FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA SEMBILAN

Rasanya udara di sekelilingku mendadak lenyap dengan kehadirannya di dapur mungil Kate. Mataku tidak bisa berhenti mengerjap. Wajahnya tidak seberantakan atau sekusut seperti terakhir kali kami bertemu dan entah mengapa itu membuat jantungku semakin berdetak dengan kencang.

Bukan berarti ketika kami bertemu di kantor Pierre dulu, jantungku tidak berdetak seperti ini tapi entahlah, kenapa sekarang malah terasa semakin berbeda.

God, help me! I still fall for him.

"Apa yang..."

Ahh sial, itu tadi bukan suaraku.

Aku berusaha menghilangkan suara desah yang baru saja keluar dari tenggorokanku. "Apa yang kau lakukan di sini, Evan?"

Nah, ini baru suaraku yang normal.

Sebelah keningnya mengernyit. Ah sial. Apa dia baru saja menggodaku?

Bibirnya melengkung aneh yang kuduga dia berusaha untuk tidak tertawa.

Apa- apaan dia?!

"Sia!"

Keningku seketika mengernyit mendengar suara itu dan benar saja, sedetik kemudian dia muncul dari arah belakang Evan dan menubrukku. Untung saja aku segera bersandar di dekat kulkas.

"T-Thalia?"

Thalia melepaskan pelukannya dariku dan menatapku dengan galaknya. "Dasar adik kurang ajar! Bagaimana bisa kau pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu?" Omelnya.

Aku meringgis seraya memiringkan kepalaku sedikit menjauh darinya. Biar bagaimanapun, tatapan marah Thalia bisa mengalahkan tatapan Medusa. Alih- alih aku menjadi patung, yang ada aku akan langsung pecah berantakan. "Dan lihat ini." Aku mengikuti arah pandangannya menuju perutku yang membesar tak terkendali. "Kau bahkan tidak memberitahuku kalau sebentar lagi aku akan memiliki keponakan."

Aku meringgis sambil mengusap lenganku, merasa menyesal. "Well, sekarang kau tahu". Jawabku, memaksakan senyumku di bibir yang kutahu percuma.

Thalia lantas memberiku tatapan mendelik dan sebelum dia membalas ucapanku, aku menangkap sosok yang sangat kusayangi dan juga kurindukan selama ini, Vano melihatku di samping Evan. Tangan mungilnya memegang erat tangan Evan seraya melihat perut dan wajahku bergantian.

Apa dia marah?

"Hai jagoan." Sapaku sedikit ragu. Biar bagaimanapun, aku lah yang dulu meninggalkannya. Wajar saja jika dia merasa kecewa.

"Ma...ma?"

Kuanggukkan kepalaku, menampilkan senyum menenangkan kearahnya dan dia langsung berlari menghampiriku dan memeluk perut buncitku. Aku tidak bisa jongkok atau membungkukkan tubuhku dan hanya bisa mengusap rambutnya yang terasa halus di jari- jariku.

"Mama berhasil membawa adik bayi lagi." Serunya melihatku dengan senang.

Eh?

Aku bingung. Apa maksudnya?

Tidak lama kemudian muncul Ben, Ron dan Pierre diikuti oleh Kate di belakang. Wajah Kate juga menunjukkan keterkejutan yang luar biasa dengan kedatangan yang mendadak ini.

Pierre dan Ron melihatku dengan tatapan yang sulit kugambarkan tapi aku sempat mendengar mereka mengucapkan kata wow sebelum Evan mengucapkan sesuatu kepada mereka berdua yang membuat mereka nyengir malu- malu.

Ada apa dengan mereka bertiga? Dasar aneh.

"Hai adikku." Ben mendadak muncul dibelakang Evan dan menghampiri kemudian mulai mengacak- acak rambutku. Aku selalu membenci jika dia melakukan itu padaku dan dia melakukannya lagi. Dia tertawa melihat ekpresiku. "Kau membuat kami semua khawatir dengan hilangnya dirimu. Hampir saja kami menyewa international agent hanya untuk mencari tahu keberadaanmu." Lanjutnya.

Mendadak aku merasa ngeri. "Kau tidak mungkin melakukannya." Kataku tapi tetap saja pemikiran dia melakukannya membuat sekujur tubuhku bergerak tidak nyaman.

Ben tertawa. "Jika kau melakukannya lagi, akan kupastikan dengan segenap jiwaku akan melakukannya dan bisa kupastikan juga kau tidak akan menyukainya."

Apa? Yang benar saja!

"Jadi bagaimana kabarmu?" Tanyanya kemudian.

"Setelah aku mendengar pernyataan yang bernada ancamanmu tadi, kau menanyakan kabarku?" Aku tidak bisa mencegah nada tidak percaya dalam suaraku ketika menjawab pertanyaannya barusan, membuatnya kembali tertawa.

"Maaf menganggu pembicaraan kalian tapi aku perlu bicara dengan Sia dulu." Tiba- tiba Evan sudah berdiri di sampingku. " Vano, apa kau tidak keberatan jika bermain dengan Ron dulu?" Tanya Evan kepada bocah di depannya. Vano mengangguk semangat.

Vano tidak terlihat pendiam seperti yang dulu di ceritakan Evan. Dia malah terlihat senang. Sangat senang. Apa Evan berbohong?

"Dimana kamarmu?" Tanyanya yang langsung membuatku melonggo.

Hah? Apa dia gila?

Kupandangi orang- orang di sekitarku yang memandangku dan Evan dengan tatapan penuh arti.

"Aku tidak tahan lagi." Lanjutnya dan langsung meraih tanganku. "Kate, dimana kamar Sia?"

"Eh Sia?" Kate terlihat kaget dengan pertanyaan Evan dan kemudian kedua matanya melihat kearah tanganku yang dipegang dengan erat oleh Evan. "Di ujung lantai dua". Jawab Kate tersenyum.

Dasar Kate sialan!

"Lantai dua?" Aku menoleh melihat wajah tidak setuju Evan. Apa lagi masalahnya?. "Baiklah. Ujung lantai dua." Jawabnya dan tak tanggung- tanggung dia memegang tanganku agar mengikutinya menuju kamarku sendiri. Apa sih masalahnya pria ini?! Aku mulai merasa kesal padanya.

"Tunggu, Evan" mendadak aku menghentikan langkahku, membuatnya harus ikut berhenti juga.

"Ada apa? Apa kau lelah? Ingin kuangkat?"

Ku putar mataku, jengah tapi cukup membuat jantungku berdetak semakin kencang. "Jangan konyol Evan. Aku hanya perlu mengatakan pada Kate mengenai brownis yang kubuat." Sejenak dia terdiam lalu mengangguk mengerti tapi alih-alih aku yang mengatakannya, Evan justru yang menyampaikannya. Tentu saja dengan setengah berteriak, membuatku melotot dan jelas itu membuatku kesal lalu kembali membawaku pergi.

Ada apa sih dengan dia?

"Duduklah." Perintahnya ketika kami sudah berada di dalam kamarku sendiri.

Aku duduk dengan kesal di atas tempat tidurku.

"Apa yang kau inginkan, Evan?" Tuntutku karena dia sama sekali tidak bersuara dan malah asyik memandangi kamarku.

"Kamarmu nyaman." Komentarnya.

"Aku tahu. Jadi apa kau mau menjelaskan padaku kenapa kau membawaku ke sini?"

"Bukankah ini kamarmu?" Tanyanya pura- pura

Entah sudah berapa kali aku memutar mataku dalan kurun waktu sesingkat ini. "Kau tahu dengan jelas apa maksudku Evan. Dan lagi kenapa kau membawa Ben dan Thalia ke mari? Apa kau berniat mengeroyokku dengan banyaknya orang yang kau datangkan, kan?"

"Begitukah menurutmu?"

"Aku sedang tidak ingin bercanda, Evan."

"Aku pun juga begitu, Sunshine". Kami berdua saling bertatapan lama. "Lagipula kurasa sebentar lagi mereka datang."

"Apa maksudmu?" Mendadak aku merasa curiga.

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, ada baiknya kalau kau membuka bajumu lebih dahulu."

"Apa?" Aku terkejut dan tanpa sadar menyilangkan kedua tanganku menutupi dada.

Sejenak Evan menatapku bingung hingga pemahaman terlihat jelas di wajahnya. Oh sial. Terlambat. Dia sudah tertawa melihatku. "Aku hanya akan memintamu untuk mengganti bajumu dengan yang lebih tertutup. Itu saja. Apa kau tidak sadar bagaimana penampilanmu saat ini? Kau terlihat... Hmm ..sudahlah pokoknya ganti yang lain dulu."

Aku terdiam. Menolak permintaannya.

"Aku tidak akan berhubungan seks denganmu, Sia."

Sekejap saja mulutku terbuka lalu tertutup kemudian terbuka lagi. Sial! Kuputuskan untuk menetapkan istilah diam adalah emas dalam situasi seperti ini. "Meskipun aku sangat ingin tapi kurasa tidak sekarang." Okey, sekarang aku sukses melotot padanya yang dibalasnya dengan tertawa. Apakah dia selalu semenyebalkan ini?

Evan lalu mulai mengobrak- abrik lemari bajuku dan kemudian mengulurkan sehelai baju berwarna merah muda yang kelewat tertutup. Aku langsung memberi Evan tatapan mendelik.

"Kau akan membunuhku dengan pakaian itu, Evan." Ucapku tidak suka.

"Kenapa? Menurutku bagus."

Apa dia serius?

"Aku akan mati kepanasan kalau memakai itu."

Aku tidak tahu alasannya tapi tiba- tiba wajah Evan berubah. "Aku tidak akan membiarkanmu mati." Ucapnya sedih.

Hah?

"Pakai sweater saja". Ucapku tidak tahan melihat raut wajahnya. "Sweater terlihat lebih baik jika dipadu- padankan dengan baju yang kukenakan sekarang. Dan hey, lihat! Ada kancingnya jadi kau tidak perlu khawatir dengan tatapan orang- orang." Ujarku menghiburnya.

Dia terlihat tidak setuju dengan pilihanku dan melihat sweater yang baru saja kukeluarkan dari lemariku.

"Dari caramu tadi berbicara, kau seolah- olah seperti sedang berbicara dengan Vano, alih- alih padaku."

Memang! Kau lebih kekanak- kanakan daripada Vano! Aku memberenggut dalam hati.

Kuhela napasku dan berujar. "Dengar, aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku kepanasan. Okey, mungkin ini terdengar konyol."Aku sengaja terlihat tidak peduli. "Kate juga sudah menanyakan hal itu tapi aku serius. Aku benar- benar kepanasan. Dan oh, ini normal". Potongku ketika aku melihat ekspresi ingin menyanggahnya.

Aku tersenyum merasa sudah memenangkan pembicaraan ini.

"Dan bagaimana kita menutupi kakimu?"

Oh tidak! Jangan lagi.

Aku langsung memegang kedua pipinya menggunakan tanganku. "Bagaimana?"

"Kau hangat." Sahutnya tampak terkejut.

Kuputar kembali kedua mataku. "Tentu saja. Bukankah tadi sudah kukatakan?" Aku berusaha bersikap setenang mungkin tapi faktanya aku sudah ketar- ketir dengan sentuhan yang ku lakukan padanya.

Aku tidak tahu apakah ini karena kami tidak pernah bertemu dan melakukan kontak fisik dalam waktu yang lama atau karena hormon kehamilan ini, tapi sentuhan kecil yang kulakukan dengannya membuatku seketika merasa meriang dan panas-dingin. Aku menginginkannya. Sangat.

Kulepaskan tanganku dari wajahnya pelan- pelan dan merasakan perasaan kehilangan tapi ini harus kulakukan sebelum aku lepas kendali.

"Ayo! Kuharap mereka tidak langsung menghabiskan Brownis yang baru saja ku buat." Sahutku hendak keluar dari kamarku setelah memakai sweater ketika aku mendengar dia memanggil namaku.

"Sia"

Aku berbalik dan menatapnya heran. "Hm?"

Dia berjalan hingga berada tepat dihadapanku. "Aku minta maaf". Katanya tulus seraya mengusap sebelah pipiku dengan jari- jarinya.

"Evan?"

Dan siapapun pasti akan merasa sulit berkonsentrasi jika dihadapkan dengan situasi yang tidak terduga seperti saat ini dilakukan Evan. Dia hanya menyentuhku, demi Tuhan dan otakku rasanya tidak bekerja seperti yang seharusnya.

"Aku mencintaimu, Sia. Kembalilah padaku." Pintanya.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS