FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA ENAM
Suara tawa dan aroma lavender ini. Tidak mungkin tapi dia benar- benar nyata dan sedang berdiri dalam balutan mantelnya yang super tebal.
Kedua pipinya merona, mungkin karena hembusan dinginnya udara. Beberapa bulir salju terlihat di puncak kepalanya yang di kuncir dan beberapa di poninya tapi justru membuatnya semakin terlihat memukau bahkan dengan make up tipisnya sekalipun.
"Tidak masalah baby. Oh iya, perkenalkan. Ini sahabatku Evan dan dia baru kali ini datang ke tempatku setelah sekian lama." Kudengar Pierre mengucapkan kalimat itu dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mata kami bertatapan. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang sangat nyata.
"H-hai." Dia mengulurkan tangannya yang langsung kusambut. Tangannya terasa sangat dingin dalam genggamanku. "Apa kabar?" Tanyanya. Oh, betapa aku merindukan senyuman itu.
"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Pierre kebingungan kemudian sedetik kemudian dia tersenyum. "Baguslah. Kalau begitu kita akan lebih mudah dalam proyek kita."
Tanpa kuduga, Sia melepaskan genggaman tangannya dan menoleh pada Pierre.
"Proyek?" Tanyanya.
"Oh maafkan aku, Anastacia. Aku lupa memberi tahumu kalau kita akan bekerja sama dengan perusahaan Evan dan Ron." Jawab Pierre.
Anastacia?
Entah apa yang dia pikirkan tapi ketika dia menoleh, kembali mata kami bertemu hingga dia memutuskan dan melihat Pierre lagi. Sejujurnya aku yang tidak ingin melepaskan tatapanku darinya.
"Oh. Baiklah. aku akan ke ruanganku kalau begitu".
"Ya. Oh iya, pastikan kau tidak terlalu memaksakan diri. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anakmu kelak".
Aku tersentak.
Anak?
Sejenak dia memalingkan wajahnya untuk melihatku lalu kembali menoleh pada Pierre.
"Tentu, Pierre. Aku akan pulang setelah 3 jam."
Kakiku rasanya mati rasa hingga dia menghilang dari pandanganku dan masuk ke ruangan yang lebih dalam.
"Sobat, kau terlihat seperti baru saja melihat hantu. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Pierre di sampingku
Aku berusaha membersihkan tenggorokanku yang mulai terasa perih."A- apa maksudmu dengan anak?" Kutolehkan kepalaku untuk melihatnya dan Pierre juga balas melihatku tapi bedanya dia menatapku dengan ekpresi bingung.
"Anak? Siapa yang kau bicarakan?"
Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Ingin rasanya aku memukul kepala pria dihadapanku ini. Belum beberapa menit dia mengatakannya dan dia sudah melupakannya?
"Tentu saja aku membicarakan Sia".
"Sia? Siapa dia?"
Sialan. "Wanita yang baru saja berbicara denganmu, brengsek!" Hardikku marah.
"Anastacia? Aku tidak tahu kalau dia di panggil Sia".
Oh, lupakan. Aku akan mencari tahu sendiri.
"Eh Evan, kau mau kemana?" Tanyanya yang tidak kuindahkan dan berjalan ke tempat yang tadi dilalui Sia. Setibanya aku di dalam. Aku melihat Lue yang tampak kaget dengan kehadiranku.
"Hai Lue, Apa kau tahu dimana ruangan Sia?"
"Sia?"
Sial. Kenapa Sia harus menyembunyikan identitasnya pada orang- orang?
"Maksudku Anastacia". Kemudian ekpresinya berubah menjadi terkejut sekaligus kecewa.
Maaf tapi aku sudah menikah. Kuharap kau mendapatkan pria yang lebih baik dariku.
Kulihat bibirnya baru saja akan terbuka ketika pintu di sampingnya ikut terbuka dan menampilkan kepala Sia. Ekpresinya terlihat sangat terkejut ketika melihatku lalu kembali menoleh pada Lue.
"Hmm Lue, apa kau bisa mengambilkan contoh baju yang minggu lalu?" Tanyanya pada Lue yang saat ini sedang memandang kami bergantian, bingung. "Lue?"
"Oh, okey." Jawab Lue lalu kembali menoleh padaku. "Disitu ruangannya." Tunjuknya kearah Sia yang terdiam.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Lue." Balasku sungguh- sungguh hingga aku kembali melihat wajahnya yang malu- malu ketika meninggalkan kami.
"Masuklah, Evan." Ucap Sia setelah lama dia melihatku dengan tatapan yang entah apa artinya.
Hal pertama yang kulihat ketika memasuki ruangannya adalah diatas mejanya terdapat banyak sketsa pakaian, masih dalam bentuk coretan kasar tapi tidak bisa menampik kalau hasilnya nanti akan elegan.
"Kau mau minum?" Tanyanya seraya berbalik menghadapku. Dan di situlah aku melihatnya, tanpa mantel yang membungkus tubuhnya dan hanya menggenakan kemeja longgar.
"Kau hamil?" Tanyaku tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
Dia tertawa. "Ini bukan pertama kalinya kau melihatku hamil kan?"
Jelas tidak.
Entah berapa lama aku melihat kearah perutnya yang membesar. Aku tidak mau memperkirakan berapa usia kehamilannya. Aku tidak ingin mendengar pria lain pernah menyentuhnya, tidak ingin mendengar kalau dia sedang mengandung anak dari pria lain.
"Duduklah, Evan."
Rasanya aku memang membutuhkan tempat duduk. Aku merasa kakiku berubah menjadi ubur- ubur bahkan aku tidak yakin kalau saat ini aku menyentuh lantai.
Aku tidak tahu apa yang dilakukannya hingga dia datang sambil membawa secangkir kopi hangat.
"Apa kabar? Kau terlihat kacau". Dia bersandar di mejanya sambil memegang perutnya.
Aku kacau karena dirimu dan lihat, apa yang baru saja kau tunjukkan padaku? Kau hamil?
"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku.
Siapa dia? Apa dia Paul?
"Baik. Kau?"
Tidak baik. "Apa kau bahagia?"
"Sangat".
"Ya. Aku bisa melihatnya".
Dia tersenyum. "Bagaimana keadaan, Vano?"
Kau masih mengingatnya tapi kau tega meninggalkannya. "Dia berubah." Ku pikir dia berhak mengetahui hal ini.
"Berubah? Apa terjadi sesuatu?"
"Aku tidak tahu tapi dia menjadi anak yang pendiam."
"Oh. Maafkan aku".
Kupandangi dia. Kau memang harus meminta maaf, Sunshine tapi apakah itu akan mengubah segalanya? Aku meragukannya.
"Kenapa kau meminta maaf. Bukan kau yang membuatnya seperti itu kan?"
Seketika matanya terlihat terperanjat, kemudian kembali seperti biasa. "Apa yang ingin kau bicarakan, Evan?" Tanyanya.
"Apa yang kau katakan?"
"Kau tidak mungkin datang menemuiku kalau kau tidak ingin mengatakan sesuatu."
Untuk pertama kalinya semenjak aku menginjak ruangannya, aku tersenyum. Gadis pintar. "Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku?"
Kami berdua saling menatap dalam diam hingga terdengar suara ketukan dan memunculkan Lue dengan beberapa baju dalam deretan.
"Terima kasih, Lue". Ucapnya.
Aku memberi Lue sebuah senyuman hingga dia menghilang di balik pintu.
Aku berbalik bersamaan dengan suara dengusan pelan.
"Kau seharusnya tidak melakukan itu."
"Melakukan apa?"
Sia memutar matanya dan harus kuakui, aku juga merindukan ekpresinya yang seperti itu. Terakhir kali dia mengucapkan kalimat itu ketika kami makan berdua di sebuah restoran dimana waktu itu aku melihat seorang pelayan perempuan yang tidak sengaja menjatuhkan air di meja kami.
Tunggu. Apa itu berarti dia baru saja cemburu?
"Kembalilah, Evan".
Apa?
"Kembalilah setelah urusanmu di sini selesai."
"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Kau tidak seharusnya meninggalkan Vano sendirian."
Cukup. Aku tidak tahan lagi.
"Jadi, apa kau berpikir kalau hanya kau yang bisa melakukannya? Meninggalkan Vano? Anakmu?" Tanyaku. Berdiri hingga kami berhadapan.
Tidak ada jawaban.
"Siapa dia?" Tanyaku sebelum aku meninggalkan kantornya.
"Eh?"
"Apa dia Paul?"
Keningnya seketika mengernyit, "Paul? Apa yang..."
Damn!
"Aku mengerti. Pasti kan kau menghubungiku kalau kau akan melahirkan."
Aku bertemu Pierre di depan ruangan Sia. Dari wajahnya, aku bisa menebak kalau dia baru saja tahu kebenarannya.
"Evan?"
"Tidak sekarang, Pierre. Oh, dan aku akan langsung menuju bandara. Kita bisa membicarakan langkah selanjutnya melalui telpon, email atau apapun itu. dan katakan pada Joan rasa terima kasihku."
Pengecut memang tapi aku tidak ingin melihatnya bersama dengan pria lain. Berangkulan, tertawa atau bahkan berciuman. Aku membenci si brengsek yang telah membuatnya hamil. Sangat benci.
"Evan".
"Sampai nanti, sobat dan terima kasih."
Dan aku langsung menyetop taksi dan menyuruh si sopir untuk membawaku ke bandara. Biar barangku nanti di ambil oleh orang suruhanku. Aku juga tidak peduli kalau Pierre ingin membuangnya.
Sangat tidak peduli.
***
Comments
Post a Comment