FALL FOR YOU - BAGIAN DUA DUA
Entah berapa lama Sia berendam. Dia merasa terlalu malu untuk buru- buru keluar apalagi ketika mengingat kalau semalam pada akhirnya dia melakukannya dengan Evan.
Okey, mungkin jika situasinya tidak berada dalam situasi semalam atau dalam artian bukan dalam keadaan mabuk hingga dia mempunyai keberanian untuk melakukannya, mungkin dia tidak akan semalu ini tapi dialah yang pertama kali menggoda Evan.
Astaga, apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya?
Sia merutuk dalam hati, menenggelamkan kepalanya ke busa- busa didalam air. Kalau saja Sia tidak teringat Vano yang kemungkinan sedang kelaparan di bawah sana, Sia berinisiatif untuk mengurung diri saja di dalam kamar mandi ini. Toch, ada bathtube yang bisa di gunakan sebagai tempat tidur meskipun dia harus merelakan tubuhnya kesakitan nanti tapi selama dia tidak bertemu Evan, dia akan berusaha menahannya.
Sia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya mengeringkan rambutnya dan hanya menggunakan handuk setinggi pahanya ketika mendadak dia berhenti.
"K-kau masih disini?" Sia tidak menyangka akan melihat Evan masih berada di sini, duduk dengan posisi yang sama sebelum Sia tinggalkan.
Sia mengharapkan Evan sudah berangkat ke kantor daritadi, agar tidak perlu bertemu dengannya.
"Aku menunggumu".
Astaga!
Bahkan mendengar suaranya saja membuat darah Sia terasa panas dan keinginan untuk melakukannya lagi bersama Evan kembali terlintas.
Hentikan Sia! Apa kau sudah menciptakan monster seks dalam dirimu sendiri?.Hardik Sia pada dirinya sendiri
Tapi semalam itu terasa pas dan nikmat sekali. Kata sisi yang satunya. Tutur sisi lain dari dirinya.
"Aku akan membuatkanmu dan Vano sarapan. Turunlah dulu". Sia mencoba untuk bersikap tenang menuju lemari dan mengeluarkan kaos berwarna peach sampai lutut ketika kembali mendengar suara Evan.
"Vano aku titipkan di rumah Thalia kemarin"
Sejenak Sia berhenti dan mengangguk pelan, masih menolak untuk menatap Evan.
"Oh baiklah".
Sia bersyukur setidaknya Vano tidak melihat penampilannya sekarang ini, yang dia yakini sangat kacau.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Evan memutuskan kalau ini adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan.
Melupakan perasaan malu yang sempat dia rasakan, Sia menatap Evan bingung. " memberitahu apa?"
"Kalau kau masih... perawan".
Kedua mata Sia melotot, kaget sekaligus bingung. Memang kenapa kalau dia masih perawan? Apa itu merupakan dosa besar?
"Aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu, Evan". Ucap Sia. "Kenapa kalau aku perawan malah membuatmu merasa marah atau... Kecewa?" Sia tidak tahu bagaimana cara mengambarkan situasi diantara mereka saat ini. Lama mereka saling menatap dan itu semua semakin membuat Sia frustrasi. Apa sih masalahnya?
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau masih perawan ketika kita menikah dulu?"
Hah?
Sebenarnya yang ingin Evan ketahui adalah apa yang dirasakan Sia saat ini. Apakah perasaan menyesal atau sesuatu yang lain. Dia ingin tahu itu.
"Karena itu tidak penting".
Sia menjerit frustrasi. Kenapa mereka harus berdebat karena masalah keperawanannya yang saat ini sudah tidak ada? Toh, semuanya sudah terjadi.
"Kehidupan seksku bukanlah komsumsi publik Evan sekalipun aku adalah seorang model dan kenapa masalah apakah aku perawan atau tidak malah membuatmu marah?"
"Aku tidak marah".
"Kalau begitu kenapa kau harus membicarakan hal ini? Tidak tahukah kau kalau ini membuatku terluka?"
"Karena aku hanya ingin memastikan sesuatu".
Memastikan sesuatu?.
Kening Sia bertaut, bingung. Dia tidak mengerti dan kepastian apa yang diperlukan Evan darinya. Dia berpikir, merenung berusaha menelaah apa yang sebenarnya terjadi ketika pemahaman kecil melintas dalam benaknya.
Serasa bertaruh antara ego dan rasa malu beserta perasaan menggelora yang dari tadi dirasakannya. Sia menjatuhkan kemejanya ke lantai dan berjalan mendekati Evan lalu duduk diatas pangkuan pria itu.
"Aku tidak mengerti Evan. Apa yang ingin kau pastikan?" Tanya Sia menahan debaran jantung di balik handuknya apalagi ketika merasakan tangan Evan mulai menyusuri lengannya turun ke jarinya lalu kembali ke lengannya.
Aku akan gila!
"Apa yang ingin kau pastikan, Evan?" Tanya Sia sekali lagi. Dia tahu Evan menginginkannya, sama seperti dirinya yang menginginkan Evan.
"Kalau kau tidak menyesali apa yang sudah kita lakukan semalam".
Oh!
Sia terdiam lalu kemudian tersenyum, mendekatkan wajahnya pada pria yang telah menjadi suaminya dan mengecupnya.
"Aku tidak pernah menyesali apa pun yang kulakukan denganmu termasuk semalam, Evan". Pelan tapi pasti, Sia mengatakannya.
"Aku juga. Itu adalah salah satu hal terbaik yang pernah kurasakan". Balas Evan, melayangkan ciuman kecil ke bahu gadis itu.
"Benarkah?" Sia tersenyum sumringah dan Evan tidak tahan untuk tidak merasakan bibir itu lagi."kau bilang salah satu yang terbaik. Apa yang pertama?" Tanyanya setelah Evan melepaskan ciumannya.
"Ketika melihat Vano untuk pertama kali".
Ah tentu saja.
Semua orang tua pasti lebih memproritaskan anaknya jadi wajar saja. Dia menyayangi keponakannya dan mengerti tentang perasaan itu. Toh, dia juga menyayangi Vano dan menganggapnya sebagai anak juga jadi tidak masalah.
"Setelah itu kau". Lanjut Evan kemudian.
"Aku?"
Sia jelas terkejut. Sia tidak pernah menyangka kalau setelah Vano, dia akan berada dalam urutan terdekat seperti itu. Tadinya dia berpikir mungkin saja Evan akan mengatakan ibu kandung Vano atau siapalah itu. Yang jelas bukan dia.
Evan mengangguk. "Ketika kau memutuskan untuk menikah denganku adalah hal terbaik lainnya untukku dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku ketika itu".
Astaga!
Tanpa sadar Sia menutup mulutnya, terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau Evan akan menganggapnya seperti itu karena ketika itu terjadi, dia sedang dalam keadaan kesal akibat ulah orang tua Evan tapi ternyata Evan malah menganggapnya lain dan itu membuat perasaan Sia seakan berada di kayangan.
"Um...Evan". Desah Sia
"Ya?" Evan menahan dirinya untuk tidak tertawa. Dia tahu apa yang akan diminta Sia olehnya, karena tatapan matanya saat ini sama dengan tatapan matanya ketika dia menginginkan Evan semalam.
"Apa kau harus ke kantor?"
"Sepertinya begitu". Tersirat nada geli dalam suaranya ketika dia mengatakan itu.
Sia menelusuri setiap ruas pakaian Evan dengan jari- jarinya yang lentur, membuat Evan terkekeh. "Apa yang kau inginkan, Sunshine?" Evan menanyainya seraya menelusuri pipi Sia yang telah bersemu merah.
"Aku menginginkanmu Evan". Ucap Sia menunduk malu.
"Jangan menundukkan wajahmu, Sunshine. Apa kau yakin?"
Sia mengangguk. "Ya. Aku sudah lama menginginkanmu dan pernikahan kita adalah hal terbaik yang pernah ku lakukan".
Evan tersenyum. "Ya. Aku juga dan mengetahui kalau kau adalah milikku merupakan hal terbaik dari yang terbaik untukku".
Lalu dengan pelan, Evan meraih satu- satunya penghalang yang menutupi Sia dan mendesah ketika melihat pemandangan di depannya.
"Aku mencintaimu, Sia"
***
Comments
Post a Comment