FALL FOR YOU - BAGIAN LIMA

Sia PoV...

"Biar kuulangi Sia, jadi pria itu adalah ayah Vano?" Natasha memandangku dengan tatapan tidak percaya bercampur takjub yang menurutku terlalu berlebihan.

Aku memutar mata jengah. "kau sudah menanyakan hal itu kurang lebih..." Ku angkat kelima jariku ke wajahnya. "Lima kali".

Akhirnya aku bisa menceritakan padanya di sela- sela jadwal pemotretan kami yang padat beberapa jam yang lalu dan tentu saja tanpa gangguan Kate dan Lily. Sulit rasanya berkonsentrasi jika harus mendengar komentar- komentar jahat dari Kate juga.

"Apa kau baik- baik saja?"

"Apa maksudmu?" Tanyaku tidak mengerti atas pandangan penuh arti yang diberikan Natasha padaku.

Natasha langsung memberiku tatapan jengkel. "Aku menanyakan tentang perasaanmu gadis bodoh. Kau menyukai pria itu kan?"

Ku hela napasku. Natasha selalu tahu siapa yang kusukai. Lagipula waktu itu aku memang sempat terhipnotis dengan rasa bibir dan daya tarik yang dipancarkan mata seorang Evan Alexander.

"Ya. Aku menyukainya tapi itu tidak menutupi fakta bahwa dia sudah menikah dan memiliki seorang anak". Jawabku.

"Tapi anaknya menyukaimu bahkan dia juga memanggilmu sebagai mamanya".

"Tapi tetap saja itu tidak akan mengubah fakta yang sebenarnya". Kataku jengkel bercampur patah hati. Kenapa sih Natasha tidak mengerti juga apa yang kurasakan saat ini? Dia kan orang yang paling tahu bagaimana diriku selama ini terhadap pria.

Natasha melihatku prihatin. "Jadi apa yang kau lakukan ketika bersamanya kemarin di taman hiburan?"

"Well, kami tidak banyak bicara lagipula aku ragu kalau dia akan mengenalku dan aku cukup waras untuk tidak memperkenalkan diriku juga".

"Kenapa?"

"Apa kau mengharapkanku mengatakan padanya 'Hai, kenalkan namaku Sia. Oh iya, aku adalah cewek gila dan sinting yang tiba- tiba menciummu waktu itu, ingat?'. Mau dibawa kemana harga diriku nanti?"

Natasha terkekeh. "Bukannya kau memang cewek gila dan sinting?" Godanya yang langsung kubalas dengan mata melotot yang semakin membuatnya tertawa.

"Aku hanya berharap aku tidak perlu bertemu dengannya atau anaknya lagi". Lirihku pelan.

"Wah padahal aku mulai menyukai Vano".

"Aku juga". Desahku pelan

Ya. Aku mulai menyukai anak kecil yang bernama Vano itu. Entah kenapa aku merasakan kalau pernah melihat anak itu sebelumnya tapi dimananya, aku sungguh tidak ingat.

Tidak lama kemudian asisten dari fotograferku memanggil dan bersiap- siap untuk sesi selanjutnya. Tema yang diangkat adalah dress musim semi konsep gadis yang sedang jatuh cinta.

Aku sempat beberapa kali mendapatkan teguran Karena ekpresi yang kutampilkan. Tentu saja, Karena baru kemarin aku merasakan patah hati.

Aku bukannya tidak professional tapi akan lebih mudah jika menampilkan wajah tanpa ekpresi dibandingkan gaya malu- malu gadis yang sedang jatuh cinta.

"Okey, pertahankan senyummu. Sia". Teriak Walker, fotograferku. Aku mengikuti saran Walker dan tersenyum diselingi tawa ketika mataku menangkap sosok lain yang berdiri tidak jauh dariku. Mataku melotot tanpa sadar ketika mendengar suara Walker yang menegurku.

"Sia".

Ku gigit bibir bawahku kuat- kuat karena gugup.

Klik...klik... Klik... Jepretan kamera Walker terasa memenuhi pendengaranku dan aku tidak tahu apa yang kulakukan hingga Walker mengatakan kalau pemotretan hari ini selesai.

Aku baru saja menganti pakaianku dengan sweeter rajutan tangan longgar hingga memperlihatkan bahuku ketika aku mendengar suara Walker memanggil.

"Sia".

Aku berbalik dan terbelalak mendapati dia berdiri tepat di samping Walker.

"Jangan lupa untuk tema pemotretan besok". Peringatnya

Aku mengangguk berusaha untuk terlihat tenang sementara hatiku sudah ketar- ketir karena kehadirannya di ruangan ini.

"Dan kenalkan ini Mr. Alexander". Ucap Walker yang langsung mendapatkan pelototan dari pria itu. Mau tidak mau aku tertawa dan terdiam ketika mendapatkan tatapan dari pria itu. "Dia Evan Alexander, dia teman lamaku di universitas dulu". Lanjut Walker Tanpa menyadari kalau Evan sedang tidak menatapnya lagi melainkan padaku. "Evan, kenalkan dia ini Sia. Dia adalah salah satu modelku yang paling cantik dan berharga".

Evan mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah?" Tanyanya.

Tiba- tiba aku merasa tidak menyukai pertanyaannya yang kurasakan seperti meremehkan kemampuanku. Memang dia siapa menatapku dengan tatapan seperti itu.

"Well, Senang mengenalmu, Mr. Alexander dan karena urusanku disini sudah selesai jadi aku akan izin pulang lebih dulu". Ucapku sinis. "Sampai besok Walker". dan tanpa menunggu balasan lain darinya lagi, kuraih tas dan kunci mobil diatas meja dan meninggalkannya.

Sempat aku mendengar suara tergelak Walker dan pertanyaannya. "Jangan mencari masalah dengannya, teman. Sungguh aku masih membutuhkan dirinya"

Aku baru saja tiba di rumah ketika Lily menghubungi dan memaksa untuk datang ke diskotik. Aku sudah terlalu malas untuk dandan yang heboh dan memilih atasan yang simple tapi tetap terlihat elegant dengan heels yang setinggi 10 cm. Aku sangat menyukai kaki jenjangku. Itulah sebabnya aku selalu memperlihatkannya dan memasangkannya dengan hotpants atau mini skirt.

Ketika aku sampai, Sudah ada mereka bertiga beserta dengan pasangan masing- masing dan dalam hati aku langsung merutuk mereka. Buat apa coba mereka memanggilku kemari sementara mereka sudah mempunyai pasangan.

"Sia?"

Aku berbalik dan menemukan Ron yang sedang menatapku dengan pandangan senang bercampur takjub.

"Hai Ron, apa yang kau lakukan di sini?"

Pertanyaan bodoh Sia. Sudah jelas dia bersenang- senang dan bukannya kerja.

Seakan mengerahui apa yang kupikirkan, Ron tertawa.

"Hanya menghabiskan waktu, Sia". Jawabnya yang langsung kubalas dengan anggukan kepala. Memang apa lagi yang harus kulakukan?

"Dengan teman- temanmu?" Tanyanya kemudian

Aku berbalik dan mendapati mereka semua sedang melihat kearahku dan juga Ron. Kuanggukkan kepalaku tersenyum.

"Yep".

Ron tertawa. "Kuharap mereka tidak akan marah karena aku ingin mengajakmu minum di meja sana". Katanya seraya menunjuk meja bar di pojok.

Ide bagus. Mereka bahkan sama sekali tidak memperdulikanku dan malah asyik dengan pasangan masing- masing.

"Mereka akan baik- baik saja". Balasku cuek.

Ron kembali tertawa. " kalau begitu ayo".

Selama beberapa jam kami berbincang- bincang yang sebagian besar Ron menanyakan segala aktivitasku. Dia tidak tampak terkejut ketika aku mengatakan kalau aku adalah seorang model. Seakan- akan dia menanyakan segala pertanyaannya hanya untuk sekedar formalitas.

Tepat pukul 3 pagi, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Ron bersikeras untuk mengantarku pulang. Ron sama sekali berbeda dengan pria- pria yang selalu kutemui di diskotek, yang mana mereka selalu berakhir dengan mengajakku berkencan tapi selalu kuakhiri dengan ciuman sebelum menjurus ke hal- hal yang lainnya.

"Trims Ron". Sahutku ketika sudah berada di luar mobilnya.

"Tidak masalah. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan mobilmu ke rumahmu".

"Okey. Sekali lagi, trims".

Dia mengangguk. "Sampai nanti, Sia. Aku tidak sabar bertemu denganmu lagi".

Kukerutkan keningku hendak bertanya tapi Ron lebih memilih untuk tertawa dan meninggalkanku yang masih menatapnya dengan terbengong di depan pagar rumahku sendiri.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS