FALL FOR YOU - BAGIAN SEMBILAN

Sia POV...

Damn it!

Sepertinya aku harus segera memeriksakan otak dan jantungku ke rumah sakit. Bisa- bisanya aku berpikir dia melamarku karena mencintaiku. Jangan bodoh Sia. Dia melakukan itu untuk anaknya.

Untuk Vano!

Dan karena Vano menyukai dan menganggapmu sebagai ibunya jadi wajar saja kalau dia menginginkanmu tapi setelah ku pikir lagi, kenapa harus menikah? Maksudku, aku tidak keberatan mendatangi rumahnya yang entah di mana itu setiap saat tanpa harus menjalani pernikahan. Menurutku itu akan lebih baik... untuk jantungku, iya kan?

"Kau akan dianggap gila jika terus memukul kepalamu seperti itu".

Aku berbalik dan mendapatkan tatapan prihatin dari Natasha.

"Thanks". Kataku sinis.

"Anytime, dear". Balasnya nyengir.

"Hai Nate" Kutolehkan kepalaku sedikit miring dan melihat pacar Natasha - Nathan dan menyapanya ramah.

"Hai, Beautiful". Balas Nate menyapaku juga, "tapi kenapa kau tampak mengerikan kali ini?" Tanyanya kemudian.

"Ugh Nate, apa tidak ada yang pernah memberi tahumu kalau kau tidak boleh mengatakan hal itu pada seorang wanita?"

Nate tertawa menimpali.

"Jadi kenapa kau menghubungiku? Bukankah seharusnya kau..." Natasha melihat jam di tangannya dan mengernyit, "tidur di rumah?"

Ku angkat bahuku malas lalu menyeruput cappucinoku. Ya, setelah keluar dari rumah Tadi. Aku langsung menghubunginya Natasha dan menyuruhnya segera ke Coffee Shop yang biasa kami kunjungi.

"Aku ingin menginap di apartemenmu selama beberapa hari". Kataku dan langsung mendapat tatapan tidak percaya dari Natasha. "dan aku tidak akan menganggu aktivitas yang tadi kalian lakukan sebelum datang kesini". Lanjutku dan langsung melihat rona malu- malu di kedua pipi Natasha. Nate hanya tertawa ketika aku mengatakannya.

Inilah salah satu hal yang kusukai dari Nate. Dia tidak pernah melarang Natasha melakukan apa pun yang disukainya termasuk ketika aku menganggu acara percintaan mereka.

Nate adalah orang yang sangat sederhana tapi penuh kasih. Dan aku sangat menyukai kedua pasangan serasi nan romantis di hadapanku ini.

"Berikan kunci apartemenmu". Kataku seraya mengelurkan tanganku kearah Natasha

"Aku belum mengiyakan". Sanggah Natasha cepat.

Kuberi dia senyum manis tapi penuh muslihat khusus untuknya, "Oh tentu saja kau akan, sayang. Kau tentu tidak mau aku datang tengah malam buta dan aku menggedor pintu apartemenmu dan membuat para tetangga keluar, bukan?"

Natasha terlihat syok kemudian diubahnya menjadi sangat jengkel.

"Brengsek". Aku menerima kunci yang disodorkan Natasha dengan senang hati tak lupa mengucapkan terima kasih padanya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Nate kemudian

"Eh?"

"Kau tidak mungkin datang kes ini dan meminta kunci pada Natasha hanya untuk berpindah tidur kan?"

"Itu yang akan ku lakukan?" Jawabku menguap.

"Benar juga. Apa yang terjadi?" Natasha memberiku tatapan menyelidik.

"Oh well, nanti akan kuceritakan tapi sebelum itu aku perlu tidur. Nikmati waktu kalian, teman- teman". Sahutku beranjak meninggalkan mereka berdua.

Dengan susah payah kukemudikan mobilku menuju apartemen Natasha sementara mataku senantiasa mengeluarkan air Mata karena menahan kantuk.

Sepuluh menit kemudian aku sudah tiba di depan pintu apartemen Natasha dan mengeluarkan kunci yang tadi diberikan Natasha dan menekan password apartemennya. Semenjak kejadian stalker dulu, Natasha sangat waspada akan keamanannya.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar tamu di lantai atas dan langsung merebahkan diriku keatas tempat tidur.

Ah nyaman sekali!

***

Selama 3 hari aku berada menginap di tempat Natasha. Agnes memberitahuku kalau Vano selalu datang berkunjung dan bermain bersama Steve dan juga dirinya.

"Apa?! Aku tidak mungkin kan mengusir keponakan kecilku". Belanya ketika aku memberikannya tatapan tajam.

"Aku tidak mengatakan apa- apa".

"Oh tentu saja". Balasnya memutar Mata. "Bahkan jika kau keberatan, kau juga tidak bisa melarangku lagipula menurutku Vano anak yang baik. Apa kau yakin kau tidak pernah melahirkan Vano sebelumnya?" Tanyanya ingin tahu.

"Aku yakin 100 %". Jawabku mantap sambil menganggukan kepalaku. Aku sudah bosan ditanyai hal yang sama setiap waktunya dan daripada aku marah- marah karena lelah menjelaskan yang sama sekali tidak di gubrisnya jadi ku putuskan untuk tidak membuatnya sebagai beban.

"Jadi kapan kalian menikah?"

Aku langsung tersedak jus jerukku. "Kau bercanda?"

"Tidak. Aku serius. Aku ingin Vano selalu datang ke sini dan bermain dengan Steve dan Agnes. Mereka berdua tidak terlalu merepotkan dengan kehadiran Vano di rumah ini".

"Vano hampir setiap hari kemari. Kau tidak perlu repot- repot memintaku menikah dengan ayahnya". Balasku cepat.

"Tapi semuanya akan terasa benar jika kita sah menjadi sebuah keluarga dan Evan luar biasa sangat tampan".

"Aku setuju". Buat apa menampik, toh Evan memang tampan. Oh sial! Apa yang sudah kukatakan?

Thalia terkekeh. "Jadi kau menyukainya?"

"Aku tidak akan menjawab pertanyaan berbahaya seperti itu" elakku

Kembali Thalia tertawa. "Jadi kau ingin bersikap sebagai seorang selebriti?" Godanya.

Ya, Thalia tahu apa yang kurasakan tanpa perlu ku jelaskan panjang kali lebar. Thalia tahu semua pria yang pernah kukencani karena sebagian besar mereka akan datang kemari jika sudah kuputuskan secara sepihak.

"Kalau kau tidak menikah dengan Evan, aku akan langsung menendangmu dari rumah ini". Ancamnya terdengar sungguh- sungguh.

"Wow. Apa itu berart kau sudah masuk ke dalam timnya sekarang?" Tanyaku sakit hati.

"Kau bisa menganggapnya seperti itu". Jawabnya cuek.

Kupandangi Thalia tidak percaya hingga Steve dan Agnes datang berlarian dengan gembira kemudian diikuti oleh Vano dan Evan di belakangnya.

Crap... Aku nyaris menahan napas ketika melihat Evan. Hari ini Evan tampil kasual dengan T-shirt biru polonya dan jeans. Tidak lupa dia memakai topi yang membuatnya nyaris kelihatan muda dan tidak terlihat kalau dia sudah memiliki anak.

"Mama!" Seru Vano riang ketika melihatku dan aku harus berjongkok ketika ia menghampiriku.

Segera Vano memelukku dan langsung membuatku bergidik ketika merasakan napasnya di tengkukku lagi.

Astaga! Kenapa anak ini harus bernapas disana? Pertama kali dia memelukku, dia juga melakukan hal itu.

"Vano senang deh mama tidak sibuk lagi". Kata Vano dan langsung membuatku mengernyit. "Papa bilang kalau mama sibuk jadi mama jarang berada di rumah. Kapan mama akan kembali ke rumah?" Tanyanya kemudian.

"Rumah?"

"Iya. Bersama Vano dan papa".

"Eh?"

"Sebentar lagi ya sayang. Mama sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya di dekat sini". Jawab Evan menengahi.

"Tapi Vano sudah tidak sabar mau mama tinggal bersama kita, Pa".

Evan menundukkan kepalanya dan entah apa yang dibisikkan olehnya ke telinga Vano tapi langsung membuat Vano tersenyum sumringah.

"Kalian sudah sarapan?" Tanya Thalia pada Vano dan Evan.

Vano menggeleng. "Tidak. Papa koki yang buruk. Masakannya tidak enak". Jawab Vano dan aku berusaha untuk tidak tertawa di depannya.

"Apa itu lucu buatmu?" Tiba- tiba Evan sudah berada di sampingku. Sebelah tangannya sudah berada di pinggangku.

Kugelengkan kepalaku cepat dan ku gigit bibir bawahku menahan tawa. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Evan tapi tiba- tiba bibirnya menyentuh bibirku, membuatku terkesiap karena kaget.

"Brengsek". Geramku marah, berjalan meninggalkan mereka semua menuju kamarku. Sempat ku dengar suara Evan yang mengatakan 'nah, sekarang aku lapar Thalia. Apa yang kau miliki?' Dan Thalia hanya tertawa menimpali.

Dilanjutkan suara Vano yang keheranan.

"Apa mama marah lagi pa?"

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS