FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA SATU
Kate POV...
Paris.
Ouch shit.
"Kate?" Aku berbalik dan mendapatinya sedang berdiri melihatku dengan alis yang saling bertaut, "apa yang sedang kau lakukan?" Jelas sekali dia berusaha untuk tidak tertawa.
Bagus. "Aku mau membakar apartemenku sendiri, keberatan?" Tanyaku kesal.
Sia berusaha untuk tidak menyunggingkan senyumnya, tahu itu akan semakin membuatku kesal.
"Mau kubantu?" Tawarnya.
Mataku seketika melotot, "apa kau gila? Dan mempersempit ruang gerak di dapurku sendiri karena tubuh gendutmu saat ini? Tidak. Terima kasih."
"Well, setidaknya aku sudah mencoba ramah."
Sulit dipercaya kenapa aku dulu bersedia membantunya. "Tidak. Bisakah kau hanya duduk sementara aku menyiapkan sarapan untuk kita berdua?"
Aku melihat dari sudut mataku kalau dia sedang menghela napas dan memutuskan untuk mengalah pada akhirnya, dengan susah payah dia mengambil kursi yang terletak didekat meja dan mendudukinya.
Setelah 1 jam yang kurasa seabad bagiku, akhirnya sarapan untuk kami berdua siap. Sia menatapku bergantian dengan makanan yang baru saja kusodorkan padanya.
"Kau yakin ini bisa dimakan manusia?" Tanyanya tanpa sedikitpun rasa bersalah di wajahnya karena telah menghina masakanku.
"Jangan lihat dari tampilannya, okey?" Jawabku jengkel. "Aku memang tidak selihai dirimu dalam hal memasak. Ugh! makan saja yang ada!" Kali ini aku sedikit berteriak padanya setelah melihat sudut bibirnya yang berkedut aneh.
"Astaga Kate, kau membuat bayiku kaget." Katanya seraya mengusap- usap perutnya yang sudah semakin membesar. "Apa kau baik- baik saja di sana, sayang? Jangan khawatir, bibi Kate memang seperti itu. Dia memang sedikit berbeda dari orang kebanyakan." Lanjutnya yang seketika membuatku melotot padanya.
Kupandangi Sia yang sedang asyik bercengkrama dengan bayi dalam perutnya. Melihatnya seperti itu seakan ikut juga mengirimkan pesan- pesan kebahagian untukku.
Saat ini usia kehamilannya sudah menginjak 8 bulan, sebulan lagi dia akan melahirkan tapi tidak ada seorangpun yang tahu mengenai keberadaan atau pun keadaannya saat ini.
Sebenarnya aku tahu kalau orang- orang sudah mulai mencari tahu dimana keberadaan Sia selama dua bulan ini, tidak terkecuali Evan yang selalu mencari Natasha untuk mengorek informasi tapi bahkan Natasha pun tidak tahu kecuali aku dan aku juga tidak bisa memberi tahu orang lain karena Sia memintaku untuk tidak mengatakan apapun pada orang lain tentang dirinya saat ini.
Aku masih ingat ketika pertama kali melihatnya di bandara. Keadaannya waktu itu tidak terlihat cukup baik. Dengan mata sembab, dia menunggu pesawat yang akan membawanya ke Prancis dan kebetulan aku juga sedang menunggu pesawat yang akan mengantarku ke Italy untuk pemotretan.
Ketika melihatku, tanpa di duga dia langsung menangis terisak- isak, membuatku mendapatkan tatapan penuh arti dari orang- orang.
Dia mengatakan kalau dia tidak tahu mau kemana lagi dan Prancis adalah satu- satunya negara yang ada di pikirannya saat itu jadi dia memesan tiket dengan tujuan ke Prancis.
Di dalam pesawat menuju Prancis, Sia hanya diam sambil memandangi awan. Tentu saja setelah aku mengganti tiket pesawatku sebelumnya dengan tujuan yang sama dengannya, yaitu Prancis.
Selama seminggu dia tinggal di apartemen dimana aku memang membelinya dua tahun yang lalu. Selama dia tinggal, Sia tampak seperti mayat hidup dan hanya menangis sepanjang waktu, membuatku tidak tahan.
Pada hari ke 8, tentunya dengan semua paksaan dan ancaman dariku dia mulai bercerita tentang apa yang terjadi padanya. Hubungan kami memang tidak seakrab Natasha atau Lily tapi tetap saja mendengar ceritanya, membuatku geram dan ingin meninju Evan saat itu juga.
Aku marah, tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa menerima semua perlakuan Evan selama ini dan menyembunyikannya dari kami dengan sempurna hingga kemudian aku ingat sifatnya. Sifat paling menjengkelkan dari dalam dirinya yang paling tidak kusukai.
Ya, sifat altruismenya. Sifat yang menjadi penyebab kenapa aku sangat membencinya. Sia lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Istilahnya sih, dia terlalu baik dan karena ' saking baiknya', dia rela menanggung rasa sakit seorang diri. Sesuatu yang kuanggap tidak masuk akal dalam hidup ini. Diakan bukan malaikat, sekali- kali menjadi jahat tidak akan langsung membuatmu masuk kedalam neraka.
Sebulan berada di Prancis, dokter menyatakan kalau dia hamil 2 minggu dan tiga minggu kemudian kami bersama- sama berangkat ke London untuk menemui Evan dan memberitahukan tentang berita ini tapi baru saja kami tiba di depan pintu yang menuju tempat tinggal mereka dulu. Kami... ralat, Sia melihat Evan dan Sarah saling berpelukan dan tertawa sementara Vano berada dalam pelukan Sarah. Tanpa mengatakan apa- apa lagi, Sia sontak pergi dari tempat itu dan langsung mengambil penerbangan menuju Prancis kembali.
"Kate... Hey Kate". Teriakan Sia kembali mengagetkanku.
"Apa sih?"
"Apa kau sedang melamun jorok ya?"
What?!
Kuberi dia tatapan tajam setajam silet ketika telingaku mendengar suara tawanya.
"Kau mengacuhkanku jadi kupikir kau sedang memikirkan hal- hal jorok lainnya".
"Hal- hal jorok lainnya, katamu?" Tidak dapat di percaya. Ternyata sikap baikku selama ini tidak dianggapnya sama sekali. "Apa yang kau inginkan?" Tanyaku mulai kembali kesal.
Sia terkekeh, "aku hanya bertanya- tanya, apakah kau harus ke London hari ini?" Tanyanya.
Keningku sedikit terangkat, "ya. Aku kan ada pemotretan di sana dan Natasha serta Lily akan bertanya- tanya jika aku menolak mengingat dia juga tahu jadwal pemotretanku selama ini."
Kulihat Sia mengangguk sambil mempermainkan garpunya. " well, kupikir kau mungkin bisa tidak pergi kesana. Aku hm ... aku agak kesepian disini." Ucapnya lirih tapi terdengar sangat jelas di telingaku.
Wait, what?
Kupandangi Sia dan perut buncitnya, merasa aneh. Tidak biasanya dia berkomentar seperti ini, mengingat aku selalu saja pergi untuk pemotretan dan meninggalkannya. Hingga aku mengerti apa yang selama ini dia rasakan. Dia hanya pura- pura bersikap tegar tapi sebenarnya dia rapuh.
"Jangan khawatir. Aku berada disana hanya 3 hari. Setelah itu aku akan kembali lagi kesini". Jawabku cuek. Dari sudut mataku dia menoleh kearahku dan tersenyum.
Huft...bisakah dia lebih polos lagi dari ini?
"Hey Sia," aku kembali menatapnya, "apa sebaiknya aku memberitahu tentang keberadaanmu pada Natasha dan juga Lily?" Seketika keningnya terangkat, " kurasa mereka juga berhak tahu dimana kau selama ini". Lanjutku.
Seperti yang sudah kuduga dia menggeleng, "akan lebih baik jika hanya sedikit yang tahu". Jawabnya, kembali memasukkan makanan ke mulutnya. "Oh iya, ngomong- ngomong makananmu enak terlepas dari tampilannya yang sangat buruk".
Dan dia membuatku merasa ingin menjejalkan semua makanan ini kedalam mulutnya.
***
Comments
Post a Comment