FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA

"Please, adikku sayang...".

"Damn Thalia, aku baru pulang pagi tadi. Bisakah kau membiarkanku tidur saja?"

"Hanya hari ini, please". Katanya seraya menguncang- nguncang tubuhku.

Arghhhh. "Memang kau mau kemana sih?" Omelku, bangun dari tidur. Kulihat kakakku itu terkikik geli.

"Hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama suamiku tercinta".

Aku terperangah. "Jadi maksudmu, kau menyuruhku jadi baby sitter untuk kedua penyihir itu?"

Thalia memberiku tatapan tajam mematikan. "Sekedar mengingatkan Sia. Kedua penyihir yang baru saja kau katakan itu adalah keponakanmu. Kalau mereka penyihir jadi kau ini apa? Nenek sihir?"

Cih, "jadi apa yang harus kulakukan? Hanya menjaganya di rumah kan? Ya sudah".

Serta merta senyum Thalia mengembang. "Tidak adikku sayang. Aku sudah berjanji akan mengajaknya ke taman hiburan hari ini".

"What?! kidding, right?"

"Absolutely No"

"You've promised to them, not me".

Thalia langsung memelukku. "Oh come on my beauty little sister, kau tahu sendiri bagaimana sulitnya mengatur waktu suamiku itu. Sangat jarang menemukan waktu itu kami berdua. Please... Mau ya Sia".

Belum sempat aku menjawab. Tiba- tiba pintu kamarku di dobrak dari luar, memunculkan kedua keponakanku yang lucu plus jahilnya selangit.

"Jadikan, tante Sia? Eh kok tante Sia belum siap?" Agnes, anak paling bungsu berumur 4 tahun menatapku dan ibunya bingung.

"Tante Sia baru saja mau siap- siap sayang". Ucap Thalia

"Hey, aku belum bilang..."

"Tante Sia payah ah". Kali ini Steve, kakak dari Agnes yang berbicara. Dia memberiku tatapan meremehkan padahal dia hanya bocah berumur 7 tahun tapi lagaknya selangit. Tukang perintah, sama seperti induknya. "Kalau tante Sia lama kayak gini, bisa- bisa tempat hiburannya tutup".

"Justru bagus kan kalau tutup. Tante bisa melanjutkan tidur tante hahaha".

Steve memberiku pandangan menusuk. "Kalau tante melakukan itu, aku tidak akan segan- segan membuat hidup tante menderita".

Aku terperangah.

Wow! Apa dia baru saja mengancamku?

"Steve! Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua". Suara Thalia mendadak menggelegar di penjuru kamarku.

"Tapi ma..."

"Berdiri di ujung tembok sana selama 5 menit dan pikirkan apa yang baru saja kau lakukan".

"Ma..."

"Sekarang Steve!"

Dengan langkah gontai, aku melihat Steve mulai berdiri menghadap tembok. Pandangannya menunduk menghadap lantai.

Meskipun aku merasa agak kasian melihatnya di hukum seperti itu tapi aku setuju dengan cara pengajaran Thalia.

Sebenarnya akulah yang menyarankan metode seperti itu pada Thalia. Ben, suami Thalia jarang pulang ke rumah Karena pekerjaannya sebagai pengacara yang sangat menyita waktu. Mungkin itulah sebabnya kenapa Steve selalu membuat ulah dan aku tidak bisa menyalahkannya. Sebenarnya Steve bisa bersikap manis bahkan sangat manis jika moodnya bagus. Mungkin hari ini dia lagi menghadapi suasana hati yang buruk.

"Maaf ya Sia". Ujar Thalia merasa bersalah yang langsung kubalas dengan mengangkat kedua bahuku cuek.

"Hmm princess, bagaimana kalau kamu ikut mama ke dapur sementara tante bersiap- siap, bagaimana?" Tanya Thalia yang langsung disetujui oleh Agnes.

Setengah jam kemudian aku sudah berada di dapur dan bergabung dengan mereka. Steve masih menundukkan kepalanya dan bisa kuduga kalau Thalia baru saja memarahinya.

"Hey Jagoan..." Sapaku seraya mengacak- acak rambutnya. " jangan cemberut ah".

Steve memandangku beberapa saat. "Maaf, tante Sia". Cicit Steve

Kuhela napasku. Mau tidak mau aku merasa kasihan melihatnya. "Kemarilah". Perintahku. Dia menurutiku dan aku langsung mendudukkannya di pangkuanku.

"Listen, Steve". Kutatap mata birunya, sesuatu yang diwarisi dari ayahnya. "Mamamu melakukan itu bukan karena dia membencimu tapi dia sangat menyayangimu dan apa yang baru saja kau lakukan itu tidak benar. Kau tidak seharusnya mengatakan hal itu atau istilahnya mengancam orang dewasa. Itu tidak benar".

"Maafkan aku, tante Sia".

" okey tapi jangan diulangi lagi ya sayang dan tante juga minta maaf Karena menggodamu tadi. Apa kau mau memaafkan tante?"

Steve mengangguk.

"Good boy. Jadi singkirkan wajah cemberutmu sekarang dan mari kita bersenang- senang". Kugigit hidung kecilnya untuk membuatnya tertawa dan itu berhasil.

Setelah saling mengucapkan ucapan selamat bersenang- senang satu sama lain, ku kemudikan mobilku menuju taman hiburan.

Harus kuakui stamina anak- anak luar biasa sangat kuat. Baru tiga jam aku berkeliling taman hiburan, mencoba beberapa wahana yang menurutku tidak terlalu ekstrim dan tentu saja bisa digunakan oleh anak- anak tapi kedua bocah itu tidak henti- hentinya berkeliling.

"Tante Sia, aku dan Agnes mau beli kembang gula dan ice cream". Seru Steve. Aku mengangguk sambil memijit- mijit betisku yang terasa petal. Untung saja aku memutuskan memakai sneaker yang dipadu padankan dengan kaos dan hotpants sepaha, yang membuatku lebih leluasa bergerak.

Sepeninggal Steve dan Agnes, kuraih handphoneku dan kutekan sebuah kontak.

"Hai Sia, tumben kau menghubungiku jam begini. Bukannya kau bilang kalau akan tidur?"

"Aku sedang berada di taman hiburan sekarang".

"Taman hiburan? Apa yang kau lakukan disana?"

"Hari ini Thalia memintaku untuk membawa kedua bocah itu kesini".

Natasha tertawa di seberang.

"Oh pantas saja aku mendengar suaramu lelahmu".

"Ya. Jujur saja aku tidak menyangka kalau mereka bisa seaktif ini. Maksudku mereka dikasih makan apa sih sampai mereka tidak terlihat capek sama sekali?"

Lagi- lagi Natasha tertawa. "well, itulah sebabnya ada istilah kalau anak- anak adalah mesin pembunuh nomor satu jika bermain. Kita sudah hampir mati karena capek tapi mereka sama sekali masih bersemangat".

"Yep. Kau benar".

Kami baru saja bicara hal yang biasa ketika telingaku menangkap suara tangisan yang kuyakini suara Agnes. Tidak perlu bertanya apa yang terjadi karena di celana dan baju pria dewasa itu terlihat noda ice cream.

"Kami kan sudah minta maaf paman". Seru Steve. Bisa kulihat Steve berusaha menahan ketakutannya tapi ada air Mata yang kulihat di sudut matanya.

"Apa kau pikir minta maaf bisa menyelesaikan semuanya hah anak kecil". Hardik pria itu.

Kupandangi orang yang lalu lalang dan hanya menatap pria itu.

What the...!

Aku semakin tersulut ketika kulihat tangan pria itu hendak menyentuh pipi Steve. Refleks aku maju tapi kalah cepat dengan pria lain dengan postur tinggi dan berbadan tegap yang tiba- tiba datang.

"Kau seharusnya malu melakukan itu pada anak kecil". Ucapnya dingin.

Mata pria itu membelalak. "s-siapa kau? Apa urusanmu dengan mereka?"

Pria yang berbadan tinggi itu menyentakkan tangannya dengan sekali sentak. "Kau tidak perlu tahu apa urusanku dengan mereka. Yang aku tahu adalah kau sudah mengasari mereka".

"Mengasari mereka? Yang benar saja". Pria itu tertawa mengejek.

Ugh, aku tidak tahan lagi. Kuhampiri pria yang hampir memukul keponakanku itu. Kuinjak kakinya dan ku tendang tepat kearah selangkanganya membuat matanya melotot karena terkejut. Ku tarik kerah bajunya dengan kasar.

"Kalau kau ingin tahu apa urusanku dengan mereka. Mereka berdua adalah keponakanku dan kau sudah mengasari mereka. Jadi sebelum aku memecahkan 'bolamu' yang aku yakin kau tidak akan bisa menggunakannya dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya kau pergi".

"Kau gila".

"Aku tidak pernah merasa memperkenalkan diriku padamu sebagai cewek yang waras". Desisku marah.

Aku berbalik untuk melihat kedua keponakanku yang sekarang sudah berhenti menangis.

"Hey Jagoan. Aksimu membela adikmu tadi sangat luar biasa. Tante jadi salut". Kataku sambil menyunggingkan senyum menenangkan.

"Tante Sia!". Pekik Steve memelukku erat.

Ku tepuk- tepuk punggungnya dengan lembut. "It's okey sweetheart. Maaf Karena membiarkan kalian membeli esnya sendiri".

Steve menggeleng dan kulepas pelukanku untuk memeluk Agnes juga. Mataku membelalak mendengar permintaan Agnes dan Steve yang ingin di peluk.

"Mama?"

"Vano?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS