FALL FOR YOU - BAGIAN ENAM BELAS
Sia POV...
"Kau seperti orang gila kalau seperti itu".
Sontak aku menoleh dan memberikan Natasha tatapan mendelik karena telah berhasil menghancurkan suasana hatiku yang sedang mekar- mekarnya beberapa hari ini.
"Apa?" Tantangnya, "bukan salahku kalau selama dua minggu ini kau berubah gila".
Ugh.
"Memang ada apa sih?" Tanyanya terkekeh, "bukannya kau meminta libur selama dua minggu? Masih ada dua hari sebelum kau kembali beraktivitas"
Seketika aku kembali tersenyum. "Itu karena aku merindukanmu, sayang". Jawabku seraya memeluknya.
"Euhhh Lepaskan". Ucapnya jijik. "Ini bukan Sia yang ku kenal. Katakan! Siapa kau sebenarnya?!
Dengan sebal, kulepaskan pelukanku. "Kau menyebalkan".
Natasha kembali tertawa.
"Oh iya, apa kau melihat Paul?" Tanyaku
Seketika ekpresi Natasha berubah. "Paul?"
"Yep. Besok kami berpasangan".
"Tapi bukannya kau masih libur?"
"Sudah tidak lagi. Kemarin Walker menghubungi dan memintaku menjadi modelnya".
"Dan Paul yang akan menjadi pasanganmu?"
Aku mengangguk.
Aku tidak tahu apa yang membuat Natasha selalu kesal tiap kali kami membicarakan Paul. Setahuku selama ini hubungan Paul dan model lainnya baik- baik saja.
Well, aku memang tidak menampik kenyataan kalau Paul menyukaiku tapi demi Tuhan, Paul hanya menyukaiku seperti pada model lainnya. Ya meskipun terkadang aku merasa risih dengan tatapannya padaku tapi Paul orang baik. Itu yang kuyakini.
"Aku rasa itu ide yang buruk". Ucap Natasha kemudian.
Aku mengernyit bingung. "Apa?"
"Memasangkanmu dengan Paul. Bagaimana kalau dia tahu kau sudah menikah? Atau Evan melihat kalian berdua?"
Aku semakin mengernyit bingung hingga tanpa sadar aku sudah tertawa terbahak- bahak.
"Astaga Natasha". Pekikku
"Kenapa?"
"Karena... Hahaha karena pemikiranmu itu konyol. Paul sudah tahu kalau aku sudah menikah".
"Apa? Dia tahu? Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa"
Lalu mengalirlah kejadian di kebun binatang dulu. Tentu saja dengan menskip beberapa bagian seperti aku yang sempat mencium pipi Evan. Biarlah itu menjadi rahasiaku hingga ke liang lahat. Aku tidak mau Natasha menertawakan kekonyolanku.
"Jadi Paul terlihat biasa- biasa saja ketika kau memperkenalkan Evan?" Tanya Natasha tidak yakin
Sekali lagi aku mengangguk.
"Dan Evan?"
"Kenapa dengan Evan?" Tanyaku heran.
"Apa dia tidak cemburu?"
Aku tertawa. "Tentu saja tidak. Kenapa dia harus cemburu?"
Seorang Evan cemburu? Tidak mungkin.
"Lagipula kenapa dia harus cemburu?" Tanyaku tidak mengerti
"Karena dia suamimu gadis bodoh".
Kembali aku tertawa. "Pernikahan kami tidaklah seperti yang kau pikirkan".
"Tapi itu tidak menutup fakta kalau dia adalah suamimu".
Aku terdiam menyimak perkataannya. Ya. Kami memang sudah menikah dan Evan adalah suamiku tapi aku ragu kalau Evan akan cemburu melihat Paul.
"Tidak. Dia tidak akan cemburu" kataku tapi kemudian menambahkan dengan ragu "benarkan?"
Disatu sisi aku ingin melihat Evan cemburu tapi aku tidak melihat ada yang aneh ketika dia bertemu Paul kecuali fakta ketika dia memperkenalkan dirinya sebagai suamiku tapi kurasa hal itu wajar mengingat ada Vano di antara kami. Aku tidak mungkin mengatakan kalau Evan adalah orang yang hanya lewat menanyakan alamat, bukan?
"Ayolah Sia, kenapa kau tidak mau menerima fakta kalau dia juga merasakan seperti yang kau rasakan?"
Karena itu tidak mungkin!
"Karena mana mungkin seorang Evan Alexander menyukai cewek biasa macam dia kecuali sebagai pengasuh anaknya".
Aku mendesis jengkel mendengar kalimat Kate barusan dan semakin jengkel ketika tanpa malu mengambil tempat duduk tepat didepanku.
"Hai girls". Sapa lily, duduk di samping Natasha.
"Hai Ly. Darimana saja?" Aku memilih untuk mengindahkan ucapan Kate dan fokus pada Lily, ini demi menghindari terjadinya perang Teletubbies. Kenapa aku mengatakan Teletubbies karena setelah kami perang yang melibatkan barang- barang melayang. Natasha dan Lily akan memaksa kami untuk saling berpelukan di tempat itu juga, terlepas seberantakan apa tempat kami tadi. Aku sudah lama tidak bertemu Lily dan aku merindukannya.
"Belanja. Toko di ujung jalan sana sangat luar biasa. Kau harus kesana juga". Aku dan Natasha sama- sama saling memandang. Aku tahu bagaimana shopaholicnya Lily. Well... kami semua. "Oh iya, aku dan Kate baru saja bertemu Paul dan dia menanyakanmu". Dimataku terlihat Natasha yang seketika mengernyitkan dahinya dan Kate memutar matanya jengah.
"Oh pasti dia ingin mendiskusikan pemotretan kami besok".
"Kau sudah mulai bekerja besok?"
"Yup. Aku sudah bosan di rumah terus".
"Jangan bercanda. Tanpa kau bekerja pun, kau tetap bisa keluar dan shopping".
"Ya. Dan Itu semakin menegaskan kalau dia menikah karena uang". Timpal Kate, membuatku semakin sebal.
"Sia bukanlah wanita seperti itu". Bela Natasha.
Kupandangi Natasha berterima kasih. Aku tidak tahu sejak kapan Kate menjadi semenyebalkan ini. Seingatku dulu dia tidak separah ini meskipun tetap menyebalkan tapi kami masih bisa memaklumi.
"Terserahlah". Balas Kate cuek.
***
"Okey Sia, pertahankan posemu". Aku mengikuti perintah Walker tanpa canggung. Kami baru saja menyelesaikan sesi di sofa lalu beranjak menuju tempat yang telah disulap menjadi mirip dengan kamar mandi beserta shower dan bath upnya.
Walker memikirkan tentang sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu senggangnya dimana aku dan Paul banyak melakukan sentuhan. Paul orang yang sangat santai untuk dijadikan partner karena dia selalu membawa kami ke perbincangan yang tidak terlalu serius hingga tanpa sadar kami sudah selesai melakukan pemotretan.
"Apa kau tahu aku selalu ingin kau menjadi partnerku". Suara ceklekan kamera Walker tetap mendominasi ruangan ini tapi tidak membuat suara Paul tenggelam
"Kalau begitu kau harus berterima kasih pada orang yang memasangkan kita kali ini". Balasku tersenyum.
Dia membalas senyumku. "Apa kau percaya kalau akulah yang meminta Walker untuk memasangkan aku denganmu?"
Aku terdiam lalu tersenyum menimpalinya.
"Kalau begitu seharusnya aku berterima kasih padamu"
"Sia, bisakah kau mengalungkan lenganmu di sekitar leher Paul?" Teriak Walker mengalahkan suara air yang saat ini menyiram kami berdua.
Aku mengangguk dan melakukan perintahnya.
"Kau cantik bahkan ketika kau sudah menikah dan... Basah seperti ini". Bisiknya seraya mendekati pipiku dengan bibirnya.
Bibirnya terasa hangat di kulitku. Tidak seperti ketika Evan yang menyentuhku, Paul lebih terasa seperti air hangat yang mudah dingin. Tidak ada perbedaanya. Aku menyunggingkan senyumku secara profesional ketika merasakan tangannya yang semakin erat dipinggangku.mencoba untuk bersikap professional dipinggangku.
"Oh Sia, tidak tahukah dirimu kalau kau selalu menarik untuk dilihat?"
Kembali aku tertawa mendengar bualannya ketika aku semakin merapatkan tubuhku ke tubuhnya, agar bisa memberikan Walker foto yang bagus ketika telingaku menangkap desahan lembut yang keluar dari bibir Paul.
Akhirnya setelah 20 menit basah- basahan di kamar mandi bersama dengan Paul. Aku memutuskan untuk mengganti pakaian di ruang ganti dengan pakaian kering ketika mendadak pintu terbuka, menampilkan sosok Evan.
Aku terdiam dengan pakaian yang masih setengah kupakai ketika menyadari kalau wajahnya terlihat tegang sementara matanya menatapku dengan tajam.
" Evan?"
***
Comments
Post a Comment