FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA BELAS
Sia POV...
Aku tidak tahu apa yang membuat Evan marah. Okey, aku memang salah karena hampir terlambat di pernikahan kami tapi hey, aku sudah berusaha untuk datang cepat kok.
Bayangkan saja aku harus berlari mengejar taksi hingga menabrak orang- orang setibanya aku di bandara dan entah berapa kali aku mengucapkan sumpah serapah pada jalanan yang macet menuju hotel ini. Ku harap sopir taksi yang mengantarku ke sini tadi tidak tersinggung.
Thalia dan ibuku juga dengan senang hati memberiku kalimat penghiburan yang serta merta membuat perasaanku menjadi tidak bersemangat tapi harus kuakui meskipun tadi aku terlambat, orang yang menata rambutku dan meriasku punya kecepatan yang luar biasa.
Dalam kurung waktu 20 menit, aku sudah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Pakaian pengantinnya juga luar biasa, dengan gaun putih vintage yang luar biasa sangat cantik apalagi dibagian pundak dan pinggangnya. Aku bahkan harus mengerjapkan mataku saking terpesonanya dan jika bisa memilih, aku lebih suka melihatnya daripada memakainya. Sangat cantik!
Tidak hanya itu, aku semakin terpesona ketika keluar dengan Evan yang menungguku di altar untuk mengikat janji suci. Seandainya ayahku tidak memegang tanganku, mungkin aku sudah berlari menghampirinya. Evan memakai tuksedo abu- abu yang sangat elegant dan maskulin hingga menambah ketampanannya bahkan aku harus beberapa kali menelan liur ketika sudah berada di dekatnya dan mendengarkan janji kami.
Tuhan, ku mohon jangan biarkan aku menelannya malam ini. Ku mohon ya Tuhan. Pintaku sungguh dalam hati.
Evan hanya melihatku sekilas lalu memalingkan wajahnya dariku, merasa tersinggung sekaligus sakit hati dan juga tersinggung. Apa susahnya sih mengatakan paling tidak kata bagus, toh aku juga tidak memaksanya untuk mengatakan aku cantik. kuputuskan untuk melakukan hal yang sama padanya dan mengingat kalau semua yang kulakukan untuk Vano.
Yep. Vano dan bukan Evan!
Setelah mengikat janji dan menyatakan kalau kami sah sebagai sepasang suami istri. Aku berusaha menfokuskan pandanganku pada tempat ini.
Ini semua terasa luar biasa. Banyak kanopi yang digantung dengan sengaja di langit- langit dan semakin terlihat luar biasa karena hamparan danau biru yang sangat cantik. Ini pernikahan well, pernikahan bohongan yang luar biasa tapi tetap saja ini luar biasa dan harus kuakui aku sangat menyukainya.
Ibuku tidak henti- hentinya meneteskan air mata haru melihatku sudah menikah dan hey, aku sudah memiliki seorang anak yang berumur 5 tahun. Bukankah itu terdengar menakjubkan? Maksudku, aku tidak perlu di tanyai kapan akan memberi mereka cucu lagi meskipun aku tidak keberatan jika... Ya kau tahulah.
Shit, hentikan pikiran kotormu itu Sia!
Thalia dan Ben juga ikut menghampiriku beserta kedua keponakan kecilku dan Vano yang menanyakan hal yang langsung membuatku gugup hingga Evan mengambil alih.
Begini, Vano bertanya kepadaku kenapa kami menikah lagi padahal sudah ada dia diantara kami hingga Evan menjawab yang membuatku dan Thalia melonggo. Okey, mungkin cuma aku yang melonggo sementara Thalia memberikan Evan jempol untuk jawabannya yang menurutnya brilian.
"Itu karena Papa membuat Mama marah jadi Papa harus kembali merebut hati Mama". Jawab Evan dihadapan anaknya itu.
Sejenak Vano terlihat berpikir hingga dia kembali bersuara. " kalau begitu, Papa jangan buat mama marah lagi. Vano Capek kalau harus melihat Mama dan Papa menikah lagi".
Sebuah balasan polos yang langsung membuat kami semua tertawa hingga mataku menangkap kehadiran orang tua Evan dan sekedar menunjukkan rasa sopan santunku. Kuseret Evan menghampiri kedua orang tuanya.
"Ma. Pa". Sapaku ketika sudah berada dihadapan kedua orang itu.
"Kau benar- benar menikahinya, Evan". Ucap Mr. Alexander dingin pada Evan.
"Aku sudah mengatakan hal itu sebelumnya". Balas Evan dengan nada yang sama.
Astaga, apa sih masalah mereka berdua? Kenapa mereka berdua seperti perang dingin?
"Selamat, nak". Evan menerima pelukan penuh kasih dari Mrs. Alexander sementara aku hanya mendapat ucapan selamat tanpa pelukan sama sekali.
Dan astaga...! Apa mereka selalu sekaku ini? Kuharap kami tidak harus tinggal dengan mereka. Bukan bermaksud untuk kurang ajar tapi aku ragu, aku akan betah tinggal di tempat yang lebih dingin dari kutub utara.
Tapi setelah di pikir- pikir, waktu aku mengambil Vano dulu, Vano mengatakan kalau dia ingin pulang. Jadi itu artinya Evan punya rumah sendiri kan?
Kuharap itu benar.
Sebenarnya aku meminta Thalia untuk mengurus seluruh persiapan pernikahanku ini, termasuk gaun pernikahan dikarenakan jadwal pemotretanku yang selama 2 minggu ini membuatku nyaris tidak bisa beristirahat dan kemarin, secara tiba- tiba Kloe memintaku ke Bali karena salah seorang modelnya mendadak tidak bisa datang. Untungnya Nate juga ingin ke sana jadi aku tidak merasa bosan.
"Terima kasih, Mom". Kusiku lengan Evan atas sikap cueknya dan dibalas olehnya dengan pandangan heran. Tanpa menghiraukannya kuarahkan kembali pandanganku pada Mr dan Mrs. Alexander.
"Mengenai kejadian kemarin, aku minta maaf". Kataku meminta maaf dengan tulus. "Mungkin waktu aku datang ke rumah kalian, aku mengenakan pakaian yang tidak pantas tapi sebenarnya itu ketidaksengajaan jadi ku harap kalian bisa memaafkanku dan aku janji akan menjaga cucu kalian dengan baik".
Lama kami saling memandang terutama Mrs. Alexander yang seakan ingin memasuki ronggaku.
"Hanya cucuku?"
Aku terperangah, merasakan kalau pipiku mendadak panas. "Evan juga". Cicitku berusaha bersikap tenang.
"Terserahlah". Sahut Mr. Alexander dan sungguh aku berterima kasih karena tidak lagi melihatku seakan keduanya ingin mengulitiku, "apa kau masih mau tinggal di sini? Aku ada pertemuan hari ini". Tanya Mr. Alexander pada istrinya.
"Tidak. Aku sudah selesai". Jawabnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata. Pasangan Alexander itu berlalu meninggalkan aku dan Evan hingga Ron datang dan mengajakku berdansa yang tentu saja ku iyakan. Kuharap Evan tidak mengharapkanku hanya berdiri diam. Maksudku ini pestaku dan sudah seharusnya aku menikmatinya, bukan?
"Kau kelihatan cantik, Sia". Puji Ron disela dansa kami.
Aku tertawa menimpali. "Apa kau yakin Clarisa tidak akan marah kau memuji wanita lain selain dirinya?" Tanyaku pura- pura.
Ron menghentikan dansanya dan melihat tepat ke wajahku. "Pujian yang kuberikan padamu berbeda dengan pujian yang kuberikan padanya. Lagipula tanpa aku memujimu pun kau sudah kelihatan cantik".
Aku semakin tertawa. "Kau terlalu melebih- lebihkan Ron".
Ron baru saja akan membalas ketika mendadak Evan muncul.
"Kau tidak keberatan kan Ron kalau aku mengambil pengantinku kembali". Ucap Evan.
Ron melihatku sekilas. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tapi mendadak dia menyunggingkan senyum penuh arti kearah Evan yang dibalas Evan dengan memutar bola matanya. Jelas sekali dia mengerti pembicaraan tanpa suara ini.
Aku berdansa dengan Evan hingga ayahku mengambil alih hingga Ben datang mengambilku kemudian Casey dan beberapa orang yang tidak kenal kemudian di tutup dengan kembali berdansa dengan Evan.
Hanya Lily, Natasha, Casey dan Walker yang datang pada pesta pernikahanku. Nate sudah meminta maaf kemarin kalau dia tidak bisa menghadiri pernikahanku dikarenakan masih berada di Bali dan Kate yang menolak memberiku selamat. Tidak banyak teman sesama modelku yang tahu kalau aku akan menikah karena pasti aku akan dianggap hamil dengan salah satu teman kencanku hingga memutuskan untuk menikah secepatnya.
Rasanya kakiku sudah hampir patah karena kebanyakan berdiri dan berdansa. Belum lagi harus tersenyum menimpali ucapan konyol dari para undangan hingga Vano datang dan menarik- narik gaunku, memberi tahu kalau dia sudah lelah.
Terima kasih nak, kau memang penyelamatku.
Evan yang mengetahuinya segera mengendong Vano dalam dekapannya. Semenit kemudian dia sudah terlelap, masih dalam gendongan Evan.
Akhirnya kami memutuskan untuk undur diri dan menyuruh sopir yang sengaja di sewa Evan pada hari pernikahan untuk mengantar kami kembali ke rumah.
Hotel memang menyediakan layanan kamar honeymoon tapi karena kami memutuskan hanya sekedar menikah tanpa seks jadi dengan halus aku menolaknya dengan alasan kami sudah pernah melakukannya.
Tiga hari berlalu sejak pernikahan kami dan Evan masih saja mendiamkanku. Memang apa yang sudah kulakukan padanya? Aku menikah dengannya bukan untuk didiamkan seperti ini. Tinggal serumah dan tidur bersama well, hanya tidur okey tapi seakan aku tidak dianggap. Kalau begitu, apa bedanya aku dengan Tia, pengasuh Vano. Aku bahkan rela tidak menerima pemotretan dua minggu ini Karena memikirkannya tapi apa yang ku dapat? Tatapan penuh arti yang sama sekali tidak ku mengerti dan ketika aku membalas tatapannya, dia langsung mengalihkan pandangannya dariku.
Setelah lama berpikir. Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya pada jam makan siang. Tentu saja aku juga membawakan makan siang yang sudah kubuat dan kutata sedemikian cantik.
Jadi setelah memarkir mobilku di parkiran perusahaan Evan, kuraih tangan mungil Vano. Kami berdua bernyanyi dengan riang hingga berada di depan pintu ruangan Evan dan mengernyit curiga ketika sekertaris Evan yang ku ketahui bernama Jessica melihatku dengan tatapan kaget.
"Eh Mrs. Alexander". Ucapnya gugup.
"Hai Jess, apa Evan ada?" Tanyaku ramah.
"Eh i-iya".
"Apa dia sibuk?"
"Eh t-tid.... eh iya".
"Kita langsung masuk saja ya, Ma. Papa pasti senang melihat kita". Dan tanpa menunggu jawaban dariku. Vano melepas genggamannya dariku dan membuka pintu besar ruangan Evan yang langsung membuat wajah Jessica terlihat syok dan aku penasaran apa yang membuatnya seperti itu.
"Papa?"
***
Comments
Post a Comment