FALL FOR YOU - BAGIAN EMPAT
Evan PoV....
"Papa, hurry up!" Seru Vano. Anak semata wayangku.
"Sebentar lagi sayang..." Aku membalas seruannya lalu kembali mengarahkan handphoneku ke telinga.
"Vano?"
"Ya".
" memang kalian mau kemana?"
"Taman hiburan. Dari minggu lalu dia selalu memaksa untuk pergi ke sana?"
"Jadi apa dia sudah melupakan orang yang di panggilnya mama itu?"
Aku menggeleng dan merasa bodoh. Tentu saja dia tidak akan melihatku. "Tidak. Tidak sekalipun bahkan dia bersikeras agar aku mencarinya".
"Apa dia ...?"
"Tidak. Dia sudah berjanji tidak akan menemui Vano lagi".
"Apa kau yakin Van?"
"Sangat yakin Ron. Lagipula apa yang membuat dia ingin kembali lagi ke sini".
"Entahlah. Mungkin dia kehabisan uang atau dia mulai bosan dengan kehidupannya yang sekarang".
"Dia akan tahu konsekuensinya jika dia kembali lagi".
"Terserah kau saja Van. Kau yang lebih tahu tentang Vano daripada yang lain".
"Aku tahu. Lagipula dia bukan dia".
"Maksudmu?"
"Tia mengatakan kalau orang itu adalah orang yang dulu mendonorkan darahnya pada Vano".
"Wow. Kok bisa? Maksudku bagaimana Vano bisa memanggilnya sebagai mama".
"Tia memberi tahuku sesuatu yang tidak pernah diceritakannya dulu. Wanita itu adalah orang yang pertama Vano lihat ketika dia siuman akibat kecelakaan itu".
"Jadi karena itu Vano menganggapnya sebagai mama?".
"Bisa jadi".
"Apa dia cantik?"
"Aku bahkan tidak pernah melihat wanita itu".
"Kalau begitu, jika kau melihatnya cepat jadikan dia mama Vano".
"Apa kau gila?"
" tidak. Lagipula sudah lama aku tidak melihat Vano seriang kemarin ketika menceritakan orang yang dianggapnya mama itu bahkan Dominique pun tidak bisa merebut hati anakmu itu".
"Papa!" Kali ini suara Vano terdengar tidak sabar.
"Sebentar sayang...". Balasku. "Dengar Ron, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Kalau kau mau, kau bisa menyusul kami ke taman hiburan".
"Baiklah. Aku akan menyusul kalian".
Setelah mematikan telponku, kuhampiri anakku itu yang langsung berkacak pinggang dengan jengkel.
"Papa, ngapain aja sih? Lama banget".
Kuacak- acak rambutnya dengan gemas. "Maaf, jagoan. Itu tadi paman Ron dan papa mengajaknya ikut bersama kita".
"Kalau begitu ayo cepat". Serunya tidak sabar.
Dua jam berlalu tanpa terasa dan Vano juga terlihat lebih ceria memainkan semua wahana di tempat ini. Aku bersyukur Ron juga ikut bersama kami karena kalau tidak, aku pasti sudah merasa kesulitan menghadapi Vano seorang diri.
"Van, aku cari minum dulu ya sama Vano". Ucap Ron sementara Vano berusaha kabur dari genggaman Ron. Vano memang anak yang hiperaktif. Entah baterai apa yang dipakai anak itu. Dia sama sekali tidak tampak kelelahan.
"Okey, aku akan menunggu disini".
Belum beberapa menit sepeninggal Ron dan Vano. Tiba- tiba aku mendengar suara bentakan dan tangisan suara anak perempuan. Kuhampiri kerumunan kecil itu dan melihat seorang anak laki- laki yang tidak jauh beda umurnya dengan Vano sedang berbicara dengan pria besar itu.
Seketika mataku tertuju pada noda bekas tumpahan ice cream di celana dan baju pria itu.
"Kami kan sudah minta maaf paman". Aku bisa melihat anak laki- laki berusaha menahan ketakutannya.
"Apa kau pikir dengan meminta maaf bisa menyelesaikan segalanya, hah?"
Dasar pria brengsek!
Kutangkis tangannya ketika melihat pria itu hendak melayangkan pukulannya lalu mendadak seseorang muncul dan langsung menendang tepat ke selangkangan pria tadi, membuatnya meringgis kesakitan. Kemudian orang yang ternyata seorang wanita itu menarik kerah pria itu. Entah apa yang dikatakannya yang jelas mata pria itu semakin melotot ketika wanita itu berbicara. Yang sempat aku dengar adalah kata ' waras' dan ' memperkenalkan diri'.
Aku menahan diri untuk tidak mendekati wanita itu dulu dan semakin aku perhatikan, semakin aku merasa mengenalnya dan aroma lavender ini Seakan tidak asing di penciumanku.
Wanita itu segera memeluk kedua anak itu dan menenangkannya hingga kemudian Vano datang didampingi oleh Ron di dekatku.
"Mama?" Sontak kami yang berada di situ termasuk wanita dan kedua anak berpaling kearah Vano.
" Vano?"
***
Kupandangi gadis yang duduk berhadapan denganku. Gadis yang memperkenalkan namanya sebagai Sia duduk diapik dua orang bocah laki- laki,lakidan Vano dan Steve dan karena tidak ada yang mau mengalah diantara mereka sehingga terpaksa Sia memangku Agnes-bocah perempuan, adik Steve.
"Mama, siapa mereka ini?" Tanya Vano seraya melihat penuh minat Steve dan Agnes.
"Mereka keponakan mama sayang. Steve. Agnes perkenalkan nama kalian". Ucap Sia seraya menyunggingkan senyum gugupnya apalagi Steve sedang memandangnya sangat intens.
"Sejak kapan Tante Sia punya anak?" Tanya Steve telak yang langsung membuat Sia kalang kabut mencari alasan. Aku dan Ron hanya bisa terdiam melihat mereka berempat dan sesekali saling melempar tatapan penuh arti pada orang yang berada dihadapan kami. Kuperhatikan Vano menjaga Sia dengan posesif, sesuatu yang tidak pernah kulihat pada anakku sebelumnya dan Steve juga melakukan hal yang sama pada Sia.
Dari sudut mataku. Ron berusaha untuk tidak tertawa. Tentu saja Ron ingat tentang kejadian di kafe tempo hari dimana gadis yang bernama Sia inilah yang langsung tiba- tiba menciumku ketika aku baru saja masuk kedalam kafe itu.
Karena Gadis ini pulalah yang membuatku nyaris tidak bisa tidur selama tiga hari. Kuingat aroma lavender yang menguar dari dalam tubuhnya dan caranya mencium waktu itu membuatku ingin menciumnya sekali lagi.
Kutatap penampilannya hari ini. Hotpants dan kaos. Sederhana dan terlihat seksi apalagi dia memperlihatkan sebagian tulang bahunya yang menurutku terlihat menggiurkan dan kaki jenjangnya itu. Seketika aku berpikir, apa jadinya kalau kaki itu melingkar di sekitar pinggangku?
Shit, apa yang kau pikirkan Evan?!
Waktu berjalan sangat cepat hingga tak terasa sudah hampir 6 jam kami berada di taman hiburan ini. Vano seperti melupakan keberadaanku dan Ron disini dan justru asyik bersama dengan gadis itu.
Meskipun kulihat gadis yang bernama Sia itu sedikit kelimpungan dengan sikap yang di berikan oleh kedua bocah laki- laki itu padanya tapi dia sama sekali tidak memperlihatkannya.
Ada kalanya ketika ia merasa gugup akan sikap Steve dan Vano, ia akan menggigit bibir bawahnya kuat- kuat, membuat bibirnya yang tadinya sudah merah semakin memerah.
Hari sudah menjelang sore ketika akhirnya kami menyudahi acara di taman hiburan ini.
"Hmm Mr. Alexander". Aku berbalik dan mendapati dia sedang menatapku dengan ragu. Baru kali ini aku memperhatikan warna matanya dengan jelas, coklat yang sama dengan Vano. Apa ini yang membuat Vano mengira dia mamanya?
"Ya?"
"Hmm begini, aku tidak tahu apa masalahmu dengan istrimu yang sebelumnya tapi apa tidak lebih baik kau.. Maksudku anda menjelaskan seluruhnya pada Vano?"
Kami berdua saling menatap dan aku mengerti kenapa dia mengatakannya. Dia merasa tidak nyaman dengan semua ini.
"Baik. Aku mengerti. Terima kasih untuk hari ini". Dan untuk pertama kali aku melihatnya dia tersenyum padaku dan itu membuatku harus menahan diri untuk tidak segera memeluk dan menciumnya saat ini juga.
"Dia cantik ya". Puji Ron seraya memandangku penuh arti sepeninggal Sia dan kedua keponakannya. "Dan lebih penting dia bisa dengan mudah mengambil hati Vano".
Kupandangi Vano yang tertidur di pundakku dan mendesah. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?
***
Comments
Post a Comment