FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA DUA

Sia POV...

Entah sudah berapa kali kurasakan gigiku bergelutuk menahan dinginnya cuaca Prancis saat ini. Kupandangi jalanan yang saat ini sudah tertutup oleh salju dan merasa kesal karena ini semakin membuatku bertambah dingin padahal sudah banyak pakaian yang kukenakan untuk melawan rasa dingin ini.

Aku semakin merekatkan jaket dan syal di leherku sambil menunggu bus yang akan mengantarku ke rumah sakit. Satu hal yang bisa membuat moodku kembali merasa senang karena akan bertemu dan mengetahui perkembangannya lagi.

23 menit adalah waktu yang ku perlukan untuk tiba di rumah sakit dan seperti biasa Joan, dokter perempuan yang merawatku langsung tersenyum ketika melihatku.

"Hai Joan."Sapaku.

"Hai Sia, kau tampak senang".

Aku tersenyum, "tentu saja. Aku kan ingin bertemu dengan anakku hatchiii..."

Seketika Joan memberiku pandangan tidak suka, "kau flu."

"Aku tahu." Balasku sedikit menyesal

"Jadi, apa kau tahu apa artinya itu?"

Duh, dia marah.

"Jangan khawatir Joan. Aku baik- baik saja."

"Apa kau meminum resep yang kuberikan padamu?"

"Ya, tapi jujur saja, cuaca disini benar- benar hatchiii... Mengerikan".

Joan menghela napas, "aku akan menambahkan resepnya."

Wait, what?! "Oh jangan obat lagi, please."

Segera saja Joan memberiku tatapan mendelik, "itu bukan obat tapi vitamin." Cercanya

"Tapi tetap saja."

"Itu bukan untukmu tapi untuk anakmu."

Ugh, bagaimana bisa dia ditakdirkan bersepupu dengan Kate? Sikap mereka sama- sama menyebalkan.

"Dan jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, Sia. Aku juga tahu kalau kau jarang meminum vitaminmu."

Dasar Kate tukang adu!

"Jadi mari kita lihat apa yang dilakukan malaikat kecil kita di dalam sana."

Mendengar Joan mengatakannya, membuatku langsung melupakan semua kekesalanku jadi seraya tersenyum, aku tidur diatas tempat tidur yang sudah di siap kan oleh Joan.

Aku tidak pernah berhenti merasa takjub setiap kali melihat pergerakannya di dalam sana melalui monitor apalagi setelah mendengar detak jantungnya, membuatku tidak sabar ingin bertemu dengannya.

"Aku sudah tidak sabar melihatmu." Gumanku seraya mengusap perutku.

Seperti biasa setelah melakukan USG, Joan akan mengatakan hasilnya padaku meskipun aku tahu kalau hasilnya akan baik.

"Dia sehat." Katanya

Benarkan?

"Tapi akan lebih baik kalau kau juga sehat, Sia." Tambahnya

"Akan kuusahakan." Balasku sungguh- sungguh.

Joan memberiku tatapan menyelidik sebelum melanjutkan, "apa kau sudah memberitahunya?" Tanyanya dan aku mengerti siapa yang dia maksud.

Aku menggeleng. "Akan lebih baik kalau begini kalau keadaannya tetap seperti ini, Joan."

"Tapi jauh akan lebih baik kalau dia juga tahu. Dia juga berhak atas..."

"Aku tahu." Potongku, "dia sudah bahagia, Joan"

Sejenak Joan menatapku, mungkin mencari keteguhan atau apalah itu. Aku tidak tahu lalu menghela napas.

"Baiklah. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi dan Kate juga sepertinya enggan menceritakan hal ini tapi ini sudah hampir waktunya kau melahirkan dan kupikir, mungkin ada baiknya kalau dia juga berada di sini."

"Aku akan menghubungi saudaraku dan memintanya untuk datang ke sini jika sudah tiba saatnya aku melahirkan nanti."

Tentu saja sebelum itu, aku akan mendapatkan omelan dari Thalia atau orang tuaku, mengingat aku sama sekali tidak pernah menghubungi salah satu dari mereka semenjak aku pergi.

Joan kembali menghela napas. Dia bukan satu- satunya yang mengatakan hal itu padaku, Kate juga sudah mengatakan hal yang sama sebelum dia ke bandara kemarin. Aku sebenarnya juga sudah memikirkannya jauh sebelum mereka mengatakannya tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengatakannya.

"Baiklah. Terserah kau saja. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu baik padamu maupun pada bayimu mengingat...".

"Aku sudah tahu konsekuensinya, Joan dan aku tetap menginginkannya."

"Aku mengerti. Oh iya, jika hal yang seperti kemarin lagi terjadi lagi, kau harus segera menghubungi rumah sakit atau aku. Kau nyaris saja..."

"Jangan khawatir, Joan. Aku baik- baik saja".

"Ugh! Bisakah kau tidak memotong ucapanku setiap saat?" Tanyanya kesal. "Kau selalu saja melakukannya."

"Itu karena kau mengkhawatirkanku secara berlebihan." Aku membalasnya disela tawaku.

"Itu karena kau sama sekali tidak mau mendengarkanku."

"Aku mendengarmu kok".

"Terserah dan aku akan tetap menambahkan vitamin yang harus kau minum." Lalu dia memberiku pandanhan menilai, "apa aku bisa mempercayakanmu dalam hal ini?"

"Sepertinya akan berat tapi akan kuusahakan." Godaku dan langsung mendapatkan pelototan darinya.

"Oh dan satu lagi, tidak bisakah kau mengambil cuti dari pekerjaanmu sekarang?"

"2 minggu lagi."

"Apa Pierre membuatmu bekerja keras di perusahaannya?" Tanyanya penuh selidik.

Aku tertawa mendengarnya. Ya, dari sekian banyak orang yang berhubungan denganku. Aku malah di hadapkan pada situasi orang- orang yang saling mengenal. Joan yang adalah sepupu jauh Kate dan Pierre yang kebetulan teman Kate adalah pacar Joan.

"Tentu saja tidak. Aku masih punya pekerjaan sampai dua minggu ini."

"Tapi diakan bisa memberimu cuti lebih awal".

"Dia sudah melakukannya, Joan tapi aku yang memintanya seperti itu. Aku akan mati karena bosan jika tidak melakukan sesuatu."

"Ugh! Ini pertama kalinya aku menemukan pasien yang keras kepala seperti dirimu."

Aku tergelak. "Aku akan menganggapnya sebagai pujian kalau begitu. Terima kasih". Ucapku dan dibalas dengan tatapan melotot darinya. "Kalau begitu aku akan pergi dulu. Apa kau mau menitip sesuatu pada Pierre?" Godaku padanya.

"Aku akan jauh lebih senang jika kau pulang dan beristirahat".

Hatiku terenyuh mendengar perhatiannya. "Aku akan langsung pulang setelah menyelesaikan satu sketsa untuk akhir tahun ini." Janjiku lalu berpamitan dengannya.

Cuaca dingin kembali menerpaku ketika aku keluar dari rumah sakit ditambah salju, membuat flu ku rasanya semakin parah. Aku baru saja masuk kedalam taksi ketika disaat yang bersamaan aku mendengar suara dering dari ponselku, menampilkan nama Lue pada layarnya.

"Ya Lue?"

Lue adalah asistenku di tempat aku bekerja saat ini. Dia adalah gadis manis yang setahun lebih muda dariku. Itulah sebabnya kami lebih seperti teman daripada rekan kerja.

"Apa kau akan ke kantor?"

"Ya. Sepertinya sebentar lagi aku tiba."

"Apa semuanya baik- baik saja? Bagaimana hasilnya?"

"Semuanya baik." Balasku tersenyum. "Oh iya Lue, bisakah kau menyiapkan semua yang tadi kukirimkan lewat pesan singkat padamu dan menaruhnya dalam ruanganku?"

"Tentu".

"Trims Lue".

"Anytime, dear dan hati- hati. Cuaca di luar sangat dingin".

"Ya"

Aku baru saja tiba di depan pintu perusahaan tempatku bekerja ketika kembali ponselku berdering dan menampilkan nama Kate.

"Ya, Kate?"

"Sepertinya aku baru bisa pulang minggu depan. Natasha dan Lily menahanku di sini".

Oh! Betapa aku sangat merindukan mereka berdua.

"Tidak masalah." Balasku mencoba untuk tidak menangis karena sangat merindukan kedua sahabatku itu. Kate sangat beruntung!

"Apa kau bekerja hari ini?"

"Ya. Aku baru saja sampai."

Aku mendengar helaan napasnya sebelum suaranya ikut terdengar. "Aku tidak tahu kenapa kau harus bekerja sekeras itu dalam kondisimu yang seperti ini. Toh, aku juga tidak akan mengusirmu keluar dari apartemen."

Aku tertawa menimpalinya. "Aku hanya mempersiapkan diri jika pada akhirnya kau memutuskan untuk mengusirku yang kuharap bukan dalam waktu dekat."

"Dasar konyol"

Aku bisa merasakan kalau dia memutar kedua bola matanya membuatku kembali tertawa. "Aku hanya menyukai pekerjaanku saat ini, Kate dan aku akan cepat mati jika hanya berdiam diri."

Jeda selama beberapa saat ketika aku kembali nada acuh darinya. "Terserah." Lalu dia memutuskan sambungannya membuatku semakin tertawa karena sikapnya barusan.

"Anastacia!" Aku tersenyum menyadari siapa yang baru saja memanggilku dan berjalan kearahnya.

"Hai Pierre, sori telat." kataku nyengir.

"Tidak masalah baby. Oh iya perkenalkan, Ini sahabatku Evan dan dia baru kali ini datang ke tempatku setelah sekian lama."

Aku berbalik untuk melihat orang yang Pierre katakan sebagai sahabat dan nyaris melotot. Seseorang yang selama ini kurindukan kini tepat berada dihadapanku.

Kutelusuri garis wajahnya... matanya... hidungnya... dan bibirnya. Aku sengaja menyisakan bibirnya untuk kulihat terakhir kali agar bisa mengingat rasa bibir itu lagi dalam ingatanku dan aroma parfum maskulin bercampur citrus menyeruak memaksa masuk ke dalam hidungku, membuat tubuhku merinding dan merespon secara langsung.

Evan.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS