FALL FOR YOU - BAGIAN TIGA TUJUH
Aku benar- benar tidak percaya melihat Ron dan Ben berada di depan pintu rumahku. Kualihkan tatapanku dari mereka dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Justru aku yang seharusnya menanyakan hal itu. Apa yang sudah kau lakukan?" Kata Ron seraya mendorongku supaya dia bisa masuk ke dalam rumahku.
Dahiku seketika mengernyit, "Apa yang kau bicarakan?" Tanyaku seraya melihatnya dan juga Ben bergantian.
"Kau tampak mengerikan, sobat". Ucap Ben padaku. Harus kuakui, aku merasa takjub dengan sikap dewasa Ben apalagi jika mengingat apa yang sudah kulakukan pada adik iparnya, sikapnya sama sekali tidak berubah bahkan kami semakin akrab. Ahhh betapa memikirkan Sia membuatku kembali merasa hampa.
"Pierre mengatakan pada kami kalau kau langsung pergi dari kantornya setelah bertemu dengan salah satu pengawainya"
"Dia disana". Ucapku lemah seraya duduk di sofa, dekat Ben.
"Dia? Siapa yang kau..."
"Sia?" Ucap Ron terlonjak.
Aku langsung memberi Ron tatapan memperingatkan. "Kau bisa membangunkan Vano kalau kau berteriak seperti itu"
Ben dan Ron kembali melihatku dengan bingung. "Vano di sini? Bukannya dia tidak..."
"Aku tahu."Selaku, "ayah dan ibuku harus ke California mengunjungi bibiku jadi mau tidak mau Vano harus kembali tinggal bersamaku"
"Kalau begitu ini kesempatanmu untuk kembali merebut hati anakmu." Ujar Ben yang langsung kubalas dengan anggukan. Dia adalah seorang ayah, dia pasti tahu bagaimana rasanya jika dijauhi oleh anak sendiri. "Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau tiba- tiba menjadi manusia goa sepulangmu dari Prancis?" Tanyanya.
Kuhela napasku. "Aku bertemu Sia di sana dan dia bekerja sebagai designer di kantor Pierre." Jawabku.
Sontak Ron dan Ben tersenyum bahagia.
"Benarkah? Wow kebetulan yang menyenangkan. Aku memang selalu tahu kalau adik iparku tidak pernah menyia-nyiakan bakat yang dimilikinya." Ucap Ben bangga. Sontak aku dan Ron menatap Ben heran. "Lho? Apa Sia tidak pernah cerita padamu?" Tanya Ben padaku yang ku balas dengan gelengan kepala. "Jadi dia tidak pernah cerita kalau dia pernah kuliah di dua tempat sekaligus?"
Kembali kugelengkan kepalaku, "tidak."Jawabku.
Ben memberiku tatapan putus asa, "sebenarnya apa yang kau ketahui tentang Sia?"
Benar juga. Aku sama sekali tidak tahu tentang kehidupan Sia.
"Sia pernah mengambil jurusan hukum dan fashion designer di waktu yang bersamaan ketika awal dia menjadi model."
"Wow, bagaimana dia bisa membagi waktunya jika begitu?" Tanya Ron.
Ben mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Yang aku tahu, dia memilih hukum karena orang tuanya yang juga mertuaku menginginkan dia bekerja di kantor dan dia juga memilih fashion karena memang dia memiliki minat dalam bidang itu."
"Tapi kalau memang begitu, kenapa dia tidak bekerja di perusahaan atau memilih yang lainnya?" Tanya Ron.
"Karena waktu itu aku sudah menikah dengan Thalia dan dia memohon padaku untuk mengambil alih tugasnya di perusahaan. Alih- alih memilih, dia memutuskan untuk tidak memilih karena tidak ingin menyakiti perasaan ayah."
"Ah, aku mengerti karena dia lebih memikirkan perasaan orang lain di bandingkan perasaannya sendiri".
"Ya".
"Tapi kenapa model?" Tanyaku tidak mengerti.
Ben kembali mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Mungkin karena itu tidak ada dalam pilihan."
Aku semakin tidak mengerti.
"Oh iya Van," Ron mengalihkan tatapannya kearahku. "Jika kau bertemu Sia di sana, kenapa kau tidak mengajaknya pulang?" Tanyanya.
"Aku tidak bisa". Jawabku seraya menyandarkan kepalaku di sofa yang kududuki.
"Apa maksudmu?"
Jadi kuceritakan semuanya pada kedua sahabatku termasuk mengenai kehamilannya.
"Wow selamat sobat. Sebentar lagi kau menjadi ayah." Ujar Ron seraya menjabat tanganku.
Kulepaskan genggaman tangannya. "Itu bukan anakku." Kembali aku merasa beban besar menghimpit dadaku.
"Apa yang..."
"Dia mengandung anak orang lain."
"Apa dia mengatakan itu langsung padamu?" Tanya Ben seraya menatapku dengan intens.
Aku merasakan amarah bergolak dalam diriku. "Apa aku bisa menahan diri jika aku menanyakan hal itu dan dia mengiyakan?" Tanyaku setengah berteriak. Kenapa Ben sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kurasakan? Melihat dia hamil anak orang lain. Itu adalah mimpi buruk dari yang terburuk dalam hidupku.
"Kalau begitu siapa ayah anak itu menurutmu?"
Aku dan Ben saling bertatapan. Apa semuanya kurang jelas?
"Apa pria yang pernah kau ceritakan? Yang bernama Paul?"
"Jangan mengujiku, Ben". Geramku. Saat ini kami sudah berdiri di tempat kami masing- masing.
"Dasar bodoh. Harusnya kau menanyakan hal itu padanya dan bukannya lari dan bersembunyi disini." Kali ini aku sudah memegang kerah bajunya. "Kau memang brengsek. Tidak seharusnya aku menyerahkan adikku padamu dulu."
"Kau?!" Geramku.
"Ben. Evan. Hentikan".
"Ron, hubungi Natasha dan tanyakan tentang keberadaan Paul padanya." Suruh Ben.
"Eh, tengah malam seperti ini?"
"Natasha tidak akan keberatan jika kau mengatakan kalau kita menemukan Sia."
"Eh? Hm baiklah." Setelah menunggu beberapa menit, yang membuatku semakin resah, akhirnya terdengar suara serak Natalie.
"Ada apa kau menelponku tengah malam buta seperti ini, Ben?"
Ben sengaja meminta Ron untuk mengeraskan suaranya agar kami semua bisa mendengar perkataannya.
"Maaf menganggumu. Apa kau sudah tidur?"
"Jangan bertele- tele, Ben. Apa yang kau inginkan? sudah berapa kali harus kukatakan, Sia sama sekali belum pernah menghubungiku".
"Maaf tapi bukan itu yang ingin kutanyakan. Kau mengenal Paul kan?"
"Apa sekarang kau mau menanyakan Paul tentang Sia sekarang? Paul juga tidak tahu, Ben."
"Kau pernah bertemu dengannya?"
"Ya. Sekali dan waktu itu aku sedang menjalani sesi pemotretan di Bali".
"Jadi apa kau tahu kalau Sia pernah berhubungan dengan Paul sebelumnya?"
"Apa maksudmu?" Jelas sekali dalam nada suara Natasha saat ini, dia tersinggung.
"Well, semacam kau taulah seperti dia dan... Evan?" Ucap Ben seraya memandangku.
"Brengsek kau Ben". Sergah Natasha marah, membuat kami semua meringgis mendengar sumpah serapahnya di telpon. "Aku tidak peduli jika kau adalah suami dari kakaknya Sia. Aku akan menonjok mulutmu jika kau mengatakan hal itu lagi. Paul memang dari dulu menyukai Sia tapi Sia hanya menyukai Evan dan satu- satunya orang yang ku tahu pernah berhubungan seks dengannya adalah orang yang sekarang menjadi sahabatmu itu. Evan!".
"Maafkan aku, Natasha." Ujarku.
"Evan? Tunggu, kalian bersama? Sulit di percaya!"
"Jangan salah paham dulu, Natasha."
"Apa kau bercanda, hah? Kau membangunkanku hanya untuk mendengar cerita seksmu?"
Aku meringgis. "Bukan seperti itu".
"Jadi jelaskan seperti apa yang kau maksud?!"
"Aku hanya ingin tahu hubungan Sia dengan..."
"Paul? Dengar Evan, mereka sama sekali tidak ada hubungan apa- apa. Dan menurut cerita Paul, dia bertemu Sia di depan hotel tempatku menginap."
"Eh hotel?"
"Ya. Dan katanya kau langsung memukulnya. Jika aku bertemu Sia, akan aku pastikan kau tidak akan bertemu dengannya lagi."
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf".
"Dasar kau brengsek, Evan!". Lalu sambungan diputuskan sepihak oleh Natasha.
Aku langsung merosot di lantai menyadari fakta ini. Entah berapa lama aku terduduk ketika aku dikejutkan oleh suara teriakan Vano di kamarnya. Serta merta kami bertiga berlari ke kamar Vano yang berada di lantai atas.
Kubuka pintu kamarnya dan langsung menyalakan lampu dan mendapatinya sedang menangis di sudut tempat tidur, berusaha untuk tidak terlihat olehku.
Kuraih tubuh mungilnya dan memeluknya guna menenangkannya.
"Maafkan aku, Pa."
"Shhh tidak apa- apa. Itu hanya mimpi." Ucapku seraya mengelus kepalanya dengan lembut.
Air mata masih saja mengalir dari matanya dan dia menggeleng. "Tidak. Vano salah. Karena Vano, adik Vano pergi dan Papa jadi marah sama Mama." Isaknya.
Kualihkan tatapanku kearah Ben dan Ron yang juga terlihat bingung, sama denganku.
"Apa yang kau bicarakan, jagoan? Papa tidak marah sama Mama."
Vano menggeleng. "Papa marah sama Mama karena Vano. Maafkan Vano, maafkan Vano."
"Vano lihat, Pa." Perintahku. "Apa yang sebenarnya kau katakan?" Tanyaku seraya menatap matanya.
"Mama melarang Vano mengatakannya."
Sia?
"Vano, apa yang dikatakan Mama?"
Tidak ada jawaban.
"Vano?"
"Mama bilang, bukan salah Vano kalau adik Vano pergi." Isaknya.
Entah apa yang ada dalam benak Ron, yang jelas Ron menatap Vano dengan horror.
"Kenapa kau berpikir kalau ini salahmu hingga adikmu pergi?"
"Karena... Karena... Karena Vano yang mendorong Mama dari tangga."
"Astaga!" Pekik Ron dan Ben bersamaan.
Waktu terasa berhenti detik itu juga. Inikah sebabnya Vano tidak pernah berani menatapku? Karena dia merasa bersalah? Tuhan, apa yang sudah ku lakukan?
"Maaf... Maafkan Vano, Pa. Vano akan menerima apapun hukuman dari Papa tapi jangan membenci Vano. Kumohon ." Isak Vano. Tubuhnya bergetar karena tangisan jadi kuraih dia kembali dalam pelukanku.
"Tidak apa- apa. Seharusnya kau mengatakan hal ini dari awal, jagoan."
"Maafkan Vano."
"Tidak apa-apa." Ucapku seraya mengelus dan mencium puncak kepalanya lembut.
"Tapi adik Vano pergi karena Vano dan Mama pergi untuk menjemputnya, iya kan Pa?"
Aku tertegun mendengar ucapan Vano dan tiba- tiba saja sebuah ide tercetus dalam pikiranku. Kupandangi Ben dan Ron yang sekarang menatapku dengan bingung karena tiba- tiba saja aku tersenyum pada mereka berdua.
Aku membutuhkan bantuan dari semua orang yang mengenal Sia dan sudah jelas Vano di sini akan berperan sebagai kartu yang paling penting untuk mendapatkan Sia lagi.
Kembali ingatan ketika aku ingin merebut perhatian Sia dengan bantuan Vano kembali terulang lagi. Hanya saja saat ini melibatkan keluarga dan sahabat Sia.
"Mama sudah sudah bersama adik Vano dan tugas kita adalah menjemput mereka." Ucapku lebih kepada bocah dalam pelukanku saat ini.
Sementara dibelakangku, aku tahu kalau baik Ron maupun Ben sama- sama membutuhkan penjelasan dariku segera.
***
Comments
Post a Comment