FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT TIGA
Sudah hampir dua hari ini aku tidak pernah melihat Evan. Apa dia marah lagi setelah aku mengucapkan kalimat itu?
"Aku sudah memperingatkanmu, Welsh." Ucap Kate disampingku.
Ya. Setelah perbincanganku dengan Dominique tempo hari, yang kurang lebih memperlihatkan sisi yang sama sekali bukan sifat murniku.
Aku bahkan mengatakan padanya, bahwa aku memang sudah menggugat cerai Evan dan baru mengetahui kalau Evan sama sekali belum menandatangani surat cerai kami yang secara harfiah kami tidak pernah berpisah.
"Apa kau sudah menjelaskan padanya?" Tanya Kate yang kubalas dengan menggelengkan kepalaku. Bagaimana aku mau menjelaskan padanya, aku bahkan nyaris tidak pernah melihatnya setelah kejadian itu seakan dia tiba- tiba menyibukkan diri.
Kupandangi Vano yang sedang sibuk dengan Legonya di lantai dan ketika mata kami bertemu, bocah kecil yang sudah bertambah tinggi sejak aku pergi langsung tersenyum dan bangkit menuju kearahku.
"Lihat deh, Ma. Aku berhasil menyusun ini." Serunya seraya memamerkan mobil hasil ciptaannya yang terbuat dari kepingan Lego.
"Wah hebat!" Balasku riang.
Lalu Vano menunduk hingga bibirnya menyentuh perutku. "Apa kau juga mau melihatnya?" Dan seakan bayi dalam kandunganku bisa melihatnya, Vano mengangkat mobilnya dan lantas memamerkannya. "Kau lihat? Bagus kan? Mama juga mengatakan hal itu." Dia mengatakan itu sambil terkikik dan memberikannya ciuman kecil di perutku. Bisa kurasakan tendangan kecil bayiku dan semakin membuat Vano berteriak dengan semangat dan senangnya.
Sore harinya, Natasha dan lily datang sambil membawa sebuah kantongan ke hotel tempatku menginap.
"Lho, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku bingung.
"Tidak ada waktu. Ayo mandi". Jawab Lily seraya menyeretku ke kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?"
"10 menit dan tidak lebih." Lalu dia menutup pintu di hadapanku.
Ketika aku keluar dari kamar mandi. Natasha dan lily sudah asyik menyusun sesuatu diatas ranjangku.
"Kurasa hiasan rambut ini cocok dengan pakaiannya." Aku mendengar suara Lily yang memberi saran.
"Ingat, dia harus tetap hangat". Balas Natasha
"Aku tahu."
"Apa yang kalian lakukan?" Tanyaku ketika sudah berada dibelakangnya.
"Perfect! Ayo. Oh, hati- hati. Kita tidak mau kan terjadi sesuatu pada calon bayimu."
Alisku seketika terangkat mendengar ucapan Natasha. Lalu Lily datang sambil membawa dress berwarna pink yang sangat cantik, selutut kepadaku.
"Aku tahu kau akan suka. Kami memilihkan ini untukmu." Ucap Natasha sebelum aku membuka suara.
Selama 30 menit mereka berdua asyik menata tubuh dan rambutku. Rambutku di kepang ke samping dengan untaian- untaian permata di sepanjang rambutku.
"Apa ini asli?" Akhirnya aku tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Tentu saja." Jawab Lily seakan aku orang sinting karena baru menyadarinya.
"Apakah kalian akan membunuhku jika aku menghilangkan salah satunya?" Tanyaku semakin penasaran.
Kali ini Natasha dan Lily berhenti melakukan aktivitasnya mendandangi diriku dan lantas memandangku.
"Aku jelas akan membunuhmu jika kau tetap memikirkan hal- hal yang tidak masuk akal lainnya?"
Aku meringgis.
"Memang kau mau membawaku ke mana?"
Kali ini Natasha dan lily memberiku senyum penuh arti.
"Yep. Sudah selesai. Lily, mana mantelnya? Okey, sekarang sudah sempurna. Ayo berangkat".
Kulirik jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 7 malam. Apa yang mereka berdua rencanakan?
"Eh Vano?" Aku baru ingat kalau bocah itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya sejak kedatangan mereka berdua.
"Oh, Kate mengajaknya berkeliling." Jawab Natasha.
Berkeliling? Udara di luar
kan dingin.
"Ayo berangkat." Ajak lily.
Aku baru saja akan keluar dari kamar ketika aku mengingat sesuatu.
"Eh tunggu."
"Apalagi Sia. Kita sudah terlambat." Natasha berkata tidak sabar.
"Hanya sebentar. aku melupakan sesuatu." Lalu aku berjalan menuju kamarku kembali dan meraihnya sesuatu yang selama ini kusimpan.
"Okey. Ayo berangkat ke... Hmm tempat rahasia kalian".
Natasha dan lily kompak tertawa geli.
Selama 30 menit yang kurasa seabad. Mereka tampak tegang selama perjalanan, membuatku ikutan tegang mengikuti mereka. Mataku tidak bisa berhenti mengerjap setibanya aku di tempat tujuan mereka.
"Kau membawaku ke dermaga?" Tanyaku tidak percaya.
Jelas saja aku kaget. Dermaga ini terlihat sepi, hanya ada satu kapal pesiar yang bertengger.
Tidak ada jawaban hingga kembali aku mendengar suara terkesiap Natasha.
"Oh tidak. Aku melupakan sesuatu. Oh dan jangan ke mana- mana, okey? Kami tidak ingin malam kami dihabiskan dengan mencari wanita cantik yang sedang hamil."
"Eh, apa kau yakin?"
Mereka berdua serentak mengangguk kompak.
"Oh, kau bisa menunggu dalam kapal itu, hmmm kurasa tidak apa- apa".
Kuberi Lily pandangan tidak percaya. Kapalnya memang cantik tapi apa dia sudah gila? Bagaimana kalau pemiliknya datang dan mengusirku? Bisa turun harga diriku. Sudah di dandani secantik ini tapi ujung- ujungnya malah di usir.
"Ingat. Jangan ke mana- mana. Kau bisa menunggu kami di pinggir kapal. Kami akan segera kembali".
"Memang kalian melupakan apa sih? Dan kenapa kalian berdua harus pergi? Salah satu dari kalian kan bisa di sini dan menemaniku. Apa kalian lupa kalau saat ini aku sedang hamil?"
"Hanya sebentar kok"
Aku hanya bisa menghela napas melihat kepergian mereka berdua.
10 menit.
20 menit.
Belum ada tanda- tanda akan kedatangan mereka.
"Apa sih yang mereka lakukan?" Rutukku.
Kuedarkan mataku melihat sekeliling. Hanya ada satu kapal di dermaga ini, kakiku rasanya sudah pegal dan jari- jariku rasanya sudah kebas karena berdiri terlalu lama.
"Apa sebaiknya kita menunggu kedatangan para Bibi tukang rusuh itu di dalam saja?" Tanyaku pada bayi dalam perutku. Aku memang sudah mengenakan mantel tebal beserta syal yang kulilitkan di sekitar leher agar tetap membuatku hangat tapi tetap saja aku merasa khawatir. Bagaimana kalau dia tidak cukup hangat di dalam sana.
Kupandangi lagi kapal bertingkat dua itu yang terlihat hangat bahkan dari luar dan memutuskan untuk melangkahkan kakiku hingga berada di dalam kapal sambil menunggu kedatangan Lily dan Natasha di tempat yang mudah terlihat.
Tidak cukup lima menit aku berada di dalamnya. Aku merasa kalau kapalnya mulai bergerak.
Eh? Tunggu.
Aku berusaha untuk turun tapi sudah terlambat. Kapalnya sudah menjauhi dermaga.
Kutarik napasku pelan demi menghilangkan kepanikan yang tiba- tiba muncul.
Think Sia! think!
Aku berusaha untuk tidak terlihat panik.
Okey, Mari kita lihat ke dalam. Ini bukan kapal hantu milik flying Dutchman di film Spongebob kan? Pasti ada orang yang mengemudikannya. Pasti.
Kumantapkan hatiku untuk berjalan lebih jauh dan mendadak terkesiap.
***
Comments
Post a Comment