FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA LIMA

Dahiku seketika berkerut ketika melihat salah satu sahabatku, Pierre sedang melambaikan tangannya dengan penuh antusias ke arahku setibanya aku di Prancis.

Aku, Ron dan Pierre sudah bersahabat ketika masih berada di Junior High School sebelum dia memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya dalam bidang fashion di Prancis sementara aku dan Ron lebih memilih tetap berada di London.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku.

"Dasar teman tidak tahu di untung. Apa kau tidak lihat aku menjemputmu?" Sungutnya.

"Dan darimana kau tahu kalau aku akan datang hari ini?"

"Memang kau pikir darimana lagi? Dan jangan pernah berpikir untuk menginap di hotel. Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan kamar untukmu."

Aku terlalu lelah untuk berdebat dengannya kali ini dan menyeret koperku, meninggalkan bandara menuju mobilnya.

Alasan aku memilih perusahaan Pierre adalah karena perusahaan miliknya memiliki prospek yang sangat menguntungkan, menilik dari perkataan Ron dulu kalau beberapa bulan terakhir ini perusahaan Pierre mengalami peningkatan dan menyuruhku untuk berangkat ke Perancis secepatnya sekalian agar aku bisa merilekskan pikiranku. Khusus untuk merilekskan pikiran. Itu adalah saran Ron dan Ben.

Aku baru saja turun dari mobil Pierre ketika melihat seorang wanita yang menyunggingkan senyum manis kearahku

"Hai, Kamu pasti Evan." Ucap wanita itu seraya mengulurkan tangannya kearahku.

"Hai dan kamu adalah...?"

Seketika wanita itu memberikan tatapan tajam pada Pierre yang dibalas oleh pria itu dengan sikap terkejut sekaligus bersalah.

"Aku Joan."

"Aku Evan."

"Aku tahu. Pierre sudah menceritakan semuanya tentangmu dan oh, apa Ron tidak ikut bersamamu?"

Keningku berkerut, "kau mengenal Ron?"

Joan tertawa, "tentu saja. Kami sudah bertemu beberapa kali. Masuklah Evan." Ajaknya mempersilahkan.

Aku memandang takjub isi rumah Pierre. Rumah ini bisa di katakan sebagai rumah dengan taman- taman kecil serta kolam ikan yang tampak sangat asri dan nyaman.

"Joan yang menata semua ini." Bisik Pierre menyadari aku yang sedang menatap kagum desain interior rumahnya.

"Aku dengar kau sudah menikah. Apa istrimu tidak ikut?" Tanya Joan. Dari sudut mataku, kulihat Pierre menegang di tempatnya.

Aku tersenyum, menjawabnya. "Tidak Joan."

Joan baru saja akan bertanya lagi ketika Pierre memotongnya, "Eh baby, apa kamar Evan sudah beres?" Kutebak Pierre hanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Eh hm... kurasa Mrs. Rosetta sudah membereskannya." Jawab Joan kemudian beralih melihatku, terlihat sangat menyesal. Mungkinkah mereka melakukan telepati? Karena aku sama sekali tidak menyadarinya. "Maaf, Evan."

Aku tersenyum, tidak ingin mempermasalahkannya. Mungkin Ron sudah menceritakan semuanya pada Pierre. Jadi setelah menyantap makan malam, Pierre dan Joan menyuruhku untuk langsung beristirahat dan memang itu yang kuperlukan. Aku juga sedang tidak mood untuk melakukan sesi tanya- jawab dengan mereka jadi setelah mengucapkan selamat malam. Aku berjalan menuju kamar yang sudah di tunjukkan oleh Joan.

Melalui videocall, aku menghubungi Vano melalui ponsel ibuku.

"Hai, jagoan." Sapaku ketika melihat wajah Vano muncul dilayar. Dia masih menolak untuk melihatku secara langsung. "Bagaimana keadaanmu?"

"Baik, Pa."

"Maaf tadi Papa tidak sempat menghubungimu." Dia mengangguk kecil. "Apa yang kau lakukan hari ini?" Seperti biasa aku akan menanyakan hal yang sama setiap harinya. Aku tidak mau hubunganku dengan anak yang kusayangi dengan segenap jiwaku ini semakin menjauh.

"Menonton dan membaca".

"Tidak bermain? Bukankah dulu kau suka bermain?"

Tidak ada jawaban.

"Vano, bisakah kau melihat Papa saat bicara?" Pelan- pelan dia mengangkat kepalanya. "Apa terjadi sesuatu?" Kembali tidak ada jawaban. Kuhembuskan napasku, "dengar Vano, kamu bisa mengatakan apapun pada Papa dan Papa janji tidak akan marah." Masih tidak ada jawaban. "Baiklah. Pasti kan kau tidak tidur terlalu malam. Papa akan menutup telponnya, I love you, jagoan." Aku baru saja akan menekan tombol merah ketika aku mendengar suara lirihnya.

" I love you too, Pa. So much".

Klik.

Aku tertegun menatap layar hitam di depanku. Setelah sekian lama dia bungkam, akhirnya dia mengucapkan kalimat itu lagi.

Entah kenapa aku merasa kalau sebentar lagi hubungan kami akan membaik dan hal pertama yang akan kucari tahu adalah alasan kebungkamannya selama ini.

Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Sejak beberapa bulan terakhir ini aku memang mengalami insomnia, di tambah lagi Jetlag membuat kepalaku rasanya semakin pening.

"Bonjour, Evan".

"Bonjour, Joan." Balasku. "Kau sudah mau pergi?"

Dia mengangguk, semakin merapatkan mantelnya. "Ya. Maaf tidak bisa menemanimu. Pasienku sudah menunggu." Jawabnya dan memberi Pierre ciuman basah. Pagi yang kelewat panas. "Maaf." Ujarnya ketika melihatku, malu- malu.

"Tidak masalah." Balasku maklum.

Pierre kembali setelah mengantar Joan keluar, wajahnya memerah dan bibirnya seperti bertambah volumenya, yang bisa kupastikan kalau mereka kembali berciuman di luar tadi.

"Dia luar biasa." Ucapnya memuja.

"Aku tahu." Balasku yang langsung membuatnya nyengir. " kudengar kalian sudah bertunangan."

"Sebenarnya aku sudah memintanya menikah denganku 3 bulan yang lalu tapi dia memintaku untuk menunggu. Katanya dia perlu fokus pada seorang pasiennya."

"Pasien?"

"Dia seorang dokter. Tepatnya dokter kandungan."

Wow.

"Paling tidak dia sudah menerima lamaranmu kan?" Ucapku menghiburnya. Harus kuakui àku senang pada akhirnya Pierre sudah tidak bergonta- ganti pasangan lagi dan Joan sepertinya wanita yang tepat dalam hal mengontrol Pierre.

Dia mengangguk. Jelas dia sudah tidak sabar untuk memiliki Joan seutuhnya. Aku juga pernah merasakan perasaan itu, meskipun waktu itu perasaanku masih abu- abu. Ahhh betapa aku merindukannya. Di mana dirimu, sunshine?

"Apa kau mau berkeliling Prancis dulu?"

Kupandangi Pierre. "Apa berciuman didepan mendadak membuatmu gegar otak? Diluar salju kan? Tidak. Kita langsung ke kantormu saja."

"Benar kata Ron. Kehilangan istrimu membuatmu terlihat berdarah dingin." Yang langsung membuatku melayangkan tatapan tajam padanya. "Okey sobat, satu jam lagi kita berangkat." Ucapnya dan berlari meninggalkanku seorang diri di meja dapurnya.

Dalam hati, aku bertaruh akan membuat Ron menyesal telah menceritakan hal yang bukan- bukan padanya. Entah apalagi yang sudah diceritakan Ron pada Pierre sebelum keberangkatanku ke sini.

Pierre memang tidak pernah bertemu Sia. Ketika kami menikah dulu, Pierre tidak bisa datang karena sedang berada di Belanda dan hanya saling bertukar kabar melalui telpon.

"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanyanya di sela aku yang berkeliling melihat kantornya.

Aku mengangguk. "Tidak buruk"

"Tidak buruk katamu? Apakah perbendaharaan kata- katamu sudah habis? Kau satu- satunya orang yang mengatakan kata itu tentang kantorku dan kau menganggapku sebagai sahabatmu? Sukar di percaya!"

Kupandangi Pierre dengan kening berkerut. "Apa kau yakin kau adalah Pierre dan bukan Joan? Kenapa kalimatmu panjang sekali?" Tanyaku.

"Wow." Dia menatapku tidak percaya dan jelas sakit hati.

Kuacuhkan dia, "kurasa designermu bekerja keras. Aku tidak terlalu mengetahui tentang fashion tapi hasil rancangannya bagus." Pujiku tulus.

Lagi- lagi dia menatapku seakan aku baru saja meletakkan granat di mulutnya. "Apa kau bercanda? Beberapa dari rancangan ini ada yang menjadi favorit model dan sosialita ternama."

"Baguslah. Kalau begitu kerja sama kita tidak akan sia- sia".

"Cuaca Prancis sepertinya membuat otakmu sedingin salju. Kenapa otak dan mulutmu sepertinya mengikuti cuaca di sini?"

Aku kembali mengacuhkannya dan melihat salah satu dress yang dikenakan salah satu manekin di dekat pintu masuk, sangat menarik perhatianku. Sepertinya aku pernah melihat rancangan seperti ini sebelumnya tapi aku tidak tahu dimana.

Dress itu terlihat sederhana dan berwarna putih dengan tali tipis di sekitar pinggangnya berwarna pink tapi entah kenapa terlihat sangat elegan dan manis.

"Manis kan? Aku juga menyukainya dan aku tidak menjualnya." Tegasnya padaku. Aku semakin memperhatikan detail dress itu ketika mendengar suara Pierre bertanya pada salah seorang perempuan berambut pendek dengan mata kecil. " Lue, apa Anastacia sudah datang?"

Perempuan itu menatapku dengan sangat intens dan aku tahu maksud dari tatapan itu.

"Lue?"

"Eh tadi dia bilang akan tiba sebentar lagi". Jawab Lue tergagap.

Pierre mengangguk kemudian kembali melihat kearahku, "ingat, kau sudah punya seorang istri." Bisik Pierre ditelingaku.

"Aku tidak mengatakan apa- apa." Balasku merasa tersinggung. Memang dia pikir aku ini seperti apa?

Dia lalu menepuk pundakku dengan gaya soknya yang ku benci. "Aku tahu. Hanya mengingatkanmu."

Ku putar mataku, jengah. "Siapa yang membuat ini?" Tanyaku seraya menunjuk dress yang menjadi perhatianku.

"Oh. Namanya Anastacia. Sebenarnya aku sudah memintanya cuti tapi dia menolak."

"Kenapa?"

"Dia hamil, sobat tapi dia memaksa menyelesaikan gambarnya sebelum dia cuti."

"Kalau begitu jangan membuatnya bekerja terlalu keras." Melihat wanita hamil selalu membuatku teringat pada Sia yang dulu hamil.

"Tentu saja. Tapi jangan sampai tertarik padanya karena meskipun dia sedang hamil tapi dia masih terlihat cantik dan menarik."

"Apa Joan tahu kalau kau menyukai salah satu pengawaimu dan sedang hamil?" Tanyaku curiga. Setahuku Pierre bukanlah tipe orang yang mudah memuji orang lain atau apa dia sudah berubah?

Tanpa kuduga dia tertawa. "Tentu saja. Dia adalah teman dari sepupu Joan, Joan juga mengenalnya bahkan diajuga mengakui hal itu."

Wow. Aku semakin takjub mengenal Joan. Bagaimana cara dia bisa mendapatkan hati playboy satu ini? Bisa kulihat dari cara Pierre memandang kalau dia hanya mengagumi designernya itu.

Lalu waktu terasa berhenti ketika telingaku menangkap suara tawa yang sudah lama tidak pernah kudengar bersamaan dengan aroma lavender dan hembusan angin dingin ketika pintu dibuka.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS