FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA EMPAT
Aku tidak pernah menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Maksudku, pesta yang tadinya ramai mendadak sesunyi kuburan.
Ya. Ron lah yang pada akhirnya menjawab pertanyaan Thalia mengenai Sia. Suaraku rasanya mendadak hilang setelah menyadari kalau Sia sama sekali tidak ada bersama mereka.
Setelah mendengar hampir keseluruhan cerita dari Ron. Thalia mendadak histeris dan Mr. dan Mrs. Welsh yang baru saja datang, memandang kami dengan bingung. Thalia menangis tak terkendali dipelukan ibunya sambil mengatakan kalau Sia hilang, membuat wajah Mrs. Welsh mendadak pucat dan nyaris saja jatuh pingsan jika tidak segera di tolong oleh Mr. Welsh dan Ben.
Bruk...
"Dasar brengsek!" Ben langsung memberiku bogem mentah di wajahku setelah ia mengantar istri dan mertuanya masuk ke kamar untuk beristirahat.
Kami memutuskan untuk ke rumah Thalia dan membicarakan hal ini. Di samping karena Mr. Welsh juga butuh penjelasan dariku, aku juga butuh penjelasan kenapa ini semua terjadi. Aku masih bingung dengan semuanya.
Ben lalu menarik kerah bajuku dan menyentaknya dengan kasar. "Bukankah aku sudah pernah mengatakan untuk menjaga Sia baik- baik?" Ben kembali ingin melayangkan tinjunya padaku ketika Ron menahannya.
"Maaf." Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Aku sungguh menyesal.
"Maaf katamu? Dasar brengsek!"
"Ben." Mendadak Mr. Welsh muncul dan menegur Ben lalu beliau memalingkan wajahnya untuk melihatku, "jadi Evan, bisakah kau jelaskan pada kami semua apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya dalam suara dalam dan tenang.
Aku merasakan perasaan yang terangat pada beliau. Ketika aku datang kesini untuk pertama kalinya dan melamar Sia, Mr. Welsh sudah jelas memintaku untuk menjaga anak perempuannya dan aku menyesal karena tidak memikirkan hal itu.
Kuceritakan semuanya pada Mr. Welsh juga Ben. Termasuk ketika Sia menolak anak yang di kandungnya. Semakin aku bercerita, semakin jelas aku melihat kernyitan di dahi mereka berdua.
"Jangan konyol Evan. Sia bukanlah tipe wanita seperti dalam ceritamu tadi." Ben menyiratkan cemohan dalam tawanya sesaat setelah aku menyelesaikan kalimatku. "Karena sepanjang yang aku ingat, Sia bahkan melompat kegirangan dihadapan kami semua ketika memberitahukan berita tentang kehamilannya."
Aku terperangah.
Sia melakukannya? Tapi kenapa dia...?
"Dan ketika dia keguguran. Dia datang ke sini dan menangis dihadapan Thalia dan mengatakan kalau semua itu terjadi karena kesalahannya. Melihat keadaannya yang seperti itu membuatku dan Thalia tidak tega. Apa kau tidak tahu apa artinya bayi itu untuknya? Dan apa yang kau lakukan? Kau menyalahkannya? Yang benar saja." Ejek Ben membuatku semakin tidak tahu harus membalas apa.
Ini sangat aneh!
"Kurasa Ben ada benarnya juga, Evan." Sahut Ron di sampingku. "Maksudku, dia tidak mungkin menyayangi Vano jika dia tidak menginginkan anak dalam kandungannya apalagi mengingat itu anak kalian berdua."
Hatiku mendadak menjadi bimbang.
Benarkah? Tapi apa yang membuat Sia melakukan hal itu?
Otakku rasanya ingin meledak saat ini juga.
"Evan." Aku menoleh untuk melihat wajah Mr. Welsh. Dia tampak sama letihnya dengan Mrs. Welsh. "Apa kau tahu kenapa istri dan Thalia bisa sehisteris tadi ketika mengetahui kalau Sia tidak ada bersamamu?"
Bukankah karena anak dan adiknya dalam hal ini Sia tidak diketahui keberadaannya?
"Itu karena aku melepaskan tanggung jawabku padanya." Jawabku merasa ragu dengan apa yang baru saja kuucapkan.
Mr. Welsh mengangguk. "Ya. Kau benar, Evan tapi bukan itu yang menjadi inti persoalannya." Aku bingung. Apa maksudnya?, "Apa kau tahu apa altruisme itu?"
"Lebih memikirkan orang lain daripada diri sendiri." Jawabku sementara dalam hati bertanya- tanya apa hubungan sifat altruis dengan Sia ketika mendadak sebuah pemahaman menyeruak masuk kedalam pikiranku.
"Sia memilikinya." Sahut Ben. "Kau bisa mengatakan kalau dia memiliki perasaan empati yang jauh lebih besar pada orang lain dibandingkan dirinya. Anggap saja, dia lebih memilih untuk melukai dirinya sendiri tanpa perlu berpikir dua kali. Itulah sebabnya banyak orang yang berusaha untuk mengambil keuntungan darinya karena Sia kurang memiliki sifat egois." Jelasnya.
Aku tidak mengerti. Jika dia lebih mementingkan orang lain kenapa dia tega melakukannya pada...?
"Aku yakin Sia melihat sesuatu dan berpikir kalau dia telah merebut sesuatu yang bukan miliknya atau bisa saja dia sudah berbicara dengan orang lain dan orang itu mengatakan sesuatu padanya."
Aku semakin tidak mengerti.
"Apa ini ada hubungannya dengan Sarah?" Mendadak Ron membuka suara.
Aku menoleh. Bingung. Apa hubungannya ini semua dengan Sarah?
"Tunggu. Apa Sarah yang kau maksud adalah Sarah Dunham? Ibu kandung Vano?" Tanya Ben seraya memandangku dan Ron bergantian.
"Bagaimana kau tahu nama belakang Sarah?" Tanyaku.
Ben memang tahu tentang Vano tapi seingatku aku tidak pernah mengatakan nama keluarga Sarah padanya bahkan Ron pun yang aku yakini, tidak akan segamblang itu mengatakan nama lengkap Sarah.
"Oh shit! Apa kau menerima amplop yang ku kirimkan padamu 3 bulan yang lalu?"
Keningku mengernyit. "Amplop apa?"
"Amplop yang menyatakan... Oh sudahlah lupakan. Yang jelas Sarah bukan wanita baik- baik. Dia seorang gold digger."
Aku bisa mendengar Ron yang bersiul pelan. Ron sudah pernah mengatakan hal yang sama padaku.
"Kau menyelidiki latar belakang Sarah?" Aku tidak percaya dengan informasi ini.
"Bukan mauku sobat tapi Sia memintaku untuk mencari tahu tentang wanita itu dan lihatlah, apa yang sudah dilakukan wanita itu pada keluargamu."
Bahkan sampai sekarang pun aku tidak mempercayai apa yang sudah tertulis di dalam map itu. Ya, di situ tertulis kalau Vano bukanlah anak biologis dariku. sesuatu yang membuatku tertohok nyaris ke dasar jurang.
Bagaimana mungkin?
Di dalam map itu juga tertulis berapa banyak laki- laki yang telah tidur dengan Sarah bahkan ketika kami masih menjalin hubungan. Jika saja Ron dan Ben tidak ada di penthouseku, mungkin Sarah sudah mati dibunuh olehku.
Dia benar- benar wanita tidak tahu malu yang pernah kukenal. Bagaimana mungkin setelah kejahatannya terbongkar, dia masih sempat- sempatnya mengancamku dan meminta uang atas diri Vano atau kalau tidak dia akan mengambil Vano secara paksa. Setelah mendiskusikan hal ini pada Ben juga Ron, akhirnya aku membuat perjanjian dimana dia harus menandatangi sebuah kertas jika dia mau mendapatkan uangnya. Dan aku tahu, aku telah salah menilai dirinya. Dia menandatangani kertas itu tanpa perlu berpikir dua kali dan pergi setelahnya.
.
.
"Pastikan kau ke tempat Pierre jika kau sudah berada di Prancis. Tidak henti- hentinya dia memintaku menyuruhmu ke sana."
Aku sudah kembali menjadi Evan yang dulu. Aku tidak lagi melampiaskan kemarahanku pada orang lain dan itu sudah hampir dua bulan sejak kejadian di rumah Ben tempo hari. Hari ini rencananya aku akan berangkat ke Paris untuk melebarkan bisnis dan kebetulan aku dan Ron melirik perusahaan milik Pierre. Selain karena kami memang saling mengenal, Pierre adalah sahabat baik yang kukenal yang bisnisnya sedang banyak dilirik pebisnis lainnya.
"Akan kuusahakan"
"Oh, kau harus. Kita butuh bantuannya untuk memperluas wilayah kerjasama kita."
Aku mengangguk mengerti.
"Apa kau akan mengunjungi Vano?"
Aku kembali mengangguk. "Ya. Aku hanya akan menemuinya dan memberitahunya kalau aku akan pergi selama beberapa hari."
"Apa dia masih menghindarimu?"
Lagi- lagi aku mengangguk. Jujur saja aku juga heran. Aku merasa Vano semakin hari semakin menghindariku. Ketika aku mendekat, dia akan langsung bersembunyi dan menghindari kontak mata denganku.
"Pelan- pelan saja."
Aku hanya bisa menghela napas. Anak laki- lakiku yang satu itu bukan lagi seperti anak yang dulu kukenal. Vano sudah berubah menjadi anak yang pendiam bahkan jika ia bersama Steve dan Agnes.
***
Comments
Post a Comment