FALL FOR YOU - EXTRA
"Oh ayolah. Ini hanya luka kecil dan kau terlalu melebih-lebihkannya dengan membawanya ke rumah sakit."
"Aku kan panik. Bagaimana kalau terjadi infeksi dan kemudian dokter memvonisnya agar kakinya di amputasi?"
Kuputar mataku, lelah melihat sikap kakakku, Thalia yang terlalu berlebihan jika mendapati salah satu dari kedua anaknya ada yang terluka. Aku yang baru saja akan berangkat ke Milan untuk pemotretan terpaksa kembali ketika mendengar suara panik miliknya di telpon tadi.
"Ini hanya luka jatuh dari sepeda, Thalia dan luka seperti ini tidak akan membuatmu harus kehilangan kaki." Tukasku tidak habis pikir dengan jalan pikirannya.
Demi Tuhan, apa yang dipikirkan Ben ketika menikahi kakakku selain karena dia cantik? Faktanya dia terlalu melebih- lebihkan sesuatu.
Aku baru saja mengantar Thalia dan Steve keluar dari kamar perawatan ketika aku mendengar suara panik suster.
"Bagaimana ini dok, kita tidak memiliki golongan darah A negatif."
"Apa kau sudah menghubungi bank darah?"
"Sudah dok, tapi mereka mengatakan kalau stok mereka baru saja habis."
"Bagaimana dengan orang tuanya?"
"Saat ini ayahnya berada di Scotlandia dan baru saja dia menghubungi kalau penerbangannya ditunda karena kabut."
"Apa tidak ada orang lain?"
"Hanya ada pengasuhnya dok tapi golongan darahnya tidak sama."
"Bagaimana ini? Kalau kita tidak mendapatkan golongan darah A negatif secepatnya, anak itu bisa meninggal karena kehabisan darah."
Aku berbalik untuk melihat Thalia, yang juga sedang melihatku. Jelas dia juga mendengar percakapan dokter- suster tadi.
"Thalia, pulanglah dulu. Aku mungkin akan langsung ke bandara setelah ini." Kataku
Dia mengangguk. "Baiklah. Hati- hati."
Aku tersenyum dan berjongkok untuk melihat keponakan paling beraniku. "Hai Steve, Maaf karena tidak bisa mengantarmu sampai rumah, ya sayang. Tapi pastikan kau sudah sembuh sekembalinya aku dari Milan dan sebagai gantinya aku akan membawakanmu oleh- oleh yang banyak."
"Okey. Janji ya."
"Tentu."
Setelah melihat mereka berdua menghilang di koridor, aku berjalan mendekati salah seorang suster yang berjaga.
"Hai aku mendengar seseorang membutuhkan darah A negatif."
Suster itu melihatku dengan tatapan heran, "apa hubunganmu dengan pasien?"
Aku tersenyum menanggapi suster itu. "Oh aku tidak punya hubungan apa pun dengan pasien. Aku tadinya datang untuk menjemput keponakanku ketika mendengar pembicaraan kalian."
Suster itu terlihat malu, "oh maaf. Aku pikir kau ibunya. Matamu mirip dengannya."
Meskipun bingung tapi aku memilih untuk tidak menanggapinya.
"Jadi apakah kau ...?"
"Oh maaf. Lewat sini."
Kuikuti suster itu menuju sebuah kamar dan kaget ketika mendapati seorang bocah laki- laki yang sedikit lebih muda dari Steve terbaring di atas ranjang rumah sakit. Seketika perasaan ngeri menerpaku dan bayangan Steve berada di tempat itu membuatku mual.
Setelah melakukan pemeriksaan biasa, suster itu menyuruhku untuk berbaring di samping bocah itu dan menusukkan jarum ke lenganku seketika itu juga darah dari lenganku keluar melalui selang menuju tubuh bocah itu.
Aku tidak sadar ketika mataku menangkap wajahnya. Dia menatapku dengan tatapan nanar dan tanpa sadar aku tersenyum padanya.
"Kau laki- laki kedua yang aku temui dan sangat kuat." Kataku menghiburnya.
"Dan siapa yang pertama?" Tanyanya lemah.
"Namanya Steve. Dia keponakanku. Dia baru saja berada di sini."
"Apa dia juga terluka?"
"Ya. Tapi tidak seperti dirimu. Kupikir mungkin aku bisa membalik posisinya. Kau berada di urutan pertama setelah dirinya."
Bocah itu terkekeh, "apa kau ibuku?"
Eh?
Aku begitu terkejut mendengar pertanyaannya barusan.
"Aku sempat mendengar Tia mengatakan sedang mencari ibuku. Apa kau ibuku?"
Apakah anak ini ditinggalkan oleh ibunya? Kata suster tadi ayahnya berada di luar negeri.
"Apa kau mau aku menjadi ibumu?" Tanyaku tanpa sadar.
Bocah itu tersenyum, "mata kita warnanya sama."
Hah? Setajam itukah pengamatannya?
"Kalau begitu, aku memang ibumu." Balasku membuat dia kembali tersenyum kemudian aku melihat kedua matanya yang sayup- sayup.
"Tidurlah sayang. Aku akan berada di sampingmu." Lalu pelan- pelan aku melihat matanya mulai menutup.
Tiga jam sudah aku menunggunya tapi dia tak kunjung bangun dari tidurnya. Aku sengaja meminta suster untuk memindahkannya di kamar agar dia lebih nyaman ketika aku merasakan getaran ponselku.
"Aku sudah ada di rumah sakit. Di mana kau?"
Lily?
"Aku akan segera ke tempatmu. Di mana kau?"
"Aku berada di depan meja resepsionis."
"Okey, tunggu aku di sana."
Aku baru saja menekan tombol merah pada ponselku sambil ketika pengasuh bocah itu datang.
"Eh Nona sudah mau pergi?"
"Ya. Maaf. Temanku sudah berada disini. Menjemputku."
"Tapi...".
Aku tidak sempat memperhatikan pengasuh itu lagi dan berjalan menuju kearah Lily yang sudah menunggu.
"Apa sih yang kau lakukan di sini?" Omel Lily ketika aku sudah berada di hadapannya.
"Marahnya nanti saja. Kita sudah hampir ketinggalan pesawat."
"Memang salah siapa kita ketinggalan pesawat?"
Aku tertawa mendengar sindiran halus yang dilontarkannya dan berjalan tanpa memperhatikan jalanan ketika tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Seharusnya aku terjatuh karena tabrakan itu tapi yang terjadi malah sebuah lengan kokoh menahañ tubuhku agar tidak jatuh.
"Maaf." Lalu pergi setelah melepaskan tangannya dariku, yang masih terhipnotis dengan aroma tubuh barusan.
"Bumi memanggil Sia yang bodoh. Hei, apa kau masih di sana?"
"Apa kau menciumnya?" Tanyaku setengah sadar.
"Apa?" Lily memberiku tatapan heran juga aneh.
"Pria tadi mempunyai aroma yang enak."
Lily lantas menatapku dengan pandangan prihatin. "Apa rumah sakit baru saja melatihmu menjadi anjing pengendus?"
"Sialan!"
"Kalau begitu berhentilah membuang- buang waktu kita. Kita tidak punya waktu menciumi pria berbau enak sekarang."
Ingin rasanya aku menjitak kepala Lily saat ini juga tapi dia ada benarnya juga, kami harus pergi, jika tidak mau mendapatkan masalah di kemudian hari.
***
Comments
Post a Comment