FALL FOR YOU - BAGIAN SATU
Sia PoV...
One...
.
.
Two...
.
.
Three...
.
.
Four...
.
.
Five...
.
.
Six...
.
.
Seven...
.
.
Eighttttt....
.
.
.
Terdengar sorak- sorak orang di sekitarku tepat setelah aku menghabiskan 8 gelas minuman beralkohol dalam jangka waktu 4 menit 58 detik.
Damn it! Segera saja aku merasa wajahku mulai memanas akibat minuman itu. Hal paling gila yang kulakukan adalah minum ketika hari masih sore. Maksudku yang benar saja, masa aku harus mabuk sebelum malam sih.
"Apa kau mabuk?" Kate adalah gadis paling bitchy yang pernah kulihat dan dia jugalah orang yang memasang taruhan ini jika aku kalah dalam permainan konyol truth or dare.
Kuputar mataku meremehkan. " mabuk?" ku berikan dia senyum paling sinis milikku, sengaja,"yang benar saja. Bahkan kau sekalipun tidak bisa menghabiskan 8 gelas kan? Seingatku kau hanya mampu well, 5 gelas?".
Kulihat wajahnya mulai berubah dari putih ke merah. Wow, dia marah!
"Kalau begitu tentunya kau masih sanggup jika kita taruhan lagi, iyakan?" Tanyanya sembari tersenyum sinis.
"Oh ayolah Kate, kau tahu bagaimana diriku. Tentu saja aku masih sanggup".
Kate memberiku tatapan tajam nan menusuk yang kubalas dengan hal yang sama.
"Oh ayolah kalian berdua". Timpal Natasha. Dia gadis manis yang sangat baik hati tapi biar begitu jangan pernah coba- coba menguji kebaikan hatinya kalau tidak mau menyesal. Jika dia marah, dia bisa mengalahkan singa yang baru beranak. Kejam dan sadis. Kadang aku heran bagaimana Nate bisa tahan dengannya tapi Natasha memang bisa semanis kucing betina.
"Iya nih. Bisa tidak sih kalian berdua akur". Tambah lily. Kalau gadis yang bernama lily ini. Sama baiknya dengan Natasha tapi baiknya dia kalau dia lagi mood saja. Kalau dia tidak mau. Well, kau bisa membayangkan mulutnya yang tidak terkontrol.
Sebenarnya kami baru saja selesai melakukan pemotretan dan memutuskan untuk berkumpul di sebuah kafe sambil memutuskan diskotik mana lagi yang akan kami datangi. Sebenarnya sih menunggu keputusan Natasha, Nate- pacar Natasha bekerja sebagai DJ jadi dimana Nate tampil maka Natasha juga menyeret kami kesana.
"Aku bosan kalau hukumannya hanya menghabiskan minuman ini". Ucap Natasha seraya melihat kearah gelas- gelas kecil yang sebagian besar sudah kuhabiskan.
"Kalau begitu apa idemu?" Tanya lily.
"Hm... bagaimana kalau yang kalah, berciuman dengan orang yang pertama kali masuk ke kafe ini". Usul Kate memandang kami bertiga.
"Deal". Timpal Natasha langsung.
"Deal". Tambah lily.
Mereka bertiga langsung melihatku Karena aku sama sekali tidak menjawab.
"Ya sudah. Deal saja deh". Kataku malas. Rasanya aku ingin segera pulang dan melempar badanku diatas tempat tidur.
Selama 3 hari ini jadwal pemotretanku sangat padat. Aku bahkan nyaris tidak tidur. Kalau bukan Natasha yang memaksaku, aku juga tidak mau apalagi Kate juga ikut bersama kami. Aku dan Kate memang selalu menjadi saingan dalam segala hal.
"Kalau begitu ayo kita mulai". Sahut Natasha.
Aku mengangguk dan kembali menguap. Damn it... Setelah ini aku harus benar- benar tidur sebelum aku jatuh tertidur di jalan yang entah dimana dan Natasha harus mengerti itu.
"Yep. Sia!" Pekik penuh kemenangan dari Lily, membuatku tersentak dari tidur- tidur ayamku dan menyadari kalau sekarang mereka memandangku dengan senyum iblisnya.
"What?" Tantangku tidak mengerti.
"Kau kalah Sia". Jawab Natasha Seakan dia mengatakan itu pada anak SD.
"Kalah apa?" Tanyaku tidak mengerti tapi mereka tetap melihatku sambil tersenyum. "Oh shit!". Desisku jengkel setelah mengingat taruhan kami.
"Kau tidak boleh menolak siapapun, bahkan jika itu orang tua, gay, suami orang atau anak- anak sekalipun". Ujar Kate.
"Damn Kate! Kau tidak bisa melakukan hal itu pada anak- anak. Bagaimana kalau ibunya malah melabrakku? Paling parah kalau dia menuduhku mencabuli anaknya".
"Itu sudah resiko yang kalah taruhan".
Wow, kadang aku lupa bagaimana Kate sangat membenci diriku. Tentu saja dia akan melakukan itu. Justru aku sangat yakin bahkan seyakin- yakinnya kalau dia mengharapkan itu terjadi. Dia kan orang yang paling mengharapkanku dipermalukan.
"Dan kau harus melakukannya sepenuh hati. Jangan asal menciumnya".
Lily dengan mulut sialannya itu!
"Okey, ada yang datang". Bisik Natasha yang langsung membuatku memutar Mata. Buat apa coba dia melakukan itu. Toch tadi dia mengatakan hukumannya dengan sangat keras dan jelas membuatku mendapati 3 orang pria sedang menatapku dengan tatapan ingin.
"Dia sudah masuk dan... Wow".
Aku tidak memperdulikan siapa yang baru saja masuk. Yang jelas setelah hukuman konyol ini selesai, aku akan langsung pulang dan tidur.
Ingat Sia sepenuh hati dan langsung pulang.
Aku beranjak dari kursiku dan menemui orang yang sebentar lagi akan kucium. Aku bukanlah gadis lugu yang tidak pandai berciuman. Aku sudah beberapa kali berkencan dan beberapa kali putus. Pekerjaan sebagai model sudah cukup menyita waktuku tanpa harus ditambah dengan menjalin hubungan.
Kukalungkan tanganku mengelilingi lehernya, membuat aroma musk bercampur citrus memenuhi hidungku dan harus kuakui aku menyukainya.
Segera saja aku mengarahkan bibirku ke bibirnya. Damn... Bibirnya bahkan terasa manis.
Kulumat bibir bawahnya dengan konstan dan lembut plus sepenuh hati dan memaksa lidahku masuk ke dalam mulutnya. Well... harus kuakui kalau aku cukup tersinggung karena dia sama sekali tidak membalas ciumanku tapi sudahlah, yang penting aku sudah menjalankan taruhan sialan itu dan sepenuh hati.
Kukecup hidungnya sebagai tanda maaf dan terima kasih Karena telah mau menjadi korbanku lalu berbalik untuk melihat 3 penyihir itu ketika yang kulihat adalah mata terperangah mereka.
Sebelum aku menyadari. Bibirku kembali dilumat tiba- tiba membuatku nyaris kehabisan napas lalu dia juga mengecup hidungku.
"Kurasa kita sudah impas". Suaranya terdengar berat dan maskulin.
What?!
Aku sangat kaget dengan kejadian yang tiba- tiba ini dan untuk pertama kalinya aku melihat warna biru matanya yang sangat dalam, membuatku ikut tenggelam kedalamnya.
"Ayo Ron. Kita bicara di tempat lain saja".
Orang yang bernama Ron itu melihatku dengan tatapan kaget yang kemudian diubahnya menjadi senyum ramah kemudian mengikuti orang yang baru saja kucium atau orang yang baru saja menciumku. Shit!
***
Comments
Post a Comment