FALL FOR YOU - BAGIAN SEBELAS

"Tidak ada gunanya kau mengutuk diri sendiri. Toch, semuanya sudah terjadi". Timpal Natasha kalem.

Aku mendelik kearahnya. Tadi dia yang lebih dulu mencak- mencak ketika kuceritakan okey, lebih tepatnya aku menginformasikan padanya kalau sebentar lagi aku akan menikah.

Awalnya dia kaget dan mengira aku hanya bercanda mengingat dia tahu selama ini bagaimana aku dengan laki- laki pada umumnya yang hanya sebatas teman minum atau ciuman biasa.

"Jadi siapa ayah dari anakmu itu?"

Kualihkan tatapanku dari Natasha dan merutuk dalam hati. Kenapa Natasha harus membawa si bitch ini ke sini sih? Seakan mengetahui apa yang Ku pikirkan Natasha menjawab.

"Kami tadinya sedang memutuskan akan bertemu ketika kau menelpon". Natasha menambahkan.

"Jadi?" Tanya Lily kemudian.

Kuhela napasku berat. "Jangan tanya aku, Ly. Aku juga tidak tahu". Jawabku seraya menjatuhkan wajahku ke meja dan menenggelamkannya di sana. "Meskipun Vano terlihat seperti anak yang baik tapi menikah di usia 23 bukanlah sesuatu yang pernah ku pikirkan sebelumnya". Lanjutku.

"Kenapa tidak? Kau sudah melahirkan sebelumnya jadi kurasa tidak ada bedanya". Sahut Kate sinis.

Kuangkat wajahku jengkel. Kenapa sih cewek ini selalu saja mencari gara- gara denganku.

"Kurasa istilahmu yang mengatakan 'No seks before married' hanya sekedar istilah untuk menutupi kalau kau sebenarnya sudah menelantarkan anakmu sendiri". Lanjutnya.

Damn!

Ku gebrak meja keras, membuat seluruh pengunjung cafe tempat kami berkumpul menatap kami dengan penasaran. Dasar bitch sialan, dia sekarang bahkan memberiku senyum kemenangan karena telah mempermalukan diri sendiri.

"Sudahlah Kate, kau tahu Sia bukanlah orang seperti itu dan Sia, duduklah. Orang- orang sedang melihat kita". Ucap Lily dengan nada bosan.

Ya. Kami memang selalu berakhir seperti ini setiap kali bertemu tapi meskipun begitu kami berempat selalu saja mencari cara untuk bertemu entah sekedar mengobrol atau apa pun itu dari segala rutinitas modeling kami. Terlepas dari perselisihan yang tak berujung diantara aku dan Kate yang seakan- akan kami berempat memang di takdirkan bersama. Memikirkan harus bersama Kate - si menyebalkan seumur hidupku, membuatku bergidik seketika.

"Apa kau pikir aku juga rela terjebak denganmu selama sisa hidupku. Berhentilah memikirkan hal- hal konyol di otak bodohmu itu".

Kali ini aku benar- benar bergidik. Apa sekarang dia punya kemampuan membaca pikiran orang?

Kemudian aku mendengar suara kekehan dari Lily dan Natasha disusul suara erangan muak dari bibir Kate, membuatku menoleh kebingungan.

"Dasar gadis bodoh, kau tidak perlu menyuarakan pikiranmu sejelas tentang Kate". Ucap Natasha tanpa menghentikan tawanya.

Aku terdiam berusaha menyerap apa yang baru saja dikatakan Natasha hingga kemudian aku sadar dan menatap horor Kate, membuat Natasha dan Lily semakin tertawa dan Kate mendelik kesal padaku.

"Jangan mengujiku, Welsh". sahutnya kesal. "Kau harusnya memikirkan pernikahanmu yang minggu ini akan dilaksanakan".

Wajahku kembali pucat dan itu tentu saja membuatnya kembali senang.

"Jangan khawatir. Bukankah kalian sudah mempunyai anak sebelumnya? Kurasa malam pertama kali ini tidak akan terlalu menyakitkan". Goda Lily yang langsung kuberi tatapan tajam.

Aku tidak ingin membayangkan bagaimana sakitnya malam pertama seperti yang mereka ceritakan mengingat well, aku masih perawan yang tentu saja Kate tidak mempercayai hal itu. Mengetahui aku punya anak di luar nikah saja membuat dia tersenyum penuh kemenangan tapi itu semua tidak akan terjadi. Aku dan Evan hanya menikah diatas kertas dan demi Vano.

Aku harus menyakinkan itu untuk kebaikanku sendiri. Semangat!!!

Sungguh, aku begitu marah kemarin hingga tanpa berpikir mengiyakan permintaan Evan. Seharusnya aku mengikuti saran Thalia dan tidak terlalu terbawa suasana. Emosiku memang bersahabat baik dengan mulutku hingga tanpa berpikir lagi, aku langsung memutuskan satu hal. Entah itu hal baik atau hal buruk tapi kebanyakan hal buruk.

"Aku penasaran dengan anakmu oops sori, calon anakmu itu. Siapa tadi namanya?" Tanya Lily

"Vano". Natasha menjawab pertanyaan lily.

"Ya Vano. Natasha bilang kalau matanya mirip denganmu. Apa kau benar- benar tidak pernah merasa telah melahirkan seorang bayi beberapa tahun yang lalu?" Pertanyaan Lily barusan semakin membuatku jengkel.

Kate tertawa, menimpali. "Tentu saja mereka mirip. Mereka kan memang ibu dan anak dan Sia terlalu pengecut untuk mengakui semua itu apalagi mengingat semua pria ingin berada di celana dalamnya". Ujar Kate.

Aku tidak tahan lagi. Aku baru saja akan melabraknya ketika ku dengar suara tajam Natasha.

"Kau sudah keterlaluan Kate". Aku melonggo. Tidak biasanya Natasha bertindak seperti itu dan sama halnya denganku, sepertinya kedua gadis di hadapanku ini menyadari hal itu. "Kau tahu Sia seperti apa. Apa kau pikir Sia bisa setega itu mengingat bagaimana protectivenya dia pada Steve dan Agnes? Kau sendiri yang mengatakan kalau berhentilah memikirkan hal- hal yang konyol pada Sia. Hal yang sama juga berlaku untukmu, Kate. Berhentilah memikirkan hal konyol. Urusan Sia sudah punya anak atau tidak. Tidak ada hubungannya dengan kita bertiga".

Wow. Apa sekarang Natasha sedang datang bulan? Karena kalau iya, Nate bisa kena masalah kalau membuatnya marah.

Natasha memang lebih mengerikan jika sedang datang bulan dan jika ingin selamat sebaiknya segera menyingkir sebelum ada yang berdarah karenanya.

"Terserahlah". Ucap Kate cuek dan aku tahu itu sebagai usahanya untuk tidak semakin mempermalukan dirinya. Sudah cukup dengan apa yang dikatakan Kate barusan.

"Hm... kurasa Kate juga tidak salah". Kataku sekedar mencairkan suasana. "Dan hey, bukankah ini hebat? Mengingat akulah yang pertama kali menikah dibandingkan kalian yang sudah pacaran lama". Kataku berusaha terdengar riang.

"Eh iya". Timpal Lily Seakan membaca situasi. "Dan ngomong- ngomong Sia. Aku penasaran dengan calon suamimu itu. Apa kau tidak ingin memperkenalkan dia pada kami sebelum kalian menikah?" Tanya lily.

Oh aku lupa menceritakan hal ini pada mereka karena terlalu asyik merutuki keputusanku 3 hari yang lalu. Hanya Natasha yang tahu siapa ayah Vano dan saat ini dia sedang mengaduk- aduk jus wortelnya dengan keanggunan bak seorang putri kerajaan.

Dengan senyum yang kupaksakan dan juga berdebar- debar menunggu sambutan lily yang kurasa tidak akan biasa. Aku ragu Kate akan bereaksi seperti Lily tapi layak di coba apalagi Evan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Aku tahu itu.

"Oh kalian pernah bertemu dengannya kok". Ucapku terlihat santai.

Sejenak mereka berdua menatapku dan kuyakini mereka sedang berusaha mengingat pria mana yang berani mengajakku menikah dengan alasan anaknya.

"Dia adalah pria yang pernah ku cium disini sewaktu kalah taruhan dulu". Ucapku tersenyum.

"Apa?!" Teriak mereka berdua bersamaan, membuatku harus menutup kuping tapi dalam hati aku tersenyum puas melihat wajah syok dan tak percaya Kate.

Memang layak dicoba!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS