FALL FOR YOU - BAGIAN ENAM

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan keluargaku seminggu belakangan ini tapi aku merasakan hal yang ganjil setiap kali aku muncul dihadapan mereka dan ini bukan sekedar perasaan konyol atau paranoid tapi benar- benar terjadi.

Kadang aku mendapati Thalia menatapku seakan menilai yang diikuti dengan keningnya yang berkerut. Well, aku memang belum menanyakan sebabnya dikarenakan jadwal pemotretanku yang sangat padat tapi ayolah, kalau masalahnya seserius ini. Tidak adakah orang yang mau berbaik hati menceritakannya padaku?

Aku baru saja pulang dari pemotretan di Thailand pagi tadi ketika aku mendengar suara pintu dibuka dengan paksa. Sedetik kemudian tempat tidurku mulai terasa turun tanda ada yang baru saja naik.

"Tante Sia. Bangun!!!" Teriak Steve, melompat- lompat di atas tempat tidurku.

"Pergilah Steve". Ujarku lirih seraya menarik selimutku lebih rapat.

"Tante harus bangun. Mama dan Nenek memanggil tante". Kali ini Steve menarik- narik selimutku.

"Nanti saja, ya sayang kalau tante sudah bangun".

"Tante Sia, harus bangun". Kali ini aku mendengar suara lembut Agnes. Well, meskipun aku sangat menyukai kemanisan Agnes tapi aku benar- benar capek hari ini.

"Mama bilang tante harus turun. Penting!". Lanjut Agnes lagi seraya ikut menarik- narik selimutku.

"Nanti saja, ya sayang kalau mau ditemani jalan- jalan. Tante masih capek nih".

"Tapi tante harus bangun". Suara Steve mulai terdengar seperti mamanya. Lalu mendadak aku merasakan kalau tubuhku diduduki oleh seseorang. Aku menduga ini Steve. Hanya Steve yang sebrutal ini dalam membangunkanku.

Damn Thalia!

Dia dulu ngidam apa sih sampai punya anak sekejam ini?

"Vano. Ayo. Kamu harus ikut naik juga kesini".

Vano?

"Ma... Mama". Aku tidak mungkin melupakan suara pelan miliknya.

Aku langsung terbangun dengan mendadak dan nyaris menjatuhkan Steve beserta Agnes yang tadinya menaiki badanku tapi dengan sigap aku langsung meraihnya sebelum salah satu dari kepala mereka menyentuh lantai tapi sebagai gantinya lenganku menabrak sisi meja, membuatku meringgis kesakitan.

Sial.

Ku kerjapkan mataku dan benar saja. Vano berdiri di samping tempat tidurku sambil tersenyum.

Astaga... Apa yang dilakukan anak ini di sini? Dan bagaimana dia bisa tahu aku tinggal dimana?

"Vano?" Otakku terasa berhenti bekerja melihat kehadirannya di kamarku.

"Aku mau menjemput mama". Ucapnya.

Hah?!Menjemput?

Kemudian aku menyadari kalau aku hanya memakai pakaian dalam dan celana pendek ketika tidur. Kutarik selimut hingga menutupi dada.

"Vano?". Kucoba untuk meradakan suara serakku. "Apa yang kau lakukan di sini, sayang?" Tanyaku berusaha tersenyum sementara otakku berusaha mencerna apa yang terjadi.

"Aku dan papa ingin menjemput mama".

Eh?

Kulayangkan pandanganku kearah kedua keponakanku yang saat ini nyengir menatapku.

"Tante sudah di tunggu di bawah". Kata Steve setelah turun dari tempat tidur dan menyeret Vano keluar kamarku.

Aku dan Agnes saling bertatapan.

"Agnes suka deh punya saudara setampan Vano". Ucap gadis kecil itu polos.

Kupegang pipi lembutnya. "Apa Vano datang bersama papanya?" Tanyaku bingung. Jelas saja aku bingung. Apa maksudnya dia datang ke rumah ini dan menemuiku? Oh atau jangan- jangan dia hanya ingin menitipkan Vano di sini?

Agnes menganggukkan kepalanya atas pertanyaanku.

"Apa kamu tahu kenapa mereka datang?" Tanyaku lagi. Biar bagaimana pun aku harus memikirkan situasi ini dari berbagai aspek.

Agnes menggelengkan kepalanya. "Tapi suami tante cakep deh". Imbuhnya tersenyum malu- malu.

Hah?

Kuputuskan untuk segera turun setelah mencuci muka dan mengganti pakaianku dengan kaos lengan panjang serta mengikat rambutku dengan asal- asalan.

Aku baru saja menginjak lantai bawah seraya mengendong tubuh mungil Agnes ketika mataku terbelalak melihat pemandangan di ruang tamu.

Semua mata melihat kearahku dan yang membuatku tidak percaya ada kedua orang tuaku dan juga Ben, yang kuyakini mereka memilih untuk tidak bekerja.

"Sia Anastacia Welsh". Terdengar suara tegas ibuku dan Thalia buru- buru mengambil Agnes dalam gendonganku.

Oh. Tidak! Itu adalah suara penghakiman.

Thalia langsung menyuruhku untuk duduk di dekat Evan dan Vano yang serta merta beranjak untuk duduk kedalam pangkuanku.

Kutatap wajah ibuku ke ayahku ke Ben ke Thalia kemudian ke Evan.

Ada apa ini?

"Benarkah...?"

"Mom". Potong Thalia. Sejenak ibuku melihat Thalia.

"Bawa anak- anak ini keluar". Perintah ibuku yang langsung dibalas dengan anggukan Thalia.

Dengan segera Thalia menggiring Steve, Agnes dan juga Vano keluar ruangan.

"Jadi Sia, jelaskan semua ini". Seru ibuku.

Aku mengernyit heran. "Apa maksudmu, mom?"

"Vano adalah anakmu kan?"

"Hah? Tentu saja bukan".

Kutatap Evan yang diam tanpa ekspresi. Apa- apaan dia?!

"Sia!"

"Mom. Tenanglah dulu. Aku tidak pernah hamil". Aku mulai merasa jengkel dituduh yang tidak- tidak dan kenapa Evan sama sekali belum bicara.

"Kalau kau tidak pernah hamil, kenapa Vano bisa memanggilmu mamanya?"

Mana aku tahu. " aku tidak tahu mom".

"Mr. Alexander, bagaimana kau bisa mengenal anakku?" Kali ini ayahku yang mengambil alih.

"Pertama kali kami bertemu, aku juga kaget karena tiba- tiba dia langsung menyerangku". Jawab Evan tenang yang membuatku langsung melotot.

Apa- apaan dia?!

Kupalingkan wajahku dan mendapati baik ibuku maupun Thalia menatapku tajam, terutama pada bagian ibuku. Ibuku seperti ingin memasakku menjadi sepanci sup panas, jika hal itu memang ada setelah mendengar kalimat pria disampingku barusan.

"Apa kau mabuk?" Tanya Ben kemudian.

"Tidak".

"Ya".

Aku langsung kembali menatap Evan tajam. Bukannya membantuku malah mengiyakan pertanyaan Ben.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan Mr. Alexander tapi apa pun itu kumohon hentikan sekarang juga". Bisikku dalam suara tenang dan dalam padanya.

Sejenak Evan menatapku dengan pandangan menilai. Shit. Ingin rasanya aku melumat bibirnya itu.

Fokus.... Fokus Sia. Apa sih yang kau pikirkan?

"Jadi kau mengakui Vano adalah anakmu?" Tanya ibuku lagi.

Kualihkan tatapanku kembali kearah mama. "Tentu saja tidak. Vano bukanlah anakku". Jawabku.

"Mama?"

Oh bagus! Tolong aku, Tuhan!

Aku tidak tahu harus melakukan apa. Vano memberiku tatapan sedih disertai kedua matanya yang mulai berkaca- kaca.

Evan segera menghampiri Vano dan entah apa yang dikatakannya pada anak itu tapi Vano tiba- tiba mengangguk dan membawa Vano untuk duduk bersamanya di sofa yang tadi didudukinya.

"Maaf, Mr dan Mrs. Welsh". Evan mulai berbicara. " apa yang dikatakan Sia tadi memang benar tapi kedatangan saya kemari juga untuk meminta izin pada kalian untuk menikahi Sia". Ucapannya sukses membuatku melonggo.

What? Menikah? Tunggu, dia benar- benar mengatakan kalau dia ingin menikah denganku kan?

Kupegang telingaku yang mendadak terasa gatal. Apa sekarang aku membutuhkan dokter spesialis telinga? Sepertinya ada yang salah dengan saluran pendengaranku. Apakah itu rumah keongnya? Entahlah. Aku hanya ingat bagian itu ketika aku sekolah dulu.

Ku tatap kedua orang tuaku beserta kakak dan kakak iparku yang juga menatapku bingung. Tentu saja mereka bingung. Seorang pria datang sambil membawa anak kemudian berkata ingin menikahiku. Apa ini semacam reality show? Kamera tersembunyi?

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit ketika akhirnya aku mendengar ayahku berbicara.

"Jadi Mr. Alexander, apa anda serius ingin menikahi anakku?" Tanyanya.

"Ya, sir!". Jawab Evan mantap.

Ini gila!

"Apa kau yakin bisa membahagiakannya?"

"Dad?!". Erangku tidak percaya tapi ayahku sama sekali tidak menghiraukan.

"Aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia".

Aku bisa mendadak sinting!

Evan dan ayahku saling bertatapan dalam diam yang nyaris membuatku kehabisan napas saking tegangnya.

"Baiklah. Aku mengijinkanmu, Mr. Alexander". Ucap ayahku yang sukses membuatku terperangah.

Hah? Sekarang panggilkan aku ambulans. Aku perlu mengetahui penyakit apa yang sedang kuidap.

"Panggil saja Evan, Mr. Welsh".

God. Aku tidak tahan lagi.

"Aku perlu bicara berdua denganmu Evan". Kataku tanpa perlu bersusah payah menyembunyikan amarahku lagipula apa peduliku. Aku harus segera melampiaskan semua ini sebelum aku menjadi gila beneran.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS