FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA PULUH

"Lepaskan." Seru Sia tidak tahan disaat Evan justru menyeretnya dengan kasar, menjauh dari Paul yang saat ini di tolong oleh petugas depan hotel. "Apa yang kau lakukan?!" Sergahnya marah. Dia menyentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman menyakitkan Evan.

Sia tidak mengerti. Tidak ada badai, tidak ada tsunami ditambah bagaimana dia mendiamkan dirinya selama ini, dan kemudian secara mendadak Evan muncul dengan amarah yang terlihat jelas tapi dibandingkan itu semua, Evan bahkan sampai harus memukul orang yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan ini semua dan dari semua itu, itu membuatnya marah, jengkel bercampur kecewa. Evan yang dulu di kenalnya bukan lagi Evan yang saat ini berada dihadapannya.

"Kau? Apa yang kau lakukan, hah?" Balas Evan tidak kalah kerasnya. "Apa maksudmu berpelukan dengan si brengsek itu dan di depan hotel? Apa kau bermaksud menginap di hotel ini dan bermesraan dengan si brengsek?"

Plak....

Menyusul hal itu, sebuah tamparan keras telah berada di pipi Evan.

"Jaga bicaramu, Evan!" Kata Sia dingin. Dia tidak menyangka Evan akan berpikiran tentangnya seperti itu tentang dirinya.

Sehina itukah dirinya sekarang?

Evan yang merasakan tamparan dari Sia justru tersenyum dan dengan kasar memasukkannya ke dalam mobil.

"Aku bawa mobil ke sini." Elak Sia berusaha untuk keluar dari mobil Evan.

"Diam atau aku tidak akan segan- segan menghancurkan segalanya termasuk mobil sialanmu itu di sini!"

Evan melajukan mobilnya seperti orang kesurupan. Sia bahkan harus menahan napas dan menggigit bibir bawahnya agar dia tidak berteriak ketika hampir beberapa kali mobil yang mereka kendarai hampir menabrak mobil lain.

Setelah berada diparkiran tempat tinggalnya, kembali Evan menarik Sia dengan paksa keluar dari mobil dan menyeretnya hingga masuk ke dalam lift. Didalam lift pun, tidak sedikitpun Evan melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Sia hingga mereka berada didepan pintu.

"Aku tidak apa- apa, Tia. Apa Vano sudah tidur?" Tanya Sia berusaha untuk tidak membuat masalah menjadi semakin besar.

Tia terlalu kaget melihat kejadian di depannya. Sepanjang dia menjadi pengasuh Vano, Evan sama sekali tidak pernah memperlihatkan emosi seperti kesetanan seperti ini.

"Malam ini kamu tidur sama Vano saja ya dan jangan biarkan dia...". Tia mengangguk mengerti bersamaan dengan Evan yang semakin menyeretnya hingga masuk ke dalam kamar mereka.

Evan lantas menghempaskan tubuh Sia ke lantai hingga lututnya membentur lantai dengan keras. Sambil meringgis menahan sakit, Sia bangkit dan melihat Evan yang sedang mengunci pintu.

Secara otomatis, Sia menyilangkan tangannya sebagai usaha pertahanan diri juga untuk menjaga tangannya supaya tidak lagi menampar Evan. Dia seperti merasa ikut merasakan sakitnya ketika menampar Evan dan dia tidak suka hal itu.

Sementara itu, Evan yang melihat sikap Sia di depannya kembali teringat ketika ia melamar Sia dulu di rumah Thalia. Sikapnya itu terlihat sangat menggemaskan dihadapannya. Kemudian kembali ingatan tentang Sia yang memeluk Paul di depan hotel kembali terlintas. Ditambah ini kali pertama mereka bertengkar sedahsyat ini setelah berbulan- bulan saling berdiam diri dan malam ini sebenarnya dia ingin meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Dia menyadari Sia juga terluka atas kehilangan anak mereka dan bukan salah Sia sepenuhnya jika ia harus jatuh di tangga rumahnya sendiri.

Tapi apa yang didapatnya malam ini adalah Sia sama sekali tidak ada di rumah dan Tia mengatakan kalau Sia keluar dengan terburu- buru ke hotel. Dia menunggu, masih dengan sabar. 2 jam... 3 jam...masih tidak ada kabar tentang kehadiran Sia dan sialnya, Sia justru mematikan ponselnya.

Jadi, setelah menyuruh Tia untuk menemani Vano di rumah karena Sarah juga sedang berada di pesta pernikahan temannya, membuat Vano tidak ada yang menjaga.

Lalu hal yang paling dibencinya tiba. Evan melihat Sia sedang berpelukan dengan lelaki brengsek yang pernah ingin menidurinya dan yang semakin membuatnya tidak percaya adalah Sia tersenyum dan itu adalah senyum yang paling menawan yang tidak pernah diperlihatkan Sia lagi padanya selama berbulan- bulan ini.

"Sekarang aku mengerti." Ucap Evan membuat Sia mengernyit. "Kau berpura- pura waktu itu." Lanjutnya.

"Apa yang kau..."

Tapi belum sempat Sia menyelesaikan kalimatnya, Evan sudah meraihnya dan mendorongnya hingga Sia berada di atas tempat tidur sementara Evan berada di atasnya.

"Kau berpura- pura malam itu. Malam ketika kita melakukan hubungan seks pertama kali. Sejak awal kau memang sudah ingin melakukannya dengan si brengsek itu tapi kemudian aku datang dan kau berbalik arah menyerangku".

"Ap- apa yang kau katakan?" Sia berusaha melepaskan jeratan tangan Evan yang semakin erat.

"Kau milikku, Sia." Ucapnya penuh penekanan.

Sia merinding. Ini pertama kalinya dia melihat tatapan Evan yang seperti ini. Kejam dan sulit untuk di jelaskan meskipun bibirnya menyunggingkan senyum.

"Lepaskan".

Dengan sekuat tenaga, Sia melepaskan jeratannya dan baru akan kabur dari kamar itu ketika Evan kembali meraihnya hingga pakaian yang di kenakannya robek, memperlihatkan bra hitam miliknya.

"Ap- apa yang akan kau lakukan?" Kali ini Sia benar- benar takut. Dia tidak pernah merasa setakut ini dalam hidupnya, terlebih lagi ketika Evan mulai membuka baju dan celananya di depan Sia.

"Hanya ingin mengingatkanmu kalau kau adalah milikku". Jawab Evan dingin.

"Evan.... Evan, jangan lakukan ini. Aku mohon". Pinta Sia memelas tapi semakin membuat Evan kalap.

Ditariknya Sia yang berusaha melepaskan diri tapi tenaga wanita itu tidak cukup kuat untuk melawan dan dalam sekali sentak, baju yang dikenakan Sia sudah robek semuanya dan hanya menyisakan bra hitam miliknya.

"Kau menyakiti hatiku dengan penolakanmu, Sunshine." Ujar Evan semanis madu tapi juga tersirat nada dingin darinya.

Air Mata Sia mulai berlinang, "Evan, please." Pinta Sia lagi ketika Evan sudah berada di atasnya dan mencium lehernya dan menyentakkan kaitan bra Sia dan melemparkannya ke lantai. Menyisakan hanya celana dalamnya saja.

"Please apa sayang".

"Evan, tidak seperti ini. Kita bisa bicarakan. Aku... Aku mencintaimu Evan tapi tidak seperti ini."

Hati Evan berdesir mengingat pernyataan cinta Sia tapi penolakan yang dilakukan Sia tadi benar- benar melukai harga dirinya. Bagaimana kalau ternyata dia hanya pura- pura lagi?

Evan tersenyum. Bukan senyum tulus yang biasa diperlihatkannya ketika mereka bercinta dulu tapi senyum dingin da Sia tidak suka Evan nya yang seperti ini.

"Aku juga mencintaimu, Sunshine".

Sia berusaha menolak segala ciuman dari Evan hingga Evan menggigit bibir bawah Sia, membuatnya kesakitan dan Evan menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke mulut Sia.

Evan memasuki Sia bahkan sebelum wanita itu siap dan itu membuatnya sangat kesakitan. Tidak hanya sekali, Evan bahkan melakukannya hingga jam 4 pagi.

Air mata Sia tidak bisa berhenti mengalir berbalik ketika mendapati Evan yang tertidur membelakanginya.

Dengan langkah pelan, Sia berjalan menuju kamar mandi dan semakin terisak memandangi dirinya yang terlihat kacau. Mata bengkak, bibir membengkak dan berdarah. Sia tidak tahu apakah itu karena perbuatannya atau Evan, Sia tidak mau memikirkannya. Belum lagi belur- belur biru di sekitar tangannya akibat genggaman tangan Evan tadi dan lutut yang memar. Semua itu terasa tidak ada apa- apanya dibandingkan apa yang tadi dilakukan Evan padanya.

Setelah mencuci mukanya dan menenangkan dirinya, dia keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaian. Di keluarkannya beberapa pakaian seadanya dan menaruhnya dalam tas ransel supaya dia tidak terlalu repot.

Setelah berganti pakaian dengan celana jeans panjang dan sweater hangat ditambah topi untuk menutupi dan kacamata. Untuk terakhir kalinya Sia melihat kearah Evan.

"Aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau aku akan pergi meninggalkanmu dan Vano." Dia menahan dirinya untuk tidak terisak. "I am gonna miss your voice, your smell, your laugh, your smile and everything about you. I love you, Evan and.... goodbye."

Bersamaan dengan itu, Sia menutup pintu dibelakangnya dengan pelan. Meninggalkan semuanya. Keluarganya dan juga.... kenangannya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS