FALL FOR YOU - BAGIAN LIMA BELAS
Sekarang aku tahu apa maksud ucapan Ron dulu. Gadis disampingku ini terlalu menarik perhatian orang- orang khususnya para lelaki tanpa disadarinya.
Entah sudah berapa kali aku mendapati pria- pria itu memandang Sia dengan pandangan yang memuja. Jika saja aku tidak melepaskan rangkulanku di sekitar pinggangnya, sudah pasti akan banyak yang menghampirinya.
Aku memang tidak bisa menyalahkan pakaian yang dikenakannya bahkan aku merasa kalau apa pun yang dikenakannya selalu saja menarik perhatian lawan jenis tapi setelah di pikir lagi, aku kurang yakin dengan penampilannya hari ini. Bukan pada pakaian lengan panjang berwarna pinknya melainkan pada mini skirt yang dikenakannya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya.
"Kau kenapa?" Sia berbalik hanya untuk melihatku. Sia memutuskan untuk menghabiskan waktu di kebun binatang yang membuat Vano tidak henti- hentinya menyunggingkan senyum penuh kebahagian.
Aku sengaja menyuruh orang untuk membawa mobil Sia kembali ke rumah kami supaya kami bertiga bisa pergi bersama. Ini pertama kalinya sejak kami memutuskan menikah, jalan bersama. Dan melihatnya duduk di sampingku membuatku tiba- tiba mendapat ide bagus untuk menghancurkan mobilnya sehingga tidak ada jalan lain selain aku yang mengantarnya kemanapun dia ingin pergi. Aku ingin tahu siapa dan apa saja yang biasa dia lakukan termasuk mencari tahu pria itu.
"Ada apa?" Sia menatapku dengan matanya, lekat yang terasa menghipnotis.
"Apa kau tidak sadar kalau dari tadi orang- orang itu melihatmu dengan tatapan ingin mengajakmu kencan?" Aku kembali melayangkan pandangan tajam pada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan penampilan Sia.
Untuk sesaat aku melihatnya terdiam ketika aku mendengar suara tawanya. Ini kali pertama aku melihatnya tertawa ketika kembali dia membuka suara.
"Kau berlebihan Evan". Ujarnya tersenyum. "Kelihatanna tidak seperti itu".
Kupandangi dia dan bertanya dalam hati apa dia tidak pernah melihat penampilannya di cermin?. Ada banyak pria yang menginginkannya. Kenapa dia tidak menyadari hal itu?
Cup...
Aku terdiam, menyadari kalau dia baru saja menciumku. Tidak. Hanya di pipi tapi cukup membuatku berhenti memikirkan apapun.
"Berhentilah berpikir yang tidak- tidak Evan". Ucapnya menyunggingkan senyum. " hm...ku lapar, Vano juga lapar kan?" Vano yang sedari tadi hanya diam mengikuti pembicaraan kami mengangguk tersenyum.
"Mama dan Papa sudah baikan?" Vano melihatku dengan penasaran.
"Baikan?" Aku bertanya heran.
Apa aku terlihat sedang berkelahi dengan Sia?
"Kau nyaris tidak pernah berbicara denganku semenjak kita menikah". Sia menjawab pertanyaan tak terucapku, " Vano pikir kita bertengkar".
Vano masih melihatku dengan tatapan menggemaskannya hingga aku harus berjongkok di depannya.
"Ohh maafkan Papa ya, jagoan. Papa tidak sadar kalau ternyata kau memperhatikan semuanya". Aku merasa bersalah karena membuatnya berpikiran yang tidak- tidak. "Mama dan Papa tidak bertengkar kok sayang. Hanya saja pekerjaan papa di kantor sangat banyak".
Vano menghela napas panjang. "Mama juga bilang seperti itu".
Kutatap Sia lalu ikut berjongkok dihadapan Vano.
"Tuh kan Mama bilang juga apa. Papa Vano pasti sangat sibuk di kantornya, iya kan?" Sia mengedipkan kedua matanya agar aku mengiyakannya
Aku mengangguk. "Tentu saja. Papa mencintaimu dan juga sangat mencintai Mama".
Butuh waktu tiga puluh detik bagiku untuk menyadari kalau pipinya baru saja berubah warna. Apa dia baru saja merona karena aku?
"Sia?"
Aku dan Sia sama- sama berbalik dan sekali lagi aku harus menahan diri ketika melihat siapa yang baru saja memanggil gadisku.
Pria itu melihat Sia dengan wajah sumringah yang harus kuakui sangat ingin ku tonjok dengan sekuat tenaga.
"Paul". Aku mengernyit heran menyadari kalau Sia tidak menyukai pria yang sekarang sudah berada di hadapan kami.
"Aku kaget melihatmu di sini. Walker mengatakan kalau kau meminta libur dari aktivitas pemotretan selama dua minggu ini. Bagaimana kabarmu?
Sia cuti selama 2 minggu. Kenapa?
"Baik. Kau?"
"Aku baik dan semakin baik melihatmu di sini".
Aku tidak tahan melihat pria ini lalu dengan sengaja aku berdehem agar Sia menoleh dan mengernyit ketika melihatku.
"Apa kau tidak mau memperkenalkan kami, sayang?" Aku sengaja menarik tubuh Sia kedekatku dan merasakan kalau mendadak tubuhnya kaku. "Sayang?"
"Oh iya Paul, kenalkan dia..."
"Evan. Aku suami Sia". Kataku memotong ucapan Sia tadi. Aku sudah menduga kalau pria yang bernama Paul ini menyukai Sia, terbukti karena dia langsung melotot kaget tapi kenapa Sia juga terlihat kaget seperti itu? Apa dia tidak ingin pria ini tahu kalau dia sudah menikah? Kalau begitu, dia salah. Aku bukanlah orang yang akan rela membiarkan apa yang menjadi milikku direbut.
"Kau sudah menikah?" Ucapan Paul terbata- bata.
"Iya Paul". Balas Sia lirih.
For God's sake! Apa Sia juga menyukai pria ini?
"Kapan?"
"Baru saja".
Aku baru saja akan mengintrupsi pembicaraan yang membangkitkan emosi ini ketika Vano menarik tanganku.
"Pa, kita pulang saja ya". Sahut Vano lelah. Aku melihatnya beberapa kali menguap.
"Kau menikah dengan pria yang sudah memiliki anak?" Paul tampak terkejut ketika melihat Vano.
Apa masalah orang ini?!
"Dia anakku Paul". Balas Sia tidak suka.
Bagus!
"Tapi bagaimana bisa? Bukannya kau tidak mau..."
"Nanti kita bicara lagi, Paul. Anakku sepertinya sudah lelah".
"Oh baiklah. Aku akan menghubungimu".
Jangan harap!
"Tentu".
Sial!
Hal selanjutnya yang aku lihat adalah mereka yang saling berpelukan didepanku.
Shit! Apa- apaan ini?!
Dalam benakku aku semakin yakin akan menghancurkan mobilnya, terutama handphonenya dan jika diperlukan, aku akan meminta Vano untuk mengikutinya kemana- manapun Sia pergi.
Aku harus tahu siapa saja yang dia temui. Harus!
***
Comments
Post a Comment