu tubuhku langsung naik, membuat Kate yang baik hati, bukannya menghubungi Joan, dokter yang merawatku justru menghubungi Evan yang sialnya memberitahuku kalau saat ini Joan sedang berada di Belanda, menghadiri konferensi para dokter.

Tentu saja setelah menerima telpon Kate, Evan segera menuju apartemen Kate dan bersikeras untuk menemaniku. Padahal aku sudah mengatakan kalau demam ini adalah hal yang biasanya terjadi semenjak aku hamil dan langsung ku sesali karena ternyata itu semakin membuatnya tidak ingin beranjak dariku.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara dia membawaku ke kamar hotelnya, membuatku berkesimpulan kalau banyak orang yang terlibat dalam aksi yang kusebut sebagai 'aksi penculikan' ini. Bagaimana mungkin para pengunjung atau siapapun di hotel tidak menaruh curiga pada orang- orang yang membawa orang yang nyaris tidak bergerak masuk. Bagaimana kalau itu mayat? Tapi yang lebih mencurigakan dari semua itu, kenapa aku sama sekali tidak merasakan apa- apa? Ini kan tubuhku dan ada tubuh lain juga yang berada dalam tubuhku.

"Kau tidak cukup sadar ketika aku membawamu ke dalam kamar dan karena kau mengatakan kalau ini hal yang biasa jadi aku tidak membawamu ke rumah sakit meskipun aku sangat ingin." Ucap Evan ketika aku menanyakan kenapa aku bisa berada di tempatnya waktu itu.

Pagi ini Joan menyuruhku dan Evan untuk datang memeriksakan kandunganku di rumah sakit tempatnya bekerja, semalam dia menghubungi dan mengatakan kalau malam itu juga dia akan kembali dari Belanda.

"Baik, Joan." Aku menjawab pertanyaannya tadi.

"Ya. Aku bisa melihat Evan melakukan apa yang ku minta."

Kukernyitkan dahiku, bingung.

"Apa kau sudah memberitahunya?" Tanyanya lagi.

Kugelengkan kepalaku pelan. Aku tahu apa yang ingin dia dengar dan melihatnya menghembuskan napasnya pelan. Tadinya Evan menemaniku melihat perkembangan bayi kami di monitor USG tapi keluar ketika ia menerima telpon dari ponselnya.

"Mau sampai kapan kau menyembunyikan hal ini darinya. Hari persalinanmu sebentar lagi akan tiba. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu dan dia tidak mengetahuinya?"

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Dengar Sia, kau harus mengatakan hal ini padanya. Nyawamu juga ikut terbawa disini dan kita sudah sepakat akan menyelamatkan keduanya."

Kututup kedua mataku pelan, mencoba untuk berpikir jernih. "Kalau terjadi sesuatu padaku, kumohon prioritaskan bayiku." Pintaku.

"Apa?" Joan terlonjak mendengar permintaanku padanya. "Dan apa yang akan kau lakukan jika dia selamat?"

"Akan banyak orang yang akan menyayanginya."

Jujur. Sebenarnya aku takut. Sangat takut tapi aku sudah memikirkannya, tepat setelah aku dinyatakan sedang hamil bersamaan dengan kemungkinan aku tidak akan selamat dari persalinanku kali ini. Ternyata jatuhku dulu membawa pengaruh yang cukup besar jika aku hamil lagi karena ketika itu, aku tidak diharapkan hamil selama 6 sampai 7 bulan setelah aku jatuh. Kini aku menjadikan hidupku sebagai taruhan dimana taruhanku kali ini hanya berbanding 30:70 dan aku lebih memilih berpikir yang 70 dibandingkan 30, meskipun nantinya aku akan beradi di 30 itu.

"Dan kau pikir, anakmu tidak akan membutuhkan kasih sayangmu. Pikirkan Sia. Pikirkan bayimu. Pikirkan Vano dan pikirkan Evan. Apa yang akan mereka lakukan jika kau tidak ada?"

Kugigit bibirku bawahku menahan air Mata yang akan keluar yang tetap saja keluar. "Memang pilihan apa yang ku miliki, Joan. 30:70, ingat?"

"Dan kau memilih yang 70. Aku ingat."

Air mataku terus saja mengalir tanpa bisa kuhentikan. Aku takut.

"Dengar, apa kau tahu apa yang dikatakan Pierre ketika melihat kalian berdua?" Tanya Joan.

Aku mengernyit, menyeka ingus di hidungku dengan tissue yang disodorkan Joan dan menduga dia hanya berusaha untuk menghiburku karena aku terus saja mengeluarkan air mata.

"Pierre bilang, kau dan Evan terlihat cocok." Jawabnya setelah melihatku menggeleng.

Aku tertegun dan mau tidak mau aku tertawa atas jawabannya, "jawaban apa itu?" Tanyaku seraya mengusap sisa air mataku tapi Joan masih terdiam meskipun aku sudah tertawa didepannya.

"Tadinya aku tidak percaya tapi aku melihat sikap kalian."

Hah?. "Sikap apa?"

"Entahlah. sulit menjelaskannya tapi kalian berdua seperti saling melengkapi. Seakan- akan kalian memang ditakdirkan bersama. Jika dia bergerak, kau seakan ikut bergerak mengikuti gerakannya dan begitupun sebaliknya. Dia seperti tahu posisi apa yang akan kau lakukan. Seperti bumi yang mengitari matahari, kalian berdua bisa dikatakan seperti itu."

Kali ini aku benar- benar melonggo dibuatnya.

"Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanyaku ragu, membaca ekspresi wajahnya.

Bisa saja kan, Joan stres dengan pekerjaannya sebagai dokter kandungan atau jangan- jangan dia bertengkar dengan Pierre. Aku harus mengingatkan Pierre untuk tidak membuatnya uring-uringan lagi. Bisa gawat jika dia berada di ruang operasi nanti.

"Aku konyol ya?" Tanyanya kemudian, nyengir.

Aku langsung mengangguk mantap. "Dan kau aneh. Kau mengatakan tentang takdir dan bumi dan matahari. Aku tidak tahu buku apa yang sudah kau baca tapi kusarankan kau tidak membaca cerita- cerita seperti itu lagi. Terlalu mainstream menurutku."

Joan langsung memberiku tatapan mendeliknya dan membuatku tertawa. Tepat di saat itu, Evan muncul.

"Maaf Joan, ada hal penting yang harus aku....". Dia lantas menoleh melihatku. " apa kau baru saja menangis?"

Tubuhku langsung menegang ketika jari- jarinya menyentuh pipi dan sudut mataku.

"Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya tepat melihat ke mataku. Aku merasa seluruh hidupku ikut tersedot ke kedalaman matanya dan keinginan untuk mendekatkan bibirku ke bibirnya terasa sangat mengundang.

"Sia?"

Aku lantas menutup mataku untuk mengembalikan fokusku. Bagaimana mungkin aku memikirkan itu sekarang? Di ruangan Joan dan Joan di sini.

"Hmm kurasa Evan, Sia hanya asyik tertawa. Kau lihat sendiri kan tadi dia tertawa." Ku buka mataku dan melihat Joan yang saat ini memberiku senyum jenakanya.

Sialan Joan. Dia mengerjaiku!

Aku tahu Evan tidak semudah itu percaya dengan ucapan Joan tapi aku juga tidak mau menceritakan alasannya ditambah lagi, aku sempat terhipnotis dengan sentuhannya.

"Jadi, apa semuanya baik- baik saja?"

"Ya. Anakmu baik- baik saja, Evan." Ujar Joan yang sepertinya mengerti situasi apa yang kualami sekarang.

"Dan bagaimana dengan ibunya?"

Bingo.

Aku dan Joan Sontak saling berpandangan.

"Ya. Sia baik- baik saja". Jawab Joan kembali melihat Evan. Ku pikir sebaiknya aku mengambil alih dari sini sebelum Joan keceplosan dan menceritakan semuanya.

"Hmm Evan, siapa yang menelpon tadi?" Tanyaku yang langsung mendapatkan tatapan bingung darinya.

Ugh sial! kenapa aku bisa mengeluarkan suara manja seperti tadi?

Dari sudut mataku, Joan berusaha menahan diri untuk tidak tertawa yang bisa kupastikan wajahku sudah pasti memerah karena malu tapi aku tidak boleh kalah. Biar bagaimana pun harga diriku di pertaruhkan disini.

"Klien di London." Ucapnya sambil mengusap sebelah pipiku. Sial, ini akan sulit. "Oh, dan sahabat- sahabatmu sudah menunggu kita." Ucapnya seraya menyunggingakan senyumnya yang sangat kusukai, membuat otakku mendadak macet.

Ini tidak akan baik untuk perkembangan jantungku kelak.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS