FALL FOR YOU - BAGIAN SEPULUH

"Sia, kau dimana?"

"Aku baru mau pulang dari rumah Lily. Ada apa?"

"Cepat pulang". Suara Thalia mulai terdengar cemas.

"Ada apa? Apa Steve dan Agnes baik- baik saja?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Cepatlah pulang".

Kuhentikan mobilku di depan pagar rumah sembari berlari menuju dalam rumah. Tadi Thalia menelponku dengan suara panik miliknya. Untungnya aku masih dalam keadaan sadar mengemudikan mobil, kalau tidak woshhh.... bye- bye world.

"Sia?". Thalia terdengar lega ketika melihatku datang dan cepat- cepat menghampirinya.

"Ada apa?"

Kupandangi sekelilingku dan melihat kedua keponakanku baik- baik saja, masih dengan raut kebingungan karena baik Steve maupun Agnes tidak kekurangan satupun anggota tubuhnya malah cenderung berseri- seri ketika melihatku. Kualihkan tatapanku, mengikuti apa yang mereka lihat dan melihat Tia yang sedang berlinang air Mata.

Eh sejak kapan pengasuh Vano berada disana?

"Tia?" Aku memanggilnya, bingung. Sedetik kemudian dia berdiri untuk menyonsongku.

"Nona". Isak Tia menghampiriku dan mau tidak mau aku menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Aku memaksanya agar kembali duduk ketika aku berlutut agar bisa sejajar dengannya. Dia tampak kaget ketika aku melakukan itu, yang justru membuatku memberinya senyum menenangkan.

"Ada apa Tia?" Tanyaku mengusap punggungnya lembut.

"Vano.... Vano, Nona Sia".

"Ada apa dengan Vano?"

"Vano diambil paksa oleh Tuan dan nyonya Alexander, Nona Sia".

"Hah?"

"Vano diambil paksa oleh ibu Tuan Evan".

Lalu meluncurlah cerita Tia yang mengatakan kalau ayah dan ibu Evan datang sejam setelah Evan pergi ke kantor. Kata Tia, Vano meronta- ronta tidak mau ikut tapi ibu Vano memaksa dan Tia tidak bisa berbuat apa- apa. Tia sudah berusaha untuk menelpon Evan tapi Evan sama sekali tidak mengangkat telponnya sehingga Tia hanya meninggalkan pesan di telponnya dan kepada sekertaris Evan.

"Ayo kita kesana". Putusku.

"Nona".

"Jangan khawatir, Tia". Kataku menenangkan padahal dalam hati aku merasa marah membayangkan Vano yang ditarik paksa.

"Baik, Nona".

Aku baru saja akan keluar ketika Thalia menahan tanganku.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya khawatir.

Kupaksakan diriku untuk tersenyum. "Aku hanya akan melihatnya Thalia. Jangan khawatir". Jawabku.

Sejenak Thalia memperhatikan raut wajahku. "Jangan sampai memperkeruh suasana, okey?"

Aku tertawa. Thalia tahu sifatku yang mudah meledak apalagi jika melihat anak kecil yang disiksa. "Akan kuusahakan, sister".

"Kau harus melakukannya atau kau akan menambahkan masalah".

Aku tersenyum kecut. "Okey". Balasku tapi dalam hati aku tidak yakin akan mudah melaluinya.

Tidak lama kemudian. Kulajukan mobilku ke alamat yang di beritahukan oleh Tia.
Tia memberi tahuku kalau kedua orang tua Evan memang sangat keras apalagi ayahnya yang bekerja sebagai hakim disebuah pengadilan. Keputusannya bahkan selalu menimbulkan kontroversi tapi dalam hal baik. Menurut desas- desus dia selalu menjatuhkan hukuman yang sangat keras pada orang yang dinyatakan bersalah.

Ketika kami sampai. Mulutku terbuka lebar ketika melihat pekarangan yang sangat mewah belum lagi di tengah pekarangan itu terdapat pancuran air terjun yang menjulang keatas. Aku terperangah, rumah ini terlihat sangat indah jika dilihat.

Semakin kami masuk kedalam, semakin terlihat kemewahan tempat ini dan sepertinya penjaga sudah mengenal Tia dengan baik karena ketika melihat Tia, penjaga itu langsung menyunggingkan senyum prihatin pada Tia yang dibalas Tia dengan hal yang sama.

Kakiku baru saja akan melangkah masuk ke dalam rumah ketika aku mendengar teriakan Vano.

"Vano mau pulang... Vano mau pulang ke rumah Papa... Vano mau pulang". Teriak Vano.

"Sudah berapa kali nenek bilang. Ayah Vano sibuk! Vano harus tinggal bersama nenek dan kakek di sini". Balas wanita yang ku perkirakan berumur 50 tahun.

Wanita yang kuduga sebagai ibu Evan itu masih terlihat sangat cantik meskipun sudah tidak muda lagi. Tidak jauh darinya duduk seorang pria yang terlihat berkuasa dan dominan bak raja di ruangan ini yang kuduga sebagai ayahnya.

"Tuan. Nyonya. Pengasuh Vano datang bersama Nona Sia". Kata pelayan yang mengantar kami.

"Mama!". Seru Vano ketika melihatku dan berlari menghampiriku. Otomatis aku duduk supaya sejajar dengan tinggi anak itu.

"Hai big boy. Wah kamu nangis?" Tanyaku seraya mengusap air Mata di pipinya. "Cup-cup... Jangan nangis lagi ya sayang. Kan mama sudah datang". Hiburku.

"Siapa kau?" Tanya Mrs. Alexander dengan suara menggelegar.

"Perkenalkan. Namaku Sia". Jawabku mencoba ramah.

"Aku tidak menanyakan namamu. Apa hubunganmu dengan anak dan cucuku?"

"Dia mamaku". Sahut Vano.

"Mama?" Kulihat Mr. Alexander melihat kearahku dengan tatapan meremehkan. Aku memang tidak sempat berganti pakaian dan masih mengenakan pakaian pesta dengan belahan Dada yang rendah warna merah akibat pesta ulang tahun lily malam tadi dan paginya Walker menghubungiku untuk mengatur jadwal pemotretanku berikutnya dan aku juga tidak sempat mengambil cardigan yang tadi kutinggalkan di sofa Thalia. "Jangan berbohong, young lady. Kami tahu siapa ibu Vano". Lanjut Mr. Alexander sinis.

Kurasakan darahku bergemuruh karena tatapan meremehkannya. Belum lagi ada rasa cemburu saat tahu kalau orang tua Evan mengenal baik wanita itu.

"Aku memang bukan ibu kandung Vano". Balasku dingin. " tapi sebentar lagi itu akan terjadi lagipula Vano melihatku sebagai ibunya terlepas aku ibu kandungnya atau bukan".

"Apa kau sadar kau sedang bicara dengan siapa Nona?" Sergah Mrs. Alexander marah.

"Tidak dan aku tidak tertarik mengetahui siapa anda". Jawabku.

"Kau?! Apa kau pikir kami bersedia menerima menantu seperti dirimu? Menantu yang sama sekali tidak diketahui dari mana asalnya. Aku ragu orang tuamu mengajarimu dengan baik atau kalau mereka mengajarimu kurasa mereka tidak berhasil".

"Jangan menghina orang tuaku, nyonya".

"Kenapa? Apa sekarang kau marah?"

Ugh, seandainya aku tidak mengingat ajaran orang tuaku yang selalu mengajarkan untuk bersikap baik pada orang tua dan ucapan Thalia sebelum berangkat kesini Tadi. Sudah aku marahi habis- habisan nyonya besar ini.

"Kami tidak akan menyerahkan Evan atau cucu kami ke tangan wanita licik seperti dirimu". Ucap Mrs. Alexander.

Wow!

Sulit membedakan apakah sekarang aku marah atau jengkel padanya. Ku tatap Mr dan Mrs. Alexander lekat.

"Ma. Pa".

Kami bertiga sama- sama berbalik dan Evan tampak berantakan dimana kancing kemejanya terbuka dan dasinya yang hanya tergantung di lehernya. Belum lagi lengan kemejanya di gulung hingga ke siku tapi meskipun begitu tidak mengurangi ketampanannya.

"Apa yang mama dan papa lakukan? Harusnya mama memberitahuku dulu kalau mau mengambil Vano". Ucap Evan seraya mengambil alih Vano dan menggendongnya.

"Mama sengaja karena kalau tidak begitu kau pasti tidak akan ke sini. Apa kau sudah makan sayang?"

Evan mengacak- acak rambutnya frustrasi. "Tapi tidak perlu memaksa Vano seperti ini".

"Apa kau akan tetap keras kepala seperti ini? dan lagi, apa kau berniat menikahi gadis tidak tahu aturan seperti dia?" Ujar Mr. Alexander.

Sejenak Evan sepertinya menyadari kehadiranku. "Sia? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Evan bingung.

"Well, aku...".

"Saya yang memanggil Nona Sia. Tuan". Sahut Tia yang dari tadi diam.

Tatapan Evan langsung menuju ke pakaian yang sedang ku pakai. Entah apa yang di pikirkannya hingga Mrs. Alexander kembali berbicara.

"Entah dari mana kau menemukan wanita ini Evan. Lihat saja pakaian yang dikenakannya. Sama sekali tidak berpendidikan. Apa kau memungutnya di klub- klub malam?"

"Mama". Ucap Evan keras.

Kugertakkan gigiku menahan amarah yang sejak tadi semakin menjadi- jadi. Sialan Kate yang memaksaku membeli pakaian ini. Sekarang aku malah dianggap pelacur oleh orang yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku.

Tunggu dulu, mertua?

Serta merta aku menyunggingkan senyumku yang paling manis. Kubulatkan tekadku akan keputusan yang baru saja kuambil.

"Baiklah. Evan aku menerima lamaranmu tempo hari dan aku ingin kita menikah secepatnya". Kataku tanpa melepaskan pandanganku pada kedua orang tua yang saat ini melotot marah padaku.

Rasakan!

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS