FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA TIGA

Evan POV...

Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menemukan Sia. Dia seperti menghilang tanpa jejak dan sialnya lagi tidak seorang pun yang tahu dimana dan bagaimana keadaannya.

Kuacak rambutku saking frustrasinya ingin menemukannya segera. Ben yang tadinya marah denganku karena apa yang kulakukan pada Sia, akhirnya berbaik hati memberiku kesempatan kedua serta bersedia membantuku mencari keberadaan Sia.

"Evan?"

Seperti biasa Ron akan selalu datang ke ruang kerjaku, entah itu hanya sekedar melihatku atau sekedar mengawasiku. Ya. Sejak kepergian Sia beberapa bulan yang lalu, aku lebih sering menyibukkan diriku dengan pekerjaan kantor yang kadang kubawa pulang.

Di awal kepergian Sia dulu, aku lebih sering dan mudah marah. Ada saja yang mampu membuatku marah hingga akhirnya Ron memutuskan untuk ikut campur. Dua kali dia melihatku dalam keadaan marah seperti ini. Pertama ketika Sarah memutuskan untuk tidak merawat Vano dan justru memberikannya padaku tepat ketika Vano berumur tiga minggu dan yang kedua ketika Sia mengatakan kalau dia tidak menginginkan bayi dalam kandungannya dan kemarahanku semakin memuncak ketika dia keguguran ditambah lagi dengan aku yang melihatnya bermesraan dengan pria lain.

Kenapa dia selalu saja membuatku kehilangan kontrol atas diriku sendiri? Apa yang sudah kau lakukan padaku, Sia Anastacia Welsh.

"Bisakah kau menghentikan sikap mengerikanmu saat ini? Kau membuat para karyawanmu ketakutan dan ingin pindah." Ucap Ron tidak tahan.

"Mereka tahu dimana harus menyerahkan surat pengunduran diri mereka." Aku membalas Ron acuh.

Bukan urusanku jika mereka ingin pergi dari perusahaan ini. Menurutku itu hak mereka dan jika mereka ingin pergi, perusahaan tidak akan menahan mereka.

Kudengar Ron hanya menghela napas. "Dengar Evan, bukan salah mereka jika Sia akhirnya memilih pergi dan mengirimimu surat cerai setelahnya".

Kugenggam map coklat di tanganku dengan erat. Ya, setelah 7 minggu sejak kepergiannya, aku mendapatkan map berisi surat cerai yang telah di tanda tangani olehnya. Entah siapa yang membawanya karena aku sama sekali tidak menemukan alamat pengirimnya. Yang aku tahu map itu hanya dititipkan dititipkan di bagian informasia oleh seorang pria.

"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya." Geramku, membuat kertas- kertas itu kusut.

Hari terus berlalu dan tanpa kusadari sudah hampir 5 bulan sejak kepergian Sia dari sisiku dan sudah dua kali pula aku berganti sekertaris. Bukan karena aku memecat mereka tapi lebih kepada mereka yang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikapku yang selalu marah bahkan jika mereka melakukan kesalahan kecil sekalipun.

Seperti yang pernah di katakan Ron dulu. Ya, bukan salah siapapun jika Sia pergi meninggalkanku apalagi setelah apa yang ku perbuat malam itu padanya.

Aku tahu kalau apa yang kulakukan padanya adalah salah dan hatiku sakit ketika dia memohon bukan karena kenikmatan yang biasa dia lakukan tapi karena dia ketakutan.

Aku benci melihat dia menangis tapi ketika mengingat kembali kejadian dimana dia berpelukan dengan seorang pria yang sangat ingin menidurinya dan itu di depan sebuah hotel nyaris dini hari membuatku kalap. Jujur aku terbakar cemburu melihat dia tertawa lepas waktu itu. Kenapa dia harus melakukan itu padaku? Semua pertanyaan yang menyangkut tentang dirinya selalu berputar dalam pikiranku termasuk apa yang selama ini dia rasakan padaku dan alasan kenapa dia menolak anak dalam kandungannya. Semua ini terasa tidak masuk akal.

Vano juga akhir- akhir ini lebih banyak diam ketika mengetahui kalau pada akhirnya Sia tidak akan kembali lagi dan memilih untuk tinggal dengan kedua orang tuaku yang ajaibnya tanpa ada perlawanan sama sekali darinya. Aku memang tidak pernah mau mencari tahu tentang apa yang selama ini Sia lakukan jika berada di rumah kedua orang tuaku. Aku menyadari kalau akhir- akhir ini ibuku mulai sering bersikap lunak padaku. Hampir setiap saat dia datang ke tempat tinggalku hanya untuk membawakan makanan yang jarang bisa kumakan.

Sarah juga sudah jarang tinggal di rumah dan lebih sering menghabiskan waktu diluar. Seminggu setelah kepergian Sia, Vano terus- terusan bertanya mengenai keberadaan ibunya, yang kemudian dia jawab sendiri kalau Sia tidak akan pernah lagi datang dan kembali padanya dan akhirnya memilih untuk tinggal bersama dengan kedua orang tuaku. Selain itu, aku juga jarang pulang dan lebih memilih untuk menghabiskan malamku di kantor atau di diskotek karena jika aku pulang aku akan langsung teringat sosoknya yang aku yakini akan kembali membuatku kalap dan bisa saja aku langsung menghambur ke tempat tinggal Thalia dan Ben untuk menjemputnya.

"Berhenti bersikap seperti Santo dan kita keluar malam ini." Ujar Ron tidak tahan.

"Aku sedang banyak pekerjaan kali ini, Ron." Balasku tanpa melepaskan pandanganku dari berkas di tanganku.

"Demi Tuhan! Evan. Kita berdua tahu apa yang sedang kau lakukan." Untuk pertama kali Dahiku mengernyit. "Kau hanya melampiaskan semua kemarahanmu pada pekerjaan yang kita berdua ketahui dengan baik." Lanjutnya.

Kupandangi dia selama beberapa saat. "Apa kau tidak ada pekerjaan di kantormu hingga kau harus datang ke sini nyaris setiap hari?"

Ron melonggo, "aku menkhawatirkanmu, brengsek". Hardiknya.

Kuangkat bahuku cuek. "Kalau begitu tidak perlu. Aku tidak perlu orang lain untuk khawatir padaku."

"Sial. Pada akhirnya kau melepaskan gletsermu padaku". Ucapnya sakit hati. "Dengar, aku tidak peduli kau mau mendengarkan atau tidak tapi seperti yang kau tahu, aku tidak mau menerima istilah penolakan. Persiapkan dirimu. Kita akan menghadiri acara ulang tahun pernikahan Ben dan Thalia". Seakan menunggu responku, Ron berhenti dan kembali berubah kesal karena aku sama sekali tidak mengatakan apapun. "Kau memang pria brengsek yang pernah kutemui. Dengar Evan, aku tahu kau sangat merindukannya. Please, jangan membantah". Potongnya sebelum aku mengeluarkan penyataan. "Kalau kau tidak mau menjemputnya di rumah Thalia, setidaknya berpura- puralah kalau kalian tidak sengaja bertemu. Aku yakin Sia juga hadir dalam pesta ini mengingat Thalia adalah saudara satu- satu yang dia miliki."

Jadi disinilah aku, diantara kerumunan orang- orang yang berpesta. Ron entah kemana pergi dengan teman hidupnya, Clarisa meninggalkanku sendiri

Selama hampir setengah jam aku memandang, aku sama sekali tidak melihat sosoknya hingga Ron datang bersama dengan Clarisa yang tertawa bahagia di sisinya.

"Hai Evan. Aku tidak melihat Sia disini." Clarisa tahu seperti apa wajah Sia meskipun mereka belum sempat saling mengenal. Belum sempat aku menjawab, muncul Ben dan Thalia dengan wajah yang berseri- seri.

"Hai Evan, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Tanya Thalia.

Pertanyaan yang aneh. Aku dan Ron saling melempar pandangan.

"Baik Thalia. Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian." Ucapku tulus.

"Terima kasih".

"Apa Steve dan Agnes tidak ada?" Tanyaku mengedarkan pandangan mencari dua sosok mungil itu. Apa mereka bersama Sia?

"Ya. Mereka masih terlalu lelah karena perjalanan yang kami tempuh." Jawab Ben seraya melihat wajah Thalia yang juga terlihat lelah, "Sebenarnya orang tua Thalia lah yang mengatur semua ini jadi kami agak kaget ketika tahu ada pesta untuk kami berdua." Lalu keduanya sama- sama saling menyunggingkan senyum bahagia. "Oh iya Evan, aku tidak melihat Sia dari tadi. Apa dia bersama Vano?"

Eh?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS