FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA DELAPAN

Sia POV...

Aku menoleh karena mendengar suara berisik di belakangku dan mendapati Kate tidur- tiduran dengan gelisah diatas sofa sambil sesekali memencet remote dengan malas.

"Tidak biasanya kau bangun jam segini, Kate." Ucapku sambil memasukkan adonan ke dalam cetakan dan memasukkannya ke dalam oven beberapa menit kemudian.

"Aku terbangun karena seseorang." Sindirnya seraya melirik ke arahku.

"Maaf. Sedikitpun tidak ada maksud, Kate." Ucapku nyengir, meminta maaf. "Tapi kau harus mencoba brownies buatanku selagi hangat."

Dia memutar matanya, "aku kan bisa memakannya jika aku bangun nanti."

"Tapi kan tidak hangat lagi."

Kate memberiku tatapan tidak percaya, "ternyata hamil tidak membuatmu berubah ya? Kau masih tetap menyebalkan seperti biasanya."

"Dan kau juga tidak berubah bahkan setelah kau melihatku hamil, kau sama sekali masih kejam padaku." Balasku setengah menahan tawa ketika melihat ekpresinya.

Ya. Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau dialah satu- satunya orang yang akan berada disampingku dalam situasi yang seperti ini, karena dia pulalah aku bisa bertemu dengan Pierre yang dulunya teman semasa High School dan dia jugalah yang merekomendasikan aku supaya dirawat oleh sepupunya, Joan. Ku pikir, dengan hubungan kami di masa lalu tidak akan membuatnya membantuku tapi diluar dugaan, dia yang menawariku untuk tinggal di tempatnya, bersamanya.

"Apa masih lama?" Tanyanya seraya menguap.

"Kurasa 20 menit lagi." Jawabku.

Kate terlihat sangat syok. "Kau membangunkan subuh- subuh buta hanya untuk melihatmu mengaduk, mengocok, dan memasukkan brownies yang belum jadi ke dalam oven. Dan itu nyaris sejam yang lalu!" Pekiknya tidak percaya.

Kuputar mataku, mendengar ucapannya yang hiperbola. "Ini sudah nyaris jam 12 siang, Kate. Kau butuh asupan vitamin D supaya tetap bugar."

"Wow. Look who's talking. Asal kau tahu saja, Welsh. Asupan vitamin D itu sudah berlalu sejak beberapa jam yang lalu dan sekedar mengingatkan, cuaca di luar sangat dingin karena salju. Apa kau pikir, aku bisa menerima pernyataanmu dengan mudah?"

Aku tertawa. Ahhh betapa aku merindukan Kate yang seperti ini. Aku sudah uring- uringan sejak beberapa hari yang lalu karena kedatangan dan kepergian Evan dulu. Kenapa dia menyebutkan nama Paul? Apa sih masalah mereka?

"Ahh aku tahu ekpresi ini." Teriak Kate. Aku bahkan tidak menyadari kalau dia sudah berada di depanku, di meja dapurnya dan memandangku lekat. "Kau pasti memikirkan sesuatu dan kau berusaha melepaskannya melalui diriku, iya kan?"

Sejenak keningku berkerut, memikirkan apa yang dikatakannya kemudian tertawa. Sangat keras. "Astaga Kate. Meskipun beberapa dari ucapanmu ada benarnya tapi kau tidak perlu melihatku seakan- akan aku akan memberimu racun tikus. Aku tidak sejahat ibu tirinya Cinderella dan jelas kau bukan Cinderella di sini jadi berhentilah memikirkan hal- hal yang bersifat imajinatif."

Tiba- tiba tanpa kuduga dia mendatangi dan mendekatkan bibirnya di depan perutku yang besar. "Kau dengar sendiri, baby? Ibumu sangat jahat. Apa kau yakin, kau mau hidup bersamanya? Kau bisa meninggalkannya dan hidup bersamaku. Aku tidak akan sejahat ibumu, kau tahu?"

Aku mendengus. "Jangan mempengaruhi anakku, Kate." Sungutku tapi aku juga tersenyum.

"See? Dia bahkan berniat memisahkan kita, baby."

Ugh, aku harus segera menyingkir dari sini sebelum anakku benar- benar terpengaruh dengannya.

"Trims Kate." Kataku sinis ketika merasakan tendangan pelan di daerah perutku. Kate nyengir karena dia juga ikut merasakannya.

"Well, setidaknya dia mengenalku." Sahutnya dan kembali aku memutar mataku padanya. " tapi aku bertanya- tanya, apa kau tidak kedinginan dengan pakaian itu?"

Kualihkan pandanganku dan melihat pakaian yang kukenakan. Seharusnya aku memang merasa dingin dengan dress selutut dan kedua tali spageti di pundakku. Payudaraku juga sudah semakin bertambah besar dengan asupan asi yang akan segera keluar, yang sering kali membuatku melonggo dan juga merasa seksi di waktu yang bersamaan. Ternyata banyak sekali perbedaan yang terjadi ketika aku hamil 7 bulan dan ketika akan memasuki 9 bulan.

"Aku justru merasa kepanasan akhir- akhir ini."

"Kau sakit? Apakah kita perlu memberitahu Joan?"

Aku tersenyum. "Menurut Joan, itu hal yang normal apalagi sebentar lagi aku akan melahirkan dan aku baik- baik saja, okey?"

Kate menatapku selama beberapa detik. "Ya. Kurasa kau sudah tahu konsekuensinya ketika memilih untuk mempertahankannya dulu."

Aku terdiam. "Hmm apakah akan sakit? Maksudku... apa... Apa aku bisa?"

Kate sepertinya bisa membaca kalau aku ketakutan. Ya. Jujur saja Aku ketakutan. Sangat ketakutan tapi ini adalah anakku dan juga Evan. Dan melihat bagaimana dulu Evan menyayangi dan sangat menjagaku ketika hamil dulu, membuatku semakin optimis untuk melakukannya. Aku perlu mencoba, tidak aku harus mencobanya.

Kate memegang pundakku. "Aku tidak tahu, Sia. Maaf. Tapi aku benar- benar tidak tahu. Aku belum pernah merasakan mengandung dan melahirkan kan?"

Aku tertegun. Ini pertama kalinya aku mendengar dia mengucapkan kata maaf dan dia benar- benar terdengar tulus.

"Aku mengerti. Tapi apakah kau tidak berniat mencobanya? Kau punya pacar kan?" Godaku dan tanpa kuduga, dia terlihat gugup.

I knew it.

"Jangan konyol, Welsh".

Oh, sekarang kita kembali dengan Welsh dan bukannya Sia. Nice timing.

Tak lama kemudian terdengar suara denting oven yang menandakan kalau browniesku sudah matang bersamaan dengan suara bel pintu di luar.

"Oh, aku lupa. Pierre tadi menghubungiku dan menanyakan apakah aku ada di apartemen denganmu atau tidak." Ucapnya

Aku mengernyit, heran. Aku tidak merasa kalau aku punya keperluan dengannya. Aku sudah mengatakan padanya kemarin kalau aku akan mengerjakan sisa sketsaku di apartemen dan menyuruh Lue mengambilnya jika sudah selesai. Kemudian aku ingat kalau Pierre adalah teman Kate. Mungkin dia hanya ingin bertemu Kate.

"Aku akan membukanya." Kata Kate seraya berjalan menuju pintu sementara aku mulai meniriskan browniesku ke atas piring.

Entah berapa lama sejak kepergian Kate dan aku sama sekali tidak mendengar suara, baik itu suara Kate maupun Pierre.

Aku baru saja selesai menata brownies di atas piring ketika hidungku menangkap aromanya bercampur bau brownisku yang sudah matang dan berbalik ketika mendapatinya sedang bersandar di tembok dapur. Tangannya disilangkan di dada tapi pandangannya tetap mengarah padaku, seakan menilai dan kemudian dia tersenyum, senyum yang biasa ditampilkannya yang seketika membuat udara di sekitarku ikut tersedot seiring dengan kehadirannya.

"Hai, Sunshine."

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS