FALL FOR YOU - BAGIAN SEMBILAN BELAS
"E-Evan, a- apa yang.... kau lakukan?" Mendadak aku perasaan gugup menjalari tubuhku ketika dengan pelan dia memutar tubuhku agar bisa berhadapan dengannya.
"Kau membuatku gila, Sunshine". Ucapnya pelan dan aku merasa seperti udara tersedot keluar ketika dia menatapku melalui matanya.
Sebelum aku bisa merespon kalimatnya, aku sudah merasakan bibirnya menempel dibibirku. Hangat dan terasa manis bahkan lebih manis dari ketika aku menciumnya di cafe dulu.
Kukalungkan lenganku dilehernya dan menutup mataku merasakan sensasi ketika bibirnya mulai menjilat bibir atas dan bibir bawahku dengan pelan seakan memberiku waktu untuk menyerahkan diri padanya. Aku semakin mendekatkan diriku padanya, memberitahunya kalau dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya hingga aku merasakan lidahnya mulai menjelahi seluruh rongga dalam mulutku.
Kami saling memagut, saling merasakan kehangatan tubuh kami masing- masing ketika aku mendengar sebuah erangan kecil keluar dari bibirnya dan merasakan kalau tangannya telah berada di pantatku.
"Kau terasa sangat manis, Sunshine". Desahnya semakin membuatku mendekatkan diri darinya, masih dengan bibir yang saling menyentuh.
Aku ikut mendesah ketika merasakan bibirnya mulai turun ke sekitar leherku dengan sangat perlahan hingga tanpa sadar tanganku mulai mencengkram rambutnya dengan erat tapi tidak membiarkan Evan melepaskannya hingga kembali merasakan lidahnya.
Entah berapa lama kami dalam posisi berdiri seperti ini ketika tiba- tiba tubuhku sudah terdorong kebelakang, bersandar pada meja di dapur tempat aku dan ketiga anak- anak itu makan puding.
Evan melepaskan ciumannya agar aku bisa mengambil napas ketika aku langsung menarik wajahnya dari menikmati leherku dan kembali mencium bibirnya dan sama- sama terkekeh ketika kami saling mengambil napas, dengan kening yang saling menempel.
"Aku menginginkanmu, Sia" ucapnya pelan. Aku tidak tahu harus merespon apa untuknya, yang aku tahu, aku juga menginginkannya dan ciuman panas yang sama- sama kami lakukan telah membuktikan semuanya.
Aku kembali mengalungkan lenganku dilehernya seraya mencium bibirnya dan mendesah, menyebutkan namanya.
"Evan..."
Seperti dayung yang bersambut, dia membalas ciumanku. Kali ini jauh lebih lembut tapi juga kasar dan aku sungguh menyukai caranya yang menciumku.
Pelan tapi pasti, aku mulai merasakan tangannya yang menyelusup ke dalam pakaian yang kukenakan hingga hampir menyentuh bra bagian belakang ketika tiba- tiba mendengar suara langkah pelan, yang kuyakini bukan berasal dari Evan. Tanpa menunggu sosok itu muncul, secara otomatis aku mendorong Evan menjauh dariku hingga dia menabrak meja dan membuat tempat sendok yang berada di atas meja jatuh dengan suara berisik. Bersamaan dengan itu muncullah Agnes dengan wajah mengantuknya, yang melihatku dengan bingung lalu kearah Evan.
"Tante Sia memukul Papanya Vano?" Tanyanya polos.
Oh, crap!
Aku melirik Evan, dengan rambut yang acak- acakan karena aku terlalu mencengkramnya belum lagi bajunya terlihat berantakan. Jangan lupakan tempat sendok yang jatuh! Seru batinku dan semakin terbelalak menyadari betapa kacaunya dapur kali ini.
Otakku mendadak korslet ketika aku mendengar suara tawa Evan. "Tidak kok sayang. Paman tidak sengaja tersandung dan menyenggol tempat sendok ini". Jelas Evan, mengedipkan sebelah matanya kearahku.
Oh! Kualihkan pandanganku dari undangan yang menggiurkan ini ketika merasakan pipinya mendadak terasa panas, ditambah ingatanku rasanya tidak berniat meninggalkan tempatnya dan terus- menerus memutar kejadian sebelum Agnes datang.
"Kok Agnes bangun. Ada apa, sayang?" Aku perlu pengalih perhatian.
"Agnes mencari tante. Ayo kita tidur tante". Aku langsung mengiyakan ucapan Agnes dan meraih tangannya dan membawanya kembali kedalam kamar. Mendadak merasa sedih karena berpikir kalau pernikahan kami ini tidaklah nyata dan yang tadi kami lakukan itu karena terbawa suasana.
Hanya itu. Tidak lebih.
Aku baru saja masuk ke kamar Vano ketika menyadari kalau Evan juga mengikuti di belakang.
"Lho, apa yang kau lakukan di sini?" Aku bertanya bingung padanya
"Kau sendiri. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku akan tidur di sini".
"Kalau begitu aku juga akan tidur di sini". Dan dia lantas mengambil posisi tepat di samping Vano, sementara aku disamping Agnes.
Menolak untuk berdebat dengannya, kutidurkan Agnes lebih dulu dan anak ini langsung terlelap setelah mendekapku.
***
Evan POV...
Kupandangi wanita yang telah terlelap ini dihadapanku. Ada tiga anak diantara kami. Agnes, Steve dan Vano. Sia lebih memilih tidur di samping Agnes. Sepertinya Agnes sangat menyukai Sia karena setiap kali dia tertidur, dia pasti memeluk Sia dengan erat.
Ketika aku melihatnya di sofa dengan tiga anak yang tertidur di sekelilingnya. Entah mengapa itu membuatku merasa damai dan harus kuakui aku sangat menyukainya. Sempat terlintas dalam pikiranku, bagaimana jika seandainya ketiga anak itu adalah anak- anak kami hingga dia membuyarkan pikiranku dengan memintaku membawa Vano dan Steve ke kamar karena Agnes tertidur dengan sangat lelap dalam dekapannya.
Aku semakin terperangah ketika mendengar jawabannya yang mengatakan kalau Vano adalah anaknya. Maksudku Vano memang anaknya tapi bukan dalam artian yang sebenarnya tapi wanita ini tidak menganggapnya seperti itu. Ditambah lagi bagaimana dia memperlakukan kedua keponakannya dengan sayang membuatku tidak bisa berkutik.
Dan tadi, ketika di dapur tadi aku merasakan keinginan untuk memiliki dirinya seutuhnya dan semakin yakin ketika dia membalas ciumanku dan wow, dia sangat pandai mencium dan langsung membuatku iri sudah berapa banyak pria yang sudah merasakan bibir manisnya tapi hal itu tidak akan kubiarkan terjadi lagi.
Secara hukum. Sia sudah sah menjadi milikku dan tidak akan ku biarkan pria lain mendekatinya termasuk si brengsek Paul.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Dia sudah tahu kalau Sia sudah menikah dan memiliki anak tapi dia tetap saja berusaha menggoda Sia kapan pun dan dimanapun Sia berada.
Aku baru saja akan mengarah ke ciuman yang paling intens ketika mendadak dia mendorongku hingga membuat tempat sendok jatuh dengan suara yang memekakkan telinga. Tadinya aku ingin marah padanya tapi setelah melihat wajah syok kemudian bercampur kebingungan, membuatku penasaran hingga aku mendengar suara di sisi lain meja.
"Tante Sia memukul papanya Vano?" Aku berusaha menahan tawa ketika melihat raut wajah yang di tunjukkan Sia pada Agnes.
Tidak ada yang bersuara hingga aku memutuskan untuk mengambil alih pertanyaan yang dilontarkan dengan polos oleh Agnes. "Tidak kok sayang. Paman tidak sengaja tersandung dan menyenggol tempat sendok ini"
Kupandangi Sia yang masih terdiam. Dia sama sekali tidak bersuara atau tersenyum. Seketika pikiran negatif menghampiriku. Apa dia menyesali apa yang tadi terjadi? Kenapa dia sama sekali menolak untuk memandangku? Apakah ciumannya tadi hanya karena terpaksa? Apa dia sama sekali tidak merasakan seperti yang kurasa padanya?
Shit. Apa yang sedang dipikirkannya?
***
Comments
Post a Comment