FALL FOR YOU - BAGIAN DUA
Seminggu berlalu tanpa ada kejadian yang berarti bahkan Kate yang dulunya hampir selalu mencari masalah denganku pun ikut menghilang dan aku hampir saja melaporkannya pada polisi. Siapa tahu dia di culik oleh orang yang tak dikenal dan di buang di suatu tempat. Well, aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk.
"Kau terlalu banyak menonton berita kriminal". Begitulah response Natasha ketika akhirnya aku menyuarakan pikiranku. "Dia sedang ada pemotretan di Mesir". Jelasnya yang seketika membuatku mengangkat sebelah alisku, heran.
"Mesir? Memang dia pemotretan di bawah piramida?"
Natasha terkikik geli. "Aku dengar temanya semacam Cleopatra. Mungkin di kuil atau apalah itu".
Kubayangkan wajah yang kaku Kate akan semakin kaku jika berpose menjadi Cleopatra.
Hm menarik...
"Dan Lily?"
"Dia ke Thailand. Bulan madu dengan Casey".
Aku bersiul pelan. Casey adalah pacar Lily. Jangan ditanya pacar yang keberapa dari yang keberapa. Mereka bertemu 3 bulan yang lalu di pesta yang kami berempat hadiri.
"Menurutmu ini bagaimana?"
Sejenak aku melihat dress merah maron dengan belahan dada yang sangat terbuka, yang disodorkan Natasha padaku.
"Kau yakin ingin pakai yang itu?" Tanyaku tidak yakin.
"Tentu saja".
"Kau tidak berniat untuk menggoda calon ayah mertuamu bukan?"
"Itu salah satunya".
" sialan". Rutukku yang membuatnya tertawa
"Tunggu di sini. Aku ingin mencobanya". Setelah itu dia menghilang ke kamar pas.
Sambil menunggunya, kuedarkan mataku kesekeliling mencari sesuatu yang menarik hingga tiba- tiba mataku tertumbuk ke dress warna pink selutut yang sangat manis di dekat jendela.
Aku sedang menikmati melihat tekstur pakaiannya ketika aku mendengar suara tangisan dan membuat mataku tertumbuk kearah luar, pada seorang anak laki- laki yang mungkin berusia 5 tahun dan menangis di tengah hiruk pikuk orang yang lalu lalang di pusat perbelanjaan ini.
Apa sih yang orang- orang ini pikirkan? Aku mengutuk dalam hati karena ketidakpedulian orang- orang disekitarnya.
Kubuka pintu toko, tempatku dan Natasha berbelanja pakaian dan berjalan menghampiri anak itu. Sengaja aku jongkok ketika berada dihadapan anak itu agar bisa sejajar dengan tingginya.
"Halo". Sapaku sengaja bersikap seramah mungkin untuk menarik perhatiannya dan benar saja, dia menghentikan tangisnya dan melepas tangannya dari matanya. "Hai, namaku Sia... Kamu?"
"Vano". Jawabnya sesengukan.
Aku tersenyum. "Nah Vano, apa yang kau lakukan sendirian disini?"
Vano menatapku selama beberapa saat. "Mama?"
Hah?
"Mama? Kamu mamaku, kan?"
Hah?
Sebelum aku bisa merespon dengan baik, mendadak anak yang memperkenalkan dirinya sebagai Vano ini memelukku dengan erat dan mendekatkan bibirnya ke leherku, membuatku bergidik ketika merasakan napasnya.
Orang- orang yang tadinya hanya melihat, memberiku tatapan lega.
Hah? Sekali lagi aku melonggo. Apa mereka baru saja mengira kalau anak ini serius anakku?
"Hm Vano, kurasa kamu salah, sayang. Aku bukan..."
"Tidak. Mama adalah mamaku".
Astaga! Hanya satu yang bisa kusimpulkan dari kejadian ini di kepalaku yang bodoh ini. Anak ini hilang dan berharap orang tuanya sedang kelimpungan mencarinya. Kuputuskan untuk menbawa Vano masuk kedalam toko dan mencari Natasha lalu bersama- sama dengannya ke bagian informasi.
"Siapa dia?" Natasha menunjuk Vano dengan dagunya tapi matanya memperhatikan tangan Vano yang memegang tanganku dengan erat.
"Namanya Vano".
Natasha mengamatiku dan Vano bergantian. "Apa kau yakin dia bukan anakmu? Warna Mata kalian sama". Komentarnya yang langsung mendapat tendangan kecil di kakinya
Enak saja kalau dia bicara.
"Kita akan ke bagian informasi dan melaporkan anak hilang".
"Hai... Aku Natasha, namamu siapa, ganteng?" Natasha mensejajarkan dirinya dengan Vano seperti yang tadi kulakukan diluar.
"Vano. Apa tante teman mamaku?"
Aku bisa melihat kalau Natasha sedang berusaha menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Vano.
"Ya Vano. Tante teman mama kamu. Kamu anak baik ya".
Kuputar mataku, jengkel ketika Natasha justru memberiku senyum penuh arti dan ejekan.
Damn!
Setelah menyeret Natasha keluar dari toko dan memberitahukan tentang ciri- ciri Vano ke bagian informasi. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu di Chocolate & Ice cream Factory House yang tidak jauh dari bagian informasi.
Kuperhatikan Natasha berkali- kali mengamati Vano kemudian kearahku kembali lagi ke Vano.
"Kau yakin dia bukan anakmu? Kalian terlihat mirip".
"Damn Natasha! Rutukku tapi langsung kuralat ketika menyadari tatapan Vano padaku. "Tentu saja bukan". Lanjutku berbisik dan tersenyum.
Vano menghabiskan ice creamnya, membuat sekeliling bibirnya penuh ice cream dan serta merta membuatku dan Natasha kompak tertawa.
Aku biasanya selalu menyiapkan tisu basah dalam tasku untuk jaga- jaga ketika merasa senang ketika menemukannya. Kuseka bibir Vano dengan lembut ketika mendengar perkataannya.
"Mama jangan tinggalin Vano lagi ya?"
Natasha tampak ingin sekali tertawa dan aku merasa ingin mencekiknya saat ini juga.
Sial.... Awas kau nanti.
"Tentu saja sayang. Mama akan selalu bersamamu". Okey, peran ibu dan anak ini terasa sangat konyol.
Mana sih orang tua nih anak?
"Janji?"
"Eh?"
"Mama harus berjanji".
Ya ampun!
"Pakai pinky finger aja Vano. Mama orangnya tepat janji kok". Sahut Natasha yang langsung kuberi tatapan tajam tapi dia sama sekali tidak terganggu malah semakin tertawa.
Oh bagus!
"Pinky finger".
Kuhela napasku pelan ketika menautkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya yang mungil dan seperti yang sudah direncanakan muncullah wanita paruh baya dengan tergopoh- gopoh ke arahku.
"Astaga Vano! Bibi sampai kaget melihat Vano hilang". Seru perempuan itu.
"Bibi, aku ketemu mama".
Perempuan itu sejenak melihatku. Kalau sampai wanita itu juga menyebut Vano anakku Maka aku akan langsung pergi meninggalkan tempat ini.
"Terima kasih Nona". Sahut perempuan itu.
Oh thanks God! Setidaknya masih ada orang waras yang menyadari itu.
"Ayo Vano. Papa sampai cemas karena mengira Vano hilang".
"Hm anda?" Aku berusaha menghentikan perempuan itu. Biar bagaimana pun aku harus berhati- hati.
"Oh maaf. Nama saya Tia. Saya pengasuh Vano".
Aku mengangguk lega. Setidaknya Vano sudah berada di tangan orang yang benar.
Oh shit! yang benar saja Sia. Kau kan bukan ibunya.
"Okey, kalau begitu kami pergi dulu". Kataku seraya bersiap- siap pergi.
"Mama? Mama mau kemana?"
Kembali aku berjongkok di depannya. "Maaf ya sayang. Mama ada urusan".
"Mama tidak ikut kami?" Oh, suaranya terdengar sedih tapi tidak ada cara lain.
Aku tersenyum. "Tidak. Mungkin lain kali ya sayang".
"Mama tidak kangen papa?"
Kupandangi Natasha dan Tia bergantian kemudian kembali melihat Vano. Kucium keningnya kemudian kearah hidungnya, sengaja menggigitnya hingga mendengar tawa kecil keluar dari bibirnya.
"Kamu ikut Tia dulu ya".
Tanpa kuduga Vano mengangguk. Wow, bahkan kedua penyihir cilik di rumah kakakku tidak semudah ini membujuknya. Kurasa aku mulai menyukai anak ini.
Aku dan Natasha berjalan meninggalkan tempat itu ketika mendengar suara Natasha lagi.
"Kau hebat" ujarnya seraya mengacungkan jempolnya kearahku, "bagaimana kau melakukannya?"
Kuangkat kedua bahuku, bingung harus menjawab apa. "Entahlah. Mungkin latihan selama bertahun- tahun". Jawabku. Sejujurnya aku juga heran dengan sikap manisku tadi.
"Kau yakin Vano bukan anakmu?"
Sudah sejak Tadi aku menahan diri Karena Vano dan dia sudah menanyakan hal yang sama padaku sejak beberapa jam yang lalu.
Segera kujepit kepalanya menggunakan ketiakku. Aku tidak peduli dengan tatapan orang yang menganggap kami kekanak- kanakan yang jelas aku sudah membuat seorang Natasha berteriak kesakitan dan aku tidak peduli jika ada orang yang mengenal kami.
***
Comments
Post a Comment