FALL FOR YOU - BAGIAN TUJUH BELAS

Evan POV...

"Batalkan semua pertemuanku hari ini". Ujarku pada Jessica melalui interkom yang tersambung ke meja sekertarisku, diluar.

"Baik, Pak"

Satu hal yang kusukai dari Jessica adalah dia tidak pernah menanyakan alasan ketika aku akan membatalkan janji atau temu penting lainnya. Dia menangani semuanya dengan baik juga teliti.

Aku baru mengetahui kalau dia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah. tahu kalau dia sudah tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Jessica memilili hati yang baik dan juga wajah yang terbilang manis. Tidak seperti kebanyakan wanita yang selalu mencari cara untuk menarik perhatianku tapi Jessica bersikap selayaknya sekertaris yang professional.

Aku baru saja memakai jasku ketika di saat yang bersamaan pintu ruanganku terbuka dan menampilkan Ron.

"Kau mau keluar?" Ron menanyaiku, terkejut.

"Ya. Aku mau pulang". Jawabku setelah mengancing jasku.

Ron mengernyitkan dahinya bingung. Ya, tidak biasanya aku pulang di jam siang seperti ini.

Tiba- tiba aku melihat Ron menyunggingkan senyum Seakan menggodaku.

"Apa kau ingin berduaan dengan Sia?"

"Jangan konyol Ron. Sia hari ini ada pemotretan. Aku pulang karena aku merasa kurang enak badan".

Ron terlihat kecewa, membuatku tertawa.

"Kuharap kau baik- baik saja, sobat".

Aku mengangguk. "Tentu. Aku hanya perlu beristirahat beberapa jam".

Dia balas mengangguk. "Apa Sia tahu kalau tidak enak badan?".

Aku menggeleng dan tiba- tiba saja tercetus keinginan untuk menemuinya di tempat kerjanya.

"Aku akan menemuinya". Ucapku.

"Apa?"

"Aku akan menemui Sia di tempat dia melakukan pemotretan".

Lalu kembali senyumnya tercetak. "Kau pasti ingin bermanja- manja dengannya, bukan?"

"Kami masih sepasang pengantin baru Ron. Kami bahkan masih bisa terbilang sedang menikmati masa bulan kami" candaku yang kemudian membuat kami sama- sama terbahak.

"Apa kau tahu tempatnya?" Tanyanya lagi.

"Tidak. Tapi Walker tahu".

"Oh baiklah".

Kurogoh sakuku dan mengambil benda kecil persegi itu dan menekan nomor Walker ketika dijawab oleh asistennya karena Walker sedang sibuk memotret. Setelah menanyakan alamat tempat pemotretan itu, aku langsung mengemudikan mobilnya ke tujuan

Ingatanku kembali ke masa ketika aku melihat Sia berpose untuk pertama kali. Waktu itu aku tidak tahu kalau Sia adalah salah satu model Walker dan ketika melihatnya berpose seperti itu membuat darahku mendadak berdesir dan aku sempat menyakini kalau akulah penyebab sehingga pipinya meronah tapi setelah itu aku tidak yakin karena entah kenapa dia terlihat kesal akan sesuatu dan itu semakin diperkuat dari cerita Walker kalau Sia sangat populer di kalangan para pria.

Hampir semua pria sudah pernah merasakan kencan dengan Sia. Asal kau tahu, aku harus mematahkan pensil yang sedang ku pegang karena mendengar cerita Walker tentang Sia. Aku tidak ingin memikirkan berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya.

Tak terasa aku sudah memasuki sebuah bangunan yang telah disulap menjadi mirip flat kecil. Keningku semakin bertaut seiring langkahku yang semakin kedalam ketika mendengar suara Walker.

"Sia, bisakah kau mengalungkan lenganmu di sekitar leher Paul?"

Deg.

Paul?

Mataku membelalak melihat apa yang baru saja kusaksikan. Si brengsek itu dan tangannya, membuatku merasa ingin cepat- cepat memotongnya apalagi ketika melihatnya kulitnya yang bersentuhan pada bagian perut Sia yang juga sengaja di eksposa, memberiku keinginan untuk memcabiknya dahulu sebelum memberikannya pada Piranha. Tubuh mereka berdua basah karena air yang sengaja disiramkan padanya, semakin membuat tubuh Sia tercetak di kain tipis yang menempel disana.

Tatapanku semakin tajam dan secara sadar mengepalkan sebelah tanganku ketika si brengsek itu justru mendekatkan bibirnya ke sekitar tulang pipi hingga nyaris ke rahang Sia. Jika Sia menoleh, sudah jelas bibir mereka akan bertemu.

Selama 20 menit yang sangat menyiksa. Akhirnya pemotretan mereka berakhir dan aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi jadi tanpa mengetuk pintu ruang gantinya, aku langsung masuk dan mendapati dia baru saja memasukkan kedua lengannya ke dalam lengan bajunya, memperlihatkan perutnya yang sangat menggiurkan itu.

"Evan?" Wajahnya terlihat kaget ketika melihatku dan aku semakin tersulut karenanya.

Dia milikku. Hanya mililku. Tidak seorangpun yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.

"Astaga Evan. Kau membuatku kaget. Apa yang kau lakukan di sini?"ucapnya setelah memperbaiki pakaiannya.

"Menjemputmu". Jawabku.

"Menjemputku?" Wajahnya tampak sangat kebingungan.

"Kita akan menjemput Vano di sekolahnya".

"Bukankah Tia...?

"Tia menghubungiku dan meminta cuti karena ibunya sakit". Tentu saja itu bohong. Akulah yang meminta Tia untuk tidak datang selama beberapa hari ke tempat tinggal kami.

"Tapi dia sama sekali tidak mengatakan apa- apa pagi tadi".

"Tentu saja. Karena baru beberapa menit yang lalu dia menghubungiku dan kau terlalu sibuk untuk mengangkat telponmu".

Aku melihatnya hendak mengatakan sesuatu tapi ditahannya hingga tiba- tiba pintu di belakangku terbuka dan memperlihatkan wajah Paul.

Demi Tuhan! Apa si brengsek ini tidak pernah diajarkan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu? Seketika pemandangan Sia yang sedang memakai pakaian tadi terlintas dalam benakku dan itu semakin membuatku geram.

Paul sepertinya tidak menyangka akan mendapatiku di ruang ganti ini bersama Sia. Seakan- akan tidak ada yang terjadi, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang ganti.

"Hai Evan". Sapanya.

Hai brengsek. Apa yang kau lakukan di ruang ganti istriku?

"Hai Paul. Aku melihat pemotretan kalian tadi. Sepertinya kalian bersenang- senang".

Sekilas aku melihat kearah Sia dan tersentak ketika melihat ada rona merah di pipinya.

What the...?!

"Oh kami memang bersenang- senang Mr. Alexander".

Brengsek!

"Ada apa, Paul?" Aku tahu dia berusaha mencairkan suasana diruang ganti ini.

"Tidak ada sayang. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang".

Sayang?

Bisakah aku merontokkan giginya?

"Tawaran yang menarik, Paul" ucap Sia yang membuat Paul menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "tapi aku harus menjemput anakku". Lanjutnya.

"Anak?" Jelas sekali dia tidak menyangka kalau dia akan mendengar penolakan ini begitupun dengan aku.

"Kau ingat, Vano? anakku yang dulu kau temui di kebun binatang tempo hari? Ini hari pertamanya masuk ke sekolah dan pengasuhnya tiba- tiba harus pulang". Jelas Sia yang sama sekali tidak kuduga akan keluar dari mulutnya. Apa dia begitu menyayangi Vano? Bahkan ibu kandungnya pun tidak sesayang seperti yang Sia lakukan pada Vano.

Mungkin karena ruangan ini yang terlalu dingin, belum lagi ditambah aku yang memang kurang sehat, tanpa sengaja aku bersin didekatnya.

"Kau sakit?" Sia memberiku tatapan khawatir di wajahnya kemudian tanpa kuduga, dia meletakkan tangannya di dahi dan juga pipiku.

"Astaga Evan! Kau demam! kenapa kau justru kemari dan bukannya istirahat di rumah atau ke rumah sakit".

Sungguh. Responnya membuatku tidak bisa berkata apa- apa dan kembali terperangah ketika mendengar kalimat selanjutnya, tidak padaku tapi pada si brengsek Paul.

"Maaf Paul, lain kali saja kita makan siang bersama. Suamiku sepertinya demam. Aku mempercayakan hasil foto kita padamu".

Dan aku langsung diiseret keluar dari ruangan itu, mengindahkan tatapan penuh penuh amarah di wajah Paul tapi bukan itu yang menjadi fokusku saat ini melainkan apa yang tadi dikatakan oleh Sia.

Apa tadi Sia menyebutku sebagai suaminya?

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS