FALL FOR YOU - BAGIAN TUJUH
Evan POV...
"Kau harus bergerak cepat kalau ingin segera memilikinya, Van".
Aku mengernyit bingung, mengalihkan pandanganku dari kertas yang sedang kubaca. "Apa yang kau bicarakan?" Tanyaku.
"Kau tahu apa yang kubicarakan. Kau menyukai gadis itu kan?"
"Gadis siapa?"
" Sia".
Itulah kalimat pembuka yang dikatakan Ron di pagi hari yang cerah di ruang kantorku. Dia mengatakan kalau dia sempat bertemu Sia di diskotek dan dari pengamatannya selama bersama Sia. Tidak henti- hentinya Sia mendapatkan tatapan penuh nafsu dari beberapa pria, yang bahkan tidak segan- segan mengajaknya kencan meskipun Ron duduk bersamanya.
"Aku menyukai Sia dan kuharap kau segera memilikinya sebelum dia menjadi milik orang lain". Ucap Ron.
Kalau saja aku tidak mengenal Ron dan keluarga kecilnya. Mungkin aku sudah terbakar cemburu karenanya tapi Ron adalah sahabat dan juga partner kerja yang baik dan juga cukup loyal padaku. Dia bahkan rela mengikutiku, meninggalkan permasalahan pelik yang terjadi pada keluargaku.
Jadi di sinilah aku. Berada di rumah Sia dengan dikelilingi Mr dan Mrs. Welsh dan juga Ben, yang tidak kusangka sebagai kakak ipar Sia. Kami dulu sering bertemu Karena Ben adalah salah satu pengacara handal di kota London dan juga teman Ron waktu diasrama dulu ketika kami masih kuliah di salah satu perguruan di Amerika Serikat.
Ben menyambutku dengan ramah ketika kami bertemu di parkiran tadi dan sedikit terkejut ketika aku memberitahukan maksud kedatanganku kemari apalagi setelah dia melihat Vano turun dari mobil. Khusus untuk Vano, tidak sulit membujuk dia karena ketika aku mengatakan kalau kami akan menjemput Sia, dengan wajah sumringahnya dia langsung mandi dan berganti pakaian.
Aku masih belum memberitahukan tentang kedatanganku yang sebenarnya pada anakku karena aku tidak tega mengatakan kalau Sia bukanlah ibunya. Lagipula aku juga tidak tahu harus mengatakan apa padanya.
Harus kuakui kalau aku gugup ketika dipersilahkan duduk oleh Thalia, kakak kandung Sia. Awalnya dia menyambutku ramah tapi ketika Steve dan Agnes muncul dan mengenaliku ditambah Vano yang langsung akrab. seketika wajah Thalia berubah aneh dan menyeret Ben menjauh dariku.
Aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan dan dari Steve lah aku tahu kalau Sia berada di kamarnya, masih tertidur dikarenakan baru saja pulang dari pemotretan. Setengah jam kemudian Mr dan Mrs. Welsh muncul dari arah luar.
Mrs. Welsh memandangku dengan tatapan terpesona kemudian melakukan hal yang sama pada Vano. Kurasa dia menyadari kemiripan warna mata yang dimiliki oleh Sia, yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu kenapa bisa begitu. Yang aku tahu Sia sama sekali tidak ada hubungannya dengan Vano.
Mr. Welsh lebih seperti ayah pada umumnya yang seakan menilai pacar putrinya yang datang ke rumah. Semua ketegangan ini seakan menyiksa melebihi ketika aku dulu bertemu orang tua Sarah hingga Vano menanyakan keberadaan Sia.
"Vano ingin menjemput mama". Ucap suara polosnya menyadarkan kami semua.
"Mama?"
"Maksudnya Sia, Mom" ujar Thalia sambil memberikan senyum samar padaku.
Sejenak Mrs. Welsh menatap kearahku kemudian kearah Vano, kembali ke Thalia.
"Hm.. Thalia, mana Sia?" Jelas Mrs. Welsh tidak tahu harus bersikap bagaimana dan itu terlihat jelas dari sikapnya yang kikuk tapi berusaha dia tutupi. "Ngomong- ngomong nama kamu siapa?" Tanya Mrs. Welsh ramah pada Vano yang menolak untuk melepaskan tangannya dariku.
Sejenak Vano melihat kearahku kemudian kearah Mrs. Welsh hingga aku mengangguk padanya.
"Vano". Jawab Vano.
"Bolehkah aku menyentuhmu Vano?"
Kembali Vano melihatku, mengangguk dan dengan perlahan dia menghampiri Mrs. Welsh.
"Astaga! Matamu benar- benar mirip dengan Sia". Seru Mrs. Welsh. "Kian, coba lihat...apa ini mungkin?" Tanya Mrs. Welsh pada suaminya di samping.
"Mana Sia?" Tanya Mr. Welsh kearah Thalia.
"Masih tidur, Pa". Jawab Thalia
"Astaga anak itu!". Seru Mrs. Welsh tidak percaya.
"Dia baru pulang tadi pagi dari Thailand, dad". Jelas Thalia tapi justru mendapat delikan dari Mr. Welsh
"Dia bisa saja mengambil pekerjaan di kantor daddy jika dia mau tapi dia lebih memilih menjadi model yang bahkan jam kerjanya tidak menentu seperti itu".
"Dad kan tahu Sia orangnya seperti apa".
Mrs. Welsh memutuskan untuk mengambil alih sebelum suaminya menjadi marah, setelah menghela napas panjang. Ia lantas menyuruh dua cucu kesayangannya untuk membangunkan Sia. " Steve. Agnes tolong bangunkan tante Siaya sayang".
Steve dan Agnes langsung mengangguk senang. " siap grandma. Ayo Vano. Kamu ikut juga".
"Yang lembut ya sayang dan ingat. Jangan sampai terlempar". Ujar Thalia memperingatkan.
Aku tidak tahu apa maksudnya dengan terlempar yang baru saja dikatakan Thalia tapi Steve menanggapinya sambil tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.
"Jadi Mr. Alexander, aku mendengar dari kedua cucuku kalau dia mendengar Vano memanggil Sia dengan sebutan mama".
Aku mengangguk pada Mr. Welsh yang pertama memulai pembicaraan.
"Ya. Mr. Welsh".
Tidak ada yang berbicara hingga aku mendengar Steve dan Vano turun dari lantai atas dan mengatakan kalau misinya sukses. Aku baru saja membantu Vano untuk dudul di dekatku ketika aku melihatnya ikut turun.
Dia turun hanya memakai kaos lengan panjang sebatas pahanya dan rambut yang diikat asal- asalan. Wajah lelah dan ngantuk masih terlihat di wajahnya yang tanpa polesan make up sama sekali tapi tidak menutupi kecantikan alami yang dimilikinya bahkan Dominique maupun Sarah sekalipun tidak pernah sepercaya diri seperti dirinya jika tanpa riasan.
Aku melihat matanya terbelalak ketika melihat kami semua dan semakin terbelalak ketika pandangan kami bertemu meskipun juga ada ekspresi kebingungan di wajahnya.
Dia baru saja duduk ketika Mrs. Welsh justru menuduhnya hamil Vano yang langsung disanggahnya dengan tegas dan aku melihat tatapan tidak suka ketika melihatku dan harus kuakui kalau aku justru tersinggung. Maksudku, aku tidak pernah ditatap seperti itu dengan orang lain dan aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya untuk lolos dari keluarganya ini.
Aku menikmati mendengar suaranya yang tertekan mendengar tuduhan dari ibunya hingga menjawab pertanyaan Ben. Apa dia memang selalu mabuk? Dan perkataan Ron tempo hari membuatku berpikir lagi hingga aku mendengar nada putus asa darinya.
Sedetik kemudian aku menyadari apa yang baru saja kulakukan. Ya. Aku melamarnya untuk menikah denganku. Sesuatu yang tadinya hanya sekedar untuk memperkenalkan diriku pada keluarganya.
Tapi menikah?
Menikah bukanlah tujuan awalku datang ke sini meskipun harus kuakui kalau aku menyukainya sejak awal pertemuan kami dulu tapi bom sudah dilepaskan dan aku tidak melihat ada jalan lain yang bisa menyelamatkan kami lagipula mungkin aku bisa terbantu dalam hal menjaga Vano dan gadis ini cukup menyayangi Vano.
***
Comments
Post a Comment