FATED TO LOVE YOU - DELAPAN

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku berjalan mondar- mandir didepan pintu ruangannya.

Jessi yang menemaniku pun langsung kutinggalkan di rumah sakit dan mengemudikan mobil dengan ugal- ugalan.

Tapi entah kenapa, setibanya aku disini. Aku justru merasa tidak tahu harus melakukan apa.

Kuatkan dirimu, Alana.

Kau harus memastikan jika itu memang dirinya.

Tapi dialah satu- satunya orang yang...

Aku sengaja mematikan ponselku karena baik Jessi maupun Jane tidak berhenti menghubungi. Sudah jelas Jane mengetahui dari Jessi. Arghhh... Apa yang harus kulakukan?

Sialan dia.

"Apa kau yakin dia sudah tahu kalau aku datang?" Tanyaku pada wanita di meja depan. Sekretaris si brengsek itu.

Wanita itu memberiku tatapan mendelik menyiratkan what_the_hell_this crazy_woman. "Sudah miss. Saya sudah mengatakan kalau anda, miss Spark ingin bertemu." Jawabnya memberikan penekanan pada kata anda "tapi seperti yang tadi saya beritahukan, ini akan sulit untuk bertemu dengan Mr. Bass jika anda belum membuat janji."

"Aku mengerti tapi aku perlu bertemu dengannya." Aku memohon.

Wanita itu memberiku tatapan penuh curiga tapi aku tidak peduli. Aku perlu bertemu dengan si brengsek itu, setidaknya hal itu tidak akan membuatku masuk penjara, iya kan?

"Anda bisa mengatakan pada saya dan saya akan memastikan kalau Mr. Bass akan menerimanya." Katanya lagi.

"Tidak." Jawabku cepat. "Maksudku... Hmmm mungkin akan lebih baik kalau aku sendiri yang memberinya." Kataku menampilkan senyum palsu. Sialan, apa dia sengaja membuatku menunggu selama ini? Rapat sialan apa yang dilakukannya sampai harus memakan waktu satu jam?

"Apa anda berkencan dengan Mr. Bass?"

Deg.

Aku seperti tersedak liurku sendiri. Apa ini bukan pertama kalinya seorang wanita mendatangi kantornya? Apa mereka juga hamil? Astaga... Sebenarnya apa yang kupikirkan hingga bisa memutuskan untuk kesini?

"Alana?"

Suara orang yang memanggil namaku seketika membuatku berbalik dan.... Holy shit!

Bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria setampan ini? Apa yang di pikirkan Tuhan ketika menciptakannya?

Okey, kemarin memang aku tidak terlalu memperhatikannya. Fokusku waktu itu hanya pada pembicaraan kedua orang tuanya meskipun tak bisa dipungkiri, aku juga mengagumi sosoknya yang berpakaian biasa tapi sekarang, melihat dia dengan setelan lengkap merek armani semakin membuatnya berjuta- juta kali lebih tampan. Sial, pantas saja dia digandrungi banyak wanita. Memikirkan hal itu membuatku merasa bertambah kesal.

"Jangan menggigit bibir bawahmu seperti itu."

Kukerjapkan mataku melihatnya.

Bagaimana dia bisa berada tepat dihadapanku? Apa dia menghilang dan dalam sekejap mata berada disini?

Apa dia vampir?

Sedetik kemudian aku mendengarnya tertawa dan aku langsung menyadari kalau aku baru saja menyuarakan apa yang kupikirkan.

"Tidak. Seingatku, aku bukan vampir." Jawabnya masih dengan nada gelinya. "Aku dengar kau ingin menemuiku. Ayo kita masuk ke ruanganku dulu." Ucapnya seraya mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu ke ruanganya. Aku sempat mendengar dia mengatakan sesuatu pada sekertarisnya itu, entah semacam menyuruh mengambil minuman atau jangan di ganggu. Entahlah. Aku juga tidak haus.

Hal pertama yang kulihat dari ruangan ini adalah nuansa kental maskulin juga otoriter bak penguasa di sekelilingku tapi satu hal yang kusukai adalah pemandangan di balik kaca di belakang kursinya. Matahari bisa terlihat sangat indah jika terbenam di daerah situ dan jelas itu pasti pemandangan paling menakjubkan yang pernah ada.

"Sepertinya kau juga menyukai pemandangan dari sini."

"Ya. Pasti matahari terbenam akan lebih indah jika dipandang dari sini." Aku bahkan tidak sadar telah membalas ucapannya.

"Aku senang kau menyukainya."

Aku berbalik dan mendapati dirinya hanya beberapa inci darinya. Sial, apa yang kulakukan? Aku berdehem untuk meredakan kegugupanku dan berjalan menjauhinya.

"Aku ingin menanyakan sesuatu." Aku berusaha untuk tetap fokus dengan tujuanku semula.

"Kuharap bukan mengenai gelangmu. Aku belum menemukannya."

Oh sial, aku bahkan lupa tentang itu.

Aku tersenyum. Berusaha menyembunyikan kegugupanku karena kehadirannya. Jantungku terasa bertalu- talu seperti hendak keluar dari rongganya.

"Minumlah." Katanya setelah sekertarisnya yang tadi meletakkan secangkir minuman di atas meja, tengah ruangan.

Aku melirik dan kemudian mengernyit. Chamomile tea? Bagaimana dia bisa tahu?

Astaga! Ada apa denganmu, Alana? Tidak mungkin dia sengaja menyiapkan hal itu untukmu.

Ini semua hanya kebetulan. Jadi berhentilah berpikir yang macam- macam.

"Minum, Alana."

Bisa kurasakan mataku seketika menyipit karena nada yang barusan dikeluarkan. Apa maksudnya dia memberiku nada seperti itu? Apa dia ingin memerintahku? Kalau begitu dia salah besar. Aku tidak suka diperintah atau dilarang.

Lagipula bukankah tujuanku kesini agar bisa meninju wajah tampannya itu?

Kami berdua saling menatap lama hingga aku melihatnya, dia yang lebih dulu menghembuskan napasnya. Tahu dia sangat kesal.

Dasar diktator. Memang dia pikir dia ini siapa?

"Baiklah." Aaron kembali menghembuskan napasnya. "Katakan apa maksudmu datang menemuiku? Jika itu mengenai gelangmu, aku tidak tahu." Dia mengucapkannya sambil lalu seraya berjalan menuju sofa untuk duduk dan mau tak mau aku mengikutinya.

"Aku memang sangat berharap kau segera menemukan gelangku," kataku memulai. Gelang itu memang sangat berharga untukku tapi yang ini juga sangat berharga bagiku. "Tapi bukan itu maksud kedatanganku ke mari." Aku sengaja menghembuskan napasku pelan. Mengantisipasi situasi selanjutnya. "Apa ketika malam itu... Maksudku ketika kita... Apa kau tidak menggunakan pengaman?" Rasanya darah mulai naik ke leher menuju pipiku. Memalukan sekali. Sudah jelas ia tidak melakukannya.

Dasar Alana bodoh!

"Tidak." Jawabnya santai. "Aku bahkan tidak menyangka kalau kau masih perawan mengingat kau yang pertama kali mencium dan menyerangku."

Kugigit bibirku ketika dengan gamblangnya ia menyebutkan mengenai keperawananku.

Apa aku salah?

"Aku mabuk dan kenapa kau harus membalas ciumanku dan membawaku ke penthousemu yang super duper megah itu." Aku mulai tersulut mendengar ucapannya tadi.

Aku mabuk dan sebagai lelaki terhormat dia seharusnya tidak melakukan itu.

Dia melihatku dengan alis terangkat. "Sulit rasanya menolak dirimu malam itu dan pakaian yang kau gunakan. Apa kau sadar berapa banyak pria yang memandangmu malam itu?"

Seketika aku tertawa sinis. "Jadi kau memutuskan untuk meniduriku?"

Tubuhku langsung tersentak ke depan ketika dengan tiba- tiba dia berdiri dari duduknya dan menarikku dalam dekapannya.

Sentuhan tangannya di pinggangku seketika mengirimkan gelenyar- gelenyar aneh di sekujur tubuhku, yang sialnya aku tidak ingin dia melepasnya.

"Kau menginginkanku," bisiknya di rambutku dan aku merinding. "Dan jujur saja aku juga menginginkanmu sejak pertemuan pertama kita dan asal kau tahu saja, aku tidak pernah menyesali apapun diantara kita dan aku bisa saja mengulang kejadian malam itu di sini. Di tempat ini. Dan aku tidak peduli kau dalam keadaan mabuk atau tidak."

"Dasar Bass-tard (brengsek)." Desisku marah.

Dia terkekeh. "Oh baby, kau tidak tahu apa yang kau katakan."

Aku bergidik ketika ia malah menempatkan wajahnya di sekitar leherku yang telanjang.

"Aku selalu menyukai aromamu."

Kuhempaskan dia cepat dan berjalan hendak meninggalkannya.

"Aku sudah salah datang kemari." Kataku hendak membuka pintu ketika suaranya menghentikanku.

"Kenapa kau menanyakan apakah aku memakai pengaman atau tidak padaku? Kau tidak mungkin sedang..." Kalimatnya berhenti di udara dan mulai memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu kembali ke wajahku.

Menatap mataku.

"Apa kau hamil?"

"Bukan urusanmu!" Kubuka pintu didepanku dan langsung menyentak dengan suara keras.

***

Comments

Popular posts from this blog

BTY - DUA PULUH SATU

BTY - DUA PULUH DELAPAN

BTY - LIMA BELAS