FATED TO LOVE YOU - DELAPAN BELAS
Dad menyuruh kami- aku dan Aaron- agar datang ke rumahnya. Seperti kata Aaron tadi, dad memang menyuruh orang agar membuntuti diriku yang membuatku semakin geram dengan sikapnya. Dad beralasan dia tidak mau putrinya dipermainkan oleh pria yang tak bertanggung jawab atas kehamilan putrinya dan terkejut ketika orang itu malah rekan bisnisnya dahulu.
Dad dan Aaron tidak membahas topik sensitif apapun dan aku berharap dad memang tidak melakukannya. Aku hanya tidak ingin Aaron salah paham dengan perjamuan ini dan memang seharusnya tidak ada yang patut disalah pahami.
Aku baru saja selesai menyantap sup jagung buatan Mayu yang super enak dan sekarang beralih pada makanan pencuci mulut bersama Akana, adik tiriku yang juga super imut ketika mendengar dad berdehem.
"Apa kalian sudah memikirkannya?"
Kukernyitkan dahiku atas pertanyaan dad barusan dan ssketika menyadari kalau bukan hanya aku yang dilihatnya melainkan Aaron juga.
"Memikirkan apa? Bisakah dad lebih spesifik lagi pada siapa dad berbicara?" Aku mungkin sudah bertindak kurang ajar tapi entah kenapa akan ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Lagipula perjamuan makan malam yang mendadak ini seakan memberiku alarm peringatan tentang suatu hal.
Dan yang lebih mengherankannya lagi, baik dad maupun Aaron sama- sama saling bertukar pandang, yang membuatku semakin curiga pada mereka. Mayu hanya melirik sekilas disela dia membersihkan bibir Akane yang belepotan coklat.
Tiba- tiba Aaron menggenggam tanganku dan baru akan kutepis ketika mendengar suaranya.
"Aku sudah bicara dengan ayahmu ketika kau tidur ta-"
"Apa yang kau bicarakan?" Aku memelototinya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Inikah yang kudapatkan ketika mempercayai seseorang?
"Aku meminta izinnya untuk menikahimu." Aaron mengatakannya seakan aku sama sekali tidak menyelanya tadi.
Tidak.
Mendadak aku merasa kerongkonganku kering. Menikah? Apa yang barusan dia katakan? Menikah... Menikah...oh Tuhan!
"Alana?" Itu suara dad.
"Aku... Apa yang dad katakan?"
"Kau harus menikah."
Aku mengerjap, mencoba menelan salivaku yang entah kenapa mendadak sulit. "Apa dad lupa? Aku... Kami tidak akan menikah."
"Sayang." Suara dad terdengar lelah di telingaku. Andai saja dia mengatakan hal lain, aku tidak akan keberatan tapi kami sudah membahas semua ini berhari- hari yang lalu atau mungkin berbulan- bulan yang lalu. Kenapa dia tidak mengerti juga? Hubunganku dengan Aaron hanya sekedar...
Kupalingkan wajahku dari wajah dad ke wajah Aaron yang menatapku tanpa ekspresi. Sekalipun aku merasa nyaman dengannya kemarin tapi bukan berarti hubungan kami akan seserius itu.
Kutarik napasku dengan perlahan lalu menghembuskannya dengan sangat pelan. Seakan dengan begitu aku tidak akan merasa tidak menggantungnya begitu lama dan memang dia tidak perlu bersikap seperti itu.
"Maafkan aku, Aaron tapi kita bisa menikah." Ucapku. Kedua alis Aaron bertaut sementara kedua matanya menatapku sangat lama seakan mencari jawaban dari sana yang memang tidak ada.
"Bisakah kau jelaskan alasannya?" Suaranya terdengar sangat dalam dan instingku mengatakan untuk tidak menaikkan emosinya saat ini tapi jika itu untuk menjelaskan status hubungan kami, maka inilah saatnya.
"Tidak ada alasan. Kau tidak perlu melakukannya." Jawabku dengan nada setenang mungkin tapi atmosfer disekeliling kami seakan dipenuhi oleh lautan es. Dingin dan berbahaya.
"Aku tidak..."
"Jangan mempersulit keadaan, Aaron." Potongku cepat.
"Aku tidak mempersulit keadaan, sayang." Kata sayang itu semakin terdengar tajam di telingaku. "Kau mengatakan kalau kau tidak bisa menikah denganku dan aku hanya ingin tahu alasan dibalik kau menolakku."
"Aku tidak menolakmu."
"Kalau begitu kau menerimaku."
Aku benci jika harus mengulang hal yang sama berulang kali, dan karena hormon kehamilan ini juga membantu. Alih- alih aku bersikap tenang, aku justru marah padanya,
"Aku tidak ingin membicarakan ini lagi." Kataku melempar serbet keatas meja dan bangkit berdiri. "Terima kasih atas jamuannya." Kataku lalu mencium puncak kepala Akane. Aku tidak bisa terlalu membungkuk karena kehamilanku yang semakin besar. "Maafkan aku, adik kecil." Kataku nyengir pada Akane. Akane tidak pernah melihatku dalam keadaan emosional seperti tadi dan kuharap itu tidak mempengaruhi sikapnya padaku kelak. "Lain kali kita main bersama."
Akane menatapku lalu mengangguk kecil.
"Alana sayang," dad menghentikan aku sebelum aku melangkah pergi. "Pikirkan tentang anakmu. Dia membutuhkan figur ayah."
"Aku tidak akan menghentikan Aaron dari melihat anaknya, dad." Erangku. "Dia memiliki hak tak tertulis jika ingin bertemu dengannya dan aku tidak akan menghalangi jika itu keinginannya, tapi menikah adalah sesuatu yang lain. Aku tidak akan membuat dia..."
"Alana!"
Untuk pertama kalinya semenjak aku memasuki usia dewasa, dad membentakku dan itu membuatku, entahlah. Seperti aku merindukan masa- masa ketika kami masih bersama. Aku tidak tahu.
"Mr. Sparks," Aaron menengahi sebelum dad kembali menyuarakan pikirannya. "Kalau anda tidak keberatan kami akan bicara di luar."
Dad seperti ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya ketika melihat mata Aaron.
"Baiklah. Pelan- pelan dengannya."
Aku mendengus, berbalik meninggalkan Aaron dibelakang.
Aku tidak peduli dengan pembicaraan singkat diantara dad dan Aaron. Lagipula sudah seharusnya aku meninggalkan segala kemewahan di hotel dan kembali ke tempatku selama ini tinggal. Alih- alih menunggu bis yang jauh lebih hemat, aku memilih agar menggunakan taksi kali ini ketika tiba- tiba seseorang menghentikanku sebelum aku menaiki taksi yang berhenti.
"Apa yang kau lakukan?!" Aku menatapnya marah ketika dia menyuruh si sopir taksi pergi. "Apa kau tahu sangat sulit menemukan taksi di jam segini?!"
Lama Aaron menatapku kemudian menghembuskan napas. "Kau mau kemana? Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Aaron." Kataku membalas. "Aku sudah mengatakan alasanku padamu tadi."
"Katamu tidak ada alasan." Dia berkata sengit. "Dan itu semakin membuatku ingin berbicara denganmu."
Dia pasti sudah gila. Aku pasti sudah gila.
Berpikirlah, Alana. Kau pasti bisa menghadapinya... Aku pasti bisa menghadapinya.
Sisi logis dalam diriku memintaku untuk tetap mengikutinya. Lagipula aku tidak tahan dengan tatapan yang diberikannya padaku. Seakan menggodaku agar meredakan amarahnya dengan ciuman atau mungkin... Astaga! Apa yang baru saja kupikirkan.
"Kita kembali ke hotel."
Seperti ditarik ke daerah berbahaya. Alarm peringatan sekaligus mendamba seketika menghampiri, membuatku seketika meneguk ludah karena pikiran kemarin malam.
"Aku tidak akan kembali ke hotel."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku tidak ingin meninggalkan tempat tinggalku terlalu lama."
Hening selama beberapa detik, hingga aku yakin bisa saja aku memberinya informasi ketika aku juga akhirnya menyadari.
"Jadi selama ini kau tidak tinggal bersama ayahmu?" Suaranya semakin sarat ketegangan yang mencekam.
"Aku memiliki tempat tinggal sendiri." Aku mulai gusar dengan sikapnya.
"Dimana?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Dimana kau tinggal, Alana?"
Kuhembuskan napasku, mencoba menghangatkan tubuhku yang dingin karena cuaca. "Dengar, Aaron. Tidak penting dimana aku tinggal. Katakan apa yang ingin kau bicarakan. Kau ingin bicara kan? Mari kita bicara."
Aku melihat kedua tangan Aaron terkepal dan napasnya semakin berat lalu pelan- pelan mulai berubah. "Baiklah. Aku akan mengantarmu."
Kukernyitkan dahiku, curiga dengan sikapnya yang mendadak berubah.
"Kita akan bicara di tempatmu itu."
Apa aku pernah bilang kalau pria ini otoriter dan tukang paksa? Sekaligus dia juga tampan. Sungguh mengherankan Tuhan bisa berbaik hati menciptakan makhluk sesempurna ini.
Aku terpaksa harus membiarkan Aaron melihat dimana aku tinggal selama ini. Apartemen bobrok dengan lift yang terkadang tidak berfungsi mungkin bisa membuatnya berpikir dua kali sebelum menawarkan pernikahan konyol itu lagi.
Jadi ketika aku menurunkan kakiku dan sepenuhnya keluar dari mobilnya, aku begitu lega ketika dia tidak berkata- kata dan hanya menatapku. Tentu saja dengan penerangan yang tidak memadai di sekeliling kami.
"Alana," kubalikkan badanku mengira dia ingin segera kabur setelah melihat tempatku selama ini tinggal tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku bahkan tidak yakin dia tahu dimana kami saat ini berada. Dia mengeluarkan sebuah cincin dari kantong celananya, seketika membuatku terkesiap karena melihat rancangan cincin yang disodorkannya dan juga sikap Aaron. "Mungkin aku agak terlambat mengatakan hal ini. " oh tidak! "Aku tidak tahu dimana semua ini berawal." Jangan... Jangan..."tapi ketika pertama kali bertemu denganmu di pusat perbelanjaan itu. Entah kenapa kau seperti menarikku agar memperhatikanmu dan sungguh mengherankan ketika kau juga melihatku kala itu dan langsung membuatku tidak tahan untuk tidak merasakan sedikit dari rasamu." Oh Tuhan! "Dan ketika malam itu terjadi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi itu adalah malam terindah yang tak bisa kulupakan." Pipiku terasa panas. "Kau membuatku gila karena kepergianmu yang tiba- tiba dan aku harus mencari cara agar bisa bertemu denganmu lagi tapi seperti mimpi, kau sama sekali tidak muncul lagi di pub setelah malam itu. Dan ketika pada akhirnya kau menelpon. Kau tidak tahun betapa bahagianya aku mendengar suaramu lagi. Jantungku seakan berdetak kembali setelah sekian lama." Jeda sesaat. "Apa kau tahu apa yang paling membuatku bahagia setelah kemunculanmu lagi?" Aku tidak tahu harus merespon apa dan hanya bisa menggelengkan kepala. "Kau." Dia menyentuh kedua tanganku. "Dan mendengar kalau malam itu menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam dirimu. Kau hamil dan itu anakku." Aku tercekat. Aku ingin lari tapi tatapan matanya seakan memaku kakiku agar terus berpijak ke tanah, tapi juga membuatku tidak ingin meninggalkannya. Matanya seakan menyedot seluruh insting melarikan diriku darinya. Kemudian ketika suaranya kembali, aku tahu bahwa aku seharusnya tidak terpedaya dengan mata dan mungkin aroma tubuhnya yang menggoda itu. Aku seharusnya mengikuti instingku.
"Hanya kau satu- satunya yang kuinginkan di dunia ini. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, begitu pula dengan anak kita kelak. Aku ingin kau melahirkan anak- anak kita..." Otakku buntu. "Jadilah istri dan ibu dari anak- anakku... Anak kita. Let me be the happiest man in the world with you." Jantungku rasanya akan berhenti, menyadari kalimat yang akan selanjutnya terlontar dari bibir Aaron. Jangan... Jangan katakan..." I love you, Alana Stephany Sparks. Please, Marry me."
***
Comments
Post a Comment